
Beberapa saat aku dan Eggy masih saling berpelukan. Namun yang aku sesalkan adalah, aku benar-benar sulit untuk tidur. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Bahkan untuk menengok ke arah Eggy pun, aku tidak sanggup. Takutnya dia masih terbangun dan semuanya akan kacau. Tetapi dengan posisi seperti ini, aku merasa kurang nyaman. Apa aku bilang aja ya padanya?
"Mm ... Kakak. Apakah kamu sudah tidur?" tanyaku berbisik tanpa menengok.
Sejenak Eggy terdiam tak menjawab. Aku pikir bahwa dirinya memang sudah tidur. Namun untuk memastyikannya lagi, aku bertanya untuk kedua kalinya.
"Kakak, apa kamu sudah tidur?"
"Apa, Bulan? Aku tidak tidur," jawabnya.
Aku pun berbalik badan dan akhirnya kami berdua saling berhadapan.
"Aku kurang nyaman dengan posisi itu. Rasanya tidak bebas," eluhku.
"Lalu?"
"Tantangannya aku ganti lain kali deh. Aku ganti dengan yang lain," ucapku.
Eggy tersenyum. "Tidak masalah. Jangan khawatir. Kamu tidak bisa tidur gara-gara itu?"
"Bukan sih. Nemang kesulitan tidur saja," kataku.
"Mau main lagi?" tanya Eggy.
"Permainan kejujuran atau tantangan? Enggak ah," jawabku. Aku tidak mau main itu lagi. Perlahan-lahan membuatku masuk dalam jurang sendiri.
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Penah mendengar cerwita dua kalimat?" tanyanya.
"Tidak."
"Caerita dua kalimat adalah, kamu membuat cerita kilat. Sangatlah pendek."
"Bagaimana contohnya?" tanyaku.
"Contohnya, aku memandang gadis di ujung jalan sana. Aku dekati gadis itu, namun tiba-tiba menghilang," jawabnya.
"Ke mana hilangnya?" tanyaku.
"Ya itu pendapatmu sendiri. Kamu yang harus menebaknya. Kurang lebih seperti itulah."
"Siapa yang mulai nih?" tanyaku.
"Bagian kamu. Aku sudah mengatakannya. Yang horor ya. Soalnya malam-malam begini sangat cocok," sahutnya.
"Iya, bentar. Aku berpikir dulu."
Malam. Ya. Ini sudah lewat tengah malam, dan kami malah bermain cerita dua kalimaty horor pada malam-malam begini. Untungnya, aku tidak begitu parno untuk hal ini, maka d dari itu aku siap menerima permainannya.
"Saatku asik mendengarkan musik, pintu kamarku terbuka. Kemudian aku bangkit dan menutup pintu. Saat aku berbalik, aku melihat tubuhku tertidur di tempat tidur," kataku pada Eggy. "Apakah seperti itu?" lanjutku bertanya.
"Kamu seperti sudah ahli, ya," pujinya.
"Wah, iya dong. Tentu saja." Sombongnya diriku.
"Oke. Sekarang bagianku. Aku memakan bola-bola putih dengan bintik hitam di tengahnya.
Bola-bola putih itu tersaji sangat harum dan masih panas di dalam mangkuk berkuah.
Aku tersenyum ketika hendak memakannya. Aku melahap itu dengan menatap teman-temanku tersiksa tanpa indera penglihatannya."
"Tunggu, Kak. Bola-bola putih itu berarti mata temen-temen dia?" tanyaku.
"Yup. Bisa jadi," jawabnya.
"Namanya juga cerita dua kalimat. Bebasa dong! Lanjut bagian kamu."
"Mm ... Aku melihat pantulanku di cermin berkedip, padahal aku sedang melotot."
"What?"
"Apa?"
"Kalimatmu rasanya lucu. Hahaha," sahut Eggy
"Lucu dari mana? Itu serem tahu," kataku.
"Rasanya lucu, Sayang."
"Tahu ah. Kakak mah emang suka gitu. Lanjut Kakak sekarang. Jangan banyak komplain," cetusku.
"Oke, oke. Malam yang sunyi. Aku berjalan seorang diri menyusuri jalanan yang sepi. Sampai aku melihat dua sosok yang lewat di depanku. Bulu kudukku merinding saat aku tau dua sosok itu adalah ...." Eggy menggantung kalimatnya. Membuatku sangat penasaran.
"Siapa? Apa, Kak?"
"Adalah ... mantan pacarku dengan pacar barunya. Hahahaha," lanjut Eggy.
Aku sudah menunggu lanjutan cerita itu. Namun dsengan senangnya, Eggy mempermainkan rasa penasaranku. Sungguh menyebalkan sekali.
"Curang! Mana ada serem-seremnya itu."
"Ada dong. Ketemu mantan sama pacar barunya juga serem. Kitanya yang patah hati."
"Jadi Kakak curhat nih?" tanyaku dengan ketus.
"Enggak. Aku bercerita tentang mantan pacarmu, Raihan," sahutnya.
"Jangan bawa-bawa nama dia, Kakak. Ini liburan kita lho. Nanti rusak," eluhku.
"Cieee... sekarang sudah mulai suka nih ya."
"Apaan sih!" elakku.
Ya. Mengapa aku peduli dengan liburan ini? Tidak masalah jika dia membahas Raihan selama berlibur, mengapa aku harus jengkel dengan hal itu. Seharusanya aku merasa senang ketika membahas hal itu. Namun faktanya lain. Aku malah tidak ingin mendengar nama Raihan pada saat ini.
"Aku lanjut deh. Ketika aku dan teman-temanku sedang asik bercengkrama sampai larut, tiba-tiba di jendela orang tua menegur kami agar tak terlalu ribut, lalu kami mengiyakan perkataan si Bapak, seketika kami sadar bahwa kamar kami berada di lantai 14 dan jendelanya tak memiliki balkon."
"Oke. Cukup seram juga. Rupanya kamu pintar juga membuat cerita dua kalimaty yang horor," puji Eggy padaku.
Aku tersenyum. "Kan diajarin sama Kakak tadi. Untunglah otakku masih encer," sahutku.
"Kamu tanggap sekali, Sayang. Namun bisa saja yang bilang jangan berisik lewat telepon," kata Eggy.
"Kan ada yang negur di jendela. Masa di telepon? Gak nyambung deh ah," jawabku.
"Masuk akal juga sih."
"Yaudah, Kakak lanjutin dong!" ucapku.
"Lanjutkan di episode selanjutnya aja ya."
"Eh."
Note:
Karena update ini saat masuk kamis malam, alias malam jumat, jadi pembahasan Eggy dan Bulan agak creepy nih buat kalian baca. Aku sengaja untuk membagi kisah ini menjadi dua. Agar updatenya pada kamis malam, dan jumat malam dengan pembahasan yang sama pula, yaitu cerita dua kalimat horor.
Dan lanjutan cerita dua kalimat ini, akan dilanjut di episode berikutnya, ya. Agar kalian makin penasaran dengan pembahasan Eggy dan Bulan sepanjang malam di Villa itu. Selamat membaca dua kalimat creepy pasta dan horor. Selamat parno ria. Hehehehe. Yuuhu ....