Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Menemui Ratu Baruna



Nerissa terdiam untuk beberapa saat ketika ia melihat raut wajah yang sang Bunda yang tampak tidak menyukai kedatangan Gianira.


Ratu Nagisa kemudian beranjak dari duduknya lalu meminta Nerissa dan Gianira untuk berenang mengikutinya masuk ke dalam salah satu ruangan.


"Tolong jelaskan pada Bunda apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ratu Nagisa pada Nerissa.


"Apa maksud bunda bertanya seperti itu? apa Bunda tidak mempercayai Nerissa?" balas Nerissa bertanya.


"Bunda tahu dia siapa Nerissa, dia adalah mermaid penghancur yang sudah banyak menghancurkan istana lain dan dia juga yang sudah memporak-porandakan Seabert untuk beberapa lama, jadi apa yang membuatmu membawa dia kemari dan memperkenalkannya sebagai temanmu?" ucap Ratu Nagisa sekaligus bertanya pada Nerissa.


Ratu Nagisa sangat mengenal siapa Gianira, dia adalah anak dari sepasang mermaid yang terusir dari istana. Tak lama setelah Gianira dan kedua orang tuanya terusir dari istana, kedua orang tua Gianira terbunuh oleh Raja dan Ratu dari istana tempat mereka pernah tinggal.


Ratu Nagisa juga mengetahui bahwa Gianira menjual jiwanya pada aura kegelapan yang membantunya untuk menuntaskan dendamnya pada semua mermaid yang memiliki kekuatan.


"Dia bukan lagi Ran, dia adalah Gianira, Bunda," ucap Nerissa.


"Entah dia Gianira atau Ran, yang pasti dia adalah mermaid penghancur yang....."


"Dia yang sudah menyelamatkan nyawa Nerissa, dia juga yang sudah menyembuhkan Marin dan membuat Marin tetap hidup sampai saat ini," ucap Nerissa memotong ucapan sang Bunda.


"Apa maksudmu?" tanya Ratu Nagisa tak mengerti.


"Bunda benar dulu dia adalah Ran, mermaid penghancur yang menghancurkan semua kekuatan yang tercium olehnya, tapi sekarang dia sudah berubah Bunda, dia sudah melepaskan semua aura kegelapan dalam dirinya dan dia sekarang sudah kembali menjadi Gianira tanpa ada aura jahat yang mengelilinginya," jawab Nerissa.


"Dari mana Bunda bisa mempercayainya Nerissa? kau jangan mudah tertipu olehnya!" ucap Ratu Nagisa.


"Jika bukan karena dia Nerissa tidak akan mungkin kembali kesini bunda, jika bukan karena dia Nerissa pasti sudah menjadi buih-buih di lautan, tapi karena dia menyelamatkan Nerissa, Nerissa bisa kembali kesini dan mengembalikan mutiara biru milik Bunda," ucap Nerissa menjelaskan.


Ratu Nagisa masih terdiam mendengar ucapan Nerissa, ia tidak bisa mempercayai dengan mudah apa yang Nerissa katakan mengingat bagaimana kejamnya Ran selama ini.


"Nerissa melihatnya sendiri bagaimana dia melepaskan semua aura hitam dari dalam dirinya, tolong Bunda percaya pada Nerissa, dia benar-benar sudah kembali menjadi dirinya sendiri yang seutuhnya tanpa ada dendam dalam dirinya," ucap Nerissa berusaha meyakinkan sang Bunda.


"Saya mohon maaf Ratu, saya mengerti jika kedatangan saya tidak diterima disini, sayapun akan menerima semua hukuman yang patut untuk saya dapatkan," ucap Gianira.


"Apa sebenarnya rencanamu? kenapa kau menyelamatkan Nerissa?" tanya Ratu Nagisa pada Gianira.


"Apa yang terjadi pada Nerissa tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada saya Ratu, dia kehilangan ayah yang sangat dicintainya dan dia juga harus berpisah dengan seseorang yang dicintainya tapi dia bisa menerima semua takdir yang tidak dia inginkan itu tanpa harus memendam dendam dalam dirinya," ucap Gianira.


"Apa yang putri Nerissa ceritakan telah mengetuk pintu hati saya, membuat saya berpikir untuk melepaskan dendam yang selama ini saya simpan, karena satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk benar-benar bahagia hanyalah menjalani takdir yang meskipun tidak saya inginkan ini, bukan menyimpan dendam yang membuat amarah dalam diri saya semakin membesar," lanjut Gianira


"Bagaimana jika setelah ini aku membawamu masuk ke dalam penjara kegelapan?" tanya Ratu Nagisa.


"Saya siap Ratu, apa yang sudah saya lakukan memang kesalahan yang besar, saya menerima hukuman apapun yang Ratu berikan pada saya," jawab Gianira tanpa rasa ragu.


"Tidak Bunda..... Bunda tidak boleh memasukkannya ke dalam penjara kegelapan, dia sudah menyelamatkan nyawa Nerissa Bunda, dia juga sudah menyembuhkan Marin, Nerissa dan Marin berhutang nyawa padanya Bunda," ucap Nerissa membela Gianira.


"Jika aku tidak memasukkanmu ke dalam penjara kegelapan lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Ratu Nagisa pada Gianira.


"Saya akan mengabdikan diri saya pada istana seumur hidup saya, bahkan saya akan menyepakati perjanjian darah sebagai bukti bahwa saya benar-benar akan tunduk dan setia pada istana Seabert," jawab Gianira meyakinkan.


"Kau tahu pasti bukan apa akibatnya jika kau berkhianat setelah kau melakukan perjanjian darah?" tanya Ratu Nagisa.


"Saya tahu pasti Ratu, nyawa saya yang akan menjadi taruhannya," jawab Gianira.


Ratu Nagisa terdiam beberapa saat memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan pada Gianira.


"Tolong percayalah Bunda, Ran benar-benar sudah pergi, yang ada sekarang hanyalah Gianira peri laut yang bisa menyembuhkan semua mermaid yang ada di lautan," ucap Nerissa berusaha meyakinkan sang Bunda.


"Baiklah kalau begitu, tapi apa kalian berdua bisa menjanjikan satu hal padaku?" tanya Ratu Nagisa.


"Apa itu Bunda?" tanya Nerissa.


"Berjanjilah untuk merahasiakan tentang identitas Gianira yang sebenarnya, rahasiakan tentang apa yang terjadi pada kalian berdua sebelum kalian berdua datang kesini," ucap Ratu Nagisa.


"Nerissa bersedia Bunda, Nerissa berjanji akan merahasiakannya," ucap Nerissa penuh semangat.


"Saya juga berjanji Ratu," ucap Gianira.


"Baiklah, karena kau sudah menyelamatkan nyawa putriku maka aku akan memaafkan semua kesalahan yang sudah kau lakukan, Nerissa mungkin memang berhutang nyawa padamu, tapi Nerissa sudah membayarnya dengan tidak membiarkanmu mendekam di penjara kegelapan, jadi anggap saja kalian berdua impas dan tidak ada yang saling berhutang nyawa," ucap Ratu Nagisa dengan tegas.


"Baik Ratu, terima kasih sudah memberikan saya kesempatan," balas Gianira.


"Sekarang kalian berdua keluarlah, aku akan menyiapkan persiapan perjanjian darah yang akan Gianira lakukan di aula istana," ucap Ratu Nagisa.


"Apa itu perlu Bunda?" tanya nerissa.


"Tentu saja, bunda sengaja ingin melakukannya di aula istana agar semua yang ada disana bisa melihat anggota baru istana dan bagi siapapun yang membutuhkan pertolongannya tidak akan ragu untuk menemuinya," jawab Ratu Nagisa.


Nerissapun tersenyum seneng lalu berenang ke arah sang Bunda dan memeluk sang Bunda dengan erat.


"Terima kasih Bunda," ucap Nerissa senang.


Ratu Nagisa kemudian menyiapkan persiapan untuk melakukan perjanjian darah dengan Gianira dan tanpa ragu Gianirapun melakukan hal itu.


Setelah Gianira melakukan hal itu tiba-tiba Cadassi maju ke hadapan Ratu.


"Saya juga ingin melakukan hal yang sama ratu," ucap Cadassi yang membuat Ratu Nagisa dan Nerissa begitu terkejut sedangkan Marin yang berada tidak jauh dari tempat mereka hanya tersenyum dengan mengacungkan ibu jarinya.


Akhirnya Gianira dan Cadassipun sudah melakukan perjanjian darah, yang artinya mereka berdua tidak akan menghianati istana karena jika sampai mereka menghianati istana maka nyawa mereka akan melayang dengan sia-sia.


Semua yang ada di Seabertpun bertepuk tangan penuh kegembiraan.


Waktu berlalu, Ratu Nagisa sudah memerintahkan Morgan untuk merapikan semua kekacauan di beberapa wilayah Seabert.


Kini Ran benar-benar sudah musnah, menyisakan Gianira, sosok mermaid yang dijuluki peri laut karena kemampuannya untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.


Malam itu Nerissa duduk termenung di kamarnya dan tak lama kemudian seseorang masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sampingnya.


"Aku bahagia Marin, tinggal beberapa langkah lagi agar semua masalah yang ada di Seabert selesai," balas Nerissa.


"Memang sudah seharusnya kau bahagia, tapi aku tidak melihatmu benar-benar bahagia Putri," ucap Marin yang membuat Nerissa membawa pandangannya pada Marin.


"Apa aku boleh merindukannya Marin? apa aku masih boleh mengkhawatirkan keadaannya?" tanya Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Bersabarlah Putri, setelah urusanmu dengan pangeran Merville selesai kita bisa segera kembali ke daratan dan menemui Alvin," ucap Marin.


"Kau benar, lebih baik aku fokus memikirkan apa yang harus aku lakukan pada Pangeran Merville," ucap Nerissa dengan menganggukkan kepalanya.


Marin kemudian memeluk Nerissa, dalam hatinyapun ia bersedih karena ia juga merasakan apa yang Nerissa rasakan. Terlebih saat-saat terakhirnya bersama Daniel adalah saat-saat yang dia inginkan, saat dimana Daniel menyatakan perasaan padanya.


Namun takdir mengharuskannya untuk berpisah sesaat setelah Daniel menyatakan perasaan padanya.


**


Esok harinya, Marin berenang dengan terburu-buru untuk menemui Nerissa, dia memberitahu Nerissa bahwa sang ayah akan pergi menemui Pangeran Merville.


"Aku takut Pangeran Merville akan melakukan sesuatu yang buruk pada ayah jika dia tahu bahwa ayah sudah tidak berpihak padanya," ucap Marin pada Nerissa.


Tanpa banyak bertanya Nerissapun keluar dari istana bersama Marin untuk mengikuti Cadassi yang akan bertemu dengan pangeran Merville.


Setelah beberapa lama berenang, merekapun melihat Cadassi yang sedang bersama pangeran Merville.


"Ayolah Cadassi jangan bermain-main denganku, kau sangat tahu bukan apa yang akan kau dapatkan jika kau membantuku!" ucapan Merville yang sudah tampak emosi pada Cadassi.


"Tidak ada keuntungan apapun yang akan aku dapatkan jika aku menghianati istana, jadi kau salah jika kau memintaku untuk melakukan hal licik itu," balas Cadassi.


"Waahh waaahh waaahj sepertinya Nerissa sudah mempengaruhimu, kau....."


"Justru kau yang mempengaruhinya Pangeran Merville," ucap Nerissa yang tiba-tiba berenang mendekat dan memotong ucapan Pangeran Merville, membuat Pangeran Mervil begitu terkejut dengan kedatangan Nerissa.


"Sejak kapan kau berada disini Putri?" tanya Pangeran Merville gugup.


"Sejak kau memarahi Cadassi karena dia tidak ingin bekerja sama denganmu," jawab Nerissa.


"Apa maksudmu Putri? kau pasti salah paham, aku dan Cadassi...."


"Berhentilah berpura-pura Pangeran, aku sudah tahu apa sebenarnya niatmu untuk menikahiku," ucap Nerissa.


"Aaaahhhh sepertinya kau hanya mencari alasan untuk menolak pernikahan itu bukan? tenang saja Putri aku akan memberi waktu selama yang kau mau karena aku yakin pada akhirnya nanti kau akan menerimaku sebagai suamimu," ucap Pangeran Merville.


"Kau terlalu percaya diri pangeran, ayo Cadassi tinggalkan saja dia dan jangan pernah mau bertemu dengannya diam-diam seperti ini," ucap Nerissa lalu berenang pergi meninggalkan pangeran Merville bersama Marin dan Cadassi.


Sesampainya di istana, Nerissa memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bertemu dengan Ratu Baruna, ibu dari pangeran Merville.


"Sepertinya aku punya ide yang bagus Putri," ucap Cadassi.


"Apa itu?" tanya Nerissa.


"Karena Pangeran Merville berpikir bahwa aku berada di pihaknya, jadi aku akan memintanya untuk keluar dari istana, aku akan mengajaknya bertemu di tempat yang cukup jauh dari istana agar kau mempunyai waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan Ratu Baruna," ucap Cadassi menjelaskan.


"Tidak, Marin tidak akan mengizinkan ayah melakukan hal itu, Marin tidak ingin Pangeran Merville melakukan hal yang buruk pada ayah," ucap Marin melarang.


"Hanya itu yang bisa kita lakukan agar putri Nerissa bisa bebas menemui Ratu Baruna tanpa ada pangeran Merville," balas Cadassi.


"Idemu memang bagus Cadassi, tapi aku juga tidak bisa menyetujuinya karena aku juga memikirkan hal yang sama dengan Marin," ucap Nerissa.


"Aku bisa membantu," sahut Gianira yang tiba-tiba berenang ke arah Nerissa.


"Gianira, apa kau mendengar semua percakapan kami?" tanya Nerissa.


"Maaf Putri, aku tidak sengaja mendengarnya dan aku rasa aku bisa membantu permasalahanmu itu," ucap Gianira.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan? tidak ada yang sakit disini," tanya Cadassi yang membuat Gianira sedikit kesal.


"Aku tidak hanya bisa mengobati, aku juga cukup pandai dan cerdik, aku akan pastikan untuk menahan Pangeran Merville selama mungkin," jawab Gianira.


"Aku ikut," sahut Chubasca yang tiba-tiba datang.


"Apa kau juga menguping?" tanya Marin pada Chubasca.


"Kalian berdiskusi cukup keras jadi sudah jelas aku mendengarnya," jawab Chubasca.


"Apa yang akan kau lakukan Chubasca? ayah tidak ingin kau membuat masalah baru," ucap Cadassi.


"Aku hanya akan berjaga di belakang ayah dan Gianira, aku hanya akan keluar jika aku melihat Pangeran Merville melakukan sesuatu yang buruk pada kalian berdua," jawab Chubasca.


"Waah ternyata kau baik sekali, aku sangat setuju denganmu," ucap Marin dengan mengacungkan dua ibu jarinya pada Chubasca.


"Apa kalian semua yakin bisa melakukan hal ini? Pangeran Marvel cukup berbahaya dan kita juga tidak tahu kekuatan apa yang sebenarnya dia miliki," tanya Nerissa pada Cadassi, Chubasca dan Gianira.


Mereka semuapun menganggukkan kepala, mereka yakin dengan apa yang akan mereka lakukan.


"Baiklah kalau begitu, setelah Cadassi berhasil membuat Pangeran Merville keluar dari istana, aku dan Marin akan masuk ke dalam istana untuk menemui Ratu Baruna, apa kau setuju Marin?" tanya Nerissa yang dibalas anggukan kepala oleh Marin.


Setelah diskusi yang cukup panjang itu, mereka semuapun melakukan apa yang harus mereka lakukan. Setelah nerissa dan Marin melihat Pangeran Merville keluar dari istana, mereka berduapun segera masuk ke dalam istana Pangeran Merville untuk menemui Ratu Baruna, ibu dari pangeran Merville.


Nerissa dan Marinpun disambut dengan hangat oleh Ratu Baruna, tanpa ratu Baruna tahu bahwa kedatangan Nerissa adalah untuk menolak pernikahannya dengan pangeran Merville.


"Tanpa mengurangi rasa hormat Nerissa pada Ratu, Nerissa datang kesini untuk menolak pernikahan Nerissa dengan pangeran Merville, Nerissa harap Ratu Baruna bisa menerima apa yang Nerissa sampaikan," ucap Nerissa yang membuat Ratu Baruna begitu terkejut.


"Apa yang membuatmu menolaknya Nerissa? dia sudah sangat setia menunggu kepulanganmu setelah kau ditugaskan cukup lama oleh Ratu Nagisa," tanya Ratu Baruna pada Nerissa.


"Mungkin apa yang akan Nerissa jelaskan ini akan membuat Ratu merasa tidak nyaman dan sebelum itu Nerissa benar-benar meminta maaf karena harus memberitahu Ratu tentang hal ini," ucap Nerissa membuat Ratu Baruna mengernyitkan keningnya tak mengerti.