
Di Atlanta Grup.
Alvin berjalan ke arah ruangannya dengan raut wajah kesal. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya Nerissa lakukan pada akuariumnya.
"Alvin!" panggil Daniel sambil berlari kecil menghampiri Alvin.
"Bagiamana keadaan Putri cantikku?" tanya Daniel pada Alvin.
"Putri cantik?"
"Nerissa, oh ya kau belum tau namanya kan? namanya Nerissa, tapi temannya selalu memanggilnya Putri, mungkin namanya Putri Nerissa," jawab Daniel menjelaskan.
"Aku tidak mau tau apapun tentangnya, jadi jangan memberi tahuku sesuatu yang tidak penting seperti itu!" balas Alvin.
"Oke baiklah, tapi bukankah dia sangat cantik?"
Alvin kemudian menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Daniel, membuat Daniel segera berlari pergi menjauh dari Alvin.
Alvin hanya menghela nafasnya kemudian masuk ke ruangannya. Baru saja ia mengerjakan pekerjaannya, tiba tiba otaknya memaksanya untuk memikirkan Nerissa.
"apa kau benar benar Nerissa yang aku temui di pantai?" batin Alvin bertanya.
Alvin kemudian ingat ucapan Daniel padanya malam kemarin.
Mereka datang dari pulau yang jauh Alvin, mereka dirampok dan tidak memiliki apapun saat ini, jadi tolong biarkan mereka disini,
"Datang dari pulau yang jauh? sejak kapan?"
Alvin kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau Nerissa dari dalam pikirannya. Ia harus fokus pada pekerjaannya saat itu.
Toookkkk toookkk toookkk
Suara ketukan pintu membuat Alvin membawa pandangannya ke arah pintu di ruangannya. Tak lama kemudian seseorang masuk dengan senyum di wajahnya.
"Pagi honey!" sapa Cordelia lalu duduk di hadapan Alvin.
"Ada apa Delia? ini masih pagi, jangan menggangguku!"
"Terima kasih Alvin," ucap Cordelia dengan mengedipkan satu matanya pada Alvin.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Alvin dengan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aku baru saja ke rumahmu untuk memastikan apakah dua perempuan itu sudah pergi atau belum dan bibi bilang mereka sudah pergi!" jawab Cordelia.
"Pergi?"
"Iya, bibi bilang mereka pergi tidak lama setelah kau berangkat ke kantor!" jawab Cordelia.
Alvin kemudian beranjak dari duduknya dan menarik tangan Cordelia.
"Pergilah, aku sangat sibuk hari ini," ucap Alvin dengan memaksa Cordelia keluar dari ruangannya.
"Tapi...."
BRAAAKKKK
Alvin menutup pintu ruangannya dengan kasar kemudian menghubungi telepon rumahnya.
"Halo bi, apa Nerissa dan temannya masih ada di rumah?" tanya Alvin saat bibi sudah menerima panggilannya.
"Mereka sudah pergi dari tadi Tuan, mereka menitipkan surat untuk Tuan Alvin," jawab bibi.
"Mereka pergi kemana bi? apa mereka mengatakan sesuatu pada bibi?"
"Mereka tidak mengatakan apapun Tuan, bibi juga tidak tau kemana mereka pergi," jawab bibi.
"Baik Bi, terima kasih!"
"kenapa mereka pergi? apa Nerissa benar benar marah padaku sampai dia pergi begitu saja?" batin Alvin bertanya tanya.
Tak lama kemudian pintu ruangan Alvin kembali terbuka, Daniel masuk dengan membawa sebuah map dan memberikannya pada Alvin.
"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku!" ucap Daniel.
"Secepat itu?"
"Tentu saja, aku ingin pulang cepat hari ini, aku akan menjemput Nerissa dan mengajaknya ke tempat tinggalnya yang baru!"
Ucapan Daniel membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.
"itu artinya kau tidak tau kalau Nerissa pergi dari rumahku?" batin Alvin bertanya.
"Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untuknya," ucap Daniel berbisik.
"Kau... benar benar mencintainya?" tanya Alvin.
"Tentu saja, bukankah aku sudah mengatakannya padamu?"
"Tapi kau belum mengenalnya dengan baik Daniel!"
"Itulah yang dinamakan cinta Alvin, buta dan tanpa alasan," balas Daniel dengan tersenyum senang.
Terlihat jelas dari raut wajahnya, Daniel sedang berbunga bunga saat itu.
"Tapi sepertinya tidak akan mudah untuk mendapatkannya!" ucap Alvin.
"Kenapa?"
"Dia.... dia baru saja meninggalkan rumahku bersama temannya," jawab Alvin.
"Meninggalkan rumahmu? kenapa? apa kau memarahinya? apa dia melakukan kesalahan padamu? apa...."
"Aku juga tidak tau Daniel, Delia yang memberi tahuku kalau dia pergi, aku sudah menghubungi bibi dan bibi juga mengatakan hal yang sama," ucap Alvin memotong pertanyaan Daniel yang bertubi tubi.
"Delia? pasti dia yang membuat Nerissa pergi!" ucap Daniel lalu segera beranjak dari duduknya dan pergi dari ruangan Alvin tanpa bisa dicegah oleh Alvin.
Daniel berjalan ke arah ruangan Ricky karena ia sempat berpapasan dengan Cordelia yang berjalan ke arah ruangan Ricky.
Baru saja Daniel akan masuk, Cordelia sudah keluar dari ruangan Ricky.
"Ada apa?" tanya Cordelia pada Daniel yang berdiri di depan ruangan Ricky.
"Ikut aku!" ucap Daniel dengan menarik tangan Cordelia ke tempat yang lebih sepi.
"Apa yang kau katakan pada Nerissa sehingga Nerissa pergi dari rumah Alvin?" tanya Daniel pada Cordelia.
"Nerissa? Nerissa siapa? oohhhh.... perempuan yang ada di rumah Alvin, apa hubungannya denganmu?"
"Jawab pertanyaanku Delia, apa...."
"Aku tidak mengatakan apapun Daniel, mereka sudah pergi saat aku sampai disana!" ucap Cordelia.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai terjadi sesuatu padanya!" ucap Daniel lalu pergi begitu saja.
Daniel berlari meninggalkan kantor dan segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin. Sesampainya disana, ia segera menanyakan keberadaan Nerissa dan Marin pada bibi.
"Mereka sudah pergi Tuan, bibi juga tidak tau kemana mereka pergi," jawab bibi.
"Apa mereka mengatakan sesuatu pada bibi?"
"Tidak, mereka hanya menitipkan surat untuk Tuan Alvin," jawab bibi.
"Surat? apa hanya untuk Alvin?"
"Sepertinya ada satu surat lagi di meja kamar, bibi melihatnya saat merapikan kamarnya tadi," jawab bibi.
Daniel kemudian segera berlari ke arah kamar di lantai dua dan menemukan sebuah surat yang tergeletak di meja.
Untuk Daniel.
Terima kasih karena sudah banyak membantuku dan Marin, kau laki laki yang baik Daniel, aku dan Marin sangat berterima kasih padamu.
Aku dan Marin memutuskan untuk pergi dari sini karena aku tidak ingin membuat pemilik rumah ini merasa tidak nyaman dengan kehadiranku dan Marin disini.
Sekali lagi terima kasih.
Nerissa.
Daniel menjatuhkan dirinya di ranjang dengan menatap surat di tangannya. Kini ia sudah kehilangan Nerissa, perempuan pertama yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ia bahkan tidak tau kemana Nerissa pergi karena tidak ada satupun petunjuk yang Nerissa tinggalkan untuknya.
Dengan langkah tak bersemangat, Daniel keluar dari kamar itu.
"Apa saya boleh membawa surat untuk Alvin bi? saya akan memberikannya pada Alvin di kantor!"
Sesampainya di kantor, ia segera membuka surat dari Marin dan membacanya sebelum memberikannya pada Alvin.
Setelah membaca dua surat itu, Daniel segera menemui Alvin dan memberikan dua surat itu pada Alvin.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Nerissa, Alvin?" tanya Daniel dengan menjatuhkan dirinya di kursi di hadapan Alvin.
Alvin hanya diam dengan membaca satu per satu surat yang Daniel berikan.
Untuk Alvin.
Terima kasih karena sudah mengizinkanku dan Putri Nerissa untuk tinggal di rumahmu. Aku tau kau laki laki yang baik, kau hanya salah paham saja pada Putri Nerissa.
Putri Nerissa sangat mencintai lautan, dia sangat sedih ketika melihat ikan itu terperangkap sampai lemas dan mati. Putri Nerissa hanya berusaha untuk menyelamatkannya, tapi ternyata ikan itu sudah menyerah sebelum Putri Nerissa bisa melepaskannya dari batuan yang menghimpitnya.
Marin.
Setelah Alvin membaca surat yang ditulis oleh Marin dan Nerissa, ia merasa menyesal karena sudah bersikap kasar pada Nerissa.
"Nerissa pergi karena kau, Alvin!" ucap Daniel.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatnya pergi," balas Alvin.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya pelan kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Alvin dengan malas.
Waktu berlalu, Alvin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang dengan cepat. Sebelum meninggalkan kantor, ia menghampiri Daniel yang masih berada di ruangannya.
"Kau belum pulang?" tanya Alvin pada Daniel.
Daniel hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa menoleh pada Alvin.
"Kau marah padaku?" tanya Alvin.
Daniel kembali menggeleng pelan.
"Mungkin dia memang bukan jodohku," ucap Daniel.
"Aku akan membantumu untuk mencarinya," ucap Alvin yang membuat Daniel segera membawa pandangannya pada Alvin.
"Kau serius?" tanya Daniel.
"Tentu saja," jawab Alvin.
Daniel pun segera beranjak dari duduknya, menyambar jas hitamnya kemudian berjalan keluar dengan semangat.
"Ayo cepat, kita cari Putri cantikku!" ucap Daniel sambil membuka pintu ruangannya.
Alvin hanya tersenyum tipis kemudian mengikuti langkah Daniel.
Mereka memutuskan untuk pergi dengan satu mobil dan mencari Nerissa ke tempat Daniel pertama kali bertemu Nerissa, di pantai Pasha.
**
Di tempat lain, Nerissa dan Marin baru saja menukar mutiara mereka dengan sejumlah uang yang cukup banyak.
Dengan mutiara yang mereka miliki, mereka bisa saja mendapatkan tempat tinggal yang mewah, namun mereka memutuskan untuk memilih tempat tinggal yang sederhana sesuai dengan impian Marin.
Sejak Marin pertama kali datang ke daratan, ia begitu terpesona dengan bunga bunga yang ada disana.
Terlebih saat ia mendatangi toko bunga bersama ayahnya, seketika impiannya ingin seperti perempuan yang menjaga toko bunga itu, tinggal di sekitar bunga bunga cantik yang berwarna warni.
Itu sebabnya saat ia diperintahkan Ratu Nagisa untuk menemani Nerissa ke daratan, ia begitu bersemangat.
Kini impiannya sudah ada di depan matanya, dengan mutiara hasil dari air mata Nerissa, ia bisa memiliki tempat tinggal sekaligus toko bunga impiannya.
Sedangkan Nerissa hanya mengikuti saja apa yang Marin inginkan. Ia ikut bahagia dengan kebahagiaan Marin saat itu.
"Apa kau bahagia Marin?" tanya Nerissa pada Marin.
"Tentu saja Putri, aku sangat bahagia," jawab Marin dengan mata berbinar melihat warna warni bunga di hadapannya.
Marin sudah banyak belajar tentang bunga bunga itu, ia juga sudah tau arti dari masing masing bunga yang ia jual.
Sebagai mermaid cerdas yang sudah sering ke daratan, menjual bunga dan hidup sebagai manusia tidaklah susah baginya, karena pada dasarnya kehidupan mermaid dan manusia tidak jauh berbeda.
Marin juga sudah melengkapi isi rumahnya, seperti perabotan rumah, pakaian dan keperluan lainnya, termasuk dua benda kotak di hadapannya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan benda ini Marin?" tanya Nerissa pada Marin.
"Kita bisa menghubungi orang yang jauh dengan benda ini Putri, aku sudah banyak mempelajarinya dan aku rasa, aku sudah bisa menggunakannya," jawab Marin menjelaskan.
Marin kemudian mengambilnya dan memberikan salah satunya pada Nerissa.
"Aaahhh... aku baru ingat, angka angka yang ada di tanganmu dulu, apa kau masih mengingatnya?" tanya Marin pada Nerissa.
"Masih, kenapa?"
"Coba ketikkan angka angka itu disini!" ucap Marin sambil menunjuk ponsel di tangan Nerissa.
Marin kemudian menekan tanda panggil dan panggilanpun terhubung, namun Marin segera mengakhirinya.
"Apa yang kau lakukan Marin?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Itu adalah nomor Alvin, kau bisa menghubungi Alvin sekarang!" jawab Marin.
"Tidak, aku tidak akan menghubungi laki laki egois itu!" ucap Nerissa yang masih kesal pada Alvin.
Tidak hanya karena Alvin melupakannya, tapi karena sikap Alvin yang jauh berbeda dengan Alvin yang ia temui di tepi pantai.
**
Waktu berlalu, hari hari telah berganti. Nerissa dan Marin sudah menjadi selayaknya manusia pada umumnya.
Marin memiliki toko bunga yang setiap hari ramai pengunjung. Meski bisa menghasilkan uang dengan mudah, Marin dan Nerissa hidup dengan sederhana.
Banyak hal yang sudah mereka pelajari dengan baik untuk menjadi manusia. Meskipun begitu mereka tidak melupakan tujuan awal mereka untuk datang ke daratan.
Setelah bisa membaur dengan baik bersama para manusia lain, Nerissa dan Marin mulai memikirkan bagaimana caranya untuk mendapat mahkota milik Nerissa agar Nerissa segera mendapatkan mutiara biru sang Ratu dan kembali ke istana Seabert.
Tentu saja hal itu tidak mudah, tidak ada satupun petunjuk yang bisa menunjukkan dimana mahkota milik Nerissa berada.
Selain itu, Nerissa juga berusaha untuk menggali lebih jauh tentang kekuatan yang ia miliki.
Seperti apa yang bundanya ucapkan, ia harus bisa menggunakan waktunya selama di daratan dengan baik karena hanya saat di daratan lah kekuatannya tidak bisa tercium oleh Ran.
Sedangkan di sisi lain, Daniel masih berusaha untuk mencari Nerissa, begitu juga Alvin.
Alvin semakin merasa menyesal setelah ia melihat rekaman CCTV di rumahnya. Ia melihat saat Nerissa tampak mengobrol bersama ikan di rumahnya sebelum Nerissa pergi, ia juga melihat Nerissa yang tampak begitu panik saat melihat ikan miliknya terjebak di dalam aquascape.
Ia benar benar merasa bersalah karena sudah bersikap kasar dan menuduh Nerissa tanpa alasan yang jelas.
Kini ia sudah kehilangan Nerissa tanpa bisa meminta maaf padanya. Ia sangat menyesal karena sudah menyia-nyiakan gadis yang dirindukannya saat gadis itu sudah ada di depan matanya.
Kalau saja malam itu Daniel tidak berkata jika Nerissa adalah gadis yang dicintainya, Alvin pasti sudah memeluk Nerissa dengan erat saat ia bertemu Nerissa di rumahnya.
Tapi ia tidak mungkin melakukannya, mengingat bagaimana Daniel tampak sangat menyukai Nerissa.
Ia tidak mungkin mengorbankan persahabatannya demi seorang gadis yang baru dikenalnya.
**
Pagi itu, seperti biasa Marin merapikan bunga bunga di toko bunganya. Tak lama kemudian datang seseorang dengan pakaian rapi khas pekerja kantor.
"Selamat datang di Marin Florist, ada yang bisa saya bantu?"
"Apa saya bisa memesan papan bunga disini?"
"Tentu saja bisa, silakan isi formulirnya terlebih dahulu agar bisa segera saya buatkan papan bunganya," jawab Marin dengan ramah.
Seseorang itu kemudian mengisi sebuah formulir yang berisi informasi tentang tulisan yang ada di papan bunga, macam macam bunga yang akan digunakan, waktu dan alamat dimana papan bunga itu akan dikirim.
Hari itu juga Marin membuat papan bunga sesuai dengan pesanan yang ada.
"Kau terlihat bersemangat sekali hari ini!" ucap Nerissa pada Marin.
"Tentu saja, aku sedang mengerjakan papan bunga untuk sebuah perusahaan besar Putri!"
"Oh ya? apa kau akan mengantarnya nanti?"
"Tidak, besok kau yang akan mengantarnya!"
"Kemana aku harus mengantarnya?"
"Perusahaan Atlanta Grup," jawab Marin.