The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Bab 13



Sesampainya di rumah Raihan, aku merasa sangat senang sekaligus terkejut. Karena selama 2 tahun ini rumahnya sama sekali tidak berubah, itu tetap sama seperti sebelumnya dan itu membuatku benar-benar sangat merindukan kenangan masa laluku.


"Wow! Kau benar-benar tidak mengubahnya?" ucapku terkesima.


"Ya seperti itulah. Aku tak mengubah apa pun, aku tak ingin kau komplen apa pun tentang perubahan rumahku. Jadi aku biarkan sama seperti waktu kita bersama dulu," ujarnya dengan seru.


"Kau benar-benar melakukannya. Aku tak menyangka," ucapku terharu.


"Duduklah! Akan ku buatkan air minum."


Aku pun duduk sebagaimana yang disuruhnya tadi, sambil memperhatikan sekeliling rumahnya dan serasa kembali bernostalgia. Tak lama kemudian, Raihan kembali dengan membawa 2 gelas air putih.


"Nih minum dulu. Tadi kau minum kopi kan? Biar gak nempel rasa kopinya minum air putih," katanya padaku sambil memberikan air tersebut.


"Makasih ya, Rai."


Aku pun mengambil gelas itu dan lalu meminumnya. Sangat terasa dileherku, air itu mengalir ke tenggorokanku dan itu membuatku sangat segar.


*Glek... Glek... Glek...


Suara tegukan air yang ku minum. Membuat Raihan memperhatikanku dan itu juga hal yang membuatku malu, karena setelah perpisahan kami selama 2 tahun ini ada rasa sedikit canggung jika bersamanya.


"Sepertinya kamu sangat haus ya?" goda Raihan.


"Eh, nggak kok. Hanya saja sangat gerah." Alasanku merasa malu.


Raihan pun tersenyum padaku, lalu ia menghampiriku dan duduk di sampingku.


"Kapan kamu akan bercerai?" tanya Raihan tiba-tiba. Membuatku terkejut dan sulit untuk menjawab pertanyaan itu.


"Ah, tentang itu. Kamu juga tahu kan? Perjanjiannya adalah 3 tahun," jawabku gugup.


"Walaupun hari ini kau memintaku untuk melunasi semua hutang keluargamu, aku sanggup," ujar Raihan.


"Ya. Tapi aku tidak ingin membebankanmu. Aku sanggup melunasinya sampai nanti pada waktu aku bercerai," sahutku menolak.


"Aku tak mampu lagi untuk menunggu. Kau kini ada di depan mataku dan aku sudah sanggup untuk membawamu keluar dari sana. Kita akan bahagia," ujar Raihan meyakinkan diriku.


"Raihan, aku tahu kau sangat tidak bersabar untuk bersamaku. Tapi aku dalam perjanjian. Selama 3 tahun aku harus bertahan hidup bersamanya," jelasku padanya.


"Tapi dia kembali lebih cepat kan? Seharusnya dia kembali tahun depan? Kenapa?" tanya Raihan mendesakku.


"Aku tidak tahu. Aku hanya di beritahu bahwa dirinya di pindah tugaskan menjadi seorang Direktur di sini," jawabku seadanya. Karena memang itu yang aku tahu tentang kembalinya dia.


"Apa kamu seranjang dengannya?"


"Bukan begitu. Aku hanya takut."


"Asalkan kamu tahu. Aku masih ingat akan dirimu dan aku juga masih menginginkanmu. Lalu apa yang kamu takutkan? Aku di sini untuk bersamamu kan?" sahutku sambil memegang jemarinya.


"Maafkan aku. Aku tak ingin kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya," ujar Raihan sambil memeluk tubuhku. Aku pun membalas pelukannya.


Yang kurasakan pada saat ini adalah rasa sayangku pada Raihan kembali hadir. Aku memang masih mencintainya, aku masih berharap padanya. Namun apakah yang ku lakukan ini benar? Aku sudah bersuami dan di belakang suamiku aku datang ke rumah mentan kekasihku dan berpelukan dengannya. Apa aku terlihat seperti wanita murahan? Entahlah.


Raihan melepaskan pelukannya. "Besok mari kita menonton bioskop," ajak Raihan padaku.


"Ide bagus. Sudah lama aku tidak ke bioskop!" seruku berantusias.


"Selama ini kamu ke mana?"


"Aku hanya diam di rumah dan menyelesaikan sekolahku."


"Seharusnya kamu menikmati masa mudamu di luar sana. Bukannya berdiam di rumah menjadi penjaga rumah orang," goda Raihan.


"Hehe. Kau ini bisa saja. Ya aku harus ke mana coba? Aku juga tidak tahu. Maka dari itu aku selalu diam di rumah. Menonton tv, menonton film, bermain game ps atau di hp, atau bahkan aku membaca novel di aplikasi," jelasku dengan panjang lebar.


"Apa kamu bahagia?" tanya Raihan sambil memelukku dari arah belakang.


"Bahagia atau tidak, jangan kamu pikirkan. Aku berusaha untuk merasa bahagia disetiap harinya. Karena ini adalah resiko kehidupanku," jawabku sambil mengelus tangannya yang sedang memeluku.


"Aku tak ingin kamu terus menderita seperti ini. Aku ingin segera membahagiakanmu dan mewujudkan impianmu," katanya.


"Impian? Impian apa? Kok aku lupa ya!" tanyaku kebingungan.


"Kamu ini dasar bodoh. Impian kita untuk berbulan madu Singapore. Kamu ingat?" jawabnya.


Ya. Singapore. Waktu dulu saat masih sekolah, aku dan dia berkhayal jika kita sudah menikah akan berbulan madu disana selama satu minggu. Namun mengapa aku melupakannya dengan sangat mudah?


"Oh, iya. Sekarang aku ingat!" sahutku sambil tersenyum simpul padanya.


"Jangan melupakan apapun lagi setelah ini ya! Aku khawatir bahwa perasaanmu akan berubah." ujarnya.


Peka. Dia memang peka terhadap perasaanku saat ini. Dia mengetahui perasaanku yang kini sedang dilema antara dirinya dan Eggy.


"Jangan khawatir. Aku masih bersamamu."


Aku pun bersandar pada dadanya sambil memikirkan tentang pernikahanku dan hubunganku dengan Raihan. Skandal antara aku dan Raihan, membuatku merasa tak nyaman dan dipenuhi dengan rasa takut.


Dosakah aku melakukannya? Tolong beritahu aku!