Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Ke Seabert



"Chubasca!!"


Nerissa dan Marin begitu terkejut dengan adanya Chubasca dihadapan mereka malam itu.


"Apa yang kau lakukan disini Chubasca? dimana Beetna?" tanya Nerissa pada Chubasca.


"Aku ke daratan sendirian Putri, ada yang harus aku sampaikan padamu mengenai keadaan Ratu Nagisa," jawab Chubasca.


"Ada apa Chubasca? jangan membuatku takut!"


"Sesuatu terjadi pada Ratu Nagisa dan kau harus kembali ke Seabert untuk menemui Ratu Nagisa, Putri!" jawab Chubasca.


"Apa yang terjadi pada Bunda Chubasca, katakan padaku!"


"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang Putri, lebih baik segera tinggalkan daratan dan kembalilah ke Seabert untuk melihat keadaan Ratu Nagisa!"


Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Marin dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Sejak Nerissa melihat bayangan sang Bunda dalam air di bathtubnya, Nerissa sudah merasa jika sang Bunda tidak baik-baik saja dan ternyata apa yang dia khawatirkan terjadi.


"Pergilah Putri, Ratu Nagisa membutuhkanmu!" ucap Marin pada Nerissa.


"Kau juga harus kembali ke Seabert Marin, kau sudah tidak ada urusan apapun lagi disini!" sahut Chubasca.


"Aku akan menyelesaikan masalahku disini lalu menyusul kalian berdua, aku akan......."


"Apa masalahmu disini lebih penting daripada keadaan Ratu Nagisa?" tanya Chubasca memotong ucapan Marin.


Marin diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Chubasca. Setidaknya ia ingin berpamitan pada Daniel dan Alvin sebelum ia kembali ke Seabert namun sepertinya ia tidak bisa melakukan hal itu.


Apa yang Chubasca ucapkan benar, kedatangannya ke daratan hanya untuk menemani Nerissa dan membantu Nerissa menyelesaikan tugasnya, jika sekarang Nerissa harus kembali ke Seabert maka ia pun juga harus kembali ke Seabert dan meninggalkan semua yang ada di daratan.


"Kita tidak mempunyai banyak waktu Putri, kita harus segera kembali ke Seabert sebelum ayahku mengetahui keadaan Ratu Nagisa!" ucap Chubasca pada Nerissa yang membuyarkan lamunan Marin.


"Marin, aku harus kembali ke Seabert, aku tidak akan memaksamu jika kau masih ingin berada disini, aku akan menunggumu kembali ke Seabert," ucap Nerissa pada Marin.


"Tidak Putri, aku akan ikut denganmu, apapun yang terjadi aku akan selalu ada disampingmu!" balas Marin.


Marin kemudian memesan taksi yang akan mengantar mereka bertiga ke pantai Pasha, tempat dimana mereka akan kembali ke Seabert.


Nerissa, Marin dan Chubasca pun segera masuk ke dalam taksi yang akan membawa mereka ke pantai Pasha. Sesampainya di pantai Pasha, tanpa ragu mereka bertiga berjalan ke arah tepi pantai.


Di bawah langit malam yang bertabur cahaya bulan dan kerlip bintang, Nerissa, Marin dan Chubasca membawa langkah mereka semakin menjauh dari daratan.


Nerissa dan Marin membawa langkahnya ke arah gulungan ombak yang perlahan membasahi separuh badan mereka. Nerissa dan Marinpun memutar gelang mutiara mereka sebanyak 7 kali sebelum akhirnya kaki mereka berubah menjadi ekor.


Chubasca yang melihat hal itu sedikit terkejut namun ia segera mengikuti Nerissa dan Marin yang sudah berenang masuk ke dalam lautan.


"Ikuti aku, aku akan menunjukkan jalan yang aman agar tidak ada yang melihat kalian berdua kembali ke istana!" ucap Chubasca pada Nerissa dan Marin.


Nerissa dan Marin kompak menganggukkan kepala mereka kemudian berenang mengikuti Chubasca.


Setelah beberapa lama berenang, merekapun tiba di tempat yang tidak pernah Nerissa dan Marin lewati sebelumnya.


Tempat itu tertutup oleh daun-daun yang menjulang tinggi menari-nari bersama gelombang ombak.


"Apa kau yakin kita akan pergi kesana Chubasca?" tanya Marin pada Chubasca.


"Ini adalah jalur yang paling aman agar tidak ada yang melihat kalian berdua memasuki istana," jawab Chubasca.


"Apa Bunda yang memintamu untuk mengantar kita melewati jalan ini?" tanya Nerissa.


"Justru Ratu Nagisa sendiri yang membuat jalur ini khusus untuk kalian berdua, apa kalian ragu?"


"Tidak, ayo kita melanjutkan perjalanan kita!" jawab Nerissa diikuti oleh anggukan kepala Marin.


Chubascapun berjalan mendekati dedaunan tinggi yang menari-nari itu, sesekali daun itu tampak mengelilingi tubuh Chubasca namun saat Chubasca menunjukkan gelang di tangannya daun-daun itu seakan memberi jalan pada Chubasca.


"Daun-daun ini akan menahan siapapun yang memasukinya tanpa seizin Ratu Nagisa, jadi tidak ada siapapun yang bisa memasukinya selain mermaid kepercayaan Ratu Nagisa," ucap Chubasca menjelaskan.


Nerissa dan Marin hanya menganggukkan kepala mereka dan berenang semakin jauh ke dalam daun-daun tinggi yang membuat daerah sekitarnya terlihat gelap.


"Jangan takut putri, ada aku yang akan selalu menjagamu!" ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


Sepanjang perjalanan, Nerissa hanya memikirkan keadaan sang Bunda, ia berharap kedatangannya bisa membuat keadaan sang Bunda membaik.


Hingga akhirnya Chubasca, Nerissa dan Marinpun keluar dari dedaunan yang tinggi itu dan sampai di bagian belakang istana yang sudah dijaga oleh beberapa mermaid kepercayaan Ratu Nagisa.


Chubascapun mengantar Nerissa masuk ke dalam istana bersama Marin. Saat baru saja membuka pintu istana, Marin segera menarik tangan Nerissa agar menjauh dari pintu istana.


"Ada apa Marin? kenapa kau menarik tanganku?" tanya Nerissa pada Marin.


"Aku mencium sesuatu yang aneh Putri, sepertinya di dalam istana sudah tersebar aroma dari bunga mawar merah yang sangat berbahaya," jawab Marin.


"Benarkah? lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Dimana ratu Nagisa Chubasca? apa Ratu Nagisa ada di ruangannya?"


"Tidak, aku sudah memindahkan Ratu Nagisa ke ruangan lain, tetapi untuk sampai disana kau harus melewati bagian dalam istana!" jawab Chubasca.


"Apa tidak ada jalan lain yang bisa kita lewati?" tanya Nerissa.


"Ada, tetapi itu sangat berbahaya karena bisa jadi Morgan yang bekerja sama dengan ayah melihatmu Putri," jawab Chubasca.


"Tidak apa, aku bisa mengatasinya, kau hanya perlu menunjukkan jalannya padaku!" balas Nerissa.


"Apa kau yakin Putri?" tanya Chubasca memastikan.


"Jangan banyak bertanya Chubasca, cepat tunjukkan jalannya pada Putri Nerissa!" sahut Marin.


Chubasca kemudian berenang ke sisi lain istana yang akan membawanya ke ruangan Ratu Nagisa. Benar saja, ia melihat salah satu Morgan yang bekerja sama dengan ayahnya disana.


"Apa yang kau lakukan disana Chubasca?" tanya Morgan yang melihat Chubasca berenang seorang diri.


"Tidak ada, aku hanya sedang melihat lihat saja!" jawab Chubasca sambil berusaha mengalihkan perhatian Morgan padanya.


Tepat saat perhatian Morgan hanya tertuju pada Chubasca, Nerissa yang berenang dari arah lain dengan cepat memegang kening Morgan dari belakang lalu memasuki memori Morgan.


Tanpa perlu menunggu lama Nerissa segera memanipulasi ingatan Morgan, membuat Morgan lupa jika ia sedang bekerja sama dengan Cadassi.


Nerissa juga membuat Morgan lupa tentang apa yang harus dilakukan di istana, Nerissa membuat Morgan berpikir jika dirinya hanyalah mermaid biasa yang tidak seharusnya ada di dalam istana.


Setelah Nerissa melepaskan tangannya dari kening Morgan, Morgan hanya terdiam membawa pandangannya ke sekelilingnya.


"Apa yang aku lakukan disini? tidak seharusnya aku berada di dekat istana seperti ini!" ucap Morgan kebingungan.


"Pergilah dan jangan mengatakan apapun tentang apa yang kau lihat sekarang atau aku akan melaporkanmu pada prajurit istana lainnya!" ucap Nerissa mengintimidasi.


"Baik putri, saya pamit undur diri," balas Morgan kemudian berenang pergi meninggalkan Nerissa.


Marin yang melihat hal itu hanya terdiam lalu bertepuk tangan kecil melihat Nerissa yang menggunakan kekuatannya saat itu. Sedangkan Chubasca hanya diam tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.


"Kau akan tahu nanti, sekarang cepat tunjukkan ruangan bunda padaku!" ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Chubasca.


Chubasca menganggukkan kepalanya kemudian berenang ke arah ruangan Ratu Nagisa.


Sesampainya disana Chubascapun membuka jendela dan masuk ke dalam ruangan itu bersama Nerissa dan Marin.


Melihat sang Bunda yang terbaring di ranjang dengan mata terpejam, Nerissa segera berenang mendekat ke arah sang Bunda.


"Bunda, apa yang terjadi pada Bunda?" tanya Nerissa sambil memeluk sang Bunda.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga Ratu dengan baik Putri," ucap Beetna yang saat itu sedang menjaga Ratu.


"Apa yang terjadi pada Bunda, Beetna?" tanya Nerissa pada Beetna.


"Ini semua salahku Putri, aku yang lalai menjaga keamanan istana, aku tidak tahu bahwa Morgan bekerja sama dengan ayah sehingga membuat ayah dengan bebas memasuki istana dan menyebarkan aroma mawar itu ke dalam istana!" sahut Chubasca.


"Bukankah aku sudah memberimu ramuan untuk Ratu Nagisa?" sahut Marin bertanya.


"Itu adalah kelalaian yang aku lakukan Marin, aku telat memberikan ramuan itu pada Ratu Nagisa, saat aku masuk ke dalam kamar, aroma mawar itu sudah memenuhi kamar Ratu Nagisa dan aku melihat ratu Nagisa yang terkapar di lantai," ucap Beetna sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa aroma mawar itu hanya berpengaruh pada Bunda? kenapa kau, Chubasca dan mermaid lainnya baik-baik saja? apa yang sebenarnya Cadassi buat untuk mencelakakan Bunda?" tanya Nerissa pada Beetna.


"Aku juga tidak tahu Putri, aroma mawar itu hanya membuatku dan mermaid lain merasa cepat lelah, tetapi aroma mawar itu sepertinya berdampak buruk hanya pada Ratu Nagisa," jawab Beetna.


Marin yang mendengar hal itu hanya terdiam, ia berusaha menggali ingatannya tentang sesuatu yang pernah ia baca.


"jika tujuan ayah adalah untuk merebut tahta istana Seabert, maka tujuan ayah hanyalah Ratu Nagisa dan Putri Nerissa, ayah masih membutuhkan rakyat Seabert yang lain untuk mendukung ayah menjadi raja, itu kenapa ayah hanya berusaha untuk melumpuhkan Ratu Nagisa dan membuat mermaid lain melemah agar tidak melawannya," batin Marin dalam hati.


"Putri, temani Ratu disini, aku akan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Marin pada Nerissa.


"Kemana kau akan pergi Marin? di luar sangat berbahaya!" tanya Nerissa.


"Keadaan di luar hanya berbahaya untuk Ratu Nagisa dan dirimu Putri, sama seperti yang baru saja Beetna jelaskan aroma mawar itu tidak begitu berpengaruh pada mermaid biasa sepertiku!" ucap Marin.


"Tetapi jika kau terlalu lama berada di luar kau akan cepat lelah dan semakin lemah!" sahut Chubasca.


"Jangan mengkhawatirkanku, kau harus menjaga Ratu Nagisa, aku akan pergi ke perpustakaan untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi!"


"Tidak, aku akan ikut denganmu, Beetna yang akan menjaga ratu dan putri disini!" ucap Chubasca.


"Terserah kau saja," balas Marin lalu keluar dari kamar Ratu Nagisa dan berenang ke perpustakaan bersama Chubasca.


**


Di sisi lain, malam itu Daniel mendatangi rumah Alvin.


Daniel duduk di teras rumah Alvin beberapa saat sebelum Alvin akhirnya keluar dan duduk di hadapannya.


"Apa kau tahu kenapa aku kesini?" tanya Daniel pada Alvin.


"Kenapa?" balas Alvin bertanya.


"Karena mungkin setelah ini aku tidak bisa lagi menemuimu saat weekend, karena sudah pasti kau akan menghabiskan waktumu bersama Nerissa saat weekend nanti," jawab Daniel.


Alvin hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


"Apa kau sudah mengatakan padanya?" tanya Daniel yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Alvin.


"Kenapa? apa kau masih ragu?" tanya Daniel.


"Mungkin sebaiknya kita semua berteman, dengan begitu tidak akan ada yang merasa tersakiti," jawab Alvin.


"Jangan membohongi perasaanmu Alvin, aku tahu kau juga menyukainya, jangan sampai kau menyesal karena tidak menyampaikan perasaanmu padanya!"


Alvin hanya diam tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia membenarkan apa yang Daniel ucapkan, ia memang menyukai Nerissa bahkan tanpa ia sadar ia takut kehilangan Nerissa.


"Kau tidak akan pernah tahu kapan seseorang itu akan berada di sampingmu dan pergi meninggalkanmu, tetapi akan lebih baik jika kau mengungkapkan perasaanmu sebelum seseorang itu benar-benar pergi darimu!" ucap Daniel.


"Apa semuanya akan baik-baik saja setelah ini?" tanya Alvin pada Daniel.


"Tentu saja, Nerissa akan lebih bahagia karena dia tidak perlu menyembunyikan perasaannya padamu lagi begitu juga denganmu, temui dia dan katakan padanya tentang apa yang kau rasakan, buat cerita ini menjadi happy ending Alvin!"


"aku akan memikirkannya, aku tidak ingin apa yang aku lakukan akan menyakiti Nerissa suatu hari nanti," ucap Alvin dalam hati.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Daniel berdering sebuah panggilan dari sang mama.


"Halo Daniel, dimana kau sekarang?"


"Daniel di rumah Alvin ma, ada apa?"


"Mama sudah memesan buket bunga pada Marin, apa kau bisa mengambilnya sekarang?"


"Sekarang ini sudah malam ma, toko bunga Marin sudah tutup!"


"Marin adalah pemilik toko bunga itu Daniel, dia bisa mengerjakan buket bunga kapanpun dia mau!" ucap Mama Daniel.


"Tapi ma......"


"Tidak ada tapi, kau harus segera mengambilnya!"


Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt


Sambungan berakhir begitu saja. Mama Daniel sengaja berbohong pada Daniel agar Daniel menghampiri Marin.


"Ada apa?" tanya Alvin pada Daniel.


"Mama memintaku untuk mengambil buket bunga di rumah marin," jawab Daniel malas.


"Sepertinya benar apa yang Nerissa katakan, sepertinya kalian berdua akan dijodohkan hahaha....."


"Tidak ada perjodohan dalam kamus hidupku, kau tahu itu!" ucap Daniel lalu beranjak dari duduknya.


"Pikirkan baik-baik apa yang harus kau lakukan pada Nerissa, jangan sampai kau menyesal saat dia sudah pergi darimu!" ucap Daniel kemudian berjalan meninggalkan Alvin begitu saja.


Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumah Marin. Sesampainya disana ia membawa langkahnya ke arah pintu rumah Marin.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Daniel mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban. Daniel kembali mengetuk dan menunggu sampai hampir 30 menitpun berlalu.


Daniel kemudian menghubungi Marin, namun sampai beberapa kali ia mencoba tidak ada satupun panggilannya yang terjawab.


Daniel juga berusaha untuk menghubungi Nerissa, tetapi sama seperti Marin, tidak ada satupun panggilannya yang terjawab membuat Daniel tiba-tiba khawatir pada Nerissa dan Marin.