
Bulan meninggalkan meja dan membawa tasnya beserta map yang akan diberikan kepada manager restoran. Dia mendatangi seorang kasir untuk konfirmasi pertemuannya dengan Pak Angga. Setelah seorang kasir itu menelepon kantor managernya, Bulan pun disuruh untuk memasuki ruangannya.
"Terima kasih, Mba," ucap Bulan.
"Sama-sama," balasnya.
Bulan pun berjalan menuju kantor manager dengan perasaan penuh keraguan, jantung yang berdebar-bedar, dan dengan perasaan yang sangat gugup. Dia mulai mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Silakan masuk!" ucap seseorang yang berada di dalam ruangan.
Bulan pun membuka pintu tersebut dan melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan tersebut. Dengan menebar sebuah senyuman, dia melangkah ragu menghampiri meja sang manager.
"Selamat siang, Pak," sapa Bulan.
"Siang kembali. Apakah perutmu sudah kenyang?" tanyanya.
Bulan menyeringai. "Ah, iya, Pak. Cukup," jawabnya.
"Silakan duduk," perintahnya. Segera Bulan pun duduk saling berhadapan dengannya. "Boleh saya melihat isi map yang kamu bawa?"
"Ah, boleh, Pak. Silakan." Bulan memberikannya.
Angga mulai membuka tali map tersebut dan mulai mengeluarkan berkas-berkas di dalam map tersebut. Kemudian dia melihat-lihat isi berkas tersebut dengan serius.
"Mm ... lumayan juga," gumamnya.
"Lumayan apanya, Pak?" tanya Bulan ragu-ragu.
"Mm ... namamu Bulan, ya?"
"Iya, Pak."
"Mengapa kamu mencari pekerjaan?" tanya Angga seraya menyimpan berkas-berkasnya.
"Saya butuh pekerjaan untuk mendapatkan uang, Pak. Demi melanjutkan hidup saya yang harus saya jalani," jawab Bulan.
"Mengapa saya harus menerima kamu bekerja di sini?"
"Mm ... karena saya yakin bahwa saya mampu bekerja dengan baik di sini. Saya percaya tenaga saya dan kemampuan saya," sahutnya.
"Baiklah, Bulan. Saya akan menerimamu sebagai pekerja baru di sini," ujar Angga. Jawaban itu membuat Bulan tersenyum dan merasa sangat senang.
"Benarkah?"
"Ya. Benar. Apakah saya harus mencubitmu untuk membuktikan bahwa ini nyata?" tanya Angga menggodanya.
"Haha. Bapak bisa saja. Itu tidak perlu, Pak. Saya percaya kok." Bulan tersenyum kepada Angga.
"Baiklah. Kamu bisa bekerja mulai besok. Jangan lupa pukul 08.00 pagi kamu harus susah ada di sini untuk persiapan buka restoran. Lalu ... untuk seragam kerja, nanti saya kasih. Kamu pakai baju kemeja putih dan rok hitam saja. Jika tidak punya rok, celana hitam pun tidak masalah," jelas Angga kepada Bulan memberitahu tentang sedikit peraturan kerja di sana.
"Baik, Pak. Akan saya usahakan untuk tiba lebih awal ke sini."
"Baiklah. Untuk besok, saya akan ajak kamu keliling dapur dan apa saja yang ada di restoran ini."
"Baik, Pak. Terima kasih. Sekali lagi saya berterima kasih."
"Baiklah. Jangan terlalu banyak mengucapkan terima kasih. Nanti saya tidak tahan dengan pujian dan bisa jadi orng haus pujian di kemudian hari." Angga menyeringai.
"Haha. Baik, Pak. Kalau begitu, apakah saya harus pulang untuk saat ini?"
"Tidak perlu, Bulan," sahut Angga.
"Tidak perlu, Bulan. Kamu ke rumah saya saja." Spontan bulan melototkan matanya. "Hahaha. Bercanda. Maaf, saya orangnya humoris. Jadi memang sering bercanda dengan siapa saja. Maafkan saya."
Bulan terkekeh. "Ohehe. Baik, Pak. Bukan masalah. Saya paham."
"Baiklah. Silakan jika kamu ingin pulang, pulanglah. Hati-hati, semoga selamat sampai rumahmu, ya."
"Amin, Pak. Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu, ya."
"Sampai jumpa kembali besok."
"Baik, Pak." Bulan tersenyum. Kemudian dia pergi meninggalkan kantor manager itu.
Akhirnya di hari pertama mencari kerja, Bulan mendapatkan sebuah pekerjaan dengan sangat mudahnya. Ini adalah awal kehidupannya yang baru. Entah bagaimana kelanjutannya, tetapi hal ini membuat perasaan Bulan sangat gembira.
Ketika perjalanan menuju rumah, Bulan melihat ada tukang dagang pinggir jalan dan dia menghampiri penjual dagangan itu.
"Ada apa saja, Pak?" tanya Bulan.
"Ada gorengan, Neng. Silakan dipilih," jawabnya.
"Iya, Pak. Saya tahu, ini gorengan. Cuma gorengannya ada apa saja?" jelas Bulan.
"Oh, gitu, Neng. Ada cireng, tahu isi, moln, pisang goreng, silakan, Neng."
"Semuanya aja, Pak. Campur-campur 15ribu. Bisa tidak?"
"Bisa, Neng. Saya kantongi, ya. Sebentar."
"Baik, Pak."
Bulan mengambil beberapa lembar di dalam dompetnya. Kemudian dia berikan kepada pedagang tersebut.
"Ini uangnya dulu, ya, Pak. Saya taruh sini."
"Iya, Neng. Mau pakai saos, tidak?" tanyanya menawarkan.
"Pisah pakai plastik saja."
"Baik, Neng. Mau sekalian pakai cabai?" tanyanya lagi.
"Ah, hehe. Silakan, Pak. Masukan saja," sahut Bulan pasrah.
"Baik, Neng. Ini sudah semuanya."
"Terima kasih, ya, Pak."
"Terima kasih kembali, Neng. Semoga nikmat dimakannya."
"Iya, Pak. Saya permisi dulu."
"Silakan, Neng, silakan."
Bulan pun berjalan pergi dengan membawa sekantung kresek gorengan di tangannya. Kemudian dia membuka keresek itu dan menghirup aromanya. Dirasa sangat nikmat dan harus. Menggugah rasa lapar. Lalu dia mengeluarkan tahu isi dari keresek tersebut dan memakannya sambil berjalan kaki. Dia menikmati makanan cemilan gorengan itu sepanjang perjalanannya.
******
**Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update sehari 2x. Terima kasih sebelumnya, readers.
Happy Reading, next**!