Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Suka atau Cinta?



Alvin masih bersama Nerissa di rumahnya. Mereka sedang makan malam saat itu.


"Apa kau pernah melakukannya?"


Namun tiba tiba satu pertanyaan dari Nerissa membuat Alvin terdiam untuk beberapa saat. Sekilas memori tiba tiba menghampiri kepalanya, namun Alvin berusaha untuk tidak membiarkan memori itu kembali padanya.


"Aku akan menyuapimu," ucap Alvin sambil menyendok makanan di piring Nerissa.


"Jangan Alvin, aku bisa makan sendiri, tanganmu masih terluka!" balas Nerissa.


"Sepertinya lukaku sudah sembuh," ucap Alvin.


"Secepat itu?"


"Iya, karena kau baru saja menyuapiku," jawab Alvin dengan tersenyum.


Nerissa hanya tersenyum tersipu lalu membuka mulutnya, menerima suapan makan malamnya dari tangan Alvin.


"Sudah cukup, aku bisa melakukannya sendiri," ucap Nerissa sambil merebut sendoknya dari tangan Alvin lalu melanjutkan makan malamnya.


"Bagaimana dengan aquascape yang hancur tadi Alvin?" tanya Nerissa.


"Jika kau senggang ikut aku untuk membelinya lagi," jawab Alvin.


"Apa kita akan merangkainya dari awal?" tanya Nerissa.


"Iya, apa kau keberatan?"


"Tentu saja tidak, itu hal yang sangat menyenangkan Alvin, aku bisa melakukannya tanpa bosan!"


"Bagaimana jika weekend nanti kita membelinya dan mulai merangkainya?"


"Boleh boleh," jawab Nerissa penuh semangat.


Tanpa Alvin dan Nerissa tau, Daniel baru saja sampai di rumah Alvin lalu segera masuk ke dalam.


Daniel membawa langkahnya masuk dan terdiam beberapa saat di tempatnya berdiri ketika melihat Alvin yang sedang makan malam bersama Nerissa.


Daniel melihat Alvin dan Nerissa tampak sedang mengobrol dan sesekali bercanda. Ia bisa melihat dengan jelas raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Alvin dan Nerissa.


"apa pertamanan kalian itu nyata? atau hanya alibi agar kalian tetap dekat tanpa membuat yang lain terluka?" tanya Daniel dalam hati sambil membawa langkahnya ke arah meja makan.


"Daniel!" panggil Nerissa yang menyadari kehadiran Daniel disana.


"Makan malam berdua?" tanya Daniel lalu duduk di samping Nerissa.


"Bertiga dengan Delia, tapi dia sudah pulang," jawab Nerissa.


"Delia yang memasak, makanlah!" sahut Alvin.


"Waaahhh sepertinya dia tidak mudah menyerah padamu Alvin," ucap Daniel lalu memegang tangan Nerissa yang memegang sendok lalu mengarahkannya ke mulutnya.


Nerissa hanya terkekeh melihat apa yang Daniel lakukan.


"Aku akan mengambilkannya untukmu," ucap Nerissa lalu hendak mengambil piring, namun Daniel menahan tangan Nerissa.


"Aku masih kenyang, aku sudah makan malam bersama mama," ucap Daniel.


"Tapi kau mengambil makananku!"


"Aku hanya ingin kau suapi saja," balas Daniel dengan tersenyum nakal.


"Kau sudah besar, jangan manja!" ucap Nerissa sambil menggeser piringnya menjauh dari Daniel, membuat Alvin dan Daniel terkekeh melihat sikap Nerissa.


"Apa kau akan menginap disini Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Menginap? tentu saja tidak, siapa yang akan menemani Marin di rumah jika aku menginap disini?" balas Nerissa.


"Apa jika ada orang lain yang menemani Marin, kau akan menginap disini?" tanya Daniel bertanya, membuat Nerissa terdiam seketika.


"Mmmm..... maksudku.... aku..... aku....."


"Apa maksudmu kau ingin bermalam berdua bersama Marin di rumahnya?" sahut Alvin bertanya pada Daniel.


"Hahaha..... apa yang kau bicarakan Alvin, bagaimana mungkin aku bisa berlama lama dengan monster seperti Marin!"


TUUUKKKK TUUUUKKKKK


"Aduuuuuhhhh, apa yang kau lakukan Nerissa!" ucap Daniel mengaduh saat Nerissa memukul kepalanya menggunakan sendok.


"Kau baru saja menyebut Marin monster!"


"Hahaha... maafkan aku, aku hanya bercanda," ucap Daniel sambil menahan tangan Nerissa yang hendak kembali memukulnya dengan sendok.


"Kalau tante Yasmin tau kau menyebut Marin monster, aku yakin Tante Yasmin akan memarahimu!"


"Kenapa?" sahut Alvin bertanya.


"Apa kau tidak tau kalau tante Yasmin sangat menyukai Marin? bahkan sepertinya Tante Yasmin akan menjodohkan Marin dengan Daniel," jawab Nerissa sambil membawa pandangannya pada Daniel.


"Omong kosong apa yang kau katakan Nerissa," balas Daniel sambil menyeruput minuman milik Nerissa.


"Ini bukan omong kosong Daniel, aku mengatakan yang sebenarnya," balas Nerissa.


"Cepat habiskan makananmu, aku akan segera mengantarmu pulang setelah ini!" ucap Daniel pada Nerissa.


Alvin hanya tersenyum tipis sambil mengunyah makanannya.


Setelah menghabiskan makan malamnya, Nerissa, Alvin dan Danielpun mengobrol beberapa saat sebelum akhirnya Daniel mengajak Nerissa pulang.


"Aku akan menunggumu weekend nanti!" ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


Nerissa dan Danielpun meninggalkan rumah Alvin. Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.


"Apa kau akan berlibur bersama Alvin weekend nanti?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Tidak, aku hanya akan menemaninya membeli akuarium dan membuat aquascape," jawab Nerissa.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar jawaban Nerissa. Sesampainya di depan rumah Nerissa, Daniel menahan Nerissa agar tidak segera turun dari mobil.


"Tunggu sebentar, ada yang ingin aku tanyakan padamu!" ucap Daniel sambil menahan tangan Nerissa.


"Ada apa Daniel?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur Nerissa, sebenarnya seperti apa hubunganmu dengan Alvin?"


Nerissa terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Daniel. Ia tidak mengerti apa yang membuat Daniel tiba tiba menanyakan hal itu padanya.


"Kita berteman," jawab Nerissa.


"Apa kau menyukainya?" tanya Daniel dengan menatap kedua mata Nerissa.


Nerissa seketika mengalihkan pandangannya dari tatapan Daniel yang seolah memojokkannya. Ia terdiam beberapa saat memikirkan jawaban terbaik dari pertanyaan Daniel.


"Tolong katakan dengan jujur Nerissa, kau tau aku menyukaimu, aku bertahan karena aku berharap suatu saat nanti kau akan bisa membalas perasaanku, tetapi jika sudah ada laki laki lain di hatimu maka aku tidak akan berharap lagi padamu, karena aku tau hatimu bukan untukku," ucap Daniel.


"Daniel..... aku......." Nerissa kembali mengalihkan pandangannya, ia ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Daniel


"Maafkan aku Daniel," ucap Nerissa sambil menundukkan kepalanya.


Daniel menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. 3 kata yang Nerissa ucapkan bisa menjelaskan jawaban Nerissa yang tidak ingin Daniel dengar.


Meski tidak mengatakannya secara pasti, ucapan maaf yang Nerissa ucapkan sudah cukup membuat Daniel mengerti jawaban Nerissa.


"Sejak kapan kau menyukainya Nerissa?" tanya Daniel dengan menatap jalanan kosong di hadapannya.


"Sejak pertama kali aku melihatnya di tepi pantai," jawab Nerissa yang masih menyembunyikan pandangannya dari Daniel.


"Dan seketika itu kau jatuh cinta padanya?" tanya Daniel.


"Aku tidak tau pasti, yang aku tau aku hanya menyukainya, tetapi semakin lama aku mengenalnya, ada sesuatu yang baru yang aku rasakan dalam hatiku, sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, tetapi aku tidak tau apakah itu cinta atau bukan," jawab Nerissa.


Daniel kemudian membawa pandangannya pada Nerissa. Gadis cantik yang masih tertunduk itu bahkan masih terlibat cantik meski beberapa helai rambutnya menghalangi wajah cantiknya.


Daniel kemudian memegang dagu Nerissa dan mengarahkan pandangan Nerissa padanya.


"Kau tidak ingin kehilangannya?" tanya Daniel dengan menatap wajah cantik di hadapannya.


Nerissa menganggukkan kepalanya pelan tanpa mampu mengatakan apapun. Ia takut apa yang ia katakan saat itu bisa menyakiti Daniel, laki laki baik yang sudah banyak membantunya.


Daniel tersenyum tipis lalu kembali membawa pandangannya ke arah jalanan kosong di hadapannya. Hatinya terasa tersayat belati yang meninggalkan rasa perih, namun ia berusaha untuk tetap baik baik saja.


"Maafkan aku Daniel," ucap Nerissa pelan.


"Tidak ada kesalahan yang kau lakukan Nerissa, jadi jangan meminta maaf padaku, kau hanya akan membuatku semakin terlihat menyedihkan," balas Daniel.


"Apa kau marah padaku? kau bisa memaki ku sampai kau puas jika itu bisa meredakan amarahmu padaku!"


Daniel kembali membawa pandangannya pada Nerissa, tangannya menyentuh pelan pipi Nerissa dan membelainya dengan lembut.


"kau gadis yang baik Nerissa, kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku," ucap Daniel dalam hati sambil tersenyum.


"Aku senang karena kau sudah jujur padaku, setidaknya sekarang aku tau bahwa sudah ada orang lain di hatimu," ucap Daniel.


"Kau laki laki yang baik Daniel, aku yakin akan ada perempuan yang jauh lebih baik daripada aku yang bisa menempatkan dirimu dalam hatinya," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


Nerissa kemudian membuka pintu mobil Daniel, lalu keluar dari mobil diikuti oleh Daniel yang juga keluar dari mobil.


"Apa aku boleh memelukmu Nerissa? mungkin setelah ini aku tidak bisa lagi memelukmu."


Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, Danielpun segera membawa langkahnya pada Nerissa lalu memeluk Nerissa dengan erat.


"entah siapa sebenarnya dirimu, tetapi kau sudah masuk dan tinggal di hatiku Nerissa, entah apa yang terjadi padaku setelah ini, tapi aku harap aku bisa mengatasinya dengan baik," ucap Daniel dalam hati.


Marin yang saat itu akan membuang sampah ke depan rumah, terdiam di tempatnya berdiri saat melihat Daniel dan Nerissa yang sedang berpelukan di depan rumah.


Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman dalam hatinya. Marinpun meletakkan kantong sampahnya di dekat pintu lalu kembali masuk dan merebahkan badannya di ranjang.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang mendekat ke arah kamarnya.


Marinpun segera menarik selimutnya, menutup seluruh tubuh dan wajahnya untuk menghindari Nerissa.


Benar saja, tak lama kemudian pintu kamar Marin diketuk oleh Nerissa beberapa kali sebelum akhirnya Nerissa masuk begitu saja.


"Marin, apa kau sudah tidur?" tanya Nerissa sambil menyentuh tubuh Marin yang terbalut selimut.


Tak ada jawaban dari Marin, ia sengaja berpura pura tertidur saat itu.


"Marin, apa kau benar benar tertidur? aku ingin bercerita padamu, aku takut apa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan, aku takut..... aku......"


Nerissa menghela nafasnya. Ia menghentikan ucapannya lalu beranjak dari ranjang Marin dan keluar dari kamar Marin.


"maafkan aku Putri, aku akan mendengarkan ceritamu, tapi bukan sekarang, aku juga tidak tau apa yang sedang aku rasakan sekarang, hanya saja rasanya sedikit sesak," ucap Marin dalam hati tanpa bergerak sedikitpun.


Nerissa masuk ke kamarnya lalu menjatuhkan dirinya di ranjangnya. Ia mengingat percakapannya dengan Daniel sebelum ia keluar dari mobil Daniel.


"Apa yang aku lakukan sudah benar? apa memang sebaiknya aku jujur pada Daniel? atau tidak seharusnya aku mengatakan hal itu padanya? lagipula suka atau tidak, aku tetap tidak akan bisa bersama Alvin!"


Nerissa mengacak acak rambutnya kasar lalu menutup wajahnya dengan bantal karena kesal pada dirinya sendiri.


"Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya pada Daniel, jika sudah seperti ini aku akan semakin terlibat dengan manusia untuk hal yang tidak penting, aaaahhhh kenapa aku bodoh sekali!!!!"


**


Di sisi lain, Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin. Sesampainya disana ia tidak segera keluar dari mobilnya. Ia hanya diam, mengingat percakapannya dengan Nerissa beberapa waktu yang lalu.


Aku tidak tau pasti, yang aku tau aku hanya menyukainya, tetapi semakin lama aku mengenalnya, ada sesuatu yang baru yang aku rasakan dalam hatiku, sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, tetapi aku tidak tau apakah itu cinta atau bukan


Daniel menghela napasnya lalu menjatuhkan kepalanya di atas setir mobilnya.


"apa lagi yang kau ragukan Nerissa, jika kau sudah takut kehilangannya, itu artinya kau mencintainya, lalu apa yang membuat kalian tidak bersatu? aku? aku....."


Tooookkkk tooookkk tooookkk


Daniel segera menoleh ke arah seseorang yang mengetuk kaca mobilnya, ia sedikit terkejut karena ada Alvin disana.


Danielpun keluar dari mobilnya.


"Apa yang kau lakukan disini? kenapa tidak segera masuk?" tanya Alvin pada Daniel.


Daniel hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah bersama Alvin.


"Apa kau sudah mengantar Nerissa sampai ke rumahnya?" tanya Alvin.


"Sudah," jawab Daniel sambil menganggukkan kepalanya.


"Baguslah kalau begitu, apa kau akan menginap? jika iya naiklah, aku sudah sangat mengantuk!" ucap Alvin sambil berjalan ke arah kamarnya.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu!" ucap Daniel yang membuat Alvin menghentikan langkahnya.


Alvinpun berbalik lalu duduk di samping Daniel.


"Ada apa?" tanya Alvin pada Daniel.


"Aku tidak akan berbasa basi lagi, apa kau benar benar menyukai Nerissa? apa kau serius dengan perasaanmu? apa kau sudah jatuh cinta padanya?"


Alvin terdiam mendengar pertanyaan Daniel yang bertubi tubi. Ia tidak mengerti kenapa Daniel tiba tiba menanyakan hal itu padanya.


"Kenapa kau menanyakan hal itu Daniel? apa terjadi sesuatu yang aku tidak tau? katakan padaku agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi diantara kita!"


"Apa yang terjadi diantara kita adalah kita menyukai satu perempuan yang sama, yang jelas terlihat adalah dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku, tapi bagaimana denganmu?"


"Dia juga menganggapku teman, sama seperti denganmu," balas Alvin.


"Dia mengatakan hal itu karena dia tidak ingin ada di tengah kita Alvin, dia mengatakan hal itu untuk menjaga hubungan baik kita, bukan benar benar apa yang dia rasakan!"


"Apa maksudmu Daniel, dia....."


"Katakan saja padaku Alvin, apa kau sudah jatuh cinta pada Nerissa?" tanya Daniel memotong ucapan Alvin.


Alvin hanya diam, ia sendiri tidak bisa memastikan perasaanya saat itu. Entah ia sudah jatuh cinta atau hanya sekedar menyukai Nerissa, tapi sejauh yang ia tau, ia merasa kebahagiaannya ada pada Nerissa.


"Dia menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di tepi pantai, mungkin dia sudah jatuh cinta padamu sejak saat itu," ucap Daniel yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.