
"Kalau begitu, menikahlah denganku, Bulan. Agar bukan hanya kamu yang merasa tersakiti. Namun Eggy juga merasakannya," ajak Fadhla kepada Bulan.
Seketika Bulan tersedak makanan, lalu dia terbatuk-batuk. Dia terkejut dengan apa yang di katakan oleh Fadhla padanya. Dia tidak menyangka bahwa Fadhla akan mengatakan hal semacam itu kepada kakak iparnya sendiri. Ini mulai sangat tidak beres. Benar-benar tidak beres. Bisa-bisanya Fadhla mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi padanya. Ini sangatlah konyol.
"Heh, kenapa cuma diam aja? Kamu mau, ya?" tanya Fadhla mencoba menebak-nebak.
"Ish! Apaan?" tanya balik dirinya.
"Jadi, mau gak nikah sama aku?" tanya Fadhla sekali lagi untuk memastikan.
"Kamu gila, apa? Menikah denganmu sama saja dengan aku masuk ke jurang yang sama," kata Bulan menolak secara tidak langsung.
"Jadi sekarang di samain sama jurang?" tanya Fadhla kepada Bulan.
"Bukan begitu, tetapi maksudnya tuh ... aku mengisyaratkan hal itu dengan jurang. Kamu paham, bukan?" jelas Bulan yang kesulitan untuk berbicara lebih jelas padanya.
"Oke, oke. Aku paham dengan apa yang kamu katakan, Bulan. Benar-benar paham kok," kata Fadhla.
"Jadi, mau bagaimana? Apa kamu mau menjalani kehidupan sepeperti ini saja?" tanya Fadhla.
"Yup. Mau bagaimana lagi? Aku gak ada pilihan lain. Walau pun ada pilihan yang lain, tetap saja yang harus aku pilih adalah jalan yang sama. Sama seperti saat ini," jelasnya.
"Baiklah. Kalau begitu cepat selesaikan makanmu. Kita harus beli cemilan lain dan kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adelia," kata Fadhla.
"Oke. Dikit lagi habis." Bulan pun memakan suap. demi suap batagor tersebut sampai akhirnya habis dan hanya tersisa bumbu kacangnya saja.
Tak terasa makanan mereka pun telah habis di lahapnya. Kemudian Fadhla langsung membayar makanan tersebut ke pedagang tersebut. Setelah itu, mereka menyimpan kedua piring tersebut di bawah kursi plastik itu, karena takut terinjak jika di luar itu atau jika di simpan di atas kursi otu, takutnya piring tersebut akan terjatuh.
"Terima kasih, ya Pak."
"Iya, sama-sama."
Bulan dan Fadhla mulai pergi ke daerah lain. Lalu dia membeli beberapa makanan cemilan lainnya. Dan Bulan sangat merasa senang, ketika dirinya mengatahui ada tukang gorengan yang biasa dia beli sehabis pulang bekerja, dia pun langsung mendatangi pedagang tersebut dan membeli gorengan itu.
"Eh, Bapak. Rupanya jualan di sini juga, ya?" sapa Bulan.
"Iya, Neng. Jualan di sini. Kan saya harus keliling mencari tempat yang ramai," sahut pedagang gorengan itu.
"Oh, iya juga ya. Harus cari tempat yang rame. Hahaha. Baiklah. Saya mau beli, Pak. Bungkus, ya."
"Baik, Neng. Biasa campur-campur ya, Neng?" tanyanya.
"Iya betul, Pak. Kali ini porsinya dua kali lipat, ya. Karena saya mau makan bersama teman saya nanti," kata Bulan.
"Oh, gitu. Baiklah, Neng."
"Ini makanan apa, Bul?" tanya Fadhla sambil menunjuk ke salah satu makanan tersebut. Pasalnya dia baru tahu ada bentuk makanan dengan sayuran campur-campur di dalamnya dalam satu adonan.
"Oh, yang itu. Makanan itu visa disebut dengan ote-ote. Bisa juga disebut bala-bala. Tergantung sih," jawab Bulan kepada Fadhla.
"Bedanya apa sih, Ote-ote atau pun bala-bala?" tanya Fadhla merasa penasaran.
"Sebenarnya sama saja kok. Sama-sama satu adonan yang isinya sayur-sayuran. Biasanya ada yang di campur dengan daging, sosis, kornet, ada mihun, mie, intinya campur-campur deh. Banyak rupa dalam datu makanan itu," jelas Bulan kepada Fadhla.
"Masa sih? Emangnya bener ya, Pak? Isinya ada campur makanan yang teman saya sebutkan tadi?" tanya Fadhla kepada pedagang tersebut.
"Benar kok. Dia gak bohong. Cobain saja, Mas. Kalau gak enak, gak jadi beli gak masalah," sahutnya.
Bulan terkekeh. "Ayo cobain satu sana!"
"Ah, nanti juga di cobain di rumah sakit. Bareng Eggy," kata Fadhla.
"Ambil saja satu, Mas. Gak apa-apa kok. Ambil saja. Cicipi saja, saya kasih gratis," kata pedagang tersebut kepada Fadhla.
"Yang benar nih, Pak?" tanya Fadhla memastikan.
"Insyaallah, Mas. Beneran kok. Ambil saja," jawab pedagang itu.
Fadhla pun mengambil makanan tersebut dan mencoba. mencicipinya. Alhasil, dia sangat terkejut dengan setiap gigitan makanan tersebut. Dia dapat merasakan Beberapa sayuran di dalam gorengan yang tengah dia makan. Lalu dia juga dapat merasakan makanan tambahan Seperti yang disebutkan Bulan tadi. Ada tambahan daging di dalamnya. Benar-benar enak.
"Rupanya makanan di jalanan, tidak jauh enak dengan yang di restoran," kata Fadhla kepada Bulan.
"Yaiya dong! Makanan di restoran cuma mahalnya doang sih. Gak kenyang pula," sahut Bulan sambil tertawa.
"Tapi lebih enak di restoran, Neng. Masih ada tempat duduk dan tempat makanannya. Bisa pakai alat bantu makan untuk mengambil dan memakan makanannya. Kalau di pinggiran jalan, jarang, Neng. Di saya aja, Neng harus makan menggunakan jari jemari Neng," kata pedagang tersebut yang ikut nimbrung.
"Ah, Bapak nih, bisa saja. Hahaha."
"Eh, beneran."
"Yaudah deh, Pak. Ini saya kasih uangnya, ya," kata Bulan ssmbil memberikan uang sesuai dengan pesanannya, yaitu makanan cemilan untuk dua porsi makan.
"Baik, Neng. terima kasih. Ini makanannya."
"Terima kasih, Pak."
"Baik, Neng. Sama-sama. Jangan kapok untuk membelinya, ya."
"Iya, Pak. Saya tidak akan kapok kok." Bulan tersenyum ke arahnya. Kemudian dia kembali berjalan menuju pedagang yang lain.
"Mau beli apa lagi?" tanya Fadhla kepada Bulan.
"Malam-malam gini makan jagung bakar, enak deh keknya. Beli, yuk!" kata Bulan yang ngiler ketika menghirup bau wangi asap jagung bakar di hadapannya itu.
"Astaga. Apa gak kekenyangan entar?" tanya Fadhla mengingatkan.
"Enggak akan, Fadhla. Ayolah. kita pergi membelinya. Sebentar saja kok," jawab Bulan.
"Yaudah deh."
"Habis jagung bakar, kita ke supermarket buat beli air. Kalau. mau beli makanan ringan juga boleh kok. Sekalian aja," kata Bulan.
Bulan mendadak jadi doyan makan dan doyan membeli banyak makanan. Entah bagaimana it kondisi perutnya bisa menampung semua makanan tersebut. Yang pasti, Fadhla mencoba mengikuti apa yang di inginkan oleh Bulan pada malam ini.
"Yaudah, ayo!" ajak Fadhla kepadanya dengan sedikit merasa sudah malas dan dia ingin segera kembali ke rumah sakit. Namun Bulan tidak peka terhadap itu. Dia terus saja masih berantusias untuk membeli banyak makanan. Bulan, Bulan ....
Menganggap kecelakaan itu, Mengalami kecelakaan yang parah.Dia mengingat kembali kejadian di mana dia melihat tempat kejadian itu.Mobil milik Adelia rusak parah, segera mengepul dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi.Mobil truk yang terguling, juga sebagian rusak parah dan hancur pula.
Awal Pertama Eggy melihat semua itu, dia terkejut.Pantas saja jika pihak polisi mengatakan ada korban jiwa yang meninggal di tempat.Dia berpikir itu Adelia lah yang mati meninggal di tempat itu.Namun setelah dia melihat beberapa korban yang dibawa oleh ambulans, dia melihat di sana ada Adelia.Untunglah Adelia masih bisa terselamatkan, di sana Eggy langsung ingin mengantarkan Adelia saja.Rupanya Eggy benar-benar sangat mencemaskan Adelia, walau tidak ada hubungan apa-apa, tapi di lihat dari perhatiannya sudah agak berbeda.
"Syukurlah. Jika ingatannya tidak begitu parah. Lalu kapan aku bisa menemuinya, Dok? Aku ingin bertemu dengannya," kata Eggy.
"Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruangan lain. Setelah itu, kamu bisa menemuinya," kata Dokter untuk Eggy.
"Sungguh."
"Syukurlah, Jika Adelia baik-baik saja," sahut Bulan sangat lega.
"Apakah di sini ada persetujuan, saudaranya, atau persetujuan?"tanya Dokter untuk mereka bertiga.
"Saya, Dok," jawab Eggy.
"Apakah kamu menyetujui?"tanyanya.
"Sa-saya calon yang berhak, Dok," jawab Eggy.
"Setuju. Bisakah ikut saya?"tanya Dokter.
"Baik, Dok. Tunggu sebentar, sqya ambil jas dulu," jawab Eggy, lalu dia mengambil jasnya.
"Mm, untuk yang lain, bisa menunggu di ruang tunggu yang ada di depan. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruangan lain," kata Dokter pada Bulan dan juga Fadhla.
"Ah, baiklah, Dokter."
Dokter pun pergi menuju ruangannya dan disusul oleh Eggy.Saat Eggy mencoba mengikutinya, dia berhenti menatap Bulan.
"Maafkan aku, Bulan," ucap Eggy dengan nada yang pelan.
"Tidak apa-apa, Kak. Lanjut saja," sahut Bulan.
Eggy tersenyum, lalu dia mengusap rambut Bulan dengan lembut.Dan dia pun pergi mengunjungi Dokter.
"Ayo, Bulan. Kita menunggu di depan saja."
"Sungguh."
"Apa kamu lapar? Mau makan? Kamu belum makan, bukan?"tanya Fadhla.
"Ah, iya. Tapi sebenarnya aku sudah makan sih. Tadi di restoran bareng pegawai yang lain. Karena kan hari ini kerjaku lembur," jawab Bulan untuk Fadhla.
"Ah, iya. Bener juga, ya. Kamu kan udah kerja lembur. Jadi, mau makan lagi atau enggak?"tanya Fadhla tawaran.
"Beli cemilan aja dulu kali, ya. Aku pengen ngemil nih!"sahut Bulan.
"Yaudah, deh. Ayo kita pergi membeli cemilan," ajak Fadhla.
"Kalau Kak Eggy gimana? Nanti dia cari kita, gimana?"tanya Bulan pada Fadhla.
"Ya jangan lama-lama dong cari cemilannya. Sekalian belikan cemilan juga buat Eggy. Kasihan dia, mungkinkah dia butuh makan juga, bukan?"tanya Fadhla.
"Iya. Beli di supermarket aja kali, ya? Apa di jalanan?"tanya Bulan.
"Di jalanan? Cemilan apa yang ada di jalanan?"tanya Fadhla balik.
"Menurut saya lebih murah dan lebih banyak makanan di pedangan kaki lima sih, daripada supermarket, toko atau mal gitu," sahut Bulan.
"Astaga. Apa kamu itungan, Bulan? Belajsrfaat atau emang pelit?"tanya Fadhla.
"Ih, kamu. Bukan gitu lho, Fadhla. Ya biar kita bisa membeli banyak makanan cemilan aja. Bikin perut kenyang gitu lho. Paham gak?"jelas Bulan UNTUK Fadhla.
"Iya deh, iya. Aku paham. Yaudah, karena kamu gak bisa kenyangin perutmu dengan toko cemilan, maka dari itu, ayo kita pergi mencari cemilan di pinggir jalan," ajak Fadhla seraya menyindirnya.
"Ih, kamu, ya. Jangan gitu dong! Yaudah deh. Kita ke supermarket aja," kata Bulan seraya cemberut.
"Eh, engak, enggak. Cuma bercanda kok, Bulan, Sayang."Fadhla tersenyum ke Arah Bulan.
"Hei! Jangan panggil itu. Ingat, aku ini masih berbicara dengan kakakmu lho," kata Bulan Mengingatkan.
"Iya, iya. Aku tahu. Yaudahlah. Ayo kita pergi."
"Ayo!"
Bulan dan Fadhla pun pergi ke rumah sakit pergi Eggy di luar dokter.
Terlihat Eggy sedang duduk saling berhadapan dengan sang Dokter.Eggy kelihatannya sangat tegang dan resah.
"Dengan siapa saya berbicara?"tanya Dokter.
"Ah, maaf. Perkenalkan, saya Eggy, Dok," jawab Eggy sambil memberikan persetujuan untuk berjabat tangan dengan Dokter tersebut.Setelah itu, dia mulai bertanya kembali."Lalu bagaimana dengan situasi Adelia yang sebenarnya, Dok?"
"Baik. Jadi begini, Adelia, calon istrimu memang sedikit bermasalah. Sarafnya terganggu, mungkin akan ada perubahan hormon yang baik, dan yang tak baik yang akan terjadi dengan calon istrimu," jelas Dokter.
"Maksudnya Bagaimana, Dok?"tanya Eggy tidak paham.
"Hormon senang, dia akan selalu menunggu. Jika hormon yang buruknya, dia bisa menjadi tidak sabaran dan sering marah-marah. Karena benturan itu membuat saraf Adelia terhindar," jawab Dokter untuk Eggy dengan menjelaskannya.
"Jadi, semacam dua kepribadian?"tanya Eggy menebak-nebak.
"Bisa jadi seperti itu. Sebenarnya bukan. Pribadi ganda itu si penderita tidak akan sadar, bahkan tidak akan mengingat apa pun jika pribadinya sering berganti-ganti. Si penderita menganggap mempertimbangkan tidur. Bagaimana tidak. Kalau itu di alami oleh Adelia adalah, dia akan mengingat semua kejadian. Baik yang sedang dalam kondisi baik-baik saja, mau pun menolaknya sedang mudah.
"Begitu, ya. Segera, Dok. Apakah itu tidak akan lama?"tanya Eggy.
"Bisa tidak lama. Ada juga lama. Saya tidak bisa memastikan hal itu," jawabnya.
"Lalu maksud Dokter tentang ingatan Adelia yang terganggu, bagaimana?"tanya Eggy penasaran.Karena dirinya tidak ingin hal yang telah terjadi pada Bulan lalu, terjadi pula kepada Adelia.
"Jika masalah itu, tidak perlu khawatir. Karena dalam beberapa hari, dia akan mengingat semuanya. Wajar saja jika awal dia sadar, dia tidak akan mengingat apa pun. Karena benturan itu membuatnya terasa sakit, mendorong, bahkan luka," jelas Dokter .
"Syukurlah. Jadi, pengaruh besar adalah hormonnya, ya, Dok?"tanya Eggy pastikan.
"Betul sekali, Pak Eggy," jawab Dokter.
"Membantah. Terima kasih, Dok. Kalau begitu, apakah aku bisa bertemu Adelia saat ini?"tanya Eggy.
"Tolong, Pak."
"Baik. Saya permisi."
Eggy pun langsung berdiri dan segera keluar dari luar Dokter.Lalu dia mulai menuju ke arah ruang tunggu yang ada di depan, berniat untuk memulai Bulan dan Fadhla terlebih dahulu.Setelah dirinya berada di sana, dia langsung mencari-cari satu per satu wajah orang-orang yang sedang duduk di sana.Dia tidak melihat siapa pun di sana.Dia tidak melihat keberadaan Bulan mau pun Fadhla.
"Ada di mana mereka? Apa mereka pergi meninggalkanku di sini? Sial! Apa yang harus saya panggil Bulan lagi, untuk meminta ada di sana dia pergi?"tanya Eggy pada diri sendiri."Meminta, aku akan mencoba untuk mencarinya ke ruang tunggu yang lain sambil mencari kamar pindahan Adelia. Lupa tidak meminta kamar Adelia jumlah dan di mana," tambahnya bergumam lagi.
Lalu dia pun mulai berjalan kembali untuk mencari mereka yang entah ke mana.Susah untuk mencari tahu di mana mereka, karena sialnya Eggy pergi barang penting miliknya, yaitu ponsel.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi cinta dan komen-komen kalian terlebih dahulu sebelum membaca chapternya selanjutnya ya, teman-teman .. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan memperbarui yang rajin untuk melanjutkan cerita ini.Terima kasih sebelumnya para pembaca-pembaca telah setia membaca novel ini sampai saat ini.Terima kasih banyak.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani.Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'.Ada juga aplikasi ******* dengan akun (comeback).Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 1-M joy.Silakan cek.
Ada cerita kisah nyata tentang masa mudaku di aplikasi ****** berjudul Labil (plin-plan).Novel itu kisah nyata tentang masa mudaku di sekolah.
Jika ingin mengenalku lebih de
kat, silakan DM di IG @ nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah.Ikuti juga, ya.:)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup obrolan MT Lani Nurohmah, ya.Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga.Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku.Tolong hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih semuanya.: *