
Saat matahari terik bersinar terang, aku mulai berjalan ke luar rumah. Niatku akan pergi ke rumah Raihan. Aku harus menemuinya segera. Beberapa minggu ini, bahkan aku tidak berbicara padanya. Raihan seakan telah melupakanku. Apa salahku?
"Kamu sedang apa?" tanya seseorang mengejutkanku.
"Aku sedang mengingat," jawabku.
"Mengingat apa?"
"Jalan. Rasanya aku merasa asing berada di sini. Samar-samar aku juga mengingatnya."
"Mau ku antar?" tanyanya. Pertanyaan itu membuat pikiranku seketika megatif terhadapnya. Tak biasanya memang, tetapi aku benar-benar merasa takut jika dia punya niat jahat terhadapku. Aku harus benar extra hati-hati dengan orang asing.
"Tidak usah. Tidak perlu. Terima kasih," sahutku. Kemudian aku pun berjalan menjauhinya.
Pria itu tetap mengikutiku. Oh, Tuhan! Ada apa lagi ini?
"Bisa kah kamu tidak mengikutiku?" tanyaku memohon.
"Kamu merasa risi?"
"Tentu saja. Kamu membuatku takut."
"Baiklah. Perkenalkan namaku Fadhla. Senang bertemu denganmu." Dia mengulurkan tangan.
Antara peecaya atau tidak, takut atau tidak, harus berkenalan atau tidak, ini membuatku sulit untuk memutuskannya. Aku tak ingin salah langkah. Namun kulihat dari binar matanya, dia tidak seperti seseorang yang jahat. Namun apa salahnya jika aku harus berhati-hati padanya? Dia bisa saja modus.
"Bulan." Aku memberitahu namaku tanpa mau berbalas jabatan tangan dengannya.
"Aku lihat kamu terus kebingungan."
"Itu bukan urusanmu. Maaf, aku harus segera pergi."
"Boleh kah aku mengantarmu?" tanyanya.
"Tidak usah. Terima kasih. Tolong jangan ikuti aku. Atau aku akan melaporkanmu kepada pihak yang berwajib atas tuduhan mengganggu orang asing."
"Eh, jangan! Iya, iya. Aku tidak akan mengikutimu. Kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai jumpa lagi, Bulan."
Aku tak menjawabnya. Aku mengabaikannya seraya kembali berjalan mencari arah tujuanku.
"Jika kita jodoh, kita akan bertemu lagi lho ya," teriak Fadhla.
Aku menengok ke arahnya, lalu mengernyitkan dahiku. Seketika aku memanyunkan bibirku merasa heran dengannya. Masih ada aja pria yang seperti itu. Sudah dipastikan pasti dia play boy. Banyak wanitanya.
Setelah kejadian yang sangat tidak jelas itu, tiba-tiba tanpa ku sadari, aku berada di depan pintu sebuah rumah. Suasana rumah ini seperti tidak asing bagiku. Sepertinya aku sering mendatangi rumah ini. Dengan penuh keberanian, aku pun langsung mengetuk pintu rumahnya. Berharap seseorang yang aku kenal membukakan pintu rumahnys untukku.
Tok, tok, tok!
"Semoga saja aku tidak salah rumah," gumamku.
Aku pun mencobanya kembali.
Tok, tok, tok!
Akhirnya aku mendengar seseorang membukakan kunci dan membuka pintu rumahnya. Lalu aku melihat seseorang di balik pintu itu.
Betapa terkejutnya aku, aku memang tidak salah memilih rumah. Aku berhasil menghampiri tujuanku, yaitu mendatangi rumah Raihan.
"Bulan!" panggilnya terheran-heran.
Entah apa yang merasukiku, aku merasa sangat rindu sosok Raihan. Kemudian aku pun langsung memeluknya dengan erat. Melepas rasa rinduku padanya.
"Raihan! Kamu ke mana saja? Aku sangat rindu. Sungguh!" ucapku.
"Bu-bulan, kenapa kamu datang kemari? Kamu masih belum sepenuhnya sembuh."
"Tidak, Raihan. Aku sudah sembuh. Kenapa aku bisa bersama dengan pria lain?" tanyaku kebingungan.
"Ayo sini, masuk dulu. Aku akan menyajikan minuman terlebih dulu untukmu."
Aku pun masuk ke dalam rumahnya, Raihan langsung menutup pintu rumahnya dan segera menyiapkan minunan untukku. Rupanya aku salah. Raihan masih tetap sama seperti yang aku kenal. Pria yang mengaku suamiku, pasti telah berbohong padaku.
"Ini, minumlah terlebih dulu." Raihan memberikan secangkir teh untukku.
"Terima kasih." Aku langsung meminumnya dengan hati-hati. Karena kutahu bahwa minuman itu pasti panas.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Raihan penasaran.
"Aku bingung. Aku tiba-tiba menikah dengan seseorang yang tidak aku kenal. Bagaimana bisa? Aku sangat ingat betul, sebelum kejadian itu aku masih bersamamu. Aku mengejarmu."
"Apa yang kamu ingat?" tanya Raihan memastikan.
"Aku ingat bahwa kamu akan menikahiku secepatnya. Aku masih menunggu hal itu. Kamu pernah menciumku di taman kota," jawabku.
"Jikalau memang benar kamu sudah menikah, bagaimana?"
"Tidak, Raihan. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Bagaimana bisa aku menikah dengan orang lain. Kamu pikir aku akan berkhianat?" Aku menaikkan nada suaraku. Aku benar-benar tersinggung dengan ucapannya. Ini tidak masuk akal. Apakah mereka bersekongkol untuk mempermainkanku? Sungguh kejam. Sungguh jahat jika memang benar seperti itu. Aku tak bisa menerimanya.
"Kamu tidak berkhianat, Bulan. Namun, alasannya ada pada dirimu."
"Kamu tahu aku hilang ingatan. Aku tidak bisa mengingat apa pun. Yang aku ingat hanyalah kamu akan melamarku dan sebentar lagi kita akan menikah. Jika pun memang benar aku pernah menikah pria itu, aku akan segera bercerai. Aku tidak ingin hidup bersama dengan orang asing."
Mendengar kalimatku yang seperti itu, membuat Raihan terdiam. Dia seakan kebingungan dengan pernyataanku. Namun ini jujur. Aku akan menceraikan Eggy untuk hidup bersama dengan Raihan. Apa pun resikonya. Aku tidak akan percaya dengan ucapan pria itu. Aku harus mencari tahu lebih banyak lagi tentang hal ini.