The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 70



Malam ini, dengan terpaksa aku tidur satu ranjang dengannya. Lagi. Dan kami tidur saling membelakangi satu sama lain. Bagiku tidak masalah. Namun ini terasa sangat aneh.


Mataku masih tetap terjaga pada malam ini, rasanya aku kesulitan untuk tidur. Beberapa kali aku pejamkan mata, tetapi tak bisa juga. Diam-diam aku melirik ke arah Eggy, dia masih membelakangiku. Belum terlihat tanda-tanda bahwa dirinya masih bangun. Perasaanku mulai lega terhadap apa yang aku lihat, aku tidak perlu khawatir tentang hal itu. Aku mencoba memejamkan mata kembali, tetap tidak bisa tidur. Lalu aku berbalik dengan posisi yang terlentang, menatap langit-langit dengan serius, tetap saja tak bisa tidur. Membuat malamku menjadi stres. Kemudian, aku berbalik lagi ke arah yang berlawanan. Betapa terkejutnya diriku, ketika aku berbalik, ada sosok Eggy yang masih melek dan menatapku dengan tajam. Sontak aku panik dan mati kaku di depannya.


"Eh."


"Apa kamu tidak bisa tidur?" tanya Eggy perlahan.


Lalu aku menggelengkan kepalaku sebagai tanda memberikan jawaban tidak bisa.


"Kalau begitu, kita senasib," sahut Eggy.


"Padahal hari ini aku sangat capek. Namun, untuk tidur pun sangatlah susah," eluhku.


"Mau bermain?" tawarnya.


Permainan apa yang akan Eggy lakukan jika aku menerimanya? Apakah aku harus menerima permainannya atau tidak?


"Permainan apa?"


"Kejujuran, atau tantangan."


"Cara mainnya bagaimana?" tanyaku. Jujur saja, aku tidak tahu permainan semacam ini. Bisa dibilang aku kuper (kurang pergaulan/kurang pengetahuan).


"Jika kamu memilih kejujuran, apa pun pertanyaannya kamu harus menjawab dengan jujur. Jika kamu memilih tantangan, apa pun tantangannya, kamu harus lakukan itu," jelas Eggy.


"Ih, kok serem?"


"Mana ada serem? Cuma permainan doang."


"Terus cara milihnya bagaimana? Siapa yang duluan milih?" tanyaku.


"Kita suit. Bagaimana? Biar adil. Yang kalah, harus memilih antara tantangan dan kejujuran. Kemudian yang menang, bisa bertanyanatau mengajukan tantangan," jelasnya lagi.


"Oke deh. Aku setuju."


Eggy bangun dan segera duduk di ranjang untuk bersiap-siap memulai permainan.


"Ayo kamu juga bangun. Kita mainnya sambil duduk aja. Jangan sambil tiduran," celetuknya.


"Oke, oke. Aku bangun."


Aku pun mengikuti apa yang sudah dikatakannya.


"Lalu, kapan kita mulai?" tanyaku.


"Kok gak sabaran sih? Sebentar, aku ambil air dulu. Biar panik. Biar menang juga," sahut Eggy.


"Ih, kok curang!" eluhku.


"Minum kok dibilang curang," sindirnya seraya turun dari ranjang dan mengambil air putih.


Beberapa saat menunggu, Eggy pun kembali lagi dengan membawa dua gelas air putih.


"Air yang satunya lagi untukku, Kak?" tanyaku yang mendadak kepedean.


"Bukan. Untukku dua-duanya," jawabnya.


Sudah kuduga. Aku memang kepedan. Aku pun memutar bola mataku dengan malas.


"Ayo mulai!"


Kami pun mulai melakukan suit tangan. Awalnya, aku dan Eggy sama-sama memasang jari telunjuk. Tandanya seri. Jadi, aku dan dia harus mengulang suitnya. Yang kedua, akhirnya aku yang menang. Dengan berbekal jari kelingking, dan dia jari jempol, sudah pasti aku yang menang. Aku pun merasa sangat senang dengan hal itu.


"Yeeeeaay! Aku yang menang. Jadi, Kakak mau pilih yang mana nih?" tanyaku secara langsung, tanpa perlu basa-basi baso tahu.


"Baiklah. Apa ya?" Sejenak aku berpikir sebuah pertanyaan berat untuk aku tanyakan pada Eggy. Namun rasanya tak ada pertanyaan khusus untuknya. Jika aku skip, mungkin sesudah ini aku yang kalah darinya. Kemudian aku akan memilih antara tantangan atau kejujuran. Baiklah. Aku akan menanyakan hal ini saja.


"Kak, jawab yang jujur ya! Jika perusahaan Kakak hancur karena tidak bercerai denganku, apa yang akan Kakak lakukan untuk itu? Sepertinya, bertahan pun akan sulit."


"Pertanyaanmu konyol sekali."


"Ini serius, aku bertanya."


"Aku tahu kamu bertanya. Tetapi pertanyaanmu sangat serius. Kupikir kamu akan bertanya hal lucu. Gak seru," eluhnya.


"Jawab!" Aku kukuh saja dengan pertanyaanku itu. Karena setidaknya aku menjadi penasaran tentang masalahnya.


"Jika hancur perusahaan, aku tidak masalah. Namun jika sampai hancur masa depan pernikahan kita, itu yang bermasalah," jawabnya.


"Hanya itu?" tanyaku, berharap suatu jawaban yang bisa membuatku paham dengan keadaannya.


"Memangnya kamu ingin aku jawab apa?" tanyanya padaku.


"Enggak apa-apa sih. Cuma ya aneh aja gitu. Masa jawabannya sesederhana itu? Apa tidak ada jawaban yang lebih berat gitu?" Kukuh saja aku menginginkan jawaban yang lain.


"Hanya itu."


"Pasti ada yang lain."


"Tidak, Sayang."


"Yakin?"


"Yakin seyakinnya. Memangnya kenapa sih?"


"Aku berharap kamu menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang lain," sahutku.


"Baiklah. Aku akan mengganti jawabanku."


"Serius?"


"Iya, Bee."


"Apa?"


"Jawabannya, tidak masalah. Aku masih muda, aku bisa bekerja jadi manager di perusahaan lain. Walaupun tidak sebagai bos, tetapi apa yang aku dapatkan adalah uang halal untuk menafkahimu," jawabnya.


"Bagaimana dengan ibumu dan ayahmu? Apakah mereka akan membiarkanmu hidup seperti itu? Aku sudah merasakan pengalaman itu. Dan hal itu menyedihkan. Sangat menyedihkan," ungkapku.


"Apa kamu sedih jika aku bangkrut?" tanyanya. Sejenak aku terdiam dengan pertanyaan itu. Aku pun harud mulai berpikir tentang alibi ini.


"Kok permainannya jadi sih?" tanyaku mengalihkan pembicaraannya.


"Aduh. Kamu ini. Belum aja selesai, udah mau mulai lagi."


"Ayolah! Cepat suit lagi!" kataku memerintah.


Aku dan dia pun suit.


Namun kali ini aku merasa sial. Aku kalah dengan jari telunjuk dan dirinya jari jempol. Aku bingung untuk memilih dua kata di antara permainan ini.


"Oke. Kamu mau pilih yang mana, Bee?" tanyanya.


"Aku takut jika memilih tantangan. Jadi aku putuskan untuk memilih kejujuran saja," jawabku.


"Oke. Pertanyaannya adalah bagaimana jika dalam kurun waktu seminggu ini, kamu sudah menyukaiku? Apakah kamu akan tetap bercerai dan menikah dengan Raihan atau tetap bersamaku dengan rasa yang mulai tumbuh lagi dalam dirimu?" tanyanya panjang lebar.


Sejenak aku terdiam. Sudah kuduga. Jika aku kalah, pastinpertanyaan seputar ini akan keluar. Dan memang benar saja. Pertanyaan ini keluar lebih awal dari apa yang aku bayangkan. Sungguh mengejutkan sekali. Harus jawab apa diriku? Mikir keras banget ini mah.