Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Menemui Psikiater



Nerissa masih bersama Marin di toko bunga. Ia masih terdiam mendengar ucapan Marin yang seolah mengingatkannya jika dirinya dan Alvin berbeda dan tidak akan pernah bisa bersama.


**


Waktu berlalu hari pun berganti. Nerissa dan Marin masih melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya layaknya manusia pada umumnya.


Marin membuat buket bunga pesanan sedangkan Nerissa mengantar buket bunga yang telah Marin selesaikan.


Tak jarang mereka hanya duduk berdua bercanda dan bercerita saat sedang senggang.


"Putri apa kau tidak ingin mencoba kekuatanmu?" tanya Marin pada Nerissa.


"Mencobanya bagaimana maksudmu?" balas Nerissa bertanya.


"Kau bisa masuk ke dalam memoriku bukan? kau bisa menghapus memori dan memanipulasinya sesuai dengan keinginanmu, apa kau tidak ingin mencobanya padaku?" tanya Marin.


"Aku memang bisa melakukan itu, tetapi aku tidak ingin melakukan itu padamu Marin!" jawab Nerissa.


"Kenapa?" tanya Marin tak mengerti.


"Aku tidak tahu bagian mana dari memorimu yang lebih baik aku hapus, aku juga tidak tahu apa akibat jika aku menghapus atau memanipulasi sebagian dari memorimu, apa yang sudah terhapus atau termanipulasi dalam memorimu pasti akan berdampak pada memorimu selanjutnya Marin!" jawab Nerissa menjelaskan.


Marin menganggukkan kepalanya memahami ucapan Nerissa.


"Bagaimana jika aku memintamu untuk menghapus memoriku?" tanya Marin pada Nerissa.


"Memori apa yang ingin kau hapus dari ingatanmu Marin?" balas Nerissa bertanya.


Marin menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin melupakan kejahatan ayahnya pada Seabert karena hal itu selalu saja membuatnya merasa bersalah pada Ratu Nagisa dan Nerissa, tetapi jika dia meminta Nerissa untuk melakukan hal itu maka bisa jadi hal buruk lain akan terjadi.


Jika Marin lupa tentang kejahatan sang ayah pada Seabert maka Marin juga akan lupa tentang tujuannya pergi ke daratan bersama Nerissa.


"Ada apa marin? apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Nerissa pada Marin yang hanya menundukkan kepalanya.


Marin menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis pada Nerissa.


"Apa ini tentang ayahmu?" terka Nerissa.


"Maaf Putri, tidak seharusnya aku memikirkan hal itu, ayahku sudah melakukan kejahatan yang besar pada Seabert dan juga Ratu Nagisa, sudah seharusnya ayah mendapat hukuman tetapi Ratu masih memberikan kesempatan pada ayah dan itu sudah lebih dari cukup untukku Putri," ucap Marin.


"Apa kau ingin aku menghapus memorimu tentang hal itu?" tanya Nerissa yang segera dibalas gelengan kepala oleh Marin.


"Tidak Putri, tolong jangan lakukan itu padaku, seperti yang kau katakan hal itu akan memberikan dampak pada memoriku yang selanjutnya jadi jika aku lupa tentang kejahatan ayah maka aku juga akan lupa tentang tujuanku disini bersamamu," ucap Marin.


"Kau benar Marin, aku harus benar-benar bijak dalam menggunakan kekuatanku," balas Nerissa.


"Bagaimana dengan kekuatanmu yang lain Putri?" tanya Marin.


Nerissa tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Marin.


"Kenapa kau tersenyum Putri? apa kau tahu kekuatanmu yang lain?"


Nerissa kemudian beranjak dari duduknya dan berlari meninggalkan Marin begitu saja. Nerissa masuk ke dalam rumah dan mengambil mahkota yang ada di kamarnya lalu membawanya ke toko bunga Marin.


"Apa yang akan kau lakukan dengan mahkota itu Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Lihatlah Marin!" ucap Nerissa sambil menekan beberapa bagian mahkotanya sehingga membuat mahkota kecil itu mirip seperti hiasan rambut.


"Hentikan Putri, kau merusak mahkota itu!" ucap Marin yang segera beranjak dari duduknya karena terkejut dengan apa yang Nerissa lakukan pada mahkotanya.


"Tidak Marin, aku tidak merusaknya, mahkota ini bisa menjadi hiasan rambut dan aku bisa memakainya setiap hari tanpa orang lain curiga jika yang aku pakai ini adalah mahkota yang menjadi rebutan banyak manusia," balas Nerissa menjelaskan.


"Apa dengan seperti itu mahkota itu tidak kehilangan kekuatannya? apa kau masih bisa menemukan mutiara biru Ratu Nagisa jika mahkota itu berubah bentuk seperti itu?"


"Tentu saja bisa, mahkota ini masih bisa bercahaya jika aku memasukkannya ke dalam air dengan bentuk yang seperti ini!" jawab Nerissa.


Marin menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Nerissa.


"Aku harus selalu memakai mahkota ini karena mahkota ini yang akan menunjukkan ku pada mutiara biru milik Bunda, mahkota ini juga yang memberikan kekuatan padaku jadi dengan membuatnya tampak seperti hiasan rambut aku bisa memakainya setiap hari!" ucap Nerissa Marin.


"Kau benar putri, semoga kita bisa segera menemukan mutiara biru milik Ratu Nagisa agar kita segera kembali ke Seabert dan membuat keadaan disana menjadi aman dan nyaman seperti sebelumnya," balas Marin.


Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian mengambil ponselnya, sedangkan Marin segera membuat buket bunga yang beberapa jam lagi harus Nerissa antar.


Saat sedang memainkan ponselnya ia melihat video wawancara Cordelia tentang mahkota yang sempat membuat publik heboh.


Dalam wawancara itu Cordelia beralasan jika mahkota yang ia pakai hanyalah mahkota mainan. Cordelia juga meminta maaf karena foto yang dia unggah membuat semua orang berpikir jika mahkota yang ia pakai adalah mahkota sungguhan.


Cordelia menjelaskan jika ia tidak bermaksud untuk menipu ataupun sengaja melakukan kebohongan publik ia hanya merasa menyukai mahkota mainan itu dan memakainya lalu mengunggahnya ke sosial media.


Ia berharap kehebohan itu segera mereda karena ia benar-benar tidak mengerti tentang mahkota yang memiliki nilai jual tinggi seperti yang diucapkan banyak orang.


Nerissa kemudian melihat beberapa komentar yang ada di sana, beberapa orang tampak meninggalkan komentar negatif pada Cordelia.


Tak lama setelah berita hebohnya yang mencium Alvin di acara ulang tahunnya, Cordelia kembali membuat heboh dengan mahkota mainan yang dia unggah di sosial medianya, membuat beberapa orang berpikir bahwa Cordelia hanya mencari sensasi saja.


Mengingat kehebohan pertama yang Cordelia buat ternyata hanya kesalahpahaman dan hal yang sama pun terulang kembali hanya dalam waktu singkat yaitu tentang kesalahpahaman tentang mahkota yang Cordelia pakai.


Meski begitu banyak juga dari mereka yang memberikan komentar positif, memberikan semangat dan dukungan mereka pada Cordelia.


"maafkan aku Delia, mungkin setelah ini kau akan semakin membenciku tetapi aku harus mendapatkan mahkota ini untuk menyelamatkan kehidupan di duniaku yang ada di bawah laut," ucap Nerissa dalam hati.


"Ada apa Putri? apa yang sedang kau lihat? sepertinya kau serius sekali!" tanya Marin pada Nerissa yang tampak serius memperhatikan ponselnya.


Nerissa menggelengkan kepalanya pelan kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya lalu menghampiri Marin.


"Berapa buket bunga lagi yang harus aku antar Marin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Ada tiga buket bunga tetapi jaraknya lumayan jauh, apa kau bisa mengantarnya sendiri putri? jika tidak aku akan meminta tolong....."


"Aku bisa mengantarnya sendiri Marin, serahkan semuanya padaku!" ucap Nerissa memotong ucapan Marin.


**


Mentari telah kembali ke peraduannya,v sinar senja telah tergores di ujung barat langit sore.


Alvin keluar dari ruangannya bersiap untuk meninggalkan kantor karena ia harus segera menemui seseorang.


"Alvin tunggu!" panggil Ricky yang membuat Alvin segera menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Ricky.


"Ada apa?" tanya Alvin pada Ricky yang berjalan ke arahnya.


"Selesaikan proposal ini sekarang juga, aku....."


"Ini bukan tugasku Ricky, lagi pula aku harus segera pulang sekarang!" ucap Alvin memotong ucapan Ricky.


"Kau hanya perlu mengeceknya saja lalu segera serahkan pada manajer pemasaran!" balas Ricky lalu pergi begitu saja setelah memberikan sebuah map berisi proposal pada Alvin.


Alvin hanya mendengus kesal kemudian kembali masuk ke ruangannya diikuti oleh Daniel yang saat itu baru saja keluar dari ruangannya untuk menghampiri Alvin.


"Pulanglah, aku akan mengecek proposal ini dan memberikannya pada manajer pemasaran!" ucap Daniel sambil merebut map yang Alvin pegang.


"Aku akan mengerjakannya sendiri Daniel," balas Alvin.


"Kau terlihat lesu dari kemarin Alvin, pulanglah dan beristirahatlah di rumah, lagipula sekarang sudah lewat dari jam pulang!" ucap Daniel.


"Apa kau bisa mengatasinya?"


"Tenang saja, kau percaya padaku bukan?"


Alvin menganggukkan kepalanya kemudian memberikan map yang ia pegang pada Daniel.


"Terima kasih Daniel, maaf karena aku harus segera pergi," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


Daniel kemudian mengerjakan pekerjaan yang baru saja diberikan pada Alvin sedangkan Alvin segera meninggalkan kantor untuk pergi ke salah satu rumah sakit yang tak jauh dari kantornya.


Sesampainya Alvin di tempat tujuan ia segera keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah ruangan tempat dokter Jessica menunggunya.


Alvin mengantuk pintu beberapa kali lalu membukanya.


"Apa Alvin terlambat dok?"


"Tidak, duduklah," jawab dokter Jessica mempersilahkan Alvin duduk.


Alvin pun duduk di hadapan dokter Jessica.


"Sampaikan apa yang ingin kau sampaikan Alvin, jangan menutupi apapun dariku!" ucap dokter Jessica pada Alvin.


"Baik dok, tapi mungkin ini akan terdengar seperti hal yang konyol!" balas Alvin.


"Aku tidak akan berpikir seperti itu Alvin, kau tahu siapa aku," ucap dokter Jessica.


Alvin menganggukkan kepalanya kemudian menjelaskan pada dokter Jessica tentang semua yang mengganggu pikirannya.


Alvin menjelaskan mulai dari saat kecelakaan kapal yang merenggut kedua orang tuanya terjadi, saat Alvin melihat seorang perempuan dengan ekor berwarna biru di tengah kesadarannya yang menipis.


Alvin juga menjelaskan jika mulai dari saat itu ia menjadi sangat menyukai lautan dan menghindari untuk makan makanan laut sebagai bentuk rasa cintanya pada kehidupan yang ada di laut.


Hingga akhirnya Alvin menjelaskan pada dokter Jessica tentang apa yang terjadi pada dirinya beberapa hari terakhir. Tentang mimpinya yang bertemu dengan gadis yang memiliki ekor merah muda, tentang mahkota yang ia temukan yang pada akhirnya masuk ke dalam mimpinya dan tentang Nerissa, gadis misterius yang membuatnya berpikir jika semua yang terjadi padanya berhubungan dengan Nerissa.


Alvin juga menjelaskan siapa Nerissa dan semua keanehan yang ada pada nerissa mulai dari identitasnya yang sebenarnya, mutiara dan mahkota yang Nerissa miliki juga tentang tempat asal Nerissa yang selalu Nerissa rahasiakan dari siapapun.


Mendengar semua penjelasan Alvin, dokter Jessica mengangguk-anggukkan kepalanya seolah memahami keseluruhan isi cerita Alvin.


"Apa Alvin sudah gila dok?" tanya Alvin di akhir ceritanya.


"Tidak Alvin, dari apa yang aku dengar darimu semua itu terjadi karena alam bawah sadarmu mempercayai apa yang kau pikirkan yang membuatmu tanpa sadar selalu menghubungkan hal yang satu dengan yang lainnya," jawab dokter Jessica.


"Jadi apa menurut dokter Alvin hanya berhalusinasi?" tanya Alvin.


"Kita memang tidak pernah tahu dunia lain yang tidak pernah kita lihat, entah mereka memang benar benar ada atau hanya sekedar cerita dari mulut ke mulut, tetapi sejauh yang aku tahu keberadaan mereka belum bisa diungkap secara jelas, kau pun tahu tentang hal itu bukan?"


"Iya dok, Alvin tahu!"


"Tetapi aku tidak menyalahkanmu karena bisa jadi sosok yang kau lihat saat itu adalah karakter yang tanpa sadar kau ciptakan yang kau percaya melindungimu saat itu, karena usiamu masih kecil saat itu kau semakin mempercayai apa yang kau pikirkan jadi tanpa sadar kau membawanya sampai kau tumbuh dewasa," ucap dokter Jessica.


Alvin hanya diam memperhatikan penjelasan dokter Jessica padanya.


"Tidak ada yang salah dengan apa yang kau pikirkan itu Alvin asalkan itu tidak memberikan dampak yang buruk untukmu, tetapi mulai sekarang berusahalah untuk mengendalikan pikiranmu karena apa yang terjadi padamu itu sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang kau lihat saat kecelakaan kapal itu terjadi," ucap dokter Jessica.


"Karena kau terlalu mempercayai apa yang kau pikirkan dari kecil membuatmu tidak menyadari jika arah pikiranmu selalu cenderung ke arah sana, padahal masih banyak kemungkinan yang sebenarnya terjadi tentang semua hal yang sudah kau lalui beberapa hari terakhir ini," lanjut dokter Jessica.


"Lalu bagaimana dengan Nerissa Dok?" tanya Alvin.


"Aku pernah mempunyai pasien seperti Nerissa, dia memiliki masa lalu yang sangat buruk yang membuatnya ingin melupakan masa lalunya dan memulai lembaran baru dalam hidupnya, kau tahu apa yang dia lakukan? dia melakukan hal yang sama seperti yang Nerissa lakukan, merubah identitasnya, merahasiakan identitas masa lalunya dan menutup semua hal yang terjadi di masa lalunya, baginya kehidupannya dimulai saat ia membuka lembaran baru dalam hidupnya," ucap dokter Jessica menjelaskan.


"Apa Nerissa juga seperti itu Dok?" tanya Alvin.


"Aku tidak bisa memastikannya karena aku belum bertemu dengannya, tetapi kemungkinan apa yang pasienku alami juga tengah Nerissa alami saat ini dia menutup diri dari masa lalunya dan membuka dirinya di tempatnya yang baru dengan identitas dan juga jati dirinya yang baru," jawab dokter Jessica.


Alvin menganggukkan kepalanya mengerti maksud dari penjelasan dokter Jessica.


"Jika kau memang benar-benar mencintainya jangan pernah menanyakan masa lalu padanya Alvin, itu hanya akan membuatnya semakin tertekan, jika dia sudah membuka hatinya untukmu aku yakin dia akan menceritakan semuanya padamu tanpa perlu kau bertanya padanya," ucap dokter Jessica.


"Mencintainya? tidak seperti itu dok, sepertinya dokter salah paham!" ucap Alvin dengan tersenyum canggung karena dokter Jessica berpikir jika Alvin mencintai Nerissa.


"Salah paham? benarkah? hmmmm..... tapi aku yakin aku melihat cinta dari kedua matamu saat kau menceritakan tentang Nerissa," ucap dokter Jessica dengan tersenyum melihat Alvin yang tampak canggung.


Alvin hanya tersenyum tipis dengan menggaruk tengkuknya untuk menghindari kegugupan dan kecanggungannya saat itu.