The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 38



Sesampainya di kantor, terlihat Eggy berjalan dengan terburu-buru menuju ruangan rapat. Di tengah perjalanan, beberapa karyawan di sana menyapanya. Namun Eggy masih tetap bersikap cuek dan jutek, mungkin karena kabar buruk yang sudah didengarnya.


"Selamat pagi, Pak Direktur."


"Pagi," sahut Eggy sambil berjalan melewatinya.


"Kasihan Pak Direktur ya, istrinya hilang ingatan dan perusahaan mengalami anjlok, juga kerugian besar," bisik salah satu karyawan di sana.


"Iya. Padahal selama ini perusahaan ini tidak pernah mengalami seperti ini," mereka mulai bergosip.


"Iya, benar. Karena Pak Direktur selama seminggu ini sibuk dengan istrinya, perusahaan jadi tidak terkontrol."


"Pak Manager juga tiba-tiba jarang hadir. Apa jangan-jangan ada kaitannya dengan istri Pak Direktur?" para karyawan itu semakin menyebarkan gosip.


"Ah, iya. Aku pernah melihat istrinya Pak Direktur dan Pak Manager makan siang di restoran dekat sini."


"Benarkah?"


"Ya. Benar. Bla ... Bla ... Bla ...."


Mereka terus melanjutkan gosip mereka tentang aku dengan Raihan. Kini hubunganku dengan Raihan mulai dicurigai. Namun sayangnya aku tak ingat semua hal itu. Jika benar, itu adalah sebuah kesalahan yang paling fatal yang pernah dilakukan.


Tak sengaja saat mendekati lorong ruangan rapat, ia berpapasan dengan Raihan yang sama-sama akan melaksanakan rapat bersama.


Mereka saling tatap satu sama lain, sejenak mereka terdiam dengan tatapan tajam khas mereka masing-masing.


Lalu tak lama setelah itu, Eggy pun menyapa dirinya terlebih dulu.


"Selamat pagi, Manager!" sapanya dengan nada rendah. "Mm ... Maaf. Saya duluan," lanjutnya.


Ia pun kembali berjalan seraya merapikan dasi di kemejanya dan menghelakan napasnya dalam-dalam. Mencoba untuk tetap tenang dengan situasi dan kondisi di sana.


Lalu Raihan hanya menatapnya sembari memikirkan sesuatu yang entah itu pikiran apa, dan ia pun kembali berjalan menyusul Eggy.


Rapat segera dimulai. Eggy masuk ke dalam ruangan dan ia duduk di tengah-tengah semua karyawannya. Tak lama Raihan pun masuk ke dalam ruangan dan duduk di dekat meja Eggy.


Sekali lagi mereka sejenak saling tatap. Namun tidaklah lama, Eggy langsung melakukan pembukaan untuk saatnya mulai berpidato.


"Selamat pagi semua. Saya akan memulai rapat ini tanpa basa-basi. Kita lanjut ke intinya. Strategi ini bertujuan untuk menahan laju penurunan penjualan dan anjlokan modal perusahaan. Meminilimisasi perolehan laba usaha dan keuangan usaha. Solusi yang saya ajukan ada tiga bagian. Yaitu satu. Optimalisasi Penjualan yang di bagi dua tugas yaitu promosi penjualan dan optimalisasi sumber daya yang tersedia dalam perusahan. Ke dua kita harus mengurangi biaya produksi, biaya penjualan dan supporting. Yang terakhir adalah Terobosan baru. Ada yang ditanyakan?" jelas Eggy.


Semua karyawan di sana hanya diam dan saling menatap satu sama lain.


"Saya pikir semuanya sudah jelas dan tak ada yang perlu di bicarakan lagi. Rapat di tutup. Terimakasih atas luangan waktu untuk rapat ini," ucap Eggy kepada mereka. "Pastikan kau menulis semuanya!" kata Eggy kepada Irani.


"Sudah saya tulis semuanya, Pak. Jangan khawatir," sahut Irani.


"Bagus!" ujarnya. Lalu ia pun pergi meninggalkan ruang rapat. Diikuti oleh Irani menuju ruangannya.


"Anda lelah?" tanya Irani.


"Irani!" panggil Eggy.


"Ya. Bagaimana?" tanya Irani kembali.


Eggy terdiam sejenak dan berpikir topik apa yang akan ia bahas dengan Irani, ia merasa ragu-ragu untuk membahas sesuatu yang berkaitan dengan pribadinya.


"Terima kasih sudah bekerja keras untuk perusahaan," jawab Eggy.


Akhirnya Eggy hanya mengungkapkan rasa syukurnya. Namun bukan itu yang akan di ucapkan oleh Eggy. Ia masih tidak berani untuk mencurahkan isi hatinya kepada orang lain.


"Ah, itu memang sudah tugasku. Kau jangan sungkan seperti itu. Akan saya buatkan teh, sepertinya kau lelah," ucap Irani penuh rasa bahagia.


"Tidak perlu, Irani. Beristirahatlah!" sahut Eggy.


"Tidak, Eggy. Aku disini untuk bekerja dan melayanimu," ujar Irani.


"Melayani? Seperti aku suamimu saja," celotehnya.


Irani menahan tawa. "Kau memang suamiku, Eggy," balas celotehnya.


"Ssttt ... Jangan menyebarkan gosip yang tidak-tidak. Aku bukan suamimu!" jelas Eggy.


"Iya aku tahu. Aku hanya bercanda kok."


Tak lama setelah itu, tiba-tiba Raihan pun masuk ke dalam ruangan Eggy tanpa mengetuk pintu ruangannya. Membuat Eggy dan Irani terkejut dibuatnya.


"Maaf, aku lupa tidak mengetuk terlebih dulu," kata Raihan.


"Ah, tidak apa-apa, Pak Manager," sahut Irani.


"Sekretaris Irani, tolong buatkan saya teh dingin!" kata Eggy secara tiba-tiba.


"Oh, iya, Pak. Akan saya buatkan," ucap Irani kepada Eggy. "Permisi!" lanjut Irani menundukan kepalanya ke arah Eggy dan juga ke arah Raihan. Lalu ia pun pergi keluar ruangan Pak Direktur.


"Ada apa ya? Tiba-tiba Pak Manager masuk begitu saja. Tidak seperti biasanya. Apa karena gosip itu yang susah tersebar itu ya? Padahal aku juga tidak mencurigainya walau pun aku pernah memergoki mereka di restoran sedang makan siang bersama. Apa jangan-jangan memang benar ya?" tanya Irani dalam hati sambil berjalan perlahan menuju OB.


Gosip itu pun semakin menyebar di seluruh kantor. Namun Eggy tidak tahu akan gosip tersebut sudah menyebar di dalam kantornya. Karena ia terlalu sibuk di rumah sakit untuk mengurus segala keperluanku.


Entah bagaimana gosip itu bermula, namun dengan waktu yang sangat cepat dan singkat, semua orang tahu dan curiga bahwa Raihan ada hubungan denganku.


Ya. Memang mereka benar dengan gosip itu.