
Bulan dan Fadhla pun mulai bergegas pergi menuju rumah sakit. Fadhla membawa mobilnya dengan sangat cepat, karena dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Eggy.
Ketika mereka sudah sampai di gerbang rumah sakit, Fadhla langsung mencari posisi parkir mobil di dalam sana.
"Yang kosong sepertinya di ujung sana, Fadhla. Coba ke sana, parkirkan di sana saja," kata Bulan kepada Fadhla.
"Baik, Bulan. Terima kasih sudah memberitahuku," ujar Fadhla.
"Oke."
Fadhla segera segera memarkirkan mobilnya. Kemudian setelah dia posisikan mobil itu, dia segera keluar dari mobil.
"Kita harus segera masuk ke rumah sakit, Bulan," kata Fadhla.
"Iya. Ayo."
Fadhla dan Bulan langsung menutupi pintu mobil tersebut. Setelah itu, Bulan dan Fadhla masuk ke dalam rumah sakit. Dia mencari ke setiap lorong untuk mencari keberadaan Eggy ada di mana. Sampai mereka sudah berada di tengah-tengah rumah sakit, mereka berdua pun melihat Eggy yang sedang duduk terdiam di sana.
"Fadhla, itu bukannya, Kak Eggy?" tanya Bulan kepada Fadhla.
Fadhla menengok dan mencari seseorang yang di maksud oleh Bulan.
"Ah, iya. Benar. Dia adalah Eggy. Ayo ke sana, kita hampiri dia," ajak Fadhla.
"Ayo."
Fadhla dan Bulan menghampiri Eggy, lalu mereka berdiri tepat di hadapan Eggy.
"Kak, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi? Apakah Kakak tidak terluka parah?" tanya Bulan dengan sangat cemas.
"Ada apa denganmu, Eggy? Gak biasanya kamu mengalami kecelakaan seperti ini. Kamu tidak mungkin teledor," kata Fadhla yang begitu sangat mengenal dengan kakaknya itu.
"Yang kecelakaan bukan aku, Bulan, Fadhla," sahut Eggy.
Mendengar kalimat itu, membuat Bulan dan Fadhla sangat terkejut. Mereka berdua kira bahwa yang kecelakaan itu adalah Eggy sendiri, tetapi pada kenyataannya itu bukan lah dia.
"Lalu siapa, Eggy? Siapa?" tanya Fadhla penasaran.
"Siapa, Kak? Siapa yang kecelakaan?" tanya Bulan menanyakan hal yang sama.
"Yang kecelakaan adalah Adelia," jawab Eggy kepada mereka berdua.
Mendengar hal itu dari mulut Eggy, mereka berdua sangat terkejut bukan main. Rupanya apa yang mereka berdua cemaskan bukanlah untuk Eggy. Bulan mulai merasa sangat kecewa dengan apa yang terjadi pada saat ini. Eggy meneleponnya hanya untuk menyuruh Bulan untuk datang dan memberitahunya secara langsung bahwa yang kecelakaan itu adalah Adelia, calon istrinya sendiri. Bulan terus bertanya-tanya dalam pikirannya, maksud dari Eggy apa seperti ini padanya?
"Lalu kenapa Adelia bisa kena kecelakaan, Kak?" tanya Bulan mencoba untuk tidak mengikuti rasa amarahnya.
"Ja-di ... yang kecelakaan adalah Adelia? Bukan kamu? Atau kalian berdua yang mengalami kecelakaan itu?" tanya Fadhla masih penasaran.
"Aku dan Adelia bertengkar, karena aku memilih pergi bersama kamu, Bulan. Dia marah dan pergi dengan mobilnya ber kecepatan tinggi," jelas Eggy.
"Lalu?"
"Awalnya aku abaikan, lalu dia menelepon dan terdengar dari suaranya begitu sangat berat dan terdengar sangat kesakitan. Jadi aku berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan Adelia. Maka dari itu, aku mencoba menyusul Adelia dan ya. Aku menemukan dia tengah terbaring di brankar tanpa sadar diri. Kupikir dia korban yang meninggal di tempat. Namun, setelah di buka, rupanya bukan," jelas Eggy dengan panjang lebar.
Mendengar hal itu, membuat Bulan menjadi merasa iba kepada Adelia. Bagaimana pun dia, dia adalah seorang manusia, seorang wanita yang sama sepertinya. Dia harus mempunyai hati nurani, walau pun dia tahu bahwa Adelia akan menjadi madunya.
"Astaga, Kak. Lalu bagaimana keadaan Adelia saat ini?" tanya Bulan.
"Adelia saat ini sedang berada di UGD. Dia di tangani oleh para medis. Sepertinya kondisi dia sangatlah kritis," jawab Eggy.
Bulan langsung duduk di samping Eggy. Kemudian dia memegangi pundak Eggy dan mengelus-elusnya dengan perlahan.
"Sabar, Kak. Adelia pasti baik-baik saja," kata Bulan mencoba menenangkannya.
Eggy mengusap wajahnya. Lalu dia menatap Bulan dan langsung memeluk dirinya dengan erat.
"Tidak apa, Kak. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir."
Fadhla menatap ke arah Bulan dengan tatapan penuh heran. Pasalnya, Bulan seakan tidak mempermasalahkan dengan adanya Adelia di tengah-tengah hubungan mereka.
"Bulan. Kamu bisa ikut aku?" tanya Fadhla kepada Bulan.
Bulan menengok dan langsung melepaskan pelukannya.
"Ada apa? Mau di bawa ke mana Bulan, hah?" tanya Eggy dengan nada ketus.
"Ada urusan, Eggy," jawab Fadhla dengan singkat.
"Urusan apa, hah?" tanya Eggy lagi.
"Ini penting. Aku harus membicarakan itu berdua saja dengan Bulan. Ini privasi," jawab Fadhla.
Eggy menatap ke arah Bulan dan Fadhla. Bulan pun menatap ke arah Fadhla. Bulan bahkan tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Fadhla saat ini. Karena dirinya tidak tahu, pembahasan apa yang mesti di bahas dengannya. Eggy kelihatannya sangat curiga dan kesal kepada Fadhla. Dia berpikiran buruk kepada kedekatan antara Bulan dan juga adiknya itu.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Eggy penasaran.
"Apa, Kak? Maksud kakak apa? Aku bahkan tidak menyembunyikan apa pun darimu," jawab Bulan dengan jujur.
"Apa yang kamu pikirkan tentang kita, Eggy?" tanya Fadhla.
"Kalian ...." Eggy sengaja menggantungkan kalimatnya. Lalu Bulan mulai angkat bicara.
"Sudahlah. Kalian berdua kenapa sih? Jangan bertengkar, deh. Kita sedang berada di rumah sakit nih. Ada apa sih kalian berdua? Heran deh!" kata Bulan mulai marah-marah.
Tak lama kemudian, pihak medis pun mulai keluar dari ruang UGD. Itu artinya, penanganan Adelia sudah selesai. Eggy pun langsung berdiri dan menanyakan kabar Adelia kepada mereka.
"Dokter, bagaimana keadaan Adelia?" tanya Eggy dengan segera.
"Syukurlah. Dia masih bisa di selamatkan. Benturan di kepalanya sangat keras, ada besar kemungkinan, ingatan dia terganggu. Namun tidak begitu parah. Dia masih bisa mengenali setiap orang, kok. Walau hanya dia harus berusaha untuk mengingatnya," jelas Dokter kepadanya.
"Syukurlah. Jika ingatannya tidak begitu parah. Lalu kapan saya bisa menemuinya, Dok? Saya ingin bertemu dengannya," kata Eggy.
Mendengar kalimat itu, membuat Bulan menatap ke arah Eggy. Dia merasa sedikit cemburu dengan keinginan Eggy yang ingin segera menemuinya. Pertanda apakah ini? Apa Eggy sudah mulai menyukainya dan menjadikan Adelia prioritasnya saat ini? Lalu dengan keadaan Bulan, apakah posisinya akan tergantikan?
Bulan hanya menelan ludahnya. Lalu Fadhla memegangi pundak Bulan dan spontan dia menatap ke arah seseorang yang menyentuhnya itu. Fadhla memberikan isyarat bahwa kepada Bulan dengan menganggukkan sedikit kepalanya seraya menggerakkan bibirnya dengan mengatakan kalimat, "Sabarlah. Semua akan baik-baik saja."
Bulan pun tersenyum ke arahnya. Kemudian dia menganggukkan kepalanya, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 1-M joy. Silakan di cek.
Ada cerita kisah nyata tentang masa mudaku di aplikasi Kwikku berjudul Labil (plin-plan). Novel itu kisah nyata tentang masa mudaku di sekolah.
Jika ingin mengenalku lebih de
kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*