Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Pesta Barbeque



Di bawah teriknya cahaya matahari siang itu, Nerissa dan Daniel masih berlari mengejar kupu-kupu di taman bunga yang ada di dekat danau.


Sedangkan Marin hanya duduk di bawah pohon bersama Alvin. Meski tidak mengetahuinya dengan pasti tetapi Marin berpikir jika sebenarnya Alvin mengingat Nerissa, hanya saja Alvin menyembunyikan hal itu dari Daniel dan Nerissa karena ia tahu jika Daniel menyukai Nerissa.


Alvin yang mendengar ucapan marin berusaha untuk tetap tenang meski sebenarnya ia gugup saat itu.


"Apa yang kau bicarakan Marin? aku baru bertemu dengan Nerissa saat kalian datang ke rumahku bersama Daniel malam itu!"


"Benarkah?" tanya Marin memastikan.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan kegugupannya saat itu, namun justru membuat Marin semakin yakin jika Alvin tengah berbohong padanya.


"Apa kau tidak merasa cemburu melihat kedekatan mereka berdua?" tanya Marin sambil membawa pandangannya pada Nerissa dan Daniel yang masih berlarian mengejar kupu-kupu.


"Aku tidak berhak merasakan cemburu Marin, Daniel menyukai Nerissa, aku sebagai sahabatnya hanya bisa mendukungnya!" jawab Alvin.


"Cemburu atau tidak itu bukan masalah dengan berhak atau tidak Alvin, karena cemburu itu berasal dari hatimu Alvin, kau mungkin tidak berhak untuk merasa cemburu tetapi hatimu nyata merasakan rasa cemburu!" ucap Marin.


Alvin menghela nafasnya panjang kemudian menundukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.


"Bagaimana denganmu? bukankah kau menyukai Daniel?" balas Alvin bertanya pada Marin.


"Hahaha...... aku menyukai Daniel? yang benar saja...... laki-laki menyebalkan seperti itu tidak akan pernah masuk dalam daftar laki-laki yang aku sukai!" jawab Marin tanpa ragu.


"Benarkah? kita lihat saja apa kau akan merasakan cemburu saat Daniel dekat dengan Nerissa!"


"Cemburu hanya dirasakan oleh mereka yang mencintai dalam diam seperti dirimu hahaha....." balas Marin sambil tertawa puas.


Tak lama kemudian Nerissa berlari ke arah Alvin dan Marin dengan memegang seekor kupu-kupu di tangannya.


"Marin, Alvin lihatlah aku berhasil menangkap kupu-kupu!" ucap Nerissa sambil memamerkan kupu-kupu yang dipegangnya pada Alvin dan Marin.


"Waaah.... kau hebat sekali Putri!" balas Marin sambil bertepuk tangan kecil.


"Lepaskan dia Nerissa, biarkan dia terbang bebas di alamnya!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Apa aku tidak bisa membawanya pulang? Marin memiliki banyak bunga di tokonya, jadi dia bisa tinggal di dalam toko bunga Marin, boleh kan Marin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Tidak bisa Nerissa, tempatnya disini di alam bebas jadi biarkan dia terbang sesuka hatinya bersama teman-temannya, kau tidak ingin dia bersedih karena merasa kesepian bukan?" sahut Daniel yang sudah duduk di samping Nerissa.


"Tapi aku sudah bersusah payah menangkapnya, kau juga sudah membantuku untuk menangkapnya Daniel, tapi sekarang kenapa aku harus melepaskannya?"


"Dunianya disini Nerissa, tempatnya disini bersama teman-temannya, akan terjadi masalah besar jika dia memaksakan diri untuk tinggal di tempat lain walaupun mungkin tempat itu terlihat lebih indah dari tempatnya saat ini," ucap Alvin pada Nerissa.


"masalah besar masalah seperti apa yang kau maksud? apa masalah yang datang saat ternyata hatiku menginginkan dirimu lebih dari sebelumnya padahal aku tahu dunia kita berbeda dan tempat ini bukanlah tempatku," batin Nerissa dalam hati.


Nerissa kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah taman bunga dan melepaskan kupu-kupu yang ia pegang agar bisa terbang bebas bersama teman-temannya.


"kalaupun aku bisa memilikimu suatu saat nanti, pasti aku juga harus merelakanmu untuk terlepas dari ku, membiarkanmu melanjutkan hidupmu di tempat yang seharusnya, tempat yang berbeda denganku," batin Nerissa dalam hati.


Saat Nerissa berbalik hendak kembali ke tempat pikniknya tanpa sengaja ia tersandung membuatnya terjatuh.


Melihat Nerissa terjatuh, Alvin dan Daniel pun segera beranjak dari duduknya, namun saat Alvin akan melangkah menghampiri Nerissa, Daniel menahan tangan Alvin seolah melarang Alvin untuk menghampiri Nerissa.


Daniel kemudian berlari menghampiri Nerissa untuk melihat keadaan Nerissa saat itu.


"Apa kau terluka Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Ini hanya luka kecil Daniel," jawab Nerissa sambil berusaha untuk berdiri dibantu oleh Daniel.


Tanpa banyak bertanya Daniel menggendong Nerissa, membawanya ke tempat pikniknya kemudian mendudukkannya di atas tikar.


"Kakimu terluka, aku akan mengambil kotak P3K di mobil!" ucap Alvin kemudian segera beranjak dari duduknya dan berlari ke arah ia memarkir mobilnya.


"Kenapa kau ceroboh sekali Putri? seharusnya kau bisa lebih berhati-hati!" ucap Marin sambil membersihkan pakaian Nerissa yang sedikit kotor.


Tak lama kemudian Alvin datang dengan membawa kotak P3K, ia segera membukanya lalu mengambil beberapa obat di dalamnya.


Namun Daniel merebut obat itu dari tangan Alvin seolah tidak mengizinkan Alvin untuk mengobati Nerissa.


"Bersihkan dulu lukanya, kalau kau tidak bisa mengobati nya biar aku saja!" ucap Marin sambil merebut obat yang dibawa oleh Daniel.


"Ini hanya luka kecil, kenapa kalian berlebihan sekali!" ucap Nerissa dengan membawa pandangannya pada Alvin, Daniel dan Marin.


"Itu artinya kita semua menyayangimu Putri, kita tidak ingin terjadi hal buruk padamu," balas Marin.


"Benarkah? aku merasa sangat beruntung sekali mengenal kalian!" ucap Nerissa dengan tersenyum senang.


Ketika matahari semakin naik ke atas merekapun bersepakat untuk menyudahi acara piknik mereka.


"Alvin, Marin apa kalian bisa membawa semua barang-barang ini? karena aku harus menggendong Nerissa sampai ke tempat parkir!" ucap Daniel dengan membawa pandangannya pada Alvin dan Marin.


"Tidak perlu Daniel, aku bisa berjalan sendiri, barang-barang ini terlalu banyak untuk dibawa Alvin dan Marin!" sahut Nerissa sebelum Alvin dan Marin menjawab.


"Tidak apa Nerissa, aku dan Marin bisa membawanya sendiri, kakimu terluka biarkan Daniel yang menggendongmu sampai ke tempat parkir!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Tidak Alvin, aku bisa berjalan, hanya saja mungkin langkahku sedikit lambat tetapi aku akan berjalan sendiri dan membantu kalian membawa barang-barang seperti tadi!"


"Kalau begitu kau bawa lah ini dan jangan membawa barang yang lain atau kita akan meninggalkanmu di sini sendirian jika kau terlalu lambat berjalan!" ucap Marin sambil memberikan sebotol minuman pada Nerissa.


"Hahaha...... baiklah!" balas Nerissa kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan Alvin Marin dan Daniel yang masih membereskan tempat piknik mereka.


"Putri memang gadis yang polos dan terkadang manja, tetapi dia tidak akan memanfaatkan kebaikan seseorang yang untuk kepentingan dirinya sendiri!" ucap Marin sambil membawa tikar dan juga satu kantong makanan.


Daniel hanya diam seolah mengabaikan ucapan Marin, tetapi ia mendengarkan dengan baik apa yang Marin ucapkan padanya agar ia bisa mengenal Nerissa dengan lebih baik.


Setelah acara piknik mereka selesai, mereka pun pergi ke rumah Alvin untuk menyiapkan acara barbeque yang akan mereka lakukan nanti malam.


Jam terus berputar waktu berlalu matahari semakin turun dan hampir tenggelam saat Nerissa, Marin Alvin dan Daniel baru saja selesai menyiapkan acara barbeque mereka di halaman rumah Alvin.


Saat Daniel dan Alvin menyiapkan alat pembakaran, Nerissa dan Marin menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka gunakan untuk barbeque.


Ketika Nerissa membuka kantong belanja, ia sedikit terkejut karena menemukan banyak rumput laut kering di dalamnya.


"Waaaah..... aku menemukan harta karun Marin!" ucap Nerissa kegirangan.


"Harta karun apa Putri?" tanya Marin yang segera melihat isi kantong belanja yang di bawa Nerissa.


"Waaaah..... kau beruntung sekali Putri, ini benar-benar harta karun yang sangat istimewa!" ucap Marin dengan bertepuk tangan kecil.


Sedangkan Daniel yang melihat Nerissa dan Marin tampak heboh hanya tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya melihat kelucuan dua gadis cantik di hadapannya.


"Hahaha..... mereka sangat lucu, harta karun apa yang mereka temukan sebenarnya?"


"Rumput laut kering," jawab Alvin yang juga tersenyum melihat Nerissa dan Marin yang tampak senang dengan apa yang mereka temukan dalam kantong belanja.


"Rumput laut kering? kau yang membelinya?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


"Dari mana kau tahu mereka suka rumput laut kering?" tanya Daniel.


"Nerissa sering membawanya saat masih bekerja di rumahku, aku juga beberapa kali melihat Marin membelinya," jawab Alvin sambil menyalakan bara di hadapannya.


Daniel hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan mendengar jawaban Alvin.


"Sepertinya kau mengenal mereka lebih baik daripada aku, apakah menyukai salah satu dari mereka?" tanya Daniel pada Alvin.


"Daging sudah siap, apa aku sudah bisa membakarnya sekarang?" ucap Nerisaa sekaligus bertanya sambil berjalan menghampiri Daniel dan Alvin.


Alvin sedikit bisa bernafas lega karena Nerissa menyelamatkan Alvin dari pertanyaan Daniel saat itu.


"Sudah, kau bisa meletakkannya di sini!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Berhati-hatilah, ini sangat panas!" ucap Daniel pada Nerissa.


"Aku bukan anak kecil Daniel, berhenti menghawatirkanku untuk hal-hal kecil seperti ini!" balas Nerissa.


"Aku hanya....."


"Minuman sudah siap, cobalah! ini minuman buatanku sendiri!" ucap Marin yang tiba-tiba datang sambil membawa nampan berisi 4 gelas minuman.


Daniel, Alvin dan Nerissa pun mengambil satu gelas lalu mencoba minuman buatan Marin.


"Kau membuat minuman ini sendiri Marin?" tanya Alvin pada Marin.


"Tentu saja, bagaimana rasanya? apa kau menyukainya?"


"Hmmm..... sepertinya kau bisa menjual minuman buatanmu ini Marin, ini sangat segar," jawab Alvin memuji minuman buatan Marin.


"Aku setuju, kau memang selalu bisa membuat apapun yang kau inginkan Marin, tanganmu benar-benar terampil!" sahut Nerissa yang ikut memuji minuman buatan Marin.


"Tapi sepertinya minuman milikku kurang manis, apa lidahku yang bermasalah?" tanya Daniel sambil menatap gelas di tangannya.


Marin kemudian merebut gelas yang dipegang oleh Daniel dan berdiri tepat di hadapan Daniel.


"Minumlah sambil melihatku, maka kau akan merasakan betapa manisnya minuman ini," ucap Marin dengan tersenyum cantik, membuat Daniel tiba-tiba terbatuk mendengar ucapan Marin.


"Kau memang selalu menyebalkan Daniel!" ucap Marin lalu menginjak kaki Daniel kemudian kembali duduk untuk menyiapkan daging dan juga sosis yang harus segera dibakar.


"Aaaahhhh kakiku...... gadis itu benar-benar menguji emosiku!" ucap Daniel kesal sambil menggosok-gosok kakinya yang kesakitan karena diinjak dengan sengaja oleh Marin.


"Maafkan temanku Daniel, dia tidak bermaksud seperti itu hehehe....." ucap Nerissa pada Daniel.


"Kenapa kau bisa berteman dengan gadis seperti itu Nerissa? aku khawatir kau akan menjadi sepertinya jika terlalu lama berteman dengannya!"


"Justru aku yang khawatir jika putri berteman dekat denganmu!" sahut Marin yang mendengar ucapan Daniel.


Alvin dan Nerissa hanya tertawa kecil melihat perdebatan Daniel dan Marin. Mereka kemudian menikmati barbeque mereka diselingi dengan beberapa makanan ringan dan minuman buatan Marin.


Di bawah taburan bintang langit malam itu mereka tertawa bahagia dan bersenang-senang bersama.


Meski ada hati yang ragu untuk berlabuh, meski ada perasaan tidak nyaman yang menghantui, mereka tetap bisa menikmati malam mereka dengan penuh canda tawa.


Waktu berlalu malam pun semakin larut, mereka mulai membereskan acara barbeque mereka satu persatu.


Mereka membagi tugas agar mereka bisa segera beristirahat di dalam rumah karena angin malam yang semakin dingin saat malam semakin larut.


"Dimana aku harus menaruh alat ini Alvin?" tanya Nerissa sambil membawa alat pembakaran.


"Di gudang belakang Nerissa, apa kau bisa membawanya?"


"Tentu saja bisa, aku akan mengembalikannya ke gudang belakang," jawab Nerissa kemudian mengangkat alat pembakaran dan membawanya ke gudang belakang.


Di bagian belakang rumah Alvin, di dekat kolam renang Nerissa menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari dimana letak gudang di rumah Alvin.


"Ada apa non? apa ada yang bisa bibi bantu?" tanya bi Sita pada Nerissa yang tampak kebingungan.


"Nerissa mencari gudang untuk mengembalikan alat pembakaran ini bi," jawab Nerissa.


"Mari bibi antar non!" ucap bi Sita kemudian berjalan mendahului Nerissa.


Bi Sita berhenti di depan sebuah pintu lalu membukanya dan menyalakan lampu di dalamnya agar terlihat terang.


"Waaah..... gudang ini rapi sekali, apa bibi yang merapikan semua ini?" tanya Nerissa pada Bi Sita setelah ia menaruh alat pembakaran di tempatnya.


"Tuan Alvin memang tidak menyukai hal yang tidak rapi, jadi walaupun gudang ini jarang dikunjungi tetapi bibi harus sering membersihkan dan merapikannya," jawab bi Sita menjelaskan.


Nerissa menganggukkan kepalanya sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut gudang yang tampak sangat rapi itu.


Barang-barang ditaruh di dalam kardus, diletakkan di rak kayu yang ada di sana, membuat tempat itu tidak tampak seperti gudang yang biasa selalu berantakan dan jarang dijamah.


Untuk beberapa saat Nerissa terdiam menatap sebuah lukisan yang berada tak jauh dari hadapannya.


Nerissa kemudian membawa langkahnya mendekat ke arah lukisan yang ada di gudang itu.


"aku seperti mengenal lukisan ini, aku seperti pernah melihatnya tapi di mana?" batin Nerissa bertanya-tanya.


Nerissa kemudian melihat dengan detail lukisan yang ada di hadapannya dan ia pun melihat sesuatu yang membuatnya ingat tentang lukisan itu.


Goresan bintang kecil di setiap sudut lukisan itu membuatnya teringat siapa sang pelukis lukisan mawar merah di hadapannya itu.


"apa ini lukisan Amanda? dari mana Alvin mendapatkannya? bukankah Amanda tidak menjual lukisannya? apa mereka saling mengenal atau mereka......"


Nerissa menggelengkan kepalanya cepat menghilangkan semua tanya yang mengganggu pikirannya saat itu.