
Note: Kembali ke cerita Eggy ya, guys. So, langsung saja.
Eggy tengah memperhatikan jam di pergelangan tangannya sedari tadi. Rupanya dia sudah menunggu Bulan selama berjam-jam di sana. Niatan Eggy adalah dia ingin melihat pekerjaan Bulan sampai selesai. Entah mengapa rasanya Eggy ingin menatap Bulan sangat lama. Dia tidak peduli walau di pandang beberapa kali oleh para pegawai di sana. Yang dia pedulikan adalah rasa ingin bertemu dengan Bulan agar dirinya cepat pulang.
Eggy menarik napasnya penuh kesal. "Berapa lama lagi kamu, Bulan? Berapa lama kamu selesaikan pekerjaanmu ini?" gumam Eggy dengan malas.
Tak lama kemudian, seseorang datang menghampiri Eggy.
"Maaf, Pak. Apakah Anda masih ingin memesan makanan atau minuman? Saya perhatikan, Bapak masih tetap di sini sejak lama. Ah, maaf. Bukannya saya lancang menanyakan hal pribadi Anda. Hanya saja, saya ingin menawarkan sesuatu yang ada di menu kembali kepada Anda," jelasnya.
Eggy menengok dengan wajah yang cuek. "Berikan saya menunya."
"Ini, Pak." Dia pun memberikan menunya kepada Eggy.
Eggy lekas membawa lembaran menu tersebut. Kemudian dirinya langsung melihat setiap nama-nama makanan dan minuman yang ada di daftar menu tersebut.
"Saya pesan minuman saja," ucap Eggy.
"Minuman apa, Pak?" tanya pelayan itu.
"Kopi Robusta,' jawabnya.
"Ah, baik." Pelayan itu pun mengambil kembali lembar menu tersebut. Kemudian dia kembali ke dapur dan segera membuatkan kopi untuk Eggy.
"Hei, Bulan!" panggil Melda.
Bulan yang sedang mengaduk bumbu mie pun menengok ke arah Melda. "Ada apa?" tanyanya.
"Kamu merasa aneh gak sih sama orang itu?" tanya Melda lagi.
"Orang yang mana? Aneh gimana lagi?" Bulan mulai kebingungan dengan apa yang sedang di bahas oleh Melda.
"Orang itu. Tadi dia memesan apa padamu?" tanya Melda dengan masih memberikan kalimat kode-kodean kepada Bulan.
"Orang yang mana lagi, Melda?"
"Pria itu. Yang dekat kaca jendela. Dia dari tadi belum selesai juga," jelas Melda.
"Kamu lihat, bukan? Yang dia lakukan hanya memainkan ponselnya saja. Padahal, saat aku menawarkan pesanan lagi pada dia, aku melihat gelas kopi yang sebelumnya itu masih ada kopinya lho. Masih lumayan banyak. Mungkin dia baru minum sedikit. Yang bikin herannya adalah, kenapa dia hanya duduk sambil memainkan ponsel dan memilih untuk tidak segera menghabiskan kopinya dan pergi saja bekerja pada pekerjaan dia?" Melda mulai bertanya-tanya.
Bulan hanya bisa tersenyum simpul saja. "Itu kan urusan dia. Kenapa jadi kamu yang repot? Apa kamu keberatan dengan keberadaan dia di sini?" tanya Bulan.
"Gak juga. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan alasan dia berdiam duduk di restosan selama berjam-jam. apakah dia memang sedang bekerja, sedang ingin duduk lama, punya masalah, atau sedang menunggu seseorang?" tebak Melda.
Seketika Bulan terdiam. Dia bingung harus berbuat apa lagi. Eggy benar-benar membuat dirinya merasa sangat risi. Dia harus benar-benar bicara kepada Eggy. Hal ini tidak boleh di biarkan. Dia pun berpikir akan sesuatu dan dia berhasil menemukan sebuah ide.
"Hei, Melda. Bisakah aku yang mengantarkan pesanan dia?" tanya Bulan menawarkan diri.
"Mengapa? Mengapa harus kamu?" tanya Melda.
******! Sebelum meminta tolong seperti itu kepada Melda, Bulan belum sempat memikirkan sebuah alasannya untuk itu. Kini dirinya harus cepat-cepat memikirkan suatu alasan yang pas untuk itu.
"Mm ... kamu pasti lelah berjalan ke sana kemari. Jadi untuk kali ini, biar aku saja, Mel."
"Gak usah. Hal ini memang pekerjaanku, bukan? Jadi memang bukan masalah jika aku harus mengantarkannya kepada dia," sahut Melda.
"Gak apa-apa, Mel. Biar aku saja. Ya udah, aku mau antar mie ini kepada pelanggan dulu. Nanti pesanan orang itu, biar aku saja yang Mengantarkannya," kata Bulan. Belum sempat Melda mengatakan sesuatu pada Bulaan, dia pun langsung pergi tterlebih dulu.
"Ish, si Bulan nih ada-ada aja. Ada apa ya? Kenapa dia kukuh ingin mengantarkan pesanan dia? Apa jangan-jangan ... ah, gak mungkin sih. Mana mungkin Bulan tertarik dengan pria itu. Dia kan sudah punya gandengan, si Fadhlan itu. Tapi ... Fadhla juga ingin aku gandeng, sih. Cocok banget dengan tipe priaku," gumam Melda menghayal sendiri.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*