
Menit demi menit telah berlalu, Nerissa dan Daniel masih berada di mobil, sedangkan di luar hujan masih mengguyur bumi dengan derasnya.
Dengan bajunya yang basah Nerissa berkali-kali menggosok kedua tangannya karena merasa kedinginan.
"Kita harus pulang Nerissa, kau harus segera berganti pakaian!" ucap Daniel.
"Tidak Daniel, aku akan menunggu Alvin disini," balas Nerissa yang masih tetap ingin menunggu Alvin.
"Coba hubungi dia dan katakan bahwa kau sudah lama menunggunya disini," ucap Daniel sambil memberikan ponsel milik Nerissa.
Nerissa menerima ponselnya dari tangan Daniel kemudian menghubungi Alvin.
Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan, coba beberapa saat lagi!
Nerissa mengernyitkan keningnya saat ia tidak berhasil menghubungi Alvin, ia pun kembali menghubungi Alvin namun yang ia dengar hanya suara yang sama dari operator.
"Kenapa Nerissa?" tanya Daniel.
"Aku tidak bisa menghubunginya," jawab Nerissa yang tampak bersedih.
Danielpun mengambil ponselnya di saku celananya lalu menghubungi Alvin.
Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan, coba beberapa saat lagi!
"Mungkin karena ini hujan pertama kali di musim ini, jadi jaringan sedikit bermasalah," ucap Daniel pada Nerissa.
"Apa mungkin Alvin lupa untuk bertemu denganku hari ini?" tanya Nerissa dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak mungkin Alvin lupa Nerissa, lebih baik kita pulang sekarang dan menunggunya di rumahmu!"
"Tidak Daniel, dia berjanji untuk menjemputku hari ini, tetapi dia terlambat jadi aku menghubunginya untuk memberitahunya bahwa aku sudah berangkat lebih dulu kesini, jadi dia pasti akan datang kesini, dia tidak mungkin mengingkari janjinya bukan?"
Daniel hanya menghela nafasnya melihat Nerissa yang tidak ingin pergi dari tempat itu meski badannya sudah tampak menggigil kedinginan.
"sebesar ini rasa cintamu untuk Alvin, lalu apalagi yang kau ragukan? kau memang sudah jatuh cinta padanya!" ucap Daniel dalam hati.
Daniel kemudian mencoba untuk menghubungi Alvin untuk kedua kalinya, namun hasilnya tetap sama, panggilannya tidak bisa tersambung.
"kau kemana Alvin? kenapa kau lama sekali? kau akan menyesal jika mengetahui Nerissa menggigil kedinginan demi menunggumu disini," ucap Daniel dalam hati.
Entah apa yang terjadi pada Alvin saat itu, tetapi yang pasti Daniel benar-benar sangat kesal pada Alvin yang tidak bisa menepati janjinya pada Nerissa dan membiarkan Nerissa menggigil kedinginan hanya untuk menunggunya.
"Tunggu sebentar disini, aku akan mencari sesuatu untukmu!" ucap Daniel kemudian keluar dari mobil.
Daniel berlari kecil di bawah guyuran hujan untuk pergi ke pertokoan yang berada di seberang taman bermain itu.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari Danielpun segera kembali ke mobilnya.
"Pakailah ini, aku tidak mungkin membiarkanmu menggigil seperti ini!" ucap Daniel sambil memberikan pakaian yang baru saja dibelinya pada Nerissa.
"Apa kau baru saja berlari hanya untuk membeli ini?" tanya Nerissa saat mengetahui Daniel memberikannya pakaian baru.
"Pakailah, aku akan menunggu di luar mobil," ucap Daniel lalu kembali keluar dari mobilnya.
Nerissa terdiam beberapa saat, ia melihat Daniel yang berdiri di luar mobil dengan keadaan basah kuyup karena hujan deras yang masih turun membasahi tubuh Daniel.
Nerissa kemudian segera membuka pakaiannya yang basah dan mengenakan pakaian yang baru saja Daniel belikan.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya yang baru Nerissapun segera membuka pintu mobil agar Daniel segera masuk.
Daniel tersenyum melihat Nerissa yang mengenakan pakaian yang tampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.
"Kau lucu sekali," ucap Daniel terkekeh.
"Apa kau tidak membeli baju untukmu sendiri?" tanya Nerissa yang hanya dibalas gelengan kepala Daniel
"Kenapa?"
"Lupa hehehe....."
"Kau berlari di bawah hujan hanya untuk membelikan aku baju, tetapi kau sendiri mengenakan pakaian yang basah seperti ini, kau membuatku terlihat sangat jahat Daniel!"
"Tidak ada yang menilaimu jahat Nerissa, aku hanya terlalu memikirkanmu sampai lupa pada diriku sendiri," ucap Daniel.
"Terima kasih Daniel dan maaf karena sudah membuatmu basah kuyup seperti ini."
"Yang membuatku basah kuyup hujan, bukan dirimu," balas Daniel sambil memberikan senyumnya kepada Nerissa yang masih tampak bersedih.
"Sepertinya kita memang harus pulang Daniel," ucap Nerissa sambil menundukkan kepalanya.
"Apa kau yakin? jika kau masih ingin disini aku akan menemanimu Nerissa!"
"Aku sudah cukup lama menunggu Alvin disini, mungkin ada suatu hal yang membuatnya tidak bisa datang."
"Baiklah, kita pulang sekarang," ucap Daniel kemudian mengendarai mobilnya keluar dari area taman bermain.
Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa. Sepanjang perjalanan Nerissa menundukkan kepalanya meski sesekali ia menatap ke arah jalan raya dengan pandangan kosong.
"Apa kau marah pada Alvin?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Tidak, aku hanya berharap Alvin baik-baik saja dan dia segera menghubungiku, menjelaskan semuanya padaku," jawab Nerissa.
Daniel hanya mengganggukan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, seperti ada tusukan jarum-jarum kecil yang menusuk hatinya saat itu.
Di saat Alvin mengecewakan Nerissa, Nerissa bahkan masih mengkhawatirkan Alvin, Nerissa bahkan tidak berniat untuk marah pada Alvin meski Daniel tahu Nerissa sangat kecewa saat itu.
Sesampainya di rumah, Nerissa segera turun dari mobil Daniel.
"Terima kasih sudah mengantarku Daniel," ucap Nerissa lalu segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Daniel hanya menganggukkan kepalanya lalu membawa langkahnya ke arah toko bunga Marin.
"Kenapa Putri pulang bersamamu?" tanya Marin pada Daniel yang baru saja masuk ke dalam toko bunga.
"Alvin belum datang," jawab Daniel singkat.
"Apa kau dan Putri menunggu Alvin di taman bermain?" tanya Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
"Pulanglah, kau harus segera berganti pakaian," ucap Marin yang melihat pakaian Daniel sudah basah kuyup.
"Aku baru saja sampai dan kau sudah mengusirku!" protes Daniel.
"Kau akan sakit jika mengenakan pakaian basah seperti itu, kau tidak ingin memakai pakaianku bukan?"
"Tentu saja tidak, pakaianmu pasti sangat kecil sama seperti dirimu!"
"Kau memang selalu menyebalkan seperti ini, cepat pergilah, aku ingin menemui Putri!"
"Sebaiknya jangan!" ucap Daniel mencegah Marin menemui Nerissa.
"Kenapa?" tanya Marin tak mengerti.
"Biarkan dia sendiri dulu, sepertinya dia sangat kecewa karena Alvin tidak datang."
"Justru karena itu aku harus menghampirinya dan menghiburnya, aku tidak mungkin membiarkan Putri bersedih seorang diri!"
"Nerissa butuh waktu untuk sendiri Marin, sejak tadi dia menahan kesedihannya di depanku, pasti dia tidak ingin orang lain melihatnya bersedih, bukankah kau sangat mengenal bagaimana Nerissa?"
"Kau benar, aku akan memberikan waktu pada Putri untuk menyendiri terlebih dahulu," ucap Marin lalu duduk di samping Daniel.
"Aku juga tidak tahu Marin, aku bahkan tidak bisa menghubunginya!"
"Tunggu sebentar, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu!" ucap Marin kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
Tak lama kemudian Marin kembali dengan membawa segelas minuman dengan beberapa daun-daunan yang tampak di dasar gelas itu.
"Minuman apa ini?" tanya Daniel yang ragu menerima minuman dari Marin.
"Minuman beracun yang akan membuat mulut bawelmu itu berbusa," jawab Marin sambil menyeringai.
"Waaah senyummu itu mengerikan sekali Marin!" ucap Daniel dengan raut wajah bergidik ngeri.
"Cepat minum atau aku akan mengguyurkannya padamu!"
Daniel hanya tersenyum tipis lalu meminum minuman hangat buatan Marin.
"Waaaahh..... kau sangat pandai membuatnya Marin, minuman ini membuat seluruh tubuhku menjadi terasa hangat!" ucap Daniel setelah meminum minuman buatan Marin.
"Kau berlebihan sekali, aku akan membuat buket bunga untuk tante Yasmin sebelum kau pulang, jadi tunggu sebentar!" ucap Marin kemudian membuat buket bunga yang akan ia berikan pada Mama Daniel.
"Bagaimana dengan rencana pembuatan parfum yang pernah kau ucapkan pada Mama? apa kau serius mengatakannya?"
Marin terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Daniel karena sebenarnya ia tidak benar-benar ingin melakukan hal itu.
"Apa kau tidak benar-benar akan melakukannya?" tanya Daniel seolah bisa membaca isi pikiran Marin.
"Maaf Daniel, aku hanya asal bicara waktu itu," ucap Marin yang merasa bersalah karena terkesan sudah berbohong pada Mama Daniel.
"Aku mengerti kenapa kau melakukan itu," ucap Daniel.
"Aku hanya tidak ingin suasana menjadi canggung saat itu," ucap Marin membela diri.
"Aku tahu itu," balas Daniel sambil menganggukkan kepalanya.
"Tolong jangan beritahukan hal ini pada tante Yasmin, aku memang sedang banyak membaca tentang pembuatan parfum beberapa hari ini, tetapi aku belum ada rencana untuk membuatnya!"
"Kenapa kau tidak ingin membuatnya? sepertinya kau berbakat dalam hal itu!"
"Aku memang sangat menyukai bunga Daniel, aku hanya ingin menjualnya tetapi tidak menjadikannya parfum, untuk saat ini seperti itu, tetapi aku tidak tahu jika suatu hari nanti aku berubah pikiran," jawab Marin menjelaskan.
"Jika kau membutuhkan bantuanku atau mama katakan saja, aku dan Mama akan sangat senang jika bisa membantumu!" ucap Daniel yang membuat Marin segera membawa pandangannya pada Daniel.
Untuk beberapa saat Marin hanya terdiam menatap laki-laki di hadapannya, sikap Daniel yang seperti itu kembali membuat dadanya berdebar.
"apa kau tidak pernah sadar jika sikapmu ini bisa membuat seseorang mengharapkan lebih darimu Daniel?" tanya Marin dalam hati.
"Sepertinya hujan sudah reda, apa kau sudah selesai membuatnya Marin?" tanya Daniel membuyarkan lamunan kemarin.
"Aaahhh iya, sebentar lagi akan selesai," jawab Marin lalu kembali fokus pada buket bunga yang sedang dibuatnya.
"sadar Marin, kau mermaid dari lautan sedangkan dia hanya manusia biasa, tidak hanya karena dunia kalian yang berbeda, tetapi bahkan perasaan dalam hati kalian mungkin jauh lebih berbeda," ucap Marin berusaha menyadarkan dirinya sendiri atas perasaan yang tidak seharusnya ada dalam hatinya.
Setelah selesai membuatnya Marinpun memberikannya pada Daniel.
"Mama pasti sangat senang menerima buket bunga darimu," ucap Daniel.
"Semoga saja, tolong sampaikan salamku pada tante Yasmin," ucap Marin yang dibalas anggukan kepala Daniel.
"Terima kasih Marin, aku pulang dulu!"
Marin hanya menganggukkan kepalanya, membiarkan Daniel melangkahkan kakinya meninggalkan toko bunganya saat hujan sudah mulai reda.
"aku harap ini hanya perasaan sesaat karena sikap manismu yang membuatku salah paham, setelah semua permasalahan ini selesai aku akan kembali ke lautan dan melupakan semua yang sudah terjadi di daratan," ucap Marin dalam hati.
**
Di sisi lain, saat hujan baru saja turun Alvin berhasil keluar dari kemacetan jalan tol. Namun saat ia mengarahkan mobilnya ke arah taman bermain, ponselnya kembali berdering, sebuah nomor yang tidak ia kenali memanggilnya namun Alvin mengabaikannya.
Berkali-kali nomor itu menghubungi Alvin hingga kemudian sebuah pesan masuk.
"Aku kecelakaan."
Sebuah pesan singkat dengan emoticon bunga mawar merah di akhir pesan itu membuat Alvin seketika menghentikan mobilnya tiba-tiba, membuat beberapa pengendara di belakangnya membunyikan klaksonnya dengan kencang.
Alvinpun segara menepikan mobilnya agar tidak terjadi kemacetan apalagi kecelakaan akibat dari kelalaiannya.
"Bunga mawar merah, apa dia......."
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Alvin kembali berdering, sebuah panggilan dari nomor yang sama menghubunginya. Dengan ragu Alvin menerima panggilan itu dan membiarkan seseorang di ujung sana berbicara terlebih dahulu.
"Halo Alvin, apa kau masih mengingatku?"
DEG!!!
Jantung Alvin seperti berhenti berdetak saat itu juga. Suara singkat yang ia dengar membuatnya terdiam tanpa bisa berkata-kata.
Meski hanya sebuah suara singkat melalui sambungan telepon, tetapi Alvin bisa mengenali dengan jelas siapa pemilik suara yang ia dengar saat itu.
"Maaf mengganggumu, aku baru saja mengalami kecelakaan mobil dan aku berada di rumah sakit sekarang, aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi selain padamu."
"Dimana kau sekarang?" tanya Alvin setelah ia lebih bisa menguasai dirinya saat itu.
"Aku di rumah sakit X, aku takut Alvin...... kau tau aku trauma berada di rumah sakit sendirian bukan?" jawab seseorang itu dengan suara bergetar.
"Aku akan kesana sekarang juga, biarkan ponselmu tetap terhubung denganku sampai aku tiba disana," ucap Alvin lalu segera memutar arah ke arah rumah sakit X.
Entah apa yang ada di pikiran Alvin saat itu, tanpa pikir panjang ia segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tanpa mempedulikan Nerissa yang sudah lama menunggunya.
Sepanjang perjalanan, ponsel Alvin masih terhubung dengan seseorang yang sedang menunggunya di rumah sakit.
Ia sangat tahu bagaimana seseorang yang dikenalnya itu mengalami trauma yang mendalam akibat kehilangan kedua orang tuanya di rumah sakit
Hal itu yang membuat Alvin tetap membiarkan panggilannya terhubung dengan seseorang yang akan segera ia temui saat itu.
Alvin tidak memikirkan hal lain selain seseorang yang akan ia temui di rumah sakit hingga akhirnya mobil Alvin berbelok ke arah rumah sakit tempat seseorang itu dirawat.
Alvin segera membawa langkahnya ke arah resepsionis untuk menanyakan keberadaan seseorang yang masih berbicara di ujung sambungan teleponnya.
Setelah mengetahui ruangan seseorang itu dirawat, Alvin pun segera membawa langkahnya ke arah ruangan itu.
Sesampainya ia disana ia hanya terdiam menatap pintu ruangan di hadapannya.
"Alvin, apa kau masih disana? aku sangat takut disini!"
Mendengar suara dari ponselnya, Alvin sedikit terkejut lalu memegang gagang pintu yang ada di hadapannya.
Dengan ragu Alvin membuka pintu itu lalu masuk dan mendapati seorang gadis yang tengah terbaring diranjang rumah sakit dengan perban yang mengelilingi kepalanya.
"Amanda!"