Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Rencana Daniel untuk Berlibur (2)



Nerissa hanya terdiam saat Alvin menjauh darinya. Tak lama kemudian Daniel datang menghampiri Nerissa yang hanya berdiri menatap Alvin yang semakin jauh darinya.


"Alvin kemana?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Pulang," jawab Nerissa singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Alvin.


Tanpa pikir panjang Daniel segera berlari mengejar Alvin.


"Kau mau kemana Alvin? pulang?" tanya Daniel setelah ia berhasil mengejar Alvin.


"Iya, ada sesuatu yang harus aku kerjakan di rumah," jawab Alvin beralasan.


"Jangan berbohong padaku, aku sudah merencanakan liburanku hari ini, kau tidak ingin merusak rencanaku bukan?"


"Seharusnya hari ini kau berlibur dengan Nerissa, bukan dengan Marin apalagi denganku!"


"Aku sendiri yang memutuskan untuk mengajak Marin dan mengajakmu, apa aku salah?"


"Tidak, tapi......"


"Aku memang menyukai Nerissa sejak pertama kali aku melihatnya, tetapi sebelum itu mungkin kau lebih dulu menyukai Nerissa karena kau yang lebih dulu bertemu Nerissa, aku sudah mengetahui semuanya Alvin jadi jangan membuat alasan apapun lagi padaku!"


Alvin hanya terdiam mendengar ucapan Daniel yang tiba tiba.


"Aku pernah berkata padamu jika sainganku untuk mendapatkan Nerissa adalah dirimu maka aku akan menyerah dengan mudah, tetapi sepertinya aku tidak bisa melakukan hal itu Alvin, aku tidak bisa memberikan Nerissa untukmu begitu saja!"


"Aku juga tidak berniat untuk menjadi sainganmu, aku akan sangat senang jika kau dan Nerissa memiliki hubungan yang serius, aku pasti akan mendukung kalian berdua!" ucap Alvin.


"Kita bahas hal itu nanti, yang terpenting sekarang nikmati liburanmu bersama Nerissa karena beberapa hari ini dia sangat sedih setelah kau mengabaikannya!"


"Aku tidak bisa Daniel, lebih baik aku pulang sekarang!" ucap Alvin menolak.


"Kenapa?"


"Aku rasa ini bukan hal yang baik untuk aku lakukan, menjauh dari Nerissa adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan untuk menjaga persahabatanku denganmu!"


"Lupakan tentang hal itu Alvin, aku tidak akan mempermasalahkannya lagi, yang terpenting adalah Nerissa bisa bahagia, entah bersamaku atau bersamamu atau bisa jadi bersama laki-laki lain nantinya!" ucap Daniel.


"Tapi......."


"Kembalilah Alvin, dia terlihat sangat sedih saat kau pergi dan aku sangat membenci melihatnya seperti itu!" ucap Daniel memotong ucapan Alvin.


Alvin menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kembali ke arah Nerissa dan Marin bersama Daniel.


Nerissa hanya diam dan mengalihkan pandangannya saat Alvin berjalan ke arahnya. Untuk beberapa saat Alvin dan Nerissa hanya diam dan merasa canggung.


Mereka berempatpun masuk ke dalam area taman bermain.


"Apa yang pertama kali ingin kau coba Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Bagaimana denganmu Marin? apa yang ingin kau coba?" tanya Nerissa pada Marin sebelum menjawab pertanyaan Daniel.


"Aku ingin mencoba menaikinya Putri, bagaimana menurutmu?" balas Marin sambil menunjuk bianglala besar yang tak jauh dari tempat mereka berempat berdiri.


"Bagaimana Daniel?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Baiklah kita kesana," balas Daniel kemudian berjalan ke arah antrian bianglala.


Nerissa dan Marin berdiri di hadapan Daniel dan Alvin saat mengantri untuk masuk ke keranjang besar yang berputar dengan pelan itu.


Saat satu keranjang telah berhenti dan pintu terbuka Nerissapun masuk ke dalam, namun Marin malah mundur beberapa langkah sedangkan Daniel menggeser Alvin ke depan agar segera masuk ke dalam keranjang bersama Nerissa.


Namun Alvin yang terkejut hanya terdiam dengan membawa pandangannya pada Daniel.


"Silakan kak!" ucap seorang penjaga yang berada di sana.


"Kau duluan saja," ucap Daniel pada Alvin yang membuat Alvin melangkahkan kakinya masuk ke dalam keranjang yang akan berputar.


Melihat Alvin dan Nerissa yang sudah berada di dalam keranjang, Daniel dan Marin saling menatap dengan tersenyum karena berhasil melancarkan rencana mereka berdua.


"Setelah ini apa lagi yang bisa kita lakukan untuk membuat Alvin dan Putri kembali dekat, karena sepertinya mereka cukup canggung!" tanya Marin pada Daniel.


"Bagaimana jika membawa mereka ke rumah hantu? mau tidak mau mereka akan bergandengan tangan di dalam sana!"


"Aku tidak yakin Putri mau masuk kesana, sepertinya dia akan ketakutan!" balas Marin.


"Justru karena itu, kecanggungan di antara mereka berdua akan memudar karena Alvin pasti tidak akan membiarkan Nerissa ketakutan!"


"Baiklah, sepertinya itu ide yang bagus," balas Marin.


Tak lama kemudian keranjang lain berhenti di depan Marin dan Daniel, mereka berdua pun masuk ke dalam keranjang yang kemudian berputar dengan pelan ke arah atas.


biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari sang mama.


"Halo ma, ada apa?"


"Halo sayang, apa kau sedang bersama Marin sekarang?"


"Iya ma, dia ada di hadapan Daniel sekarang," jawab Daniel sambil membawa pandangannya pada Marin yang duduk di hadapannya.


"Siapa?" tanya Marin tanpa bersuara.


"Mama," jawab Daniel yang juga tanpa mengeluarkan suaranya.


Marin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya memahami jawaban Daniel.


"Apa mama bisa berbicara padanya?" tanya mama Daniel.


"Tapi mama harus berjanji tidak membicarakan hal yang aneh-aneh pada marin!" ucap Daniel memperingati sang mama.


"Iya sayang mama mengerti!" balas sang mama.


Daniel kemudian memberikan ponselnya pada Marin.


"Mama ingin berbicara padamu," ucap Daniel pada Marin.


Marinpun menerima ponsel Daniel dan menempelkannya di telinganya.


"Halo tante, ini marin," ucap Marin.


"Halo Marin, apa kalian sedang berdua sekarang? apa tante mengganggu kalian?"


"Tidak tante, tante sama sekali tidak mengganggu," jawab Marin.


"Tante hanya ingin memberi tahumu, jika kau senggang datanglah ke rumah bersama Daniel, tante akan sangat senang jika kau mau bermain kesini!" ucap Mama Daniel.


"Marin juga akan sangat senang kalau bisa bermain kesana tante, tapi sepertinya Daniel yang tidak akan senang hehehe....." balas Marin.


"Tante akan memaksa Daniel agar senang hehehe......" ucap mama Daniel yang membuat Marin ikut tertawa.


Daniel hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Marin di hadapannya.


Setelah mengobrol beberapa lama, panggilanpun berakhir, Marinpun mengembalikan ponsel Daniel.


"Sepertinya pembicaraan kalian seru sekali!" ucap Daniel pada Marin.


"Tentu saja, tante Yasmin orang yang sangat menyenangkan, sangat berbeda denganmu!" jawab Marin.


Marin hanya tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya dari Daniel, matanya menyapu pemandangan di bawahnya saat ia berada di titik paling atas yang ada pada bianglala itu.


"Mama selalu bersemangat setiap kali membicarakanmu Marin, aku senang karena mama bisa tertawa lagi karenamu!" ucap Daniel pada Marin.


"Tante Yasmin memintaku untuk datang ke rumah, apa aku boleh ke rumahmu untuk menemui tante Yasmin?" ucap Marin sekaligus bertanya.


"Tentu saja boleh, mama pasti akan sangat senang jika kau mau datang ke rumah!" jawab Daniel.


Marin tersenyum senang mendengar jawaban Daniel yang mengizinkannya untuk datang ke rumahnya.


"Kapan kau senggang? aku akan menjemputmu!" tanya Daniel.


"Tidak perlu Daniel, aku akan kesana sendiri!"


"Apa kau tahu alamat rumahku?" tanya Daniel yang hanya dibalas gelengan kepala dan senyum oleh Marin.


"Hubungi aku jika kau ingin ke rumahku, aku akan menjemputmu!" ucap Daniel.


"Aku bisa menanyakan alamat rumahmu pada Tante Yasmin bukan? atau aku bisa menanyakannya pada Alvin?"


"Sepertinya mama akan lebih suka jika kau datang bersamaku!" ucap Daniel.


"Benarkah? tetapi aku tidak ingin merepotkanmu Daniel, aku bisa pergi kesana sendiri dengan menggunakan taksi!"


"Coba saja, kau akan tahu bagaimana respon mama nanti setelah mama tahu jika kau datang tidak bersamaku!"


"Aku akan membawa banyak bunga untuk tante Yasmin jadi tante Yasmin tetap akan senang walaupun aku tidak datang bersamamu!" ucap Marin penuh percaya diri.


"Baiklah terserah kau saja!" balas Daniel.


Di sisi lain, untuk beberapa saat Nerissa dan Alvin yang berada di keranjang yang berbeda dengan Daniel dan Marin hanya saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


Dalam hatinya, Alvin ragu apakah ia harus kembali dekat dengan Nerissa atau tetap menjaga jarak dengan Nerissa.


Namun jauh dalam lubuk hatinya, ia tidak ingin menjauhi Nerissa, terlebih saat melihat Nerissa sedih ketika dirinya dengan sengaja mengabaikan Nerissa.


"aku merindukan senyum ceriamu Nerissa, aku merindukan semua cerita tentangmu, tapi sepertinya lebih baik jika kita seperti ini, lambat laun kau pasti akan membuka hatimu untuk Daniel dan kau akan melupakan kebersamaan yang pernah terjadi di antara kita berdua!" ucap Alvin dalam hati.


Sedangkan Nerissa hanya terdiam tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Alvin. Laki-laki tampan yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu itu seringkali menunjukkan sikap yang sulit untuk dimengerti olehnya.


"kenapa kau selalu seperti ini Alvin? datang dan pergi semaumu sendiri, mendekat dan menjauh dengan tiba-tiba tanpa memperdulikanku, apa memang aku yang terlalu berharap padamu sehingga aku merasakan kesedihan ini?" batin Nerissa bertanya dalam hati.


Hingga akhirnya keranjang yang mereka tumpangi berhenti pada titik di mana mereka harus segera turun, Nerissa dan Alvinpun turun dari bianglala.


Masih dalam keheningan di antara mereka berdua, mereka menunggu Daniel dan Marin yang baru saja turun dan menghampiri mereka berdua.


Marin dan Daniel tampak bercanda dan tertawa dengan riang, sangat berbeda dengan Alvin dan Nerissa yang hanya tampak saling diam dengan raut wajah datar.


"Waaaahh...... menaiki bianglala ini sangat menyenangkan, benarkan Putri?" ucap Marin pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis tanpa mengucapkan apapun.


"Ada apa denganmu Putri? apa kau baik-baik saja?" tanya Marin pada Nerissa.


"Aku baik-baik saja, ayo kita cari permainan yang lain!" jawab Nerissa kemudian menarik tangan Marin untuk berjalan lebih dulu.


Daniel dan Alvinpun berjalan mengikuti langkah nerissa dan Marin.


"Kenapa dia seperti itu? apa kau membuatnya kesal?" tanya Daniel pada Alvin.


"Sebenarnya apa yang kau rencanakan Daniel? aku sama sekali tidak mengerti dengan dirimu saat ini!"


"Jangan terlalu memikirkan hal itu Alvin, nikmati saja liburanmu kali ini!" balas Daniel sambil menepuk punggung Alvin lalu berlari ke arah Marin dan Nerissa, meninggalkan Alvin yang kini berjalan seorang diri.


"Permainan apa lagi yang akan kita coba Marin?" tanya Nerissa sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Aku ingin mencoba itu Putri!" jawab Marin sambil menunjuk wahana rumah hantu yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Apa kau yakin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Tentu saja, ayo kita kesana!" jawab Marin sambil menarik tangan Nerissa, namun Nerissa menahan tangan Marin yang menariknya.


"Kenapa Putri? apa kau takut?" tanya Marin pada Nerissa.


"Lebih baik kau saja yang masuk, aku akan menunggumu di luar!" ucap Nerissa.


"Kita masuk bersama-sama Nerissa, jangan takut, ada aku Marin dan Alvin yang akan menjagamu!" sahut Daniel.


"Aku tidak akan masuk kesana jika kau juga tidak masuk Putri," ucap Marin dengan menunjukkan raut wajah yang berpura-pura bersedih, agar Nerissa bersedia untuk masuk ke wahana rumah hantu.


"Baiklah, ayo kita masuk!" balas Nerissa menyerah.


Danielpun membeli 4 tiket untuk masuk ke wahana rumah hantu itu.


"Putri, aku ingin pergi ke toilet sebentar!" ucap Marin pada Nerissa kemudian meninggalkan Nerissa begitu saja.


Saat Nerissa sudah berada di depan pintu masuk, Daniel tiba-tiba mengambil ponselnya dari dalam saku celana seolah sedang menerima telepon, meninggalkan Alvin yang berdiri di belakang Nerissa.


Marin dan Daniel sengaja meninggalkan Nerissa dan Alvin lalu berdiri di antrian paling belakang.


"Silakan masuk kak!" ucap seorang penjaga pada Nerissa yang tampak ragu untuk masuk.


"Kenapa lama sekali? cepatlah masuk!" ucap salah satu pengunjung yang berada di belakang Alvin.


Alvin kemudian meraih tangan Nerissa, menggenggamnya dan membawanya masuk ke dalam rumah hantu.


Baru beberapa langkah Nerissa memasuki rumah hantu itu, ia sudah merasa ketakutan, tetapi ia berusaha untuk menahan ketakutannya karena hanya ada Alvin di sampingnya yang saat itu masih bersikap dingin padanya.


Meski begitu, Alvin masih memegang tangan Nerissa seolah mengerti jika Nerissa sedang ketakutan saat itu.


Tiba-tiba seseorang yang mengenakan kostum hantu mengejutkan Nerissa, membuat Nerissa segera berlari melepaskan tangan Alvin yang menggenggamnya.


Tiba-tiba Nerissa terjatuh diikuti oleh seseorang yang mengenakan kostum hantu di belakangnya.


Nerissa hanya bisa terdiam bersimpuh di lantai dengan menutup kedua matanya karena ketakutan.


"Tolong pergilah, dia sedang terluka!" ucap Alvin pada seseorang yang mengenakan kostum hantu itu.


"Maaf kak," balas seseorang itu kemudian pergi meninggalkan Alvin dan Nerissa untuk mengganggu pengunjung lain.


"Kakimu terluka Nerissa, apa kau bisa berdiri?" ucap Alvin sekaligus bertanya saat melihat kaki Nerissa yang berdarah.


Nerissa menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. Saat Nerissa akan berdiri, kakinya tiba-tiba terasa lemas, bukan karena luka pada kakinya tetapi karena ketakutan yang ia rasakan saat itu.


Alvinpun memegang bahu Nerissa, membantu Nerissa berjalan perlahan-lahan untuk keluar dari rumah hantu itu.


"Jangan takut, mereka tidak akan mengganggumu lagi!" ucap Alvin pada Nerissa yang tampak masih memejamkan matanya saat itu.


"Mereka sangat menyeramkan Alvin," ucap Nerissa dengan suara bergetar.


"Mereka hanya manusia biasa seperti kita Nerissa, mereka memakai riasan untuk membuat wajah mereka terlihat menyeramkan seperti itu," balas Alvin berusaha membuat Nerissa tenang.


Langkah demi langkah Nerissa dan Alvin lalui tanpa ada hantu yang berani mengganggu sampai akhirnya mereka tiba di pintu keluar.


Alvinpun segera mendudukkan Nerissa di kursi yang ada di depan pintu keluar rumah hantu itu untuk memeriksa keadaan kaki Nerissa yang terluka.