
Nerissa berenang keluar dari istana bersama Marin untuk mencari keberadaan Cadassi.
"Putri, apa kau benar-benar sudah siap untuk menghadapi Ran?" tanya Marin memastikan.
"Tenang saja Marin, siap atau tidak siap aku harus tetap menghadapi Ran, aku sudah memikirkan berbagai macam kemungkinan terburuknya, itu kenapa aku meminta bunda untuk mengumpulkan semua mermaid di istana," jawab Nerissa.
Tak lama kemudian Nerissa dan Marinpun sampai di depan rumah Marin. Baru saja Marin akan membuka pintu rumahnya, tiba-tiba Cadassi membuka pintu dan tak sengaja menjatuhkan ramuan yang dibawanya karena terkejut dengan kedatangan Nerissa dan Marin.
"Maaf ayah, Marin tidak sengaja," ucap Marin yang hendak membantu sang ayah mengambil botol ramuan yang terjatuh.
Namun dengan kasar Cadassi mendorong Marin agar tidak menyentuh botol ramuan yang baru saja dibuatnya.
"Ada apa denganmu Cadassi? kenapa kau kasar sekali pada Marin?" tanya Nerissa pada Cadassi.
"Maaf Putri, aku hanya terkejut karena kedatangan kalian yang tiba-tiba," jawab Cadassi beralasan.
"Jangan meminta maaf padaku, meminta maaflah pada Marin, kau sudah menyakitinya hanya karena keegoisanmu sendiri," ucap Nerissa.
"Apa maksudmu Putri? aku sama sekali tidak mengerti," balas Cadassi yang tampak gugup.
"Berhentilah bersandiwara di depanku Cadassi dan tolong katakan dengan jujur apa sebenarnya tujuanmu bekerja sama dengan pangeran Merville di belakang Bunda?" ucap Nerissa sekaligus bertanya, membuat Cadassi semakin gugup dan tidak berani membawa pandangannya pada Nerissa.
"Maaf Putri, aku sedang terburu-buru," ucap Cadassi yang hendak pergi namun dengan kekuatan yang dimilikinya Nerissa berhasil membuat Cadassi tidak bisa menggerakkan ekornya.
"Putri, apa yang kau lakukan padaku? apa kau sedang menggunakan kekuatanmu saat ini?" tanya Cadassi yang semakin panik.
"Ini hanyalah satu dari sekian banyak kekuatan yang aku miliki, jadi sekarang jawablah dengan jujur sebelum aku menggunakan kekuatanku yang lain untuk memaksamu berkata jujur," ucap Nerissa.
"Apa kau sedang mengancamku putri?" tanya Cadassi yang berusaha untuk menggerakkan ekornya, namun sia-sia karena ia tidak bisa menggerakkan ekornya sama sekali.
"Aku hanya memperingatkanmu, tapi jika kau menganggapnya itu ancaman terserah padamu," jawab Nerissa.
"Berhenti menggunakan kekuatanmu di Seabert Putri, kau hanya akan mengundang kedatangan Ran dan jika kekuatan Ran sudah menghancurkan Seabert maka tidak hanya kau yang akan musnah, tapi seluruh penghuni Seabert juga akan binasa," ucap Cadassi mengingatkan.
"Terima kasih sudah mengingatkanku Cadassi, tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," balas Nerissa dengan santai.
"Kau akan menyesal karena sudah melakukan hal ini padaku Putri!" ucap Cadassi yang mulai kesal pada Nerissa.
"Ayah, kenapa ayah berani berkata seperti itu pada Putri?" tanya Marin terkejut dengan ucapan sang ayah.
"Seharusnya kau berada di pihakku Marin, seharusnya kau membantuku untuk bekerja sama dengan pangeran Merville agar aku bisa merebut istana dari kekuasaan ratu Nagisa," ucap Cadassi yang membuat Marin begitu terkejut.
"Kau benar-benar sangat jahat ayah, aku seperti tidak mengenalmu lagi," ucap Marin dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Putri, tolong kembalikan ayah seperti dulu, aku benar-benar ingin ayah kembali menyayangiku seperti dulu lagi," ucap Marin memohon pada Nerissa.
Nerissa menganggukkan kepalanya pelan lalu berenang di hadapan Cadassi.
"Berhenti menggunakan kekuatanmu Putri, kau sama saja dengan menghancurkan Seabert jika kau terus menggunakan kekuatanmu seperti ini," ucap Cadassi yang semakin panik saat Nerissa semakin mendekatinya.
Nerissa tersenyum lalu menyentuh kening Cadassi dan memasuki memori Cadassi.
Nerissa menghabiskan waktu cukup lama di dalam memori Cadassi karena ada banyak memori yang harus dihapus dan diamanipulasi termasuk memori tentang kerjasamanya dengan pangeran Merville.
Nerissa juga menemukan memori masa lalu Cadassi yang membuat Cadassi ingin merebut tahta istana Seabert, Nerissapun berusaha untuk memanipulasi ingatan Cadassi tentang hal yang menyakitkan itu agar Cadassi bisa terbebas dari dendam masa lalunya dan kembali menyayangi Marin seperti sebelumnya.
Setelah dirasa cukup, Nerissapun melepaskan tangannya dari kening Cadassi lalu merebut botol ramuan yang ada di tangan Cadassi sebelum Cadassi benar-benar sadar.
"Putri, Marin, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Cadassi pada Nerissa dan Marin.
"Ayah, Marin sangat merindukan ayah," ucap Marin lalu segera memeluk sang ayah.
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Marin? padahal setiap hari kita bertemu," tanya Cadassi tak mengerti.
Marin hanya tersenyum lalu semakin erat memeluk sang ayah.
"Nikmati waktu kalian berdua, aku akan kembali ke istana," ucap Nerissa pada Marin dan Cadassi.
"Terima kasih banyak Putri, kau memang yang terbaik," ucap Marin lalu memeluk Nerissa.
Nerissa kemudian berenang kembali ke istana untuk memberitahukan sang Bunda tentang apa yang sudah ia lakukan pada Cadassi.
"Sekarang kau harus bersiap untuk menyambut kedatangan Ran," ucap Ratu Nagisa pada Nerissa.
"Sejak Nerissa kembali ke Seabert, Nerissa memang selalu siap untuk menghadapi Ran Bunda," balas Nerissa penuh keyakinan.
"Baguslah kalau begitu, Bunda juga sudah memerintahkan Morgan untuk mengumpulkan semua mermaid di istana sesuai yang kau minta," ucap Ratu Nagisa.
"Terima kasih Bunda, Nerissa akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjaga keamanan di Seabert," ucap Nerissa lalu memeluk sang Bunda.
"Ambillah kembali mutiara milik Bunda Nerissa, kau akan membutuhkannya saat kau menghadapi Ran nanti," ucap Ratu Nagisa yang membuat Nerissa segera melepaskan pelukannya dari sang Bunda.
"Lalu bagaimana dengan Bunda jika Nerissa mengambil mutiara itu?"
"Jangan mengkhawatirkan Bunda sayang, ada Chubasca dan Beetna yang akan menjaga bunda disini, lagi pula Cadassi sudah berpihak pada kita bukan?"
"Iya..... tapi apa Bunda yakin bisa bertahan tanpa mutiara itu?" tanya Nerissa ragu.
"Bunda hanya akan tertidur saat kau mengambil mutiara itu dari bunda, percayalah Nerissa tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Bunda," ucap Ratu Nagisa berusaha meyakinkan Nerissa.
"Tapi......"
"Ran bukanlah mermaid biasa Nerissa, dia adalah mermaid penghancur yang selalu menghancurkan semua kekuatan yang tercium olehnya, dengan dua mutiara biru yang kau miliki saat ini semakin besar kesempatanmu untuk bisa mengalahkannya dan dengan kekuatan yang kau miliki Bunda yakin kau akan bisa mengalahkannya," ucap Ratu Nagisa dengan menggenggam tangan Nerissa.
"Maaf ratu, putri, sepertinya tanda-tanda kedatangan Ran sudah terjadi di wilayah utara," ucap Chubasca pada Ratu Nagisa dan Nerissa.
"Apa kau sudah memastikan semua mermaid berada di istana Chubasca?" tanya Ratu Nagisa.
"Sudah Ratu, saya sudah memastikan semuanya," jawab Chubasca.
"Baiklah kalau begitu, ini waktu untukmu sayang, berhati-hatilah dan pastikan kau kembali ke istana dengan selamat karena Bunda selalu menunggu kedatanganmu," ucap Ratu Nagisa dengan erat menggenggam tangan Nerissa.
"Nerissa pasti akan kembali Bunda," balas Nerissa lalu memeluk sang Bunda.
"Tolong jaga Bunda dengan baik Chubasca, Beetna, aku percayakan Bunda pada kalian berdua," ucap Nerissa pada Chubasca dan Beetna.
"Kami akan menjaga Ratu Nagisa dengan baik Putri, kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Ratu," ucap Beetna meyakinkan Nerissa.
"Terima kasih," ucap Nerissa lalu berenang keluar dari istana.
Saat Nerissa baru saja melewati gerbang istana, ia melihat Marin yang berenang ke arahnya bersama Cadassi.
"Aku sudah menjelaskan pada ayah bagaimana situasi saat ini Putri, ayah akan berada di istana untuk berjaga dan aku akan ikut bersamamu," ucap Marin pada Nerissa, sedangkan Cadassi segera berenang memasuki istana.
"Tidak Marin, kau harus ikut bersama ayahmu, aku yang akan pergi menghadapi Ran sendirian," ucap Nerissa.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu menghadapi Ran sendirian Putri, jadi izinkan aku untuk menemanimu meskipun mungkin aku tidak akan bisa banyak membantumu," ucap Marin sedikit memaksa.
"Tapi ini sangat berbahaya Marin, aku bahkan tidak tahu seberapa besar kekuatan Ran yang sebenarnya, aku khawatir aku tidak bisa menjagamu dengan baik."
"Kita harus selalu bersama-sama Putri, kita harus saling menjaga satu sama lain dan apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, terlebih saat kau sedang menghadapi kesulitan seperti ini," ucap Marin yang membuat Nerissa segera memeluk Marin dengan erat.
"Kau memang sahabat yang baik Marin, terima kasih."
"Ayo Putri, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi," ucap Marin lalu melepaskan dirinya dari pelukan Nerissa dan berenang meninggalkan istana.
Nerissa tersenyum senang, ia merasa sangat bersyukur karena bisa memiliki teman baik seperti Marin. Iapun segera berenang mengejar Marin kemudian meraih tangan Marin dan mempercepat kibasan ekornya.
Setelah berapa lama berenang Nerissa dan Marinpun sampai di wilayah utara. Nerissa dan Marin bisa melihat bagaimana kekacauan yang terjadi di wilayah Utara. Semua tanaman tampak menghitam dan mati, udara yang ada disana juga sudah tercemar.
"Lihatlah Putri, gumpalan hitam itu seperti berjalan ke arah kita," ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa kemudian memberikan Marin sebuah kantong yang berisi banyak mutiara.
"Tolong sebarkan mutiara ini di jalan masuk wilayah utara, aku akan menggunakan kekuatanku untuk menarik perhatian Ran ke arah lain," ucap Nerissa pada Marin.
"Aku mengerti, pergilah Putri jaga dirimu baik-baik dan segeralah kembali!" ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa.
Nerissa kemudian berenang keluar dari wilayah Utara. Nerissa berusaha mencari keberadaan Ran dengan kekuatan yang dimilikinya, namun entah kenapa ia seolah tidak bisa mendapatkan tanda-tanda keberadaan Ran.
"Aku sama sekali tidak bisa merasakan dimana keberadaan Ran saat ini, aku tidak punya pilihan lain aku harus memasuki gumpalan hitam itu," ucap Nerissa lalu segera berenang memasuki gumpalan hitam yang berada tak jauh darinya.
Baru saja nerisa menyentuh gumpalan hitam itu Nerissa sudah terdorong dan terpelanting cukup jauh.
Nerissa meringis kesakitan saat melihat tangannya terluka, ia sedikit terkejut karena sejak ia mengenakan mahkota dari sang Bunda ia sudah tidak pernah merasakan sakit pada tubuhnya meski tubuhnya tengah terluka.
"Ayolah Nerissa, kau pasti bisa," ucap Nerissa kembali berenang mendekati gumpalan hitam itu namun lagi lagi ia terpelanting sangat jauh.
"Pasti ada cara lain untuk memasuki gumpalan hitam itu, aku harus mencarinya," ucap Nerissa lalu berenang mendekati gumpalan hitam itu dan mencoba untuk mencari celah agar ia bisa memasuki gumpalan hitam itu.
Nerissa kemudian melihat pusaran yang berputar di antara gumpalan hitam. Nerissa kemudian memejamkan matanya berusaha untuk mengumpulkan seluruh tenaga yang dimilikinya agar ia bisa memasuki pusaran yang berputar itu.
Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya Nerissa berenang dengan cepat ke arah pusaran yang berada diantara gumpalan hitam, hingga akhirnya iapun berhasil memasuki pusaran itu dan berada di dalam gumpalan hitam.
Nerissa kemudian berenang berlawanan dengan arah gumpalan hitam itu memanjang.
"Gianira, peri dari laut, aku tahu itu namamu," ucap Nerissa sambil membawa pandangannya ke segala arah dan terus berenang tanpa ia tahu ujung dari gumpalan hitam itu.
Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya menyerang Nerissa, membuat Nerissa terpental keluar dari gumpalan hitam itu.
"Apa yang baru saja terjadi? apa Ran mendengarku?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri sambil memperhatikan gumpalan hitam yang berada tak jauh darinya.
Saat Nerissa kembali berenang mendekati gumpalan hitam, itu kilatan cahaya itu kembali dan kali ini lebih besar dari sebelumnya, membuat Nerissa terpental semakin jauh dan menghantam batu karang besar.
Nerissapun jatuh tersungkur dengan menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
**
Di daratan.
Daniel baru saja menerima email tentang identitas sopir truk yang menabrak mobil Alvin.
Danielpun segera menyambar kunci mobilnya lalu keluar dari rumah untuk menemui Cordelia.
"Aku sudah mendapatkan identitas sopir truk itu," ucap Daniel pada Cordelia.
"Lalu apa yang kau dapatkan dari identitasnya?" tanya Cordelia
"Dia hanya sopir truk biasa, istrinya baru saja menceraikannya karena dia dianggap tidak bisa memberikan nafkah yang cukup untuk istri dan anaknya, aku juga sudah memeriksa rekeningnya dan ada uang masuk yang cukup banyak tepat setelah kecelakaan Alvin terjadi," ucap Daniel menjelaskan.
"Apa kau tahu siapa yang mentransfer uang itu padanya?" tanya Cordelia.
"Aku tahu dan aku sedang menyelidikinya," jawab Daniel.
"Sepertinya dugaanmu memang benar Daniel, pasti ada seseorang yang merencanakan kecelakaan Alvin, karena jika dia memang hanya sopir truk biasa kenapa bisa ada dua orang yang berjaga di depan ruangannya," ucap Cordelia sambil memijit keningnya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari orang suruhannya yang memberitahunya bahwa dia sudah mendapatkan identitas pengirim uang pada sopir truk itu.
Danielpun segera memeriksa emailnya dan dia begitu terkejut setelah ia tahu hubungan pengirim uang itu dengan Ricky.
"Ada apa Daniel? apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Cordelia yang melihat Daniel tampak terkejut.
"Namanya Arya, dia adalah rival Alvin dari perusahaan lain, dia juga salah satu orang yang pernah bertemu Ricky secara diam-diam untuk merencanakan akuisisi Atlanta Group," jawab Daniel menjelaskan.
"Akuisisi Atlanta group? apa maksudmu?" tanya Cordelia.
"Kau mungkin tidak pernah tahu bahwa selama ini Ricky tidak benar-benar ingin menjadi CEO di Atlanta Group karena dia tahu bahwa Atlanta group sebenarnya bukan milik keluarganya, itu kenapa dia sangat ingin menjatuhkan Atlanta Grup," jawab Daniel menjelaskan.
"Atlanta group bukan milik keluargaku, apa maksudmu Daniel? aku benar-benar tidak mengerti!" tanya Cordelia yang tidak mengerti maksud dari ucapan Daniel.
"Kau akan tahu semuanya setelah Alvin sadar," jawab Daniel lalu beranjak dari duduknya.