Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Ke Tepi Pantai



Cahaya bulan menembus masuk ke dalam lautan, menerangi jendela kamar Nerissa yang dibiarkannya terbuka.


Ia tidak akan berlarut larut dalam kesedihannya. Bagiamana pun juga ia adalah putri seorang raja, ia tidak boleh egois dengan hanya memikirkan dirinya sendiri.


Meski banyak hal yang tidak ia ketahui, ia akan berusaha untuk memastikan Seabert dalam keadaan aman dan damai seperti sejak sang raja masih memimpin.


Nerissa lalu mengambil mahkota dari rumput laut yang dihiasi bunga bunga kecil buatan Marin, ia akan keluar dari istana untuk menghadiri pesta bersama Marin dan tentu saja ia sudah mendapatkan izin dari bundanya terlebih dahulu.


"Pakailah mahkota milikmu sayang, itu akan membuatmu semakin cantik," ucap bunda Ratu pada Nerissa.


"Apakah Nerissa sekarang tidak cantik bunda?"


"Tentu saja kau sangat cantik sayang, mahkota ini adalah pemberian ayah dan ibu, ayah pasti akan sangat senang melihatmu memakai mahkota ini!"


Nerissa terdiam menatap mahkota di tangan sang bunda. Selama ini ia memang jarang menggunakan mahkota itu, ia hanya membiarkan rambut panjangnya terurai dengan hiasan bunga bunga kecil tanpa mahkota.


"Baiklah bunda, Nerissa akan memakainya dan Nerissa akan menjaga pemberian ayah dan bunda dengan baik," ucap Nerissa.


Bunda Ratu tersenyum senang lalu memakaikannya pada Nerissa. Setelah selesai mempersiapkan diri, Nerissa pun pergi untuk menjemput Marin.


Saat Nerissa hampir sampai di rumah Marin, ia melihat Cadassi yang tampak gelisah dan panik. Nerissapun berniat untuk menghampiri Cadassi, namun tiba tiba pangeran Merville datang dan menarik tangan Cadassi dengan kasar.


Saat Nerissa akan mengikuti Cadassi dan pangeran Merville, Marin memanggil Nerissa.


"Putri Nerissa!" panggil Marin, yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Marin.


"Apa yang kau lakukan di sana, ayo pergi sekarang!" ucap Marin.


"Aku..... aku melihat ayahmu dan pangeran Merville di....."


Nerissa menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Cadassi dan pangeran Merville, namun ia tidak menemukan mereka.


"Jangan bercanda putri, mana mungkin pangeran Merville berada di sekitar rumahku," balas Marin.


"Tapi aku benar benar melihatnya Marin, pangeran Merville bahkan men...."


"Jangan jangan kau sudah jatuh cinta pada pangeran Merville, apa iya?"


"Haahh, hentikan pikiran bodohmu itu Marin, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya!" ucap Nerissa kesal.


"Hahaha.... ayo berangkat sebelum kau kehabisan pangeran tampan di sana hahaha...."


Nerissa hanya tertawa kecil mendengar ucapan Marin. Selama dalam perjalan, Nerissa masih memikirkan apa yang ia lihat.


Ia bisa melihat dengan jelas raut wajah pangeran Merville yang tampak sangat marah pada Cadassi.


"Sudahlah Putri, jangan memikirkan hal lain, malam ini kau harus menemukan pangeranmu dan menikah dengannya untuk menyelematkan istana tercinta kita!" ucap Marin yang melihat Nerissa hanya diam.


Nerissa lalu menarik napasnya dalam dalam dan berenang dengan cepat mengitari Marin, mengepakkan ekornya di badan Marin, membuat Marin kesal lalu berenang cepat meninggalkan Marin.


Nerissa tertawa puas melihat Marin yang kesusahan untuk mengejarnya.


Setelah beberapa lama berenang, Nerissa dan Marinpun sampai. Mereka masuk ke dalam istana megah itu dengan pandangan takjub melihat betapa indahnya tempat pesta itu.


Mereka berenang kesana kemari menikmati pesta sekaligus mencari pangeran tampan sesuai dengan keinginan Nerissa.


"Lihatlah dia putri, dia sangat gagah dengan ekor hijaunya," ucap Marin sambil menunjuk salah satu mermaid berekor hijau.


"Apa kau tidak memperhatikan bagaimana sikapnya pada pelayan itu? dia sangat kasar, aku tidak suka!" balas Nerissa.


"Ayo lah putri, kita sudah sangat lama berada di sini namun tak ada satupun yang sesuai dengan keinginanmu!"


"Hai," sapa mermaid yang tiba tiba menghampiri Nerissa dan Marin.


"Hh... hai..." balas Nerissa dan Marin canggung.


"Apakah kalian sedang mencari pasangan kalian di sini?" tanyanya.


"Mmmmm.... aku.... aku hanya mengantarnya, dia yang sedang mencari pasangan," jawab Nerissa sambil menunjuk Marin.


"Aku akan pergi, selamat bersenang senang!" ucap Nerissa lalu pergi begitu saja.


Nerissa keluar meninggalkan istana dan menunggu Marin tak jauh dari depan istana. Tak lama kemudian sebuah batu terlempar mengenai kepalanya.


"Aduuuhhh!" pekik Nerissa sambil membawa pandangannya ke kanan dan kiri.


"Kau memang kejam putri Nerissa!" ucap Marin kesal.


"Hahaha.... maafkan aku Marin, tapi bukankah dia tampan? sepertinya dia tipemu!"


"Dia memang tampan, tapi aku ke sini untuk mencarikanmu pasangan, aku akan mencari pasangan setelah ku pastikan kau mendapatkan pasangan yang baik untukmu!"


"Aaahhh, kau sangat peduli padaku Marin, aku sangat menyayangimu!" ucap Nerissa lalu memeluk Marin.


"Sudahlah Putri, kau memang menyebalkan, sekarang apa yang ingin kau lakukan?"


Nerissa terdiam dan berpikir sejenak. Ia lalu menarik tangan Marin dan mengajaknya berenang menjauh dari istana, bahkan cukup jauh dari istana Seabert.


Nerissa mengajak Marin untuk duduk di atas batu besar di tengah laut. Nerissa menikmati malam itu dengan bermandikan sinar bulan purnama di atas kegelapan langit.


"Kau mau tau tempat yang lebih indah Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Dimana?" tanya Nerissa penasaran.


"Di sana, di tepi pantai, kau akan merasakan halusnya pasir pantai dan ekormu akan terasa geli saat ombaknya menyentuhnya," jelas Marin.


"Maksudmu ke daratan?"


"Tidak, aku hanya mengajakmu ke tepi pantai, anggap saja itu perbatasan antara laut dan darat," jawab Marin.


"Tapi...."


"Sudahlah Putri, jangan banyak berpikir, ayo cepat!"


Marin dan Nerissapun berenang ke arah bibir pantai. Marin memang sering pergi ke sana bersama Cadassi saat malam, karena itu adalah waktu dimana tak ada manusia yang berada di sana.


Tinggal beberapa meter lagi, Nerissa dan Marin sudah berada di bibir pantai. Namun tiba tiba sebuah batu kecil terlempar mengenai kepala Nerissa.


"Apa kau mengerjaiku lagi?" tanya Nerissa pada Marin.


"Apa maksudmu putri?"


Nerissa lalu menatap tajam ke arah Marin dan lagi lagi kepalanya terkena lemparan batu kecil.


"Ah, itu bukan kau, apa kau yakin tempat ini aman Marin?" tanya Nerissa saat ia menyadari bukan Marin yang melempar batu ke arahnya.


"Mungkin.... mungkin itu hanya....."


"Aaahhh, mahkotaku!" ucap Nerissa saat ia menyadari mahkotanya yang sudah tidak ada.


Dari kejauhan Nerissa melihat kilauan mahkota miliknya terseret ombak ke bibir pantai. Tanpa ragu Nerissa lalu berenang dengan cepat ke arah bibir pantai diikuti oleh Marin.


Saat Nerissa akan mengambil mahkota miliknya, matanya tiba tiba mengarah pada laki laki yang sedang duduk di atas batu karang.


Laki laki itu tampak sedang melemparkan batu batu kecil ke arah laut. Dengan diterangi cahaya malam sang bulan, wajah tampannya membuat Nerissa terkagum.


"Putri apa yang kau lakukan? cepat ambil mahkotamu!"


Seketika Nerissa tersadar dari lamunannya. Namun ombak yang datang membuat mahkota milik Nerissa semakin menjauh ke atas pasir.


"Bagaimana ini Marin? aku....."


Nerissa menghentikan ucapannya saat Marin tiba tiba menutup mulutnya dan membawanya mendekat ke bawah karang.


"Diamlah putri, ada orang lain di atas sana, jangan sampai dia sadar dengan keberadaan kita di sini," ucap Marin berbisik.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dan diam di bawah karang.