The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 48



Saat itu, aku mengingat dengan betul. Raihan melamarku dengan memberikan sebuah cincin. Aku menatap ke arah jemariku, rupanya aku tidak memakai cincin yang diberikan oleh Raihan. Mengapa? Mengapa seperti ini? Ingatan mana yang aku hilangkan?


"Raihan," panggilku.


"Bagaimana, Bulan?" sahutnya.


"Ingatan mana yang aku hilangkan? Apakah ada banyak yang hilang?"


Raihan sejenak terdiam. "Keinginanmu aku menjawab jujur apa adanya atau harus berbohong?"


"Ya jelas harus menjawab jujur."


Raihan mengehela napas panjangnya. "Sepertinya kamu kehilangan ingatan selama 3 tahun terakhir."


Tunggu!


Apa? 3 tahun terakhir? Mengapa? Selama itu kah? Ini ... ini tidak bisa aku percaya. Aku tidak mempercayainya. Ingatan selama tiga tahun terakhir? Oh, tidak. Apa saja yang terjadi selama tiga tahun itu? Aku benar-benar belum siap untuk mendengar kenyataan darinya. Harus kah aku membiarkan ingatan selama 3 tahun itu hilang begitu saja? Namun aku sangat membutuhkan ingatan itu untuk mendapat semua jawaban akan teka-teki ini.


"Raihan, apakah selama tiga tahun itu kita masih bersama?" tanyaku dengan ragu-ragu.


"Tidak lama setelah itu kita berpisah," jawabnya dengan nada penuh kecewa. Sangat jelas dari sorotan matanya, dia merasa bahwa ada suatu hal yang membuatnya sangat berat ketika mengucapkannya.


"Apa? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanyaku mulai penasaran dan kebingungan.


Terlihat dirinya sangat kebingungan untuk menjelaskan sesuatu padaku. Namun akhirnya dia memberitahukan sesuatu yang membuatku hampir terkena serangan jantung.


"Kamu menikah dengan Eggy."


"Apa? Tidak mungkin!" Spontan aku berdiri mendengar itu.


"Aku serius, Bulan. Kamu sudah menikah dengannya. Selama dua tahun lebih ini, kamu sudah menjadi istri orang."


Perlahan-lahan air mataku mengalir. Aku tidak ingin kalimatnya menjadi kenyataan. Mana bisa aku menikah dengan orang lain, mengapa?


"Kami akan bercerai, Raihan. Aku tidak ingin bahwa hubungan kita berakhir begitu saja. Ayo kita mulai dari awal lagi," ujarku memohon.


"Apa benar kamu akan bercerai dengannya?" tanya Raihan dengan tatapan yang serius.


Tanpa pikir panjang, aku langsung saja menjawab 'ya'.


"Kalau begitu, aku akan mengambil semua uang tabunganku di bank untuk kita."


"Tidak. Aku akan melunasi sebagian hutangmu terlebih dulu," sahutnya.


Hutang? Hutang apa lagi? Apa kaitannya denganku? Hutang apa itu? Ini menjadi misteri baru untukku. Semakin lama aku pikirkan, semakin lama aku berusaha mengingatnya, semakin terasa sakit di kepalaku.


"Hutang apa?" tanyaku.


Raihan terdiam kembali. Sepertinya dia enggan untuk berbicara. Maka dari itu, aku langsung berjalan pergi keluar dari rumah Raihan untuk menanyakan hal ini.


Setahuku, aku tidak pernah berani berhutang apa pun kepada siapa pun. Namun kenyataan ini menyadarkanku bahwa memang aku pernah melakukan hal bodoh itu.


"Kamu akan ke mana, Bulan?" tanya Raihan.


Aku mengabaikan pertanyaan itu. "Seberapa banyak hutangku?" tanyaku sebelum aku beranjak pergi.


"Aku lupa nominalnya, tetapi itu cukup besar."


"Berapa?" tanyaku dengan detak jantung yang waswas. Aku harap dia tidak menyebutkan jumlah dengan banyak. Jika memang hal itu terjadi, sungguh! Aku menyesali dengan perbuatan itu.


"Beberapa milyar. Mungkin 5 sampai 8 milyar."


"Apa?"


Seketika diriku ingin pingsan mendengar hal itu. Uang sebanyak itu digunakan untuk apa? Apa aku benar-benar bodoh, sampai berani mengahabiskan uang sebanyak itu. Gila! Aku sungguh sudah gila.


"Itu karena orang tuamu bangkrut. Dia meminjam uang ke salah satu perusahaan," jelas Raihan.


Tunggu! Orang tua? Apakah orang tuaku yang berhutang?


"Jadi, hutang itu bukan aku?" tanyaku.


"Sepertinya bukan. Itu yang kamu ceritakan padaku, Bulan," jawab Raihan.


"Aku? Menceritakan itu padamu? Berarti kamu tahu benar siapa lelaki yang mengaku suamiku itu?" tanyaku dengan serius.


Lagi-lagi Raihan terlihat kebingungan dengan banyaknya pertanyaanku. Dia terdiam tak mampu bicara. "Baiklah. Mungkin benar. Aku menikahinya. Lalu siapa lelaki itu? Apakah dia yang melunasi semua hutang keluargaku?"


"Ya," jawabnya dengan sangat singkat.


Aku kembali meneteskan air mataku di pipi. Sungguh sangat miris sekali hidupku dipenuhi dengan hal yang tidak aku inginkan. Satu kenyataan telah aku ketahui, aku tahu alasan mengapa aku dan Raihan dapat berpisah. Itu karena aku menikah dengan lelaki itu demi melunasi semua hutang keluargaku pada salah satu perusahaan itu. Tak ku sangka bahwa diriku dijual. Perasaanku terasa seperti tercabik-cabik, tertampar sangat keras, tergores pedang samurai tanpa semuanya berdarah. Apa hidup sekejam ini? Mengapa aku tidak bisa hidup seperti yang lainnya? Aku ingin hidup bersama orang yang ku sayangi. Aku ingin hidup dengan orang yang aku cintai. Persetan dengan semua hutang keluargaku. Aku merasa tidak dihargai sebagai seorang anak. Aku dijual. Seakan bahwa diriku memang tidak pernah dibutuhkan di dunia ini. Apakah perasaan ini harus aku utarakan semuanya lagi? Cukup sudah aku mengetahui kenyataan pahit ini. Cukup!