
Di suatu tempat di istana Seabert, Nerissa sedang bersama Chubasca.
"Bagaimana keadaan Ratu Nagisa, Putri?" tanya Chubasca pada Nerissa.
"Bunda sudah membaik, tapi aku masih meminta bunda untuk beristirahat di kamarnya," jawab Nerissa.
"Sebenarnya aku menemuimu karena ada yang ingin aku tanyakan padamu, Putri," ucap Chubasca.
"Apa itu?" tanya Nerissa.
"Tentang kau dan Marin, apa yang sebenarnya membuat kalian bertengkar? apa benar pertengkaran kalian berhubungan dengan ayahku?"
"Apa Marin memberi tahumu sesuatu?" balas Nerissa bertanya.
Nerissa tidak ingin salah bicara yang membuat hubungannya dengan Chubasca juga merenggang seperti Marin.
"Tidak, itu kenapa aku bertanya padamu, sepertinya masalah kalian cukup serius!"
Nerissa menghela nafasnya dan menganggukan kepalanya pelan.
"Apa kau tidak ingin menceritakannya padaku? mungkin aku bisa membantu!"
"Terima kasih Chubasca, tapi biarkan aku dan Marin menyelesaikan masalah kita sendiri," jawab Nerissa.
"Baiklah jika itu maumu, tapi kau harus tau Putri, aku selalu siap mendengar semua ceritamu," balas Chubasca.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Oh ya, tentang calon suamimu itu, sepertinya dia bukan mermaid yang baik," ucap Chubasca yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Chubasca.
"Apa maksudmu? apa kau sudah bertemu dengannya? atau kau mengenalnya?"
"Aku memang tidak mengenalnya, tapi aku sudah pernah bertemu dengannya, aku melihat dia seperti sedang memarahi ayah, tapi anehnya ayah mengatakan hal lain padaku, hmmm.... entah kenapa aku seperti merasa ada sesuatu yang ayah sembunyikan," jawab Chubasca menjelaskan.
"Dimana kau bertemu mereka? apa kau mendengar percakapan mereka?" tanya Nerissa yang semakin penasaran.
"Aku bertemu mereka di taman ubur ubur dekat rumahku, tapi aku tidak mendengarkan apapun yang mereka katakan karena pangeran itu segera pergi setelah melihat kedatanganku," jawab Chubasca.
Nerissa diam beberapa saat, ia berpikir untuk segera mencari bukti dan mencari tau apa sebenarnya tujuan tersembunyi Cadassi dan Pangeran Merville.
"Kenapa Putri? apa kau tau sesuatu?" tanya Chubasca membuyarkan lamunan Nerissa.
"Aahh tidak, aku bahkan tidak tau kalau mereka cukup dekat, aku hanya tau jika Cadassi yang mengenalkan Pangeran Merville pada ayah dan bundaku," jawab Nerissa memberi alasan.
Chubasca hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Nerissa.
Di tempat lain, diam diam Marin mengikuti sang ayah yang pergi ke luar rumah. Saat sampai di taman ubur ubur, Marin begitu terkejut karena melihat pangeran Merville yang perlahan mendekati sang ayah.
"Bagiamana Cadassi? apa kau sudah berhasil membujuk ratu?" tanya pangeran Merville.
"Aku bisa dengan mudah membujuk Ratu, tapi aku masih kesulitan untuk meyakinkan Putri Nerissa, tolong kau bersabarlah pangeran!" jawab Cadassi.
"Sampai kapan aku harus bersabar Cadassi? aku sudah membantumu untuk menghancurkan wilayah timur, apa kau tidak ingin segera menjadi raja di Seabert?" tanya Pangeran Merville yang tampak sangat marah.
"Tentu saja aku ingin, tapi aku juga tidak ingin terlihat seperti merebut istana, aku ingin semua penghuni istana menyambutku dengan suka cita, bukan dengan kebencian," jawab Cadassi.
"Dan itu membuatmu lambat dalam menyelesaikan kesepakatan kita Cadassi!"
"Tenanglah Pangeran, aku akan melakukannya dengan hati hati agar semuanya berjalan lancar, mutiara biru milik raja pasti akan menjadi milikmu nanti, percaya saja padaku!" balas Cadassi meyakinkan.
"Baiklah, aku akan menunggumu demi mutiara biru yang akan membuatku menjadi mermaid terkuat di seluruh lautan hahahaha......"
Cadassi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Besok kita bertemu lagi disini, aku akan membawakanmu cairan baru yang bisa kau gunakan untuk melumpuhkan wilayah Utara, dengan begitu ratu akan semakin memaksa Putri Nerissa untuk segera menikah denganku," ucap pangeran Merville sebelum berenang pergi meninggalkan Cadassi.
Setelah Cadassi pergi, Marinpun keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berenang pulang ke rumahnya dengan menangis, kecewa pada sikap sang ayah.
**
Di Atlanta Grup.
Di salah satu ruangan, sedang ada meeting yang membahas tentang persiapan peragaan busana yang akan digelar bulan depan.
Setelah mendapatkan hasil akhir dari rencana peragaan busana, meetingpun selesai. Semua meninggalkan ruangan itu kecuali Alvin dan Daniel yang masih membahas beberapa hal.
Cordeliapun segera menghampiri Alvin dan memeluknya dari belakang, namun Alvin segera melepas paksa tangan Cordelia yang melingkar di pinggangnya.
"Hentikan Cordelia!" ucap Alvin tegas.
Daniel yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis. Sudah sejak lama ia tau jika Cordelia memang menyukai Alvin, tapi Alvin hanya menganggapnya sebagai adik perempuannya.
"Kau harus meminta kakakmu untuk tidak mengacaukan acara ini Delia!" ucap Daniel sambil menutup map di hadapannya, bersiap untuk pergi.
"Kenapa tidak kau saja yang mengatakan itu padanya!" balas Cordelia sinis.
"Sudah sudah, selesaikan tugasmu Daniel, aku akan memberikan berkasnya pada Ricky hari ini juga," sahut Alvin.
"Baiklah, aku pergi dulu, nikmati saja waktu kalian berdua hahaha......" balas Daniel lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan meeting.
"Tentu saja," balas Cordelia dengan setengah berteriak.
"Dan kau pulanglah, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku!" ucap Alvin pada Cordelia.
"Aku akan menemanimu, bukankah sebentar lagi jam makan siang?"
"Sepertinya aku akan melewatkan makan siangku, kau pulanglah saja, banyak yang harus aku kerjakan sekarang!"
"Aaahhh Alvin, kau selalu saja mengusirku," balas Cordelia tak bersemangat.
Alvin hanya tersenyum kecil dan mengacak acak pelan rambut Cordelia.
"Jangan bekerja terlalu keras Alvin, kau juga harus memperhatikan kesehatanmu," ucap Cordelia saat Alvin baru saja keluar dari ruangan itu.
"tentu saja aku harus bekerja ekstra keras Delia, sebelum Ricky benar benar menghancurkan perusahaan yang sudah susah payah mama dan papa bangun dari nol," balas Alvin dalam hati.
Alvin kemudian masuk ke ruangannya, melanjutkan pekerjaannya.
Tepat jam 4 sore Daniel masuk ke ruangannya, memberikan berkas yang Alvin minta untuk segera ia berikan pada Ricky setelah ia cek.
Setelah memastikan semua berkas itu sesuai dengan keinginannya, ia segera membawanya ke ruangan Ricky.
"Ini hasil akhirnya, kau bisa membacanya dan menandatanganinya!" ucap Alvin pada Ricky.
Ricky hanya menganggukkan kepalanya sambil membuka map yang baru saja Alvin berikan padanya.
"Apa yang sebenarnya membuatmu begitu bersemangat Alvin?" tanya Ricky tiba tiba.
"Apa maksudmu?" balas Alvin bertanya.
"Semua orang tau bagaimana dan seperti apa kecerdasanmu, tidak akan susah untukmu mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik daripada disini, tapi kenapa kau sangat enggan untuk meninggalkan perusahaan yang sudah diujung tanduk ini?"
"Terima kasih atas sanjunganmu Ricky, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan perusahaan ini!"
"Kenapa?"
"karena ini adalah perusahaan milik keluargaku, dan aku akan mengambilnya kembali dari tanganmu," balas Alvin dalam hati.