
Aku mengangkat kepalaku, sehingga aku tidak bersandar ke kepalanya. Kemudian aku menatap serius ke arah wajah Eggy.
"Ada sesuatu yang seharusnya Kakak tahu."
Eggy menengok. "Apa?"
"Ini tentang Raihan dan aku, Kak."
Eggy menatapku. "Bicaralah jika menurutmu memang itu penting. Aku akan mendengarkannya."
Sebenarnya aku ragu untuk mengatakan hal ini, mungkin ini akan menyakitkan bagi perasaannya. Namun menurutku ini akan lebih baik.
"Sebenarnya aku dan Raihan sudah ada rencana untuk menikah."
"Aku tahu."
Sontak aku sangat terkejut mendengar Eggy mengetahui akan hal itu.
"Kakak tahu dari mana?" tanyaku.
"Hanya menebak saja. Karena aku yakin hal itu akan terjadi padamu," sahut Eggy.
"Apa Kakak bisa menerawang?" tanyaku.
"Mana ada," jawabnya singkat.
"Mm ... Saat perceraian itu terjadi, Raihan akan melamarku dan melunasi semua hutang-hutangku padamu. Jadi, pada saat itu Raihan akan cepat melamarku dan kami akan segera menikah. Lalu pindah dari kota ini dan menjauh dari sini pula." lanjutku bercerita pada Eggy.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang setelah mengalami kejadian ini?" tanya Eggy.
"Aku bingung, Kak. Kita akan berpura-pura bercerai, bagaimana jika Raihan ingin menikahiku? Apakah aku harus menikahinya juga, sedangkan aku dan Kakak hanya berpura-pura untuk sementara?" tanyaku pada Eggy.
"Aku tidak akan memaksa," sahut Eggy dengan pasrah.
"Apa Kakak akan sepasarah itu padaku?"
"Bukan pasrah. Tapi untuk saat ini, aku tak mempertahankan seseorang yang tidak mencintaiku," katanya.
"Lalu apakah Kakak mempertahankan itu? Kakak juga kan akan menikah lagi. Akan punya istri muda, dia lebih kaya, lebih bening, lebih glowing, lebih mapan dariku. Sudah pasti tubuhnya sangat mahal dengan semua biaya perawatan yang dia lakukan."
"Aku tidak melihat fisiknya. Jika pun aku memang memilih fisiknya saja, sejak lama sudah aku tinggalkan kamu."
Kalimat Eggy benar-benar pedas. Membuatku merasa sangat tersinggung.
"Jadi kamu akan meninggalkanku?" tanyaku dengan polosnya.
Eggy mengernyitkan dahinya. "Kamu pahami dulu, Sayang, apa yang sudah aku katakan padamu. Kamu salah paham," jelasnya.
"Lupakan deh. Jadi apa rencana Kakak setelah menikahi gadis itu?" tanyaku.
"Tinggal bersamanya. Berselang 1 hari, lalu akan tinggal bersamamu," jawab Eggy.
"Apa dia gak bakalan curiga?"
"Enggak deh kayaknya. Apakah aku seharusnya tidak menemuimu?" tanya Eggy.
"Eh, jangan! Kan aku juga istri Kakak," jawabku.
"Baiklah, Baik."
Eggy memelukku. "Bagaimana kalau Kakak jadi jatuh cinta pada wanita itu? Pasti Kakak akan memilihnya, 'kan?" tanyaku.
"Enggak bakalan. Jika dari awal aku sudah menyukaimu, maka sampai akhir pun aku akan tetap menyukaimu."
"Benarkah?"
"Iya," sahut Eggy sambil menatapku. Aku tersenyum padanya. Kemudian Eggy mencium bibirku kembali, aku pun membalasnya.
Saat kami sedang asyik berciuman, tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Aku dan Eggy pun mengakhiri kegiatan itu, lalu Eggy berjalan ke arah pintu.
"Sebentar."
"Ada apa?" tanya Eggy.
"Saat ini aku mulai iri dengan kalian berdua. Kalian berciuman di kolam, kalian pikir aku tidak melihatnya? Aku sengaja pergi dan mandi terlebih dulu. Kemudian beli mencari makan di luar. Setelah selesai makan, aku kembali lagi. Namun aku mendengar kalian sedang mandi, karena suara air shower yang menyala. Jadi aku kembali keluar lagi untuk membeli makanan, kemudian aku membungkus makanan itu untuk kalian berdua. Dan sekarang makanannya ada di depan tuh. Kali ini aku merasa sangat kacau karena kalian," kata Fadhla dengan panjang lebar.
"Ada apa denganmu?" tanya Eggy kebingungan.
"Efek jomlo. Sudahlah. Lain aku akan mencari pasangan," jawab Fadhla.
"Kenapa tidak kamu nikahi saja anak bos itu," saranku kepada Fadhla.
"Anak bos itu tertarik hanya kepada Eggy."
"Ah, begitu ya."
"Iya."
"Yaudah, kalian makan dulu gih. Pasti capek habis kerja berdua, 'kan?"
Aku terkejut mendengar kalimat itu dari mulutnya. Fadhla apa-apaan sih. Kok segitunya bilang gitu padaku.
"Ke-kerja apa?" tanyaku dengan polosnya. Bukan polos lagi, tetapi lebih tepatnya berpura-pura polos.
"Sudahlah. Aku malas bahas. Nanti makanannya keburu dingin. Besok aku akan pergi dari sini kok. Aku tidak ingin berlama-lama di sini dan mengganggu acara liburan kalian. Jadi mungkin, hari esok aku akan pulang."
"Padahal baru sebentar."
"Memangnya kamu masih ingin aku ada di sini ya?" tanya Fadhla padaku.
"Eh, maksudnya gak gitu juga. Hanya saja aku pikir kamu harus ikut berlibur juga."
"Enggak perlu. Aku masih ada urusan di sana. Aku harus mengecek perkembangan perusahaan Eggy. Saat ini, aku menjadi wakil Eggy. Jadi itu pun bagian dari tanggung jawabku," jelas Fadhla.
"Baiklah. Jadi hari ini har km terakhir kamu ada di vila? Mengapa kamu tidak melakukan apa yang ingin kamu lakukan?" tanyaku.
Sejenak Fadhla berpikir. "Benar juga, ya. Aku harus melakukan sesuatu terlebih dulu sebelum pergi."
"Jadi?" tanya Eggy.
"Kita bermain?" ajak Fadhla.
"Oke. Baiklah."
"Kamu setuju?" tanya Fadhla padaku.
"Mm ... tergantung permainannya, Hehehe." jawabku.
"Oke. Tapi sebelum bermain, kalian harus memakan makanan yang sudah aku belikan."
"Baik, baik. Sebentar lagi aku akan ke sana."
"Oke. Aku tunggu di ruang depan ya."
"Siap."
Fadhla pun pergi meninggalkan kamarku. Kemudian Eggy kembali menutup pintu kamarnya dan menghampiriku lagi.
"Sebelumnya aku mau berterima kasih padamu. Karena kamu sudah bersedia menjadi istri yang sesungguhnya untukku," ucap Eggy.
"Eu-I-iya, Kak. Sama-sama. A-aku juga berterima kasih kepada Kakak karena sudah menjadi seseorang yang sabar dengan masa laluku yang buruk, apalagi sampai aku tidak ingat apa-apa begini. Kakak masih tetap bersabar menghadapiku," sahutku padanya.
"Untuk selanjutnya, maafkan aku karena memilih menikah lagi untuk menyelamatkan perusahaan. Jika semuanya stabil, aku akan menceraikannya dan kembali padamu."
"Aku harap Kakak memegang omongan Kakak."
"Aku akan berusaha, Bulan. Percaya dan yakin saja dengan diriku. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," kata Eggy sambil memegangi kedua tanganku. Aku pun tersenyum ke arahnya.
"Aku pun minta maaf atas ketidak stabilan diriku terhadap Kakak. Aku selalu plin-plan dan labil tidak jelas dalam memilih sebuah keputusan," ucapku malu.
"Aku mencoba untuk memahamimu. Jangan sedih," sahutnya. Lalu Eggy kembali mencium bibirku lagi, membuatku merasa sedikit merasa tenang. Mungkin Eggy memang benar-benar mencintaiku.