
Bulan masih terdiam dengan keadaannya sekarang. Sebenarnya dia masih tidak tahu dengan tujuan Fadhla meneleponnya dan sampai rela menjemputnya ke tempat kerja. Di telepon pun tidak menjelaskan tentang apa yang akan Fadhla bicarakan. Lalu untuk mengetahui akan hal itu, Bulan pun bertanya padanya.
"Apa ada urusan penting, Fadhla?" tanya Bulan kepada Fadhla.
Sejenak Fadhla terdiam. "Tidak juga," jawabnya.
"Hah? Lalu? Katanya kamu ada urusan penting. Tadi kamu kan bilang sama Melda begitu," kata Bulan komplen.
"Iya. Tapi gak jadi," sahur Fadhla.
"Terus tadi kenapa sampe dateng ke rumah dan bela-belain dateng jemput aku pulang di restoran?" tanya Bulan kepada Fadhla kebingungan.
"Tadi aku emang ke rumahmu. Tadinya mau ajak pergi. Aku bosan," jawab Fadhla.
"Jadi, urusan penting itu cuma karena mau ajak aku jalan karena bosan?" tanya Bulan memastikan.
"Ya. Kurang lebih seperti itu," jawab Fadhla.
Bulan menggelengkan kepalanya. "Astaga. Aku kira kamu itu memang ada urusan mendadak dan penting, sehingga kamu terburu-buru."
"Aku gak suka ada orang ketiga di antara kita berdua," kata Fadhla secara terang-terangan.
Bulan terdiam dan berpikir. Orang ketiga di antara mereka berdua? Maksudnya apa? Bulan bahkan tidak bisa mencerna kalimat itu.
"Maksudnya apa sih? Aku gak mengerti. Memangnya Melda kenapa?" tanya Bulan yang butuh penjelasan darinya.
"Aku hanya ingin pergi denganmu saja. Lagian aku gak kenal siapa wanita itu. Walaupun dia adalah temanmu, tapi aku gak kenal sama dia," jelas Fadhla kepada Bulan.
"Ya, maaf. Ini salahku, memang."
"Bukan salahmu kok."
"Lalu sekarang kita mau ke mana? Aku belum mandi lho. Masih bau keringat ini, habis kerja ekstra lembur seharian ini," kata Bulan.
"Yaudah, jadi kamu mau pulang dulu ke rumah?" tanya Fadhla kepada Bulan.
"Yaiya dong. Aku mau pulang ke rumah dulu dan mandi, agar badanku wangi. Baru kita pergi lagi," jawab Bulan.
"Yaudah deh. Berarti kita harus putar arah. Karena arah rumahmu saling berlawanan."
"Oke."
Fadhla pun sudah sampai di depan rumah Bulan. Bulan akhirnya turun dari mobilnya Fadhla. Begitu pun Fadhla, dia turun dari mobilnya dan menyalakan alarm mobil miliknya.
"Kamu mau menunggu di dalam rumah?" tanya Bulan pada Fadhla.
"Ya iya, dong. Memangnya kamu bakalan nyuruh aku buat diem di sini? Nunggu di luar?" tanya Fadhla kepada Bulan.
"Ya, enggak juga sih. Aku kan cuma tanya sama kamu. Yasudah, ayo masuk ke dalam rumah. Tunggu di dalam," ajak Bulan.
Fadhla yang sedang memainkan kunci mobilnya pun, langsung menyetujui ajakan Bulan. "Oke."
Setelah di dalam rumah, Fadhla langsung duduk di sofa. Lalu Bulan mengambilkan teko beserta gelas untuk Fadhla di dapur.
"Jika mau minum, tuangkan sendiri aja. Aku akan mandi, sudah gerah," kata Bulan.
"Iya, iya. Nanti aku tuangin sendiri," sahut Fadhla dengan malas. Dia pun langsung bersandsr di sofa dan merentangkan tangannya. Mencoba merebahkan badan di sana karena merasa pegal dengan tubuhnya yang sedari tadi menyetir mobil.
Lalu Bulan pun berjalan pergi menuju kamarnya dan segera melaksanakan mandi.
Setelah selesai mandi, dia pun bergegas bersiap-siap dandan untuk pergi bersama Fadhla. Ketika dirinya hendak selesai berias diri, tiba-tiba telepon Bulan berdering. Lalu dia melihat nama kontak itu dan setelah mengetahui nama tersebut, dia langsung menjawabnya.
*Mode telepon.
"Halo," sapa Bulan terlebih dulu.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik saja, Kak. Untungnya aku tidak gampang sakit karena kelelahan," sahut Bulan.
"Apa pekerjaanmu berat?" tanyanya.
"Tidak begitu juga kok. Kebetulan hari ini aku lembur, Kak. Jadi agak capek banget. Tapi ya, gak apa-apa deh. Namanya juga kerja. Pasti capek," jelas Bulan.
"Ya pasti dong!"
"Iya, Kak.
"Oh, iya. Apa malam ini kamu senggang?" tanya seseorang itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Bulan balik.
"Aku ingin mengajakmu keluar. Aku tidak ingin pergi dengan Adelia, jadi aku ingin pergi denganmu saja," jawab Eggy.
"Mm, di rumah ada Fadhla. Dia ingin mengajakku pergi juga," sahur Bulan kepada Eggy.
"Dia hanya ingin mengajakku pergi saja. Begitu katanya. Karena dia merasa bosan," jawab Bulan dengan sangat jujur.
"Apa? Bosan? Mengapa? Mengapa kamu ingin pergi bersamanya?" tanya Eggy menaikkan sedikit nada suaranya.
"Entahlah, Kak. Aku rasa tidak ada salahnya jika aku menerima ajakan Fadhla. Toh dia juga adikmu kok. Bukan orang asing lagi," Jawab Bulan.
"Kamu jangan pergi dengannya. Aku akan menjemputmu sekarang juga," kata Eggy kepada Bulan.
"Eh, Kak. Mengapa?"
"Kita pergi bersama."
"Tapi ...."
Tut... tut... tut....
Suara telepon terputus secara sepihak. Bulan terdiam dan melamun sejenak karena itu. Dia bingung harus berbuat apa. Tanpa berpikir panjang, dia pun langsung menyelesaikan riasnya dan segera menemui Fadhla untuk memberitahukan hal ini.
Bulan berjalan dengan tergesa-gesa, lalu dia duduk di hadapan Fadhla dengan raut wajah yang bingung. Fadhla pun penasaran dengannya. Kemudian dia bertanya.
"Ada apa, Bulan?" tanya Fadhla kepada Bulan.
"Ah, aku ada sedikit masalah," jawab Bulan.
"Masalah apa?" tanya Fadhla penasaran.
"Kak Eggy meneleponku," jawab Bulan.
"Lalu?"
"Dia mengajakku keluar juga," sahut Bulan.
"Terus?"
"Ya terus aku jawab bahwa aku akan pergi sama kamu. Karena emang kamu yang duluan ajak aku, gitu. Dia tidak ingin menemui Adelia," jelas Bulan pada Fadhla.
"Lalu bagaimana pendapat dia?" tanya Fadhla yang masih ragu.
"Dia agak marah ketika mendengar namamu," kata Bulan padanya.
"Mungkin dia cemburu, Bulan. Cemburu padaku," kata Fadhla.
"Cemburu karena apa? Kamu kan adiknya," sahut Bulan yang tidak mempermasalahkan akan hal itu.
"Walaupun adiknya, tetapi aku tetap pria dewasa lho," kata Fadhla.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Bulan.
"Ya karena dia takut kalau aku rebut kamu dan kamu nyaman denganku," jawab Fadhla.
"Aku sudah nyaman. Gak risi kok."
"Astaga, maksudnya perasaanmu, Bulan," jelas Fadhla.
"Perasaanku kenapa? Aku masih menyukai Kak Eggy," sahut Bulan.
Fadhla menghela napasnya, lalu dia menepuk jidatnya. Gedek dengan jawaban dari Bulan yang tak kunjung memahami apa yang di maksud olehnya.
"Yasudahlah. Jadi kita gimana?" tanya Fadhla kepada Bulan.
"Mungkin kita harus menunggu Eggy dulu, deh. Karena katanya dia akan kemari," jawab Bulan.
"Yasudahlah. Semoga tidak ada masalah," ujar Fadhla.
Bulan hanya menatap dan ikut bersandar ke punggung sofa di sana sambil menunggu Eggy tiba ke rumahnya.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 900ribu joy. Silakan di cek.
Jika ingin mengenalku lebih de
kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*