
Terlihat Bulan sedang berjalan-jalan di dalam Mall sambil melihat-lihat pakaian bayi. Sesekali dirinya tersenyum memandangi dan menyentuh pakaian itu. Perasaannya sangat tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi ssorang ibu. Hal ini sudah dirinya impi-jmpikan selama ini.
Bulan pun mengusap perutnya dengan lembut. "Kamu laki-laki apa perempuan, Nak? Rasanya tidak sabar sekali ingin segera melahirkanmu," gumam Bulan kepada janinnya.
"Permisi, Nona. Apa yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga toko pakaian bayi tersebut.
"Ah, tidak perlu, Mbak. Saya hanya melihat-lihat saja, lagian kandungan saya masih kecil. Pamali jika membeli peralatan bayi saat janin masih dini," kata Bulan kepada penjaga tersebut.
"Ah, begitu, ya. Semoga janinnya sehat sampai lahir, ya, Mbak."
"Terima kasih, Mbak. Saya permisi dulu, ya."
"Terima kasih sudah mampir. Jika membutuhkan perlatan bayi, silakan datang kemari lagi."
"Siap. Baik. Terima kasih."
Bulan pun pergi dari sana dan melanjutkan perjalannya untuk mencari toko kue. Setelah dirinya berjalan-jalan kelililing toko, akhirnya dia menemukan toko kue juga.
"Akhirnya."
Bulan pun langsung masuk dan melihat-lihat hiasan kue yang ada di sana. Banyak sekali hiasan yang menarik di sana. Sampai Bulan bingung untuk menentukan hiasan mana yang akan dia pilih untuk hadiah ulang tahun suaminya itu. Dia pun mulai bertanya-tanya kepada penjaga toko kue tersebut.
"Mm, Mbak. Maaf. Kalau misalkan hiasan kue untuk ulang tahun pasangan, cocoknya yang model mana, ya?" tanya Bulan.
"Ah, untuk pasangan ya, Mbak? Biasanya cocok yang hiasan yang seperti ini, Mbak."
"Boleh, deh. Saya ingin yang itu, ya, Mbak. Tolong bungkuskan!" ucap Bulan.
Pelayan itu pun membungkuskan kue tersebut. Setelah itu, Bulan langsung membayarnya dan membawa kantong berisi kue itu untuk dia bawa pulang. Setelah dirinya sedang menuruni eskalator, tak sengaja dia berpapasan dengan Eggy sedang menaiki eskalator lain yang berlawanan arah. Bulan melihatnya bersama Adelia. Terlihat Adelia menggandeng tangan Eggy dan mereka terlihat sangat mesra. Mereka saling bersenda gurau satu sama lain. Bulan merasa cemburu. Namun dia harus memastikannya terlebih dulu. Alhasil, dirinya terpaksa kembali ke atas dan diam-diam mengikuti perjalanan Eggy dan Adelia dari arah belakang.
Dia melihat mereka berjalan menuju arah butik gaun pengantin. Dari sana, Bulan sudah dapat menebaknya Bahwa Mereka memang mencari gaun pengantin untuk pernikahan mereka. Ada rasa nyelekit yang Bulan rasakan dalam dadanya. Dia merasa sakit hati ketika mengetahui dan melihat mereka berdua seakan memang niat untuk menikah.
Bulan sudah tak sanggup melihat kemesraan mereka. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dia hampir saja menangis melihat pemandangan itu. Namun dirinya menguatkan diri, agar dia tidak menangis di depan umum. Selepas itu, dirinya memilih pergi dari sana karena sudah tidak sanggup lagi. Dia melangkah pulang dengan perasaan yang sakit, Kecewa, dan cemburu.
Selama perjalanan, dia menangis dan terus menangis. Lalu, dia memilih untuk menelepon Fadhla agar perasaannya dapat tenang. Fadhla pun mengangkat telepon darinya.
"Ada apa, Bulan?" tanya Fadhla.
"Aku merasa kacau. Aku tahu bahwa ini sangatlah salah. Seharusnya aku tidak seperri ini," sahut Bulan. Fadhla mulai tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bulan.
"Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti sama sekali."
"Apa kamu sedang senggang? Aku ingin bertemu kamu," kata Bulan mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya saat ini sedang sibuk, sih. Eggy sedang tidak ada. Jadi semua pekerjaan aku yang harus mengerjakannya," jelas Fadhla.
"Aku mohon! Temui aku di rumah. Aku butuh seseorang," kata Bulan memohon.
Fadhla terlihat masih berpikir antara pekerjaan atu datang menemui Bulan. Namun dirinya memutuskan sesuatu.
"Baiklah. Sebentar lagi aku akan datang ke rumahmu. Tunggu aku. Aku selesaikan ini dengan cepat," sahut Fadhla.
"Terima kasih, Fadhla. Aku akan menunggumu di rumah."
Selepas itu Bulan langsung menutup teleponnya. Fadhla merasa heran dengan Bulan. Ada apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Samar-samar suara Bulan memang terdengar menangis saat di telepon tadi. Itu membuat Fadhla menaruh curiga. Maka dsri itu, Fadhla harus segera selesaikan pekerjaannya, lalu dia segera berangkat ke rumah Bulan untuk mengetahui hal yang terjadi padanya saat ini. Fadhla sangat cemas akan keadaan Bulan.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*