The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Kembali.



Terlihat Bulan sedang berjalan dengan malas di trotoar. Dia menangis di sepanjang jalan mengingat kejadian dk rumah sakit. Dia masih berpikir bahwa dia sudah meminta maaf kepada Eggy atas kelalaiannya sebagai istri. Apakah itu tidak cukup? Bulan merasa dirinya sangat bersalah atas kejadian pertengkaran antara Eggy dan juga Fadhla, adiknya. Gara-gara dirinya, kini hubungan antara kakak beradik itu menjadi senggang dan bermasalah. Dirinya bingung untuk mengembalikan hubungan baik do antara Mereka. Bagaimana pun juga, Fadhla tetaplah adik Eggy. Begitu pun Eggy adalah kakak kandung dari Fadhla.


"Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa denganku? Seharusnya aku memang ikut dengan Eggy, atau setidaknya berdiam saja menunggu di rumah sakit. Kenapa denganku? Aku benar-benar bodoh! Fadhla menjadi melawan Kak Eggy. Wajar saja jika Kak Eggy marah padaku. Aku memang bersalah atas ini. Aku. benar-benar bersalah. Dan makin bodohnya lagi aku malah pergi dari rumah sakit meninggalkan mereka berdua. Apakah mereka akan berantem lagi? Duh, aku menjadi tidak tenang," gumam Bulan dengan panjang lebar. Kemudian dia berhenti sejenak dan berdiri di pinggir jalan seraya melihat kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Entah apa yang dia tunggu, tetapi pada saat ini hari memang sudah terlalu malam. Bahkan terbilang sudah tengah malam. Memang tidak baik bagi Bulan jika dirinya keluyuran malam-malam seperti ini di jalanan seorang diri. Harusnya dia tidak kabur dari rumah sakit.


"Astaga. Hari ini sudah pukul 00.23. Benar-benar sudah pagi, ya? Bulan malam lagi," gumam Bulan sangat terkejut saat dia melihat arah jarum jam di tangannya. Tak lama kemudian, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya dan langsung memegangi pundak Bulan.


"Bulan," panggilnya.


Seketika Bulan menengok. "Hei."


"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Bulan tersenyum simpul. "Aku baik. Hanya saja aku merasa sangat bersalah atas kejadian di rumah sakit. Aku menyebabkan pertengkaran di antara kalian berdua. Maafkan aku," kata Bulan penuh rasa sesal.


"Bukan masalah. Ini bukan salahmu. Ini salahku karena mengajakmu pergi. Wajar saja jika Eggy marah dan cemburu padaku," jelas Fadhla.


"Maafkan aku."


"Sudah aku bilang, ini bukanlah salahmu," tegas Fadhla. "Lalu, mengapa kamu menangis, Bulan?" tanya Fadhla kepada Bulan yang melihat pipinya basah.


"Ah, aku tidak apa-apa," jawab Bulan sambil menyusut kedua pipinya.


"Jangan bilang bahwa kamu menyalahkan diri kamu sendiri atas kejadian ini?" tebak Fadhla.


"Bukan. Bukan hal itu. Sudahlah. Lupakan saja. Lalu mengapa kamu datang kemari? Apa kamu sengaja menyusulku?" tanya Bulan.


Fadhla. Dia memang sengaja menyusul Bulan ketika Eggy meninggalkannya di rumah sakit tadi. Terpaksa dia harus membawa kembali dua kantong keresek tersebut, karena Eggy tidak ingin menerimanya sama sekali.


"Ya. Aku. memang sengaja, Bulan."


Lalu Bulan melihat kedua tangan Fadhla masih memegangi keresek makanan yang sudah mereka beli itu. Dia heran, mengapa Fadhla mengambilnya. Karena niat dirinya membeli semua makanan itu adalah, sebagian untuk Eggy.


"Mengapa kamu membawa makanan yang kita beli tadi, Fadhla?" tanya Bulan terheran-heran.


"Itu karena Eggy tidak ingin menerima makanan itu. Dia meninggalkannya. Daripada makanan ini terbuang sia-sia, lebih baik aku membawanya kembali, bukan?" jelas Fadhla kepada Bulan.


"Apa? Mengapa? Tapi kita membeli makanan itu untuk dia, bukan? Astaga," tanya Bulan heran.


"Yup. Memang benar. Tapi pada kenyataannya, Eggy tidak mau menerima itu. Dia menolak dan meninggalkannya," jawab Fadhla kepada Bulan.


"Mau tak mau, kita harus membawanya dan menghabiskannya berdua saja," jawab Fadhla kepada Bulan.


Bulan mulai melongo. Dia terkejut dengan kalimat yang di keluarkan oleh Fadhla. Ini sangatlah tidak mungkin. Mustahil jika makanan sebanyak itu akan habis oleh dua orang saja. Sedangkan dirinya habis makan bersama Fadhla di luar.


"Kamu serius?" tanya Bulan.


"Aku serius," jawab Fadhla.


Bulan terkekeh. "Mana mungkin? Mana bisa? Kamu ngaco, Fadhla. Kita gak bakalan sanggup memakan semua makanan ini berdua saja. Kamu gila, ya?"


"Ya gak sekarang juga kali, Bulan. Nanti sisa cemilannya kita taruh di kulkas kamu saja," kata Fadhla.


"Oh, iya, ya. Apa yang kamu bilang benar, Fadhla." Bulan tersenyum malu.


"Jadi, apa sekarang kita ke rumahmu saja? Sekalian aku antar kamu pulang ke rumah," ujar Fadhla.


"Baiklah. Aku juga mulai mengantuk," sahut Bulan.


"Kalau begitu, apa kita akan berangkat sekarang saja?" tanya Fadhla.


"Yup, " jawab Bulan.


"Kalau begitu, kita mesti kembali ke rumah sakit. Karena mobilku di parkir di sana," kata Fadhla.


"Astaga. Jadi kita bolak-balik?"


"Apa boleh buat?" Fadhla tersenyum. Bulan pun ikut tersenyum.


"Apa Kak Eggy masih si rumah sakit?" tanya Bulan ragu-ragu.


"Ya. Dia mungkin sedang menunggu Adelia sadar di sana," jawab Fadhla.


Bulan mengembuskan napas panjangnya. "Baiklah. Ayo sebaiknya kita pulang saja," kata Bulan dengan nada yang kecewa.


"Kamu harus kuat, Bulan."


Bulan pun tersenyum padanya. Kemudian Fadhla dan Bulan mulai berjalan kembali menuju rumah sakit untuk mengambil mobil miliknya.