The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 57



Rasanya sudah lama aku tidak melihat-lihat isi di dalam Mall. Mungkin terakhir kali aku ke Mall bersama dengan Raihan. Pada waktu itu, masa-masa indah pacaranku dengannya.


*Flashback


Aku tengah menaiki motor bersama Raihan. Niat kami akan pergi menuju Mall untuk sekadar berjalan-jalan saja. Posisiku berada di belakangnya, dibonceng, dan aku bisa memeluk bebas dirinya dari arah belakang. Ketika aku memeluknya, aku mencium keharuman berasal dari pundaknya. Sangat betah. Rasanya sangat nyaman berada di dekatnya yang serba wangi. Kemudian tangan kiri Raihan tiba-tiba menyentuh lututku. Membuatku semakin merasa senang merasakan hal itu.


"Kita belok saja ke sini," ucapku pada Raihan.


"Eh, ya jangan dong! Masa belok sini. Ke sini mau ke mana? Aku gak tahu jalan, " sahutnya.


"Ya eksperimen saja, Sayang. Karena kita gak tahu jalan sini, makanya kita coba dulu."


"Enggak ah."


"Apa?" tanyaku sambil menaikkan nada suaraku dari sebelumnya.


"Enggak, Sayang," jawabnya dengan perlahan yang ikut menaikkan nada suaranya.


"Enggak apanya?" tanyaku mulai kebingungan.


"Ya ampun, Sayang," sahut Raihan tertawa.


"Apaan sih?" teriakku sambil berusaha melihat wajahnya dari pinggir. Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang tengah diucapkannya. Sungguh pembahasan yang membingungkan.


"Kamu nih, selain telat mikir, rupanya budek juga, ya!" sindir Raihan padaku.


"Ih, apaan sih kamu. Jahat banget bilang gitu sama aku," ujarku cemberut.


"Hahaha. Iya, iya, maaf. Cuma bercanda kok, Sayang. Lagian kamu gemesin sih," ucapnya terkekeh.


Aku pun tersenyum malu mendengar kalimatnya. Entah itu pujian, atau entah itu memang disengaja untuk buatku merasa GR, tetapi aku sangat bahagia. Akhirnya, aku sampai di Mall. Aku mulai turun dari motornya, kemudian langsung membuka helmku dan aku berikan padanya. Begitu pun dengan Raihan, melakukan hal yang sama denganku.


Raihan menatapku. Kemudian dirinya merapikan rambutku yang terlihat masih berantakan.


"Karena naik motor, kamu jadi terlihat kacau," ucapnya yang masih mengelus rambutku.


Aku tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku menyukainya. Rambut kamu juga berantakan, habis pake helm. Gak bener," sahutku sambil ikut merapikan rambutnya juga.


"Manisnya ...." Raihan mencubit pipiku secara perlahan.


"Aaaaah, jangan cubit. Nanti chubby," eluhku.


"Iya, maaf. Ayo masuk!" ajaknya.


"Apa ini cocok?" tanyaku sambil menempelkan pakaian di badanku.


"Kalau dilihat seperti itu, gak cocok. Harusnya dipakai saja. Baru kelihatan cocok apa enggaknya," sahut Raihan.


Apa yang dikatakannya memang ada benarnya juga. Mana bisa dia tahu, pakaian yang menurutku bagus kan belum tentu terlihat bagus saat dipakainya. Setelah aku coba, aku memperlihatkan penampilanku bersama baju pilihanku kepada Raihan.


"Bagaimana? Sudah cocok?" tanyaku penasraan.


"Nah, ini baru cocok. Kamu terlihat cantik dengan memakai baju itu," jawabnya memujiku, sekaligus menggombal supaya aku senang. Oke, itu tidak masalah. Haha.


Baju yang kupilih adalah sebuah baju jumpsuit berwarna merah maroon dan ada sedikit motif bunga di bagian atasan daerah dada, juga di bawahannya. Menurutku ini masih termasuk corak yang sederhana. Aku memutuskan untuk membelinya saja. Lalu setelah itu, aku dan dia langsung pergi ke toko aksesories. Melihat hiasan lain yang pas untuk pakaianku yang barus dibeli. Aku memilih beberapa kalung dan gelang. Alhasil, aku memilih kalung yang cukup panjang melebihi dadaku, lalu aku memilih beberapa gelang yang ukurannya cukup besar. Tidak terlalu besar sih, namun menurutku ini cukupan.


"Sudah cocok, 'kan?" tanyaku masih dilema karena banyak aksesories yang bagus dan cocok dengan pakaianku itu.


"Sudah cocok kok. Yang kamu pilih sudah bagus. Aku serius lho," jawab Raihan.


"Beneran nih? Aku bingung banget mau milih yang mana. Banyak yang bagus."


"Sudah. Yang itu juga cukup. Jangan boros! Pakai seadanya dan seperlunya saja."


"Baiklah. Aku akan membeli seperlunya dan seadanya saja," ujarku.


"Nah, itu lebiih bagus. Jangan memaksakan diri."


Aku tersenyum padanya.


Setelah membayar semua belanjaan aksesoriesku, kemudian aku dan Raihan pun mulai memasuki arena funzone untuk bermain rekor memasukan bola basket.


"Ayo masukan! Ini kalah rekor nih!" pancing Raihan.


"Berisik. Jangan banyak bicara. Aku sedang fokus nih!" cetusku.


"Ayo dong! Susul rekorku!" kata Raihan. Mungkin niatnya antara menyemangati dan juga menantang. Dua hal itu menurutku sangatlah beda tipis. Setelah permainan berakhir, akhirnya aku kalah dari Raihan. Rekornya cukup jauh dan aku tidak mungkin mencapainya. Hari ini aku sangat sial.


Kemudian aku mencoba permainan lain. Yaitu dance. Aku mengajaknya untuk main di permainan dancer. Awalnya dia menolak, tetapi aku memaksanya. Tak peduli dirinya mau merasa malu atau tidak, aku tetap memaksanya untuk dance bersamaku. Sungguh lucu! Tubuhnya terlihat kaku dan aku terus tertawa menyadari itu. Tanpa malu, dia terus berjoged ria di depan umum.


Setelah semuanya selesai, kami pun merasa lelah, haus dan lapar. Kemudian kami berniat untuk makan di foodcourt, memesan junkfood dan juga minuman dinginnya. Hari itu aku sangat menikmati jalan-jalan berduaan bersama Raihan. Membuatku bahagia,  senang, dan sulit melupakan hal ini.


*Flashback End.


Sensasi naik motor berduaan bersama Raihan, memang penuh banyak kenangan. Membuatku seketika ingin banyak mengulang kenangan di masa lalu itu. Namun apalah daya, kini aku tidak bisa merasakannya lagi. Hidupku di masa lalu, berbeda dengan masa kini.