The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 33



Aku melihat kemarahan di matanya. Hal itu membuatku sangat takut untuk menjawab hal apa pun. Ini adalah kemarahan yang sesungguhnya, yang Raihan perlihatkan padaku. Aku tak pernah melihatnya seperti itu. Sungguh! Benar-benar membuatku merasa sangat takut. Apakah wajar, dia seperti itu? Apakah tidak salah? Entahlah. Kuharap apa pun yang menjadi keputusanku nanti, itu adalah hal terbaik. Untuk saat ini, aku masih tidak tahu harus memilih yang mana. Kamu, atau dia?


"Aku memilihmu. Namun terkadang aku ingin berada di sampingnya," jawabku.


Raihan mulai berdiri. Lalu ia bertingkah seperti orang yang sedang kebingungan, ia mondar-mandir di depanku. Terlihat jelas bahwa dia stres saat mendengar pernyataan itu. Lalu tak lama kemudian, ia pun membungkuk di hadapanku.


"Eggy sialan itu sudah membuatmu perasaanmu berubah terhadapku. Aku tak bisa menerimanya!" kata Raihan. Lalu Raihan pun pergi dan berjalan dengan cepat.


"Raihan! Kau akan ke mana?" tanyaku sambil berteriak.


"Ke rumahmu," jawabnya sambil pergi.


Apa? Rumahku? Kenapa? Kenapa? Kenapa ke rumahku? Apa yang akan dirinya lakukan saat dia berada di rumahku? Sungguh! Ini adalah mala petaka bagiku. Ini sebuah masalah besar. Akan ada badai yang datang di depan mata. Tidak. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Aku harus meluruskan semua ini. Ya. Harus.


Lalu aku pun segera menyusulnya.


Saat hendak ingin menyebrang jalan, tanpa aku sadari ada sebuah kendaraan yang melaju dengan kencang ke arahku. Sampai akhirnya ia menabrakku dan aku pun merasa seakan terbang ke udara. Lalu pandanganku berubah menjadi kuning, putih cahaya yang samar-samar, sampai akhirnya pandanganku mulai gelap tak dapat melihat apa pun lagi.


"BULAAAAANN ...!" teriak Raihan seraya berlari ke arahku.


Ia memeluk tubuhku dengan erat, air matanya mulai menetes ke wajahku. Ia menyesali dengan pertengkaran yang sudah terjadi.


Darahku mulai bercucuran ke mana-mana, kepalaku terbentur, tangan, kaki dan tubuhku sudah terluka parah.


Orang orang yang ada di taman kota mulai berlarian untuk membantuku, dan semua itu pun berlalu....


*Author POV


Kring... Kring... Kring...


Suara telepon kantor di meja Irani berbunyi, segera Irani pun menjawabnya.


"Hallo, selamat malam. Dengan Sekretaris Irani, ada yang bisa saya bantu?"


"Apa ada yang bernama saudara Eggy?"


"Iya, ada. Apa anda ingin dibuatkan janji pertemuan?" tanya Irani.


"Tolong hubungkan teleponnya, saya ingin memberitahukan kepada beliau bahwa istrinya yang bernama Bulan telah mengalami kecelakaan, dan saat ini kondisinya sangat kritis."


"Apa? Tunggu sebentar. Akan langsung saya hubungkan."


Irani pun segera menghubungkan teleponnya kepada Eggy, lalu Eggy yang sedang memeriksa berkas-berkas kerjaannya pun, ia tunda untuk segera mengangkat telepon.


"Hallo, ada apa Irani? Kau tidak lihat aku dari arah kaca bahwa aku sedang sibuk?" tanya Eggy.


"Maaf, tapi ada suatu hal yang penting."


"Apa?"


"Telepon dari rumah sakit, untukmu. Akan aku sambungkan padanya."


Mendengar hal itu, membuat Eggy merasa ketakutan, ia menjadi khawatir dengan telepon dari rumah sakit untuknya.


"Selamat malam, Pak Eggy."


"Selamat malam. Ada apa ya?"


"Saya ingin memberitahukan bahwa istri anda yang bernama Bulan sedang kritis dan ia berada di rumah sakit bersama rekannya yang bernama Raihan."


"Apa? Raihan?" tanya Eggy, yang merubah perasaan khawatirnya menjadi cemas.


"Iya. Saya pikir dia suaminya, ternyata bukan." katanya.


"Rumah sakit Permata," jawabnya.


"Saya akan segera kesana, terima kasih telah memberi tahukannya," sahutnya.


Kemudian, Eggy pun menutup teleponnya. Ia menyimpan berkas-berkasnya di meja tanpa membereskannya. Ia segera bergegas pergi dengan terburu-buru.


"Tolong bereskan berkas di mejaku," pinta Eggy sambil berjalan pergi.


"Saya turut prihatin, Pak," ucap Irani bersimpati.


"Terima kasih!" sahutnya.


Di perjalan, Eggy terus merasa cemas dan mengkhawatirkan kondisiku yang sedang tak sadarkan diri. Ia merasa sangat sesak ketika mendengar kabar itu. Ia merasa tertampar atas pertengkaran yang sudah terjadi sebelum aku mengalami hal buruk ini.


"Apa yang kau lakukan bersamanya, Bulan?" tanya Eggy pada dirinya sendiri. Dia benar-benar sangat kacau mengetahui tragedi itu.


Sesampainya di rumah sakit, ia segera mencari ruanganku. Setelah ia berhasil menemukannya, iapun melihat ada Raihan yang sedang mondar-mandir kesana kemari seperti orang yang sedang kebingungan.


Tanpa aba-aba apa pun, Eggy langsung mengepalkan tangannya, lalu ia ayunkan ke arah Raihan dan membuat sebuah pukulan keras di pipi sebelah kirinya.


Bugg...


"Apa yang kau lakukan pada istriku samai dia kritis seperti itu, hah?" tanya Eggy dengan meluapkan segenap amarahnya.


"Maaf, Eggy. Itu hanya kecelakaan!" jawabnya.


Tak puas dengan jawaban Raihan yang sederhana seperti itu, Eggy kembali mengayunkan tangannya dan memukul wajah Raihan sekali lagi.


"Katakan dengan jelas!" tegas Eggy.


Raihan mulai merasa takut dengan amarah yang diluapkan oleh Eggy kepadanya.


"A-aku pergi meninggalkannya, dan aku t-tidak tahu bahwa dia menyusulku," jawab Raihan terbata-bata.


"Kenapa kau meninggalkannya, hah?" tanya Eggy yang mulai matanya berubah warna menjadi kemerahan.


Eggy benar-benar seperti orang yang sedang kerasukan. Terlihat dari raut wajahnya dan tatapannya yang penuh dengan amarah dan kebencian terhadap Raihan.


"Maafkan aku, Eggy. Maafkan aku. Hukum saja aku," pasrahnya seraya meneteskan air matanya.


Lalu Eggy kembali ingin memukul wajahnya, namun ia menahan keinginan itu. Ia pun memukul tembok yang ada di dekatnya.


"Aaarrrgghh ... Sialan!" ucapnya kasar.


"Kau sudah tahu hubungan kami, maka dari itu aku ingin menemuimu," kata Raihan kembali menjelaskan.


"Aku tidak akan menceraikannya setelah apa yang sudah kau perbuat terhadap istriku!" tegas Eggy sambil menunjuk ke arah wajah Raihan.


"Kau sudah berjanji, Eggy. Dia sudah memilihku!" kata Raihan.


"Lalu kau meninggalkannya? Begitu?"


"Itu tidak seperti yang kau pikirkan."


"Jelasnya, aku takkan melepaskan dia untukmu," kata Eggy.


Raihan mulai gerah dengan semua ucapan Eggy, ia pun ingin membalas pukulannya terhadap dirinya. Ia pun mengepalkan tangannya dan mulai memukul wajah Eggy.


Sontak Eggy terpental karena pukulannya yang keras, lalu tanpa pikir panjang lagi, mereka pun berkelahi dan saling memukuli satu sama lain.