
Tak terasa waktu pun cepat berlalu. Aku dan Eggy kini sudah sampai di depan rumah. Aku dan dia mulai keluar dari mobil dan Eggy lekas membuka bagasi mobilnya dan satu persatu dia keluarkan barang-barangnya dari dalam sana.
"Tolong bawakan barang kecil di sana, Sayang," perintah Eggy.
"Yang ini bukan, Kak?" tanyaku pada Eggy sambil menunjuk ke barang yang aku tunjuk. Takutnya salah.
"Yup. Benar. Bawa ke rumah, ya! Aku akan membawa barang yang lain," jawabnya.
"Baik, Kak."
Aku pun langsung membawa barang-barang yang ringan dan aku mulai berjalan ke dalam rumah. Setelah aku membuka pintu, aku melihat beberapa anggota keluarga yang sedang duduk bersama. Mereka nampak diam dan ketika aku masuk ke dalam rumah, mereka serentak menatapku.
"Selamat datang, mm ... maksudnya, apa kabar? Kami sudah kembali," sapaku mengawali pembicaraan.
Setelah aku mengatakan itu, ibu Eggy mulai berdiri dan berjalan secara perlahan ke arahku. Saat dirinya berada tepat di depanku, dia pun langsung mendaratkan sebuah tamparan keras pada pipiku Sehingga dengan refleks wajahku terpalingkan ke arah samping.
"A-ada apa ini? Kenapa?" tanyaku dengan syok.
Ketika melihatku ditampar oleh ibunya, Eggy pun langsung menyimpan barang-barang berat seperti koper di pintu masuk.
"Mi, ada apa? Kenapa Mami menamparnya? Apa salah dia? Dia baru saja pulang, Mi," ucap Eggy.
"Apa kamu tidak sadar? Perusahaanmu sudah hancur, Eggy. Keluarga yang akan kamu nikahi nanti sudah tahu bahwa kalian berdua melakukan liburan bersama. Apa kalian sudah gila?" jelasnya dengan nada yang tinggi.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan Bulan. Supaya dia dapat ingat tentang kenangannya dulu," sahut Eggy meyakinkan ibunua.
"Dasar wanita tidak tahu diri! Sudah selingkuh secara terang-terangan, masih saja mencuci otak anakku supaya percaya padamu. Sekarang malah mencoba menggoda, adik dari suamimu sendiri? Murahan! Wanita hina. Sampah!" ucapnya menghinaku.
Mendengar semua cacian yang tertuju padaku itu, membuat perasaanku hancur, hatiku remuk. Rasanya aku tidak ingin berada di sini lagi. Aku ingin pergi yang sangat jauh dari keluarga Eggy. Apa aku harus memutuskan sebuah perpisahan yang benar-benar, agar aku dapat bebas?
"Mami! Sudah. Jangan bicara sembarangan! Jika Mami tidak tahu bagaimana ceritanya, sebaiknya jangan pernah mengeluarkan kalimat hinaan seperti itu kelada istri saya," tegas Eggy padanya.
"Apa? Wanita ****** ini masih kamu sebut istri? Buta sekali kamu, Eggy."
"Bukan buta, Mi. Dia memang istriku dan akan selalu menjadi istri. Wanita yang Mami sebut ****** itu adalah istri dari anakmu, Mi," jelas Eggy.
"Apa kamu berani melawan ibumu?"
"Jika masih dalam kebenaran, iya."
"Kamu akan pilih siapa? Mami yang sudah melahirkan kamu, atau wanita ****** itu?"
"Sudah, Kak. Jangan diteruskan lagi. Aku akan pergi, Kak. Aku ingin kita bercerai saja denganmu, Kak," ucapku.
"Bulan ... apa yang kamu katakan?" tanya Eggy.
"Sudahlah, Kak. Aku lelah," jawabku.
"Tidak, Bulan!" tahannya.
"Kak, aku mohon!" ujarku sambil menangis dan memangis di hadapannya.
"Sesuai apa yang kita sepakati sebelumnya, aku akan bercerai denganmu, Bulan," kata Eggy.
Mendengar kata cerai dsri mulutnya, membuat perasaanku kembali semakin hancur. Aku tahu, yang dimaksud dia mungkin tentang perceraian palsu yang sudah kita rencanakan waktu lalu. Namun sebenarnya, apa yang aku pinta untuk bercerai itu adalah perceraian yang sesungguhnya.
"Bagus. Mami akan urus perceraian kalian," ucapnya kepada Eggy.
"Tidak perlu. Biar aku dan Fadhla yang mengurus perceraiannya. Jika itu bisa membuat keluarga kita tetap utuh, jika itu bisa membuat Mami bahagia, jika itu menjadi jalan terbaik bagiku dan Bulan, aku menerimanya," ucap Eggy.
"Baguslah! Kamu masih anak Mami yang cerdas."
"Jangan pernah hina dia lagi. Siapa pun yang akan menikahinya nanti, Mami jangan ikut campur," kata Eggy.
"Bukan urusan Mami. Untuk hari ini, silakan kalian menikmati waktu istirahat kalian. Mami akan menunggu surat perceraian kalian, segera."
Ibu Eggy pun berjalan pergi mengambil tas yang tertinggal di sofa, kemudian dia pun menyuruh yang lainnya untuk segera pergi.
"Ayo kita pergi dari sini. Sudah gerah, penuh dosa jika masih ada wanita kotor itu," ucapnya dengan angkuh. Kemudian, dia pun berjalan pergi keluar dari rumah dan meninggalkan pandangan penuh kebencian dii matanya kepadaku. Lalu disusul oleh Ayahnya.
"Ingat! Kamu adalah penerus yang paling berpengaruh," ucap Ayahnya.
Eggy hanya terdiam saja. Kemudian Fadhla mendekati Eggy.
"Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya dengan baik. Kamu tidak akan benar-benar bercerai dengannya, 'kan?" tanya Fadhla sambil berbisik.
"Menurutmu, aku akan menceraikannya begitu saja? Aku akan mempunyai anak dari rahimnya," ucap Eggy.
Sontak Fadhla terskejut bukan main mendengar apa yang sudah diucapkan oleh Eggy. Pasalnya Eggy mengatakan bahwa dia akan mempunyai anak dariku. Gila saja, kita hanya baru beberapa kali, tidak mungkin sampai hamil, 'kan? Kurasa tidak, itu kesalahan.
"Semoga sukses!" ucap Fadhla sambil menepuk pundak Eggy secara pelan. Lalu Fadhla menatapku seperti menyimpan banyak kekecewaan. Entahlah. Kulihat sepertinya sedih mendengarku seperti itu. Dia pun pergi meninggalkan kami. Setelah kondisi rumah mulai sepi, aku mulai mengajak Eggy berbicara lagi.
"Kak, sebenarnya apa yang aku katakan pada ibumu itu adalah sungguhan," ucapku.
"Apanya yang sungguhan?"
"Soal perceraian kita."
"Memangnya kita juga akan bercerai kan? Cerai bohongan saja," jelas Eggy.
Ya. Sudah aku duga. Dia pasti menganggapnya adalah sebuah perceraian palsu. Namun maksudku tidak seperti itu.
"Aku ingin secara nyata," ucapku.
"Tidak, Bulan. Apa yang kamu katakan? Kita sudah sepakat ya sebelumnya tentang hal ini. Jangan diubah lagi. Kamu jangan labil dan plin-plan. Aku tidak akan mengizinkan hal itu terjadi," ucap Eggy yang tak rela.
Aku mulai kebingungan dengan hal ini, apakah perceraian palsu itu akan menjadi baik untuk masa depan? Atau tidak? Karena jujur saja, jika keluarga Eggy tahu tentang hal kepalsuan ini, mungkin aku dan Eggy mendapatkan masalah yang cukup besar. Ini tidak dapat dibiarkan. Aku tidak boleh melakukan hal ini. Terlalu membahayakan. Namun, apakah aku bisa meyakinkan Eggy untuk masalah yang sedang terjadi ini?