The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Membahas



"Soal yang tadi. Apa kamu yakin?" tanya Fadhla memastikan. Namun Bulan hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Fadhla. Dalam lubuk batinnya, Bulan tidak ingin membahas hal itu lebih lama lagi. Dia ingin membahas kejadian itu nanti saja, jika sudah sampai di rumah. Namun lagi-lagi rasa penasaran Fadhla membuat dirinya harus menjawab semua pertanyaan darinya guna membalas rasa penasaran itu sendiri.


"Ayolah, Bulan! Aku benar-benar butuh jawaban kamu," ucap Fadhla memaksanya.


"Fadhla, sebenarnya aku tidak ingin membahasnya sekarang," jawab Bulan.


"Aku hanya penasaran saja, Bulan. Ayolah bantu aku!"


"Aku juga sangat ragu mengenai kejadian itu, Fadhla. Aku tidak menjelaskan hal itu padamu. Namun yang aku lihat bahwa kita akan menabrak seseorang. Mungkin saja orang itu sudah lewat, bukan?" jelas Bulan kepada Fadhla.


"Aku juga melihatnya, Bulan. Namun bagaimana lagi? Aku merasa bahwa ini benar-benar tidak masuk akal," sahut Fadhla merasa heran.


"Jadi, menurutmu bagaimana? Apakah kamu merasa ada sesuatu?" tanya Bulan dengan ragu.


"Sesuatu apa?" tanya Fadhla kebingungan.


"Enggak jadi, deh. Ayo jalan saja," jawab Bulan kepada Fadhla.


"Apa dulu?" Fadhla masih penasaran dengan hal itu.


"Sebelum kita membahas mengenai lagu itu, kamu juga melihat apa yang aku lihat, bukan, Fadhla?" tanya Bulan.


"Coba kamu sebutkan! Kamu melihat apa?" tanya Fadhla.


"Orang dong. Dia mau nyebrang. Bener, 'kan?"


"Emang iya, sih," sahut Fadhla sambil berusaha mengingat-ingat kejadian yang tadi.


Kamudian Bulan teringat akan sesuatu.


"Oh, iya, Fadhla. Tapi tadi kamu melihat orangnya udah nyebrang kan?" tanya Bulan.


"Udah kok. Dia lari keknya," jawab Fadhla.


Bulan menepuk jidatnya sendiri. "Astaga! Kalau udah nyebrang, ngapain kita keluar mobil dan menengok apa yang terjadi?" tanya Bulan merasa bodoh sendiri.


Fadhla baru kepikiran soal itu. Apa yang di katakan oleh Bulan memang ada benarnya juga.


"Oh, iya, iya. Karena pada saat orang itu nyeberang, aku sempat ngumpat dalam hati dan marah-marah sama dia karena nyeberang sembarangan. Namun karena merasa sangat panik, alhasil aku jadi parno sendiri karena takut," jelas Fadhla.


"Ah, sial. Dasar bodoh! Kenapa juga harus sepanik itu," kata Bulan.


"Haha. Lucu, ya? Gara-gara ngobrol, panik, alhasil malah buat diri sendiri takut sama kelakuan diri sendiri," kata Fadhla.


"Ya kaget dong. Ini karena kaget kamu tiba-tiba rem mobil gitu aja. Aku gak ngeh kalau misalkan orang itu udah lewat," jawab Bulan.


"Ya udahlah, jangan di bahas lagi. Ayo. kita pergi dan fokus pada tujuan kita," kata Fadhla.


"Ya, ayo!" jawab Bulan.


Fadhla dan Bulan pun tak lagi membahas soal itu selama perjalanan mereka pergi ke sesuatu tenpat. Akhirnya, mereka berdua memutuskan pergi ke Mall untuk membeli sebuah makanan penutup makan malam mereka. Fadhla mulai memarkirkan mobilnya di lantai tiga. Setelah itu mereka berdua pun keluar dari mobil.


"Tunggu, Bulan! Biar aku saja yang bantu membukakan pintu mobil untukmu," tawar Fadhla kepada Bulan.


"Enggak! Kamu harus mengikuti apa yang aku ucapkan, Bulan!" perintahnya.


"Baiklah. Terserah kamu saja, terserah apa kata kamu," ucap Bulan.


"Iya. Jawaban terserah memang mewakilkan dari jawaban semua pertanyaan," jelas Fadhla.


"Iya, iya."


Fadhla terkekeh. Kemudian dia pun keluar mobil dan langsung membukakan pintu mobil milik Bulan.


"Silakan," ucap Fadhla sambil sedikit membungkuk, memberikan sebuah kehormatan bagi dirinya.


"Fadhla. Jangan bersikap macam begitu, ah!" kata Bulan merasa sangat tidak enak.


"Ayolah! Aku mencoba untuk kali ini saja," sahut Fadhla.


"Baiklah! Terserah apa katamu, ya!" ucap Bulan tersenyum malu.


Bulan pun menggenggam tangan Fadhla dan dirinya mulai melangkah turun dari mobil dengan malu-malu. Seperti seorang putri, atau seseorang yang terpandang, perlakuan Fadhla kepada Bulan membuat dirinya merasa sangat malu.


"Terima kasih, Fadhla," ucap Bulan.


"Kembali kasih, kesayanganku," ucap Fadhla tersenyum.


Bulan hanya tertawa mendengar kalimat itu dari Fadhla. "Apa-apaan sih? Kesayangan apanya coba?" tanya Bulan.


Fadhla pun tertawa. Akhirnya mereka berdua berjalan masuk ke dalam Mall tersebut. Setelah berada di dalam sana, mereka langsung pergi menuju arah supermarket untuk membeli bahan makanan yang yang sudah hampir habis dari dalam lemari pendingin di rumah Bulan.


"Jadi kita mau belanja dulu, nih?" tanya Fadhla memastikan.


"Ya. Belanja aja dulu. Nanti sekalian kita pergi cari makanan penutup. Barang kali aja ada sesuatu di supermarket yang bisa di masak. Kita bisa sekalian beli, biar gak capek. Hehe." Bulan pun menyeringai ke arah Fadhla. Setelah di pikir-pikir, memang tidak ada salahnya juga sih jika mencari di satu tempat yang sama.


"Boleh deh! Ayo!" ujar Fadhla.


Mereka pun mulai memilih makanan yang ada di sana.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)


Terima kasih, semuanya. :*