Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Dua Tanaman Berbeda



Nerissa keluar dari istana untuk pergi ke wilayah timur Seabert, ia ingin memastikan apa yang sedang terjadi di sana.


"Putri, kau mau kemana?" tanya Marin saat Nerissa baru saja berenang keluar istana.


"Aku akan pergi ke wilayah timur Marin, kau mau ikut denganku?"


"Tentu saja, tapi kenapa kau tiba tiba pergi kesana?" jawab Marin sekaligus bertanya.


"Ayahmu bilang sesuatu yang buruk terjadi di sana, jadi aku akan kesana untuk melihat bagaimana keadaan disana," jawab Nerissa.


"Tanpa pengawalan?"


"Tentu saja tidak, kau adalah pengawalku hehehe...."


Marin hanya memutar kedua bola matanya mendengar jawaban Nerissa. Sudah sewajarnya Nerissa pergi meninggalkan istana bersama pengawalnya, namun ia selalu menolak.


Dari kecil, Nerissa lebih suka pergi bersama Marin atau teman temannya yang lain. Sebagai seorang putri dari istana, Nerissa lebih suka bermain di luar istana bersama para mermaid lain tanpa memandang statusnya.


Setelah lama berenang, akhirnya Nerissa dan Marin sampai di perbatasan wilayah timur dan barat. Dari perbatasan saja Nerissa sudah bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dari wilayah itu.


Nerissa dan Marinpun berenang dengan pelan untuk memasuki wilayah timur. Namun sampai beberapa meter mereka berenang, mereka tidak menjumpai siapapun di sana.


"Kenapa tempat ini sangat sepi Marin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Entahlah putri, tapi lihatlah, tanaman di sini semuanya menghitam, apa ini yang disebut tanda kebangkitan Ran?"


Nerissa lalu membawa pandangannya menyapu setiap sudut di sekitarnya. Benar saja, tidak ada tanaman yang tumbuh dengan baik di sana, semuanya tampak menghitam dan layu.


"Putri, aku takut," ucap Marin dengan menggandeng tangan Nerissa.


"Tidak ada yang perlu kau takutkan Marin, ada aku disini," balas Nerissa.


"Aku belum pernah menemui hal semacam ini sebelumnya, aku hanya pernah membacanya," ucap Marin.


Nerissa lalu mendekat ke salah satu tanaman yang ada disana dan mencabutnya.


"Apa yang kau lakukan putri?" tanya Marin tak mengerti.


"Diamlah Marin," balas Nerissa lalu memasukkan tanaman itu ke dalam tas kecilnya.


Nerissa dan Marin lalu mendatangi satu per satu rumah yang ada disana, namun sepertinya tak ada lagi mermaid yang tinggal disana.


"Apa menurutmu Cadassi sudah memindahkan mereka?" tanya Nerissa pada Marin.


"Entahlah Putri, sebaiknya kita pergi sekarang," jawab Marin sambil menarik tangan Nerissa agar meninggalkan tempat itu.


"Tunggu Marin, apa kau tau dimana tempat tanaman menghitam untuk yang pertama kali?" tanya Nerissa.


"Jangan bilang kalau kau akan pergi kesana!" ucap Marin tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.


"Tentu saja aku harus kesana Marin, aku ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, tolong bantulah aku Marin, kau bisa pulang setelah memberi tahuku dimana tempat itu!"


"Tempat itu ada di sisi selatan putri, tapi dari yang ku dengar, disana hanya ada beberapa tanaman yang menghitam, tapi setelah melihat keadaan disini, aku pikir disana akan lebih menyeramkan," ucap Marin.


"Tak apa, aku akan kesana sendiri, kau pulanglah!" ucap Nerissa.


"Tidak, aku akan menemanimu Putri," balas Marin.


Nerissa tersenyum senang lalu memeluk Marin, merekapun pergi ke wilayah selatan untuk melihat keadaan disana.


Sesampainya disana, mereka agak terkejut karena keadaan disana jauh berbeda dengan keadaan di wilayah timur.


Disana masih terlihat banyak mermaid yang berenang seolah tidak terjadi apa apa, sangat berbeda dengan keadaan di wilayah timur yang seperti kota mati.


"Hai, aku kesini untuk melihat keadaan tempat tinggal kalian, ku dengar dari Cadassi ada beberapa tanaman yang menghitam, apa itu benar?"


"Aah iya benar, tapi itu cukup jauh dari sini, apa kau ingin aku menunjukkannya padamu Putri?"


"Tentu saja, antar aku kesana!" balas Nerissa.


Nerissa, Marin dan temannya pun berenang cukup jauh dari rumah rumah mermaid untuk menemukan tanaman yang menghitam.


Sesampainya di sana, Nerissa mengernyitkan keningnya melihat apa yang ada di depannya.


"Ini adalah tanaman yang menghitam itu Putri, banyak yang berkata jika ini adalah salah satu tanda kebangkitan Ran, tapi setelah beberapa lama sepertinya tanda kebangkitan Ran sudah berhenti, karena sudah tidak ada lagi tanaman yang menghitam selain di sini," ucap teman Nerissa menjelaskan.


"Terima kasih atas penjelasanmu, bolehkah aku mengambil sehelai tanaman ini? aku ingin menelitinya lebih jauh!" tanya Nerissa.


"Tentu saja, kau adalah Putri di sini, kau boleh melakukan apapun yang kau mau," jawab teman Nerissa.


"Aaahh, terima kasih," ucap Nerissa.


Setelah mendapatkan tanaman itu dan memastikan keadaan di wilayah selatan baik baik saja, Nerissa dan Marinpun kembali ke istana.


"Pulanglah Marin, ada sesuatu yang harus aku kerjakan!" ucap Nerissa pada Marin.


"Baiklah Putri," balas Marin lalu meninggalkan Nerissa.


Nerissa masuk ke kamarnya lalu mengeluarkan dua tanaman dari tasnya. Ia memperhatikan dua tanaman itu baik baik dan ia bisa menyimpulkan jika dua tanaman itu terlihat berbeda.


"jika memang dua tanaman yang menghitam ini adalah akibat dari tanda kebangkitan Ran, kenapa dua tanaman ini terlihat berbeda?" batin Nerissa bertanya pada dirinya sendiri.


**


Di tempat lain, Alvin yang sedang berada di kantor sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


Tiba tiba pintu ruangannya di buka begitu saja tanpa permisi dan seseorang masuk lalu duduk di hadapan Alvin.


Alvin hanya membawa pandangannya sekilas pada seseorang yang duduk di hadapannya lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan Alvin?" tanya Ricky pada Alvin.


"Bukankah aku yang seharusnya menanyakan itu padamu?" balas Alvin bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer di hadapannya.


"Berhenti mencampuri urusanku, lakukan saja pekerjaanmu dengan baik!" ucap Ricky.


"Aku tidak akan mencampuri urusanmu jika itu tidak berhubungan dengan perusahaan Ricky, kau tau perusahaan ini sudah diujung tanduk, seharusnya kau melakukan sesuatu untuk mempertahankan perusahaan ini, bukannya...."


"Hentikan sikapmu ini Alvin, sekali lagi aku ingatkan padamu, kau hanya pegawai biasa di sini, kau sama saja dengan Daniel dan yang lainnya, jangan hanya karena keluarga ku baik padamu kau jadi bersikap berlebihan seperti ini!" ucap Ricky pada Alvin.


Alvin menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.


"Pergilah, aku sedang tidak ingin ribut denganmu!" ucap Alvin.


Ricky lalu beranjak dari duduknya dan berdiri dengan pandangan penuh kebencian pada Alvin.


"Berhenti mencampuri masalah perusahaan Alvin, atau aku akan menendangmu keluar dari perusahaan ini!" ucap Ricky mengancam lalu pergi begitu saja.


Alvin hanya tersenyum tipis lalu menyeruput minuman di mejanya.


"menendangku keluar? tidak semudah itu Ricky!" batin Alvin dalam hati.


Ia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan mengabaikan apa yang Ricky ucapakan padanya.