
Daniel beranjak dari duduknya, menjauh dari Marin untuk menyelamatkan nyawanya. Namun sebelum Daniel menjauh, Marin menarik tangan Daniel dan memukul Daniel berkali-kali.
Daniel yang mengaduh kesakitan segera memegang kedua tangan Marin untuk menghentikan aksi Marin.
Saat kedua tangan Daniel memegang tangan Marin, Marin segera membawa pandangannya pada Daniel.
Debaran dalam dada Marin kembali bergemuruh, membuatnya tanpa sadar terdiam menatap laki-laki di hadapannya yang sedang memegang kedua tangannya.
Mama Daniel yang melihat hal itu hanya tersenyum, ia merasa senang melihat kedekatan Daniel dengan Marin.
Tiba-tiba terdengar pintu terbuka, Daniel segera membawa pandangannya ke arah pintu dan melihat Nerissa yang sedang berdiri disana.
Danielpun segara melepas kedua tangan Marin dan berjalan menghampiri Nerissa.
"Selamat pagi cantik," sapa Daniel pada Nerissa.
"Selamat pagi Daniel," balas Nerissa dengan tersenyum.
Di sisi lain, Marin yang melihat hal itu hanya menghela nafasnya dan tersenyum tipis.
"Selamat pagi tante," sapa Nerissa pada Mama Daniel.
Mama Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis pada Nerissa.
"Apa ada buket bunga yang harus aku antar lagi Marin?" tanya Nerissa pada Marin.
"Ada, tetapi jaraknya cukup jauh Putri," jawab Marin.
"Tidak apa, aku akan mengantarnya karena ini masih pagi jadi tidak terlalu panas," ucap Nerissa.
Marin kemudian memberikan buket bunga dan alamat pemesan pada Nerissa.
"Aku akan mengantarmu Nerissa!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Tidak perlu Daniel, aku bisa mengantarnya sendiri," balas Nerissa.
"Aku sedang senggang sekarang, jadi aku bisa mengantarmu agar kau lebih cepat sampai ke tempat pelangganmu!" ucap Daniel.
"Bukankah kau sedang memilih bunga disini?" tanya Nerissa.
"Tidak, aku hanya mengantar mama," jawab Daniel.
Daniel kemudian membawa pandangannya pada sang mama, meminta izin untuk mengantarkan Nerissa mengantarkan buket bunga pesanan.
"Mama masih lama bukan? Daniel ingin mengantar Nerissa sebentar!"
Mama Daniel menganggukkan kepalanya pelan tanpa menjawab apapun.
"Ayo, kau tidak ingin pelangganmu menunggu terlalu lama bukan?" ucap Daniel sambil menarik tangan Nerissa keluar dari toko bunga Marin.
"Aku berangkat Marin, permisi tante," ucap Nerissa berpamitan pada Marin dan mama Daniel sebelum ia benar-benar meninggalkan toko bunga.
Nerissa dan Danielpun berangkat untuk mengantar pesanan buket bunga ke alamat yang sudah Marin berikan pada Nerissa.
Kini hanya tinggal Marin dan mama Daniel yang ada di toko bunga.
"Apa ada bunga lain yang tante inginkan?" tanya Marin pada mama Daniel.
"Bagaimana jika bunga Gardenia ini tante? menurut yang Marin baca wangi dari bunga ini bisa membuat seseorang cepat tertidur karena wanginya yang cukup menenangkan," ucap Marin memberi saran.
"Boleh juga, bentuknya juga terlihat sangat cantik," balas mama Daniel.
Marin kemudian menyiapkan bunga Gardenia untuk mama Daniel.
Setelah selesai Marin duduk bersama mama Daniel untuk menunggu Daniel dan Nerissa kembali.
"Jika tante bosan disini, tante bisa menunggu Daniel di dalam rumah!" ucap Marin pada Mama Daniel.
"Tidak Marin, tante lebih suka disini karena bisa melihat banyak bunga," jawab Mama Daniel.
"Aaahhh iya.... Marin baru ingat sekarang, Daniel pernah memberitahu Marin bahwa tante sangat menyukai bunga, tante juga memiliki pengetahuan yang luas tentang bunga bukan?"
"Daniel terlalu berlebihan, tapi benar tante memang menyukai bunga," balas mama Daniel.
"Marin juga sangat suka tante, selain cantik mereka juga memiliki warna-warna yang indah," ucap Marin.
"Tante sangat senang bisa mengenalmu Marin, tante senang karena bisa mengenal seseorang yang mempunyai pengetahuan luas tentang bunga," ucap mama Daniel.
"Marin masih baru belajar tante, banyak hal yang masih belum Marin tahu," balas Marin.
Mama Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum melihat sikap Marin yang rendah hati.
Mama Daniel semakin menyukai Marin, tidak hanya karena cantik mereka juga mempunyai hobi yang sama.
"Apa kau sudah lama berteman dengan Nerissa, Marin?" tanya mama Daniel pada Marin.
"Kita sudah mengenal dari kecil tante, jadi Marin dan Putri sudah berteman sejak kita masih kecil," jawab Marin.
"Putri?"
"Iya, Putri Nerissa, Marin terbiasa memanggilnya Putri tante," jawab Marin.
"Ooh jadi namanya Putri Nerissa?"
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum canggung.
"Sepertinya dia gadis yang baik, benar bukan?"
"Benar tante, Putri memang perempuan yang baik dan juga sangat polos karena menganggap semua orang pasti baik hehe...." jawab Marin.
Mama Daniel menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Marin. Meskipun Nerissa memang terlihat cantik dan baik tetapi entah kenapa mama Daniel lebih menyukai Marin.
"Apa Daniel dan Nerissa memang dekat seperti Daniel dekat denganmu Marin?" tanya mama Daniel.
"Daniel lebih dekat dengan Putri tante, kalau dengan Marin Daniel lebih sering bertengkar," jawab Marin.
"Benarkah? tapi kau perempuan pertama yang Daniel kenalkan pada tante," ucap mama Daniel.
"Itu karena Daniel tidak sengaja bertemu Marin dan mengajak Marin untuk menemaninya menjemput tante," balas Marin.
"Kau perempuan pertama yang Daniel kenalkan pada tante Marin, jadi sepertinya kau bukan hanya sekedar teman bagi Daniel," ucap mama Daniel.
"kita hanya berteman tante, lagi pula Daniel menyukai Putri," ucap Marin dalam hati.
"Tante benar, Marin bukan sekedar teman bagi Daniel, Marin juga musuh bagi Daniel hehehe...." ucap Marin yang membuat mama Daniel menggelengkan kepalanya pelan.
"Justru karena kalian sering bertengkar kalian terlihat sangat dekat," ucap mama Daniel.
"Apa kau sudah lama mengenal Daniel? karena setau tante Daniel memang memiliki banyak teman perempuan tetapi tidak ada satupun dari mereka yang sedekat ini dengan Daniel!" lanjut mama Daniel bertanya.
"Mmmmm..... sepertinya belum ada satu tahun Marin mengenal Daniel tante," jawab Marin.
"Itu artinya belum ada satu tahun Daniel mengenalmu dan dia sudah mengenalkanmu pada tante," ucap Mama Daniel.
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengucapkan apapun.
"Apa Daniel menceritakan sesuatu padamu Marin?" tanya Mama Daniel.
"Menceritakan sesuatu seperti apa maksud tante?" balas Marin bertanya.
"Mungkin dia menceritakan tentang masalahnya padamu, tentang keadaan keluarganya ataupun tentang tante," jawab Mama Daniel.
Marin diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan mama Daniel. Ia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada mama Daniel.
Bukan karena ia tidak mau jujur, tetapi ia tidak ingin terlalu jauh mencampuri masalah keluarga Daniel. Ia juga tidak ingin mama Daniel menjadi tidak nyaman padanya karena ia mengetahui tentang permasalahan yang ada di keluarganya.
"Tidak tante, Daniel tidak pernah bercerita apapun pada Marin," ucap Marin menjawab.
Setelah beberapa lama menunggu, sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin, Daniel dan Nerissapun keluar dari mobil lalu masuk ke dalam toko.
Daniel dan Nerissa berjalan masuk sambil bercanda dan tertawa memperlihatkan kedekatan mereka berdua.
"Kalau aku tidak mengantarmu tadi mungkin kau akan kembali ke toko bunga saat sore dan kau akan menghabiskan waktumu berpanas-panasan di jalan raya!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Iya, terima kasih sudah mengantarku Daniel!" balas Nerissa.
"Kenapa kau lama sekali Daniel? mama sudah lama menunggumu disini, jika tidak ada Marin mungkin mama sudah sangat bosan menunggumu!" tanya mama Daniel dengan raut wajah kesal.
"Jaraknya memang cukup jauh ma dan juga macet!" jawab Daniel.
"Maafkan Nerissa tante karena sudah membuat tante menunggu lama," ucap Nerissa pada mama Daniel.
Mama Daniel hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
Entah kenapa ia terlihat kesel saat melihat kedekatan Daniel dengan Nerissa karena ia lebih menyukai jika Daniel dekat dengan Marin, bukan dengan Nerissa.
"Mama sudah selesai memilih bunga?" tanya Daniel pada sang mama.
"Sudah, Marin memilihkan bunga yang bagus untuk mama," jawab mama Daniel.
"Apa kita pulang sekarang? Daniel masih harus mengerjakan pekerjaan kantor di rumah ma!"
"Kau selalu saja bekerja setiap hari Daniel, bahkan di saat hari Minggu seperti ini!" protes mama Daniel kemudian beranjak dari duduknya.
Daniel hanya terkekeh mendengar ucapan sang mama.
"Tante pulang dulu Marin, lain kali tante akan kembali kesini bersama Daniel," ucap mama Daniel pada Marin.
"Terima kasih tante, Marin menunggu kedatangan tante lagi!" balas Marin.
"Nerissa aku pulang dulu, aku akan menghubungimu nanti!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Iya Daniel, hati-hati di jalan!" balas Nerissa sambil melambaikan tangannya pada Daniel.
Daniel dan mamanyapun keluar dari toko bunga Marin lalu masuk ke dalam mobil dan pulang.
Sedangkan Nerissa dan Marin duduk berdua di toko bunga.
"Sepertinya kau cukup dekat dengan mama Daniel, Marin!" ucap Nerissa pada Marin.
"Itu karena aku dan mama Daniel memiliki hobi yang sama, mama Daniel menyukai bunga sama sepertiku," jawab Marin.
"Benarkah? apa bukan karena mama Daniel menyukaimu?"
"Apa maksudmu Putri? justru mama Daniel menyukaimu, mama Daniel mengatakan bahwa kau adalah gadis yang cantik!"
"Itu hanya sebuah pujian Marin, belum tentu mama Daniel menyukaiku, justru yang aku lihat mama Daniel tampak menyukaimu dan sepertinya kau akan dijodohkan dengan Daniel hehehe....."
"Dijodohkan? hahaha..... bercandamu berlebihan sekali Putri, kau tahu sendiri bagaimana aku dan Daniel sangat jarang akur, kita lebih banyak bertengkar daripada berteman!"
"Mungkin memang seperti itu caranya untuk menunjukkan perhatiannya padamu Marin!" ucap Marin.
"Jangan mengada-ngada Putri, sudah jelas Daniel menyukaimu!"
"Tetapi aku tidak menyukainya Marin, aku hanya menganggapnya sebagai teman baik!"
"Mungkin suatu saat nanti kau akan jatuh cinta padanya karena kebaikan dan perhatiannya padamu!"
"Aku tidak akan jatuh cinta hanya karena dua hal itu Marin, dua hal itu tidak akan cukup untuk membuat aku jatuh cinta pada Daniel!"
"Hmmmm..... sepertinya kau memang benar-benar sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Alvin sehingga hatimu tertutup untuk laki-laki lain selain Alvin!" ucap Marin.
Nerissa hanya diam mendengar ucapan Marin, dalam hatinya ia membenarkan apa yang Marin ucapkan, sepertinya ia sudah jatuh terlalu dalam pada rasa cinta yang tanpa sadar tumbuh dalam hatinya.
"Aku tidak akan melarangmu untuk menyukai siapapun termasuk Alvin Putri, tetapi kau juga harus ingat bahwa duniamu dengan dunia Alvin berbeda, mungkin sekarang kau bisa mengatakan bahwa kau hanya menyukainya tetapi semakin lama kau menyukainya tanpa sadar kau akan semakin jatuh cinta padanya!" ucap Marin pada Nerissa.
"Karena dunia kalian berdua berbeda pada akhirnya kau hanya akan terluka Putri, karena takdir yang sudah memutuskan bahwa kalian berdua tidak akan bisa bersama selamanya!" lanjut Marin.
"Apa aku tidak boleh menyukainya?" tanya Nerissa pada Marin.
Marin menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, dia semakin melihat dengan jelas bahwa Nerissa benar-benar tengah jatuh cinta pada Alvin, manusia yang dunianya berbeda dengannya.
"Aku tidak akan menyalahkanmu ataupun melarangmu untuk menyukai Alvin Putri, tetapi kau juga harus siap jika suatu saat nanti kau akan benar-benar jatuh cinta padanya dan terluka, karena kau tahu sendiri perpisahan itu sangat menyakitkan bukan?"
Nerissa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Marin, ia mengerti bagaimana sakitnya perpisahan saat ia kehilangan sang ayah untuk selamanya
**
Di tempat lain Daniel sedang mengerjakan pekerjaannya di rumahnya setelah ia pulang dari toko bunga Marin.
Toookkkk tooookk tooookkk
"Apa mama boleh masuk?" tanya mama Daniel setelah mengetuk pintu kamar Daniel.
"Iya ma," jawab Daniel yang masih fokus dengan laptop di hadapannya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Marin, Daniel?" tanya mama Daniel yang duduk di tepi ranjang Daniel.
"Kenapa mama menanyakan hal itu? bukankah Daniel sudah mengatakan bahwa Daniel dan Marin hanya berteman?"
"Apa kau tidak memiliki perasaan apapun padanya?"
Daniel menghentikan jarinya yang tengah mengetik saat ia mendengar pertanyaan sang mama. Ia diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan sang mama.
"Dia gadis yang cantik dan juga baik Daniel, sepertinya kalian berdua cocok jika kalian....
"Ma, Daniel dan Marin hanya berteman, tolong mama jangan berpikir terlalu jauh tentang hubungan Daniel dengan Marin, dia memang gadis yang cantik dan baik tetapi itu tidak membuat Daniel jatuh cinta padanya, jadi tolong mama jangan menanyakan hal ini lagi pada Daniel!" ucap Daniel memotong ucapan sang mama yang membuatnya tidak nyaman.
"Apa kau marah pada mama sekarang?" tanya mama Daniel.
"Tidak ma, Daniel hanya tidak suka jika mama mengatakan hal itu!" jawab Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya.
"Mau kemana kau Daniel?" tanya sang mama setengah berteriak.
"Ke rumah Alvin," jawab Daniel tanpa menghentikan langkahnya.
Daniel kemudian meninggalkan rumahnya, mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin dengan membawa berkas yang baru saja ia kerjakan.
Daniel sengaja pergi ke rumah Alvin meski sebenarnya ia bisa mengirim berkas laporan itu tanpa harus menghampiri Alvin.
Ia melakukan hal itu karena ingin menghindari pertanyaan sang mama tentang Marin.
Sesampainya di rumah Alvin, Daniel segera membawa langkahnya masuk begitu saja karena pintu rumah yang terbuka saat itu.
Karena melihat mobil Alvin yang terparkir di garasi, ia yakin Alvin sedang berada di rumah.
Daniel pun masuk begitu saja saat melewati ruang tengah.
"Alvin dimana Bi?" tanya Daniel pada Bi Sita yang saat itu sedang sibuk di dapur.
"Sepertinya masih di gudang Den!"
Daniel menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kembali ke ruang tengah untuk menunggu Alvin.
Saat ia sedang duduk di depan TV, ia melihat ponsel Alvin yang tergeletak di meja.
Tak lama kemudian ponsel Alvin berdering, sebuah pesan masuk dari teman kerjanya. Daniel hanya mengabaikannya, namun tiba tiba matanya tertuju pada layar ponsel Alvin yg menyala.
Daniel melihat foto seseorang yang sangat ia kenal, Daniel kemudian mengambil ponsel Alvin, menggeser beberapa kali file foto yang ada di ponsel Alvin dan ia semakin terkejut karena melihat banyak foto Nerissa disana.
"Kenapa Alvin menyimpan banyak foto Nerissa? apa dia......"