The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
EPISODE 121



"Hah, apa?" Bulan melotot terkejut mendengar kalimat dari Eggy.


"Mengapa? Apa ada yang salah?" tanya Eggy.


"Bukan begitu, Kak. Hanya saja aku merasa terkejut," jawab Bulan.


"Memangnya apa yang kamu pikirkan?" tanya Eggy.


"Tidak ada, Kak. Aku merasa aneh dan heran saja," jawab Bulan.


"Jadi bagaimana? Aku ingin dirimu, Bulan."


"Apa maksudnya, Kak?" tanya Bulan sok polos.


Sebenarnya Bulan mengetahui apa yang dimaksud oleh Eggy. Namun dia pura-pura tidak tahu, karena dia tidak ingin bahwa jika dia berkata jujur bahwa dia paham dengan apa yang dikatakan oleh Eggy, bisa-bisa malam itu akan menjadi suatu hal yang salah.


"Mau kah kamu menemaniku, Bulan?" tanya Eggy.


"Dihari saat kita sudah umumkan perceraian kita, Kak?" tanya Bulan.


"Itu hanya kabar palsu. Kamu juga tahu sendiri kan," jawab Eggy.


bulan terkekeh mendengar jawaban darinya.


"Entahlah, Kak. Aku sendiri bingung dengan keadaanku. Mungkin memang ini salah," jelas Bulan.


"Salah bagaimana?"


"Hari esok dan selanjutnya, kita tidak bisa seperti lagi, Kak. Ini tidak boleh dilakukan. Aku takut bahwa kita akan ketahuan, dan aku tidak ingin itu. Nanti apa yang akan dikatakan oleh orang-orang?" jelas Bulan kembali.


"Memang sih. Sebenarnya itu adalah kesalahan kita." Eggy memasang raut wajah kesal. "Arrggh. Kejadian ini membuatku muak."


Eggy mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Dia terlihat stres dengan keadannya yang begitu membingungkan. Antara keinginan dan keharusan, dia harus memilih di antara keduanya.


Bulan mencoba untuk menenangkan diri Eggy. Dia memegangi pundak Eggy.


"Kak," panggilnya.


Eggy menengok. "Ada apa?"


Bulan menatap dalam pada mata Eggy. Lalu secara perlahan-lahan Bulan mendekati Eggy. Dia memberanikan diri untuk mendekatkan kepala dia ke arahnya. Lalu kemudian, dia mengecup bibir Eggy dengan lembut. Beberapa detik berlalu, Bulan pun mengakhirinya.


"Jangan khawatir. Aku masih di sini, Kak. Jangan pernah marah dengan keputusanmu. Karena ini adalah keputusan kita. Jadi, jangan pernah menyalahkan diri sendiri, ya," kata Bulan pelan-pelan.


"Aku tahu, Bulan. Tetapi rasanya aku brengsek. Pengecut, dan aku tidak pantas untukmu. Mengapa aku melakukan ini? Aku sadar, bahwa aku memang egois selama ini padamu."


"Sudahlah, Kak. Jangan pernah bahas itu lagi. Kita pikirkan masa depannya saja. Pikirkan tentang perusahaan kakak. Jika kakak tidak melakukan ini, Kakak akan bangkrut," kata Bulan kepada Eggy.


"Sial. Sampai saat ini aku belum menemukan siapa orang yang menjebakku, dan menyusup dalam perusahaanku," ujarnya.


Bulan memegangi tangan Eggy. Dia tersenyum simpul. "Jangan khawatir. Cepat atau lambat, pelakunya pasti bertemu kok, Kak. Jangan khawatirkan hal itu."


"Terima kasih, Bulan. Aku harap aku akan segera menemukannya. Namun rasanya, ini akan sangat sulit."


"Seberapa sulitnya, pasti akan ada jalan keluar, Kak. Jangan khawatirkan hal itu. Aku akan selalu bersamamu kok." Bulan tersenyum.


"Kak," panggilnya.


"Apa, Sayang?" tanya Eggy.


"Apa kakak mau tidur saat ini?"


"Mengapa bertanya seperti itu terus padaku, Bulan?" tanya Eggy kebingungan.


"jujur saja, aku kurang nyaman dengan keadaan seperti ini," jawab Bulan.


"Karena kita mengumumkan perceraian kepada orang lain?" tebak Eggy begitu saja.


Bulan mengangguk. "Iya, Kak."


"Jangan khawatir. Hanya hari ini saja, Bulan. Hanya hari ini. Temani aku." Eggy memohon kepada Bulan dengan wajah yang memelas.


Bulan terdiam sejenak. Dia berpikir keras dengan permintaan yang dilontarkan Eggy padanya. Dia bingung dengan apa yang seharusnya dia lakukan pada saat ini. Harus kah dia menuruti dan memberikan keinginannya pada malam ini? Atau kah dia harus menolak keinginannya? Hal ini membuat Bulan bingung setengah mati.


"Bagaimana, Bulan? Mengapa kamu diam?" tanya Eggumy kembali, mencoba agar Bulan membuka suara.


"Mm ... apakah hanya hari ini saja?" tanya Bulan kepada Eggy.


"Jujur saja. Aku tisak akan kuat menahannya lagi. Baik hari ini, esok, dan selanjutnya."


Bulan menelan ludahnya sendiri. "Lalu?"


"Lalu apa?"


"Untuk selanjutnya bagaimana?" tanya Bulan kepada Eggy.


"kita sebelumnya sudah membahas hal ini. Jadi, apakah kamu ingin membahasnya setelah kita bekerja malam ini?" tanya Eggy kepada Bulan.


"E-eh. M-maksud kakak apa?"


"Lupakan masalah itu. Jangan banyak bicara lagi. Turuti saja apa kataku saat ini, dan kamu bisa bebas mengungkapkan segalanya," kata Eggy pada Bulan. Lalu tanpa aba-aba, dia mencium Bulan kembali untuk membungkam mulut Bulan agar dia tidak banyak bicara lagi, dan mereka pun bercumbu sepanjang malam.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update sehari 2x. Terima kasih sebelumnya, readers.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback).


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga.


Terima kasih, semuanya. :*