The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 90



Aku melihat ada darah dalam genangan air itu. Apakah aku haid?


"Kakak. Ada darah." Aku terkejut melihat itu.


"Itu adalah selaput darahmu," sahut Eggy menahan napasnya. Lantas Eggy langsung membasuh dan membersihkan sisa darah di bagian sensitifku dengan air. "Jangan khawatir. Ini sudah sering terjadi kepada wanita," lanjutnya memberitahu padaku.


"Maksudnya?" Aku masih kebingungan dengan apa yang dijelaskannya. Mengapa ada selaput darah? Apakah aku masih ....


"Kamu pernah bertanya padaku. Apakah kita pernah melakukan hubungan istri sebelumnya, jawabannya adalah kita akan melakukannya hari ini untuk yang pertama kalinya," sahut Eggy.


Apa? Pertama kalinya? Aku terkejut mendengar Eggy yang berbicara sepeti itu. Jadi, selama tiga tahu itu aku tidak pernah melakukan hal ini dengannya? Ini pun baru pertama kalinya? Aku masih perawan? Dan keperawananku, kini Eggy yang mengambil haknya?


"A-aku, belum pernah melakukan ini sebelumnya?" tanyaku memastikan.


"Belum," jawabnya singkat. Lalu Eggy membuka saluran air bathtub itu dan membuang semua air bercampur selaput darahku itu.


"Aku akan masuk lagi, Bulan. Namun, aku akan menyingkirkan air merah ini."


Jantungku pun berdegup semakin kecang mendengar suaranya.


Setelah air itu terbuang semuanya, Eggy kembali melanjutkan aktifitas untuk melakukan itu denganku. Dia memasukkan itu kembali dan di dalam sana, masih terasa rasa perih. Namun beecampur dengan rasa yang aneh, dan aku kesulitan untuk menggambarkannya. Aku memeluk tubuh Eggy dan mencengkram punggungnya, menahan rasa sakit itu.


Aktifitas itu pun berlalu.


*****


Setelah selesai, aku dan Eggy mandi bersama, dia menggosok punggungku dengan spons mandi. Rasanya seperti menjalani kehidupan pengantin baru. Apakah rasanya seperti ini?


"Masih terasa sakit?" tanya Eggy padaku.


Aku menengok ke arahnya. "Sepertinya enggak, Kak," jawabku malu.


Eggy memelukku dari arah belakang. Kemudian dia mencium pundakku.


"I love you," ucapnya.


Mendengarnya berkata seperti itu, aku kesulitan menjawab. Entah mengapa. Namun aku benar-benar kesulitan menjawabnya. Maka dari itu, aku mengelus tangannya yang melingkar di perutku dan tersenyum padanya.


Aku dan Eggy sudah selesai mandi, lalu aku dan dia mulai berganti baju dan sesudahnya kami malah saling diam. Merasa sangat canggung.


"Apa saat ini kamu baik-baik saja?" tanya Eggy sambil merapikan bajunya.


"Cukup membaik, Kak," jawabku malu-malu.


"Setelah beres merapikan bajunya, Eggy menghampiriku dan memelukku dengan lembut.


"Maaf," ucapnya.


"Maaf atas dasar apa, Kak?" tanyaku kebingungan.


"Karena aku memberikan hakmu saat kamu tidak mengingat masa lalu kita. Karena aku terlambat memberikanmu hak batinmu pada masa lalu, karena banyaknya masalah," sahut Eggy.


"A-ah, tidak apa-apa, Kak. Bukan masalah kok, Kak. Aku baru saja mengetahui bahwa itu pertama kalinya. Apakah kita berdua benar-benar sudah menikah?" tanyaku meragukan hal itu


"Apa semua foto dan buku nikah itu masih kurang untuk membuktikannya? Lalu keluargaku yang mengenalmu juga, apakah tidak begitu meyakinkan?"


"Jika mengingat hal itu memang sudah pasti meyakinkan sih," sahutku.


"Sini! Kamu pernah memintaku untuk menceritakan semua, 'kan? Ayo duduk di sampingku,"


Aku pun menuruti apa yang diucapkannya. Aku duduk di sampingnya. Lalu Eggy merangkul pundakku.


"Kita itu menikah atas dasar bisnis. Perjanjian yang saking menguntungkan satu sama lain. Setelah menikah, aku meninggalkanmu dengan alasan bisnis di luar selama 3 tahun, setelah itu bercerai. Namun dalam kurun waktu dua tahun, aku pulang. Aku datang padamu," ceritanya.


"Lalu apa lagi?" tanyaku.


Eggy memelukku dan menyandarkan kepalakunke pundaknya.


"Kita jalani hidup berumah tangga seperti biasanya. Kamu terlebih dulu yang membuatku semakin takut akan kehilanganmu."


Aku menengok ke arah Eggy. "Ah, Kakak lebay nih!"


"Enggak lebay. Ini serius, Sayang."


"Masa sih, Kak? Lalu mengapa ada skandal?" tanyaku.


"Karena Raihan adalah manager perusahaanku. Kalian bertemu kembali saat acara perusahaan, lalu entah bagaimana lagi, kalian sering bertemu secara diam-diam dan pribadi," jelasnya.


"Ma-manager?"


"Iya. Manager."


"Jadi, karena itu semua orang pada tahu bahwa aku selingkuh darimu?" tanyaku.


"Iya. Tetapi dengan begitu, kamu pernah menyadari kesalahanmu kok," jawab Eggy.


"Apa?"


"Kamu menyukaiku. Tetapi perasaanmu sedikit masih ada terhadap Raihan."


"Jadi, dulu atau pun sekarang, aku masih tetap labil? Gak punya pendirian dan masih plin-plan?" tanyaku.


"Bukan masalah. Yang penting, untuk saat ini aku sangat yakin, bahwa kamu tetap akan memilihku. Bukan Raihan lagi," sahut Eggy dengan penuh keyakinan.


Aku pun baru menyadari hal itu. Semenjak liburan ini, aku tidak begitu ingat kepada Raihan. Sampai akhirnya aku melakukan pekerjaan suami istri di toilet dengan Eggy, menyadarkanku akan sesuatu. Bahwa memang mungkin aku lebih menyukai Eggy dan mulai melupakan sosok masa lakuku. Namun aku masih ounya urusan dengannya, aku harus menyelesaikan perjanjian antara aku dan Raihan untuk segera menikah. Perceraianku dan Eggy mungkin tak akan oernah terjadi. Tetapi sebentar lagi Eggy akan menikah dengan wanita lain, apakah aku akan kuat? Apakah aku akan baik-baik saja?


Lalu bagaimana dengan Raihan? Apakah dia akan ikhlas menerima kegagalan untuk yang ke sekian kalinya? Lalu apakah dia tidak akan marah, saat mengetahui bahwa aku akan segera dipoligami, untuk sementara?


Apakah perasaan Eggy tak akan berubah padaku, saat ada wanita lain yang lebih sempurna dariku? Jujur saja. Aku merasa takut akan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku itu.


Dengan mengumpulkan semua keberanian, aku harus memberitahu Eggy terlebih dulu. Walaupun ini akan membuat kami bertengkar, tetapi tidak ada salahnya jika aku berkata jujur padanya.


Aku pun mengangkat kepalaku, sehingga aku tidak bersandar ke kepalanya. Kemudian aku menatap serius ke arah wajah Eggy.


"Ada sesuatu yang seharusnya Kakak tahu."


Eggy menengok. "Apa?"


"Ini tentang Raihan dan aku, Kak."


Eggy langsung memandangku dengan tatapan yang tajam. Mungkin dia sudah mencurigai apa yang akan aku sampaikan kepadanya. Semoga saja hal ini menjadi baik, dan semoga saja pilihanku untuk jujur padanya tidak berujung keburukan. Aku yakin Eggy pasti akan mengambil langkah dewasa untuk masalah ini. Aku sangat yakin itu.