
Fadhla terlihat kebingungan karena Eggy tak kunjung menjawab telepon darinya. Lalu dia menghampiri Bulan yang sedang meringkuk merasakan kesakitan di perutnya. Fadhla merasa gemas kepada Eggy yang tiba2 mematikan ponselnya. Dia terus mengumpat pada kelakuan kakaknya itu.
"Sialan! Dasar Eggy kurang ajar. Kenapa dia gak jawab teleponnya? Istrinya lagi kesakitan, dia malah enak-enakan di apartemen sama istri barunya. Dasar suami yang kurang ajar. Gak ada akhlak," umpatnya.
"Fadhla, aku gak kuat. Sakit banget," rintih Bulan kepada Fadhla sambil menangis.
"Kita ke dokter, ya?" tawar dia.
"Gak kuat, Fadhla. Ah, ah," Bulan terus memegangi perutnya.
Tak lama kemudian, saat di ambang kebingungan jarus berbuat apa, Fadhla melihat ada noda merah di kasur yang di tiduri oleh Bulan. Fadhla pun mulai panik.
"Bulan, kamu berdarah. Ini sudah tidak bisa di biarkan. Akan aku panggilkan dokter untuk datang kemari," kata Fadhla.
Dia pun langsung menelepon dokter dan menjelaskan keadaan Bulan.
"Tolong segera datang kemarilah! Saya benar-bemar butuh bantuan Anda, Dok. Ini sangat darurat. Istri saya kesakitan di perutnya dan dari area vaginanya keluar darah," jelas Fadhla kepada sang dokter di telepon.
"Baik, saya akan segera ke sana," sahut dokter itu.
"Terima kasiH, dok. Cepatlah!"
Fadhla menutup teleponnya. Lalu Fadhla mendekati Bulan dan dia mengelus punggungnya secara perlahan.
"Tahan, ya! Dokter akan segera datang," kata Fadhla.
"Aku gak kuat. Benar-benar gak kuat," sahut Bulan semakin menangis.
Perutnya luar biasa sakit. Seakan di tusuk oleh jarum dan belati. Bulan tak kuasa menahan sakitnya. Dia memeluk paha Fadhla, mencoba untuk tak merasakan sakitnya. Lalu Fadhla mulai mengelus tubuhnya dengan pelan.
Tak lama kemudian, sang dokter pun tiba. Lalu dia langsung memeriksa keadaan Bulan. Berselang beberapa waktu dalam pemeriksaan, dokterpun memberikan Bulan obat penahan nyeri. Bulan meminumnya dan perutnya mulai terasa lebih lega.
Bulan berhenti merasakan sakit, namun dia tetap menangis.
"Dia terlalu stres. Dia sangat kelelahan. Maka dari itu hal ini sering terjadi. Apalagi usianya baru beberapa minggu, dan itu sangat rawan sekali. Jika tidak di jaga dengan baik, maka seperti inilah akibatnya. Penyebab dia merasakan sakit yang hebat adalah karena stres dan capek. Maka dsri itu hal ini terjadi.
"Terima kasih, dok. Memang istri saya hari-hari ini sangat kelelahan. Padahal sudah saya ingatkan untuk tidak memikirkan hal apa pun yang bisa memicu hal inu terjadi. ," kata Fadhla.
"Ini sudah terjadi. Biarlah terjadi. Mohon untuk tidak berat-beratan dulu, ya. Kesehatannya belum stabil. Jaga makanannya, tidak boleh makan sembarangan," kata dokter.
"Baik, Dok. Saya akan menjaga istri saya dengan baik."
"Mohon kesabarannya, ya. Mungkin ini memang sudah takdirnya. Namun jangan khawatir, kamu bisa mendapatkannya kembali kok," ujar dokter kepada Bulan.
Bulan tak menggubris kalimat dari dokter. Dia hanya memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu saya permisi."
"Silakan, dok."
Dokter itu pun pergi meninggalkan rumah mereka. Fadla kembali mendekati Bulan. Dia duduk di sampingnya dan mulai memeluk Bulan. Bulan pun memeluknya kembali dan menangis dalam pelukannya.
"Aku kehilangannya, Fadla. Aku telah kehilangannya!"
"Sst... Sudah, sudah. Jangan sedih. Aku tahu ini pasti sangat bagimu. Namun harus bagaimana lagi? Kamu harus melakukannya demi kesehatanmu, Bulan. Jangan bahayakan nyawamu," ucap Fadhla.
"Aku gagal. Aku telah gagal," ucapnya menyalahkan diri sendiri.
"Sst... sstt... kamu tidak gagal, Sayangku. Tidak."
"Aku pasti mengecewakan Eggy. Dia akan marah jika tahu ini, Fadhla. Dia pasti memarahiku. Aku takut dia akan menceraikanku," ujar Bulan.
"Tidak, Bulan. Masih ada aku yang akan setia denganmu. Jangan sedih. Eggy tidak mungkin membencimu. Jangan khawatir!" Fadhla mencoba untuk menenangkan perasaan Bulan.
"Aku memang bodoh! Aku memang bodoh!" kata Bulan yang tetap menyalahkan dirinya sendiri. Fadhla memeluk Bulan dengan erat. Dia merasa kasihan melihat Bulan yang menanggung penderitaan ini sendirian. Dia ikut merasakan kecewa dan marah atas keputusan Eggy yang memilih bersama wanita lain dibanding Bulan. Rasanya Fadhla mulai murka dengan sikap Eggy yang mulai berubah. Dia harus memberi pelajaran kepada kakaknya itu. Dia harus membayar atas kesakitan dan penderitaan yang dia lakukan terhadap Bulan selama ini.
Eggy tiba di rumah Bulan. Dia membawa sebuah bingkisan di tangan kanannya. Dengan raut wajah yang penuh semringah, dia datang ke kamar Bulan. Namun setelah dirinya membuka pintu kamar Bulan, dia melihat pemandangan yang kurang sedap. Yaitu dia melihat Bulan yang sedang tidur seranjang dengan adiknya itu, Fadhla dengan posisi saling berpelukan. Hal itu membuat Eggy sangat marah luar biasa. Dia pun langsung berteriak sampai membangunkan mereka.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" teriak Eggy.
"Ssstt, jangan. keras-keras. Bulan sedang tertidur. Semalaman dia tidak bisa tidur," sahut Fadhla kepada Eggy.
"Jadi tadi malam kalian berdua ...." Eggy menggantungkan kalimatnya. Dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi, karena hal itu membuat diri Eggy merasa sangat sakit.
"Apa maksud kamu?" tanya Fadhla. Lalu dia turun dari ranjang dan segera membawa Eggy keluar dari kamar Bulan.
"Kenapa, hah? Mau ke mana?" tanya Eggy.
"Kemari kamu! Ikut saja, gak usah banyak tanya," jawab Fadhla.
Setlah mereka berada di luar, Fadhla menutup pintu kamar Bulan dengan rapat-rapat. Dia memastikan bahwa Bulan tidak mendengar sepatah kata apa pun dari apa yang sudah di bicarakan oleh dirinya dan Eggy.
"Apa kamu menikmati malam pertamamu, hah?" pertanyaan pertama dari Fadhla untuk memulai perbincangan antar dua pria.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Eggy.
"Apa aku kurang jelas mengatakannya, hah?"
"Aku hanya tidur di apartemen bersama Adelia."
"Halah, bohong! Mana mungkin! Seorang pria yang menikah dengan keinginannya sendiri pasti akan menikmati malam pertamanya. Kucing kalau di kasih ikan, sudah pasti di lahap," jawab Fadhla.
"Mau kamu apa? Bukannya kamu pun sama? Kamu tidur seranjang bersama istri orang! Tidak tahu malu!'
"Hei, ingat! Aku sudah menikahinya. Tidak ada salahnya aku melakukan hal itu. Itu hanya sekadar berbaring bersama."
"Aku juga begitu. Aku sudah menikahi dia."
"Banyak asalan!"
Fadhla mulai geram dan dia pun langsung memukul wajah Eggy. Eggy yang tak terima wajahnya dipukul, dia pun membalas pukulannya.
"Berani-beraninya kamu memukul kakakmu! Kurang ajar."
*Kamu yang kurang ajar."
"Kamu beraninya ...." Eggy menahan kalimatnya dan langsung memukul pipi Fadhla bagian yang lainnya.
"Harusnya kamu tahu, mengapa aku bersikap seperti itu kepada Bulan. Itu karena dia sedang merasa sangat sedih. Dia kelihangan anaknya. Dia kehilangan janinnya, Eggy! Aku hanya menenangkannya. Dia menangis seharian. Menangis semalaman dan kesulitan untuk tidur. Dia menderita dan menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan anaknya. Apa kamu tahu? Tidak, bukan? Kamu seharusnya tahu itu! Karena kamu suaminya, kamu adalah ayah dari anak yang dikandung olehnya," jelas Fadhla dengan panjang lebar.
"Apa?" Eggy terkejut mendengar apa yang sudah dikatakan oleh adiknya itu. Dia tidak percaya dengan kenyataan yang di alaminya.
"Kenapa? Apa kamu menyesal mengetahui itu? Apa kamu menyesal tidak ada di samping Bulan saat dia membutuhkanmu? Ke mana suaminya di saat sang istri sedang merintih kesakitan, menangis menahan rasa sakit, menangis karena sedih akan kehilangan. Dia mulai stres menyadari semua itu," kata Fadhla menyesalkan sikap Eggy yang egois.
Eggy mengusap wajahnya dan menggaruk kepalanya dengan kasar. "Tidak. Ini tidak mungkin. Kamu berbohobg!"
Eggy kembali memukul Fadhla dengan keras. "Kamu tidak menjaganya dengan baik, Fadhla. Kamu tidak melindunginya dengan benar!"
Eggy terus menyalahkan Fadhla karena kehilangannya anaknya. Adik kakak itu malah saling baku hantam satu sama lain, sampai dari masing-masing mereka berwajah memar dan sama-sama mendapatkan luka darah. Bulan yang masih tertidur lelap pun mulai terganggu dengan bisingnya pertengkaran di antara mereka. Kemudian dia pun mulai terbangun dari tidurnya dan menghampiri asal suara yang bising itu. Kemudian dia membuka pintu kamarnya dan melihat kakak beradik itu berdiri saling berhadapan dengan tatapan yang tajam. Bulan terkejut melihat mereka berdua sama-sama babak belur. Kemudian Bulan bertanya.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kak Eggy, Fadhla. Ada apa?" tanya Bulan terheran-heran dengan kedua mata yang sembab.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*