Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Sedingin Es



Alvin masih berada di kamar Nerissa dan masih menggenggam tangan yang terasa sangat dingin dalam genggamannya.


Tak lama kemudian Marin memberikan jaket tebal milik Nerissa pada Alvin.


Saat Alvin akan memakaikan jaket itu pada Nerissa, Alvin menarik tangannya yang menggenggam Nerissa, namun saat itu juga Nerissa menahan tangan Alvin.


"Nerissa, apa kau mendengarku? jika iya bangun lah, jangan membuatku khawatir!" ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa masih terpejam namun tangannya masih menggenggam erat tangan Alvin seolah tidak ingin terlepas sedetikpun.


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit sekarang, jadi pakai dulu jaket mu Nerissa!"


Lagi lagi Nerissa hanya diam dan masih menggenggam erat tangan Alvin.


"Sepertinya tanganmu bisa menghangatkannya Alvin, maukah kau disini menemaninya sampai keadaannya membaik?" ucap Marin sekaligus bertanya pada Alvin.


"Apa tidak sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit? aku sangat mengkhawatirkannya Marin!"


"Sepertinya tidak perlu, kita tunggu saja beberapa jam, jika keadaannya semakin memburuk terpaksa kita harus membawanya ke rumah sakit, tapi aku harap dia akan membaik dengan adanya dirimu di sini;" ucap Marin.


"Baiklah, aku akan menemaninya di sini, kau lanjutkan saja pekerjaanmu, aku akan menjaga Nerissa di sini!" ucap Alvin.


"Terima kasih Alvin, segera panggil aku jika terjadi sesuatu pada Putri!" balas Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


Marin kemudian keluar dari kamar Nerissa dan kembali ke toko bunganya. Marin hanya duduk terdiam di toko bunganya.


Ia memikirkan keadaan Nerissa saat itu, ia juga memikirkan ucapan Alvin tentang apa yang terjadi pada Nerissa malam kemarin saat Nerissa berada di pesta ulang tahun Cordelia.


apa dia belum bercerita padamu? semalam dia tenggelam di kolam renang dan sempat tidak sadarkan diri tapi untungnya aku masih bisa membuatnya kembali tersadar?


"bagaimana mungkin Putri Nerissa bisa tenggelam di kolam renang? apa yang sebenarnya terjadi padanya?" batin Marin bertanya-tanya.


Setelah beberapa lama memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Nerissa, Marin tiba-tiba mengingat sesuatu.


Marin ingat ia pernah membaca buku tentang legenda dan dongeng mermaid. Dalam legenda itu mengatakan bahwa Mermaid yang datang ke daratan dan menjadi manusia, ia akan kehilangan kemampuannya untuk berenang dan bernafas di dalam air.


Tubuhnya akan menjadi sedingin es selang beberapa jam setelah mermaid tenggelam. Jika dibiarkan lebih lama lagi jantungnya akan membeku dan akan sangat membahayakan nyawanya.


Selama ini Marin berpikir jika semua itu hanyalah dongeng biasa. Ia tidak menyangka jika dongeng yang dibacanya sewaktu kecil itu benar-benar terjadi pada putri Nerissa.


Marin mencoba menggali ingatannya lebih jauh tentang dongeng yang pernah dibacanya sewaktu kecil itu.


Menurut ingatan Marin, mermaid yang sudah tenggelam dan tubuhnya menjadi sedingin es hanya bisa selamat jika ia segera kembali ke lautan dan mengembalikan ekornya seperti semula.


Namun Marin sadar ia tidak bisa melakukan hal itu karena ada Alvin yang sedang bersama Nerissa saat itu.


Jika pun tidak ada Alvin saat itu pasti akan susah untuk Marin membawa Nerissa ke laut mengingat keadaan Nerissa yang sangat lemah saat itu dan jarak laut dari rumahnya yang cukup jauh.


"apa yang harus aku lakukan sekarang? tolong cepatlah sadar Putri, jangan membuatku merasa bersalah karena tidak bisa menolongmu!" batin Marin dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca karena mengkhawatirkan keadaan Nerissa.


Di sisi lain, Alvin masih menggenggam tangan Nerissa dengan erat, sesekali ia mengusap kening Nerissa, berharap Nerissa bisa segera sadar.


Beberapa lama kemudian Nerissa terlihat mengerjap perlahan, ia mulai membuka matanya dan membawa pandangannya pada Alvin.


"Nerissa, apa yang terjadi padamu? aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang jadi tolong lepaskan tanganku sebentar saja!"


"Tidak, aku tidak perlu ke rumah sakit Alvin, aku hanya membutuhkanmu di sini jadi aku mohon jangan melepaskan tanganmu dariku!" ucap Nerissa memohon.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu Nerissa, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu karena aku terlambat membawamu ke rumah sakit!"


"Aku sangat kedinginan Alvin, dokter tidak akan bisa menyembuhkan ku, tetapi tanganmu yang bisa menyembuhkan ku," ucap Nerissa.


"Apa maksudmu Nerissa? aku tidak mengerti!"


"Tanganmu seperti memberikan energi yang bisa menghangatkan seluruh tubuhku, jangan tanya kenapa karena aku juga tidak tahu, tetapi itulah yang aku rasakan saat ini!" ucap Nerissa menjelaskan.


"Baiklah aku akan selalu disini menemanimu sampai keadaanmu membaik seperti sebelumnya," balas Alvin dengan kembali menggenggam tangan Nerissa, berharap bisa memberikan kehangatan di seluruh tubuh Nerissa.


"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa dengan tersenyum sayu.


"Aku akan menghubungi Marin dan memberitahunya jika keadaanmu sudah membaik, dia sangat mengkhawatirkanmu tadi!" ucap Alvin kemudian mengambil ponselnya dari saku dan menghubungi Marin.


"Halo Marin, aku hanya ingin memberitahumu jika keadaan Nerissa sudah membaik, tubuhnya juga sudah tidak sedingin tadi dan dia juga sudah sadar sekarang!" ucap Alvin pada Marin.


"Benarkah? aku akan kesana sekarang!" balas Marin kemudian segera mengakhiri panggilan Alvin dan berlari masuk kedalam rumah lalu menghampiri Nerissa di kamar.


"Putri, apa yang terjadi padamu? bagiamana keadaanmu sekarang? apa kau merasa lebih baik?"


"Maafkan aku Marin, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku, hanya saja rasanya seluruh tubuhku menjadi sangat dingin tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, tangan Alvin terasa sangat hangat dan itu bisa menghilangkan rasa dingin di seluruh tubuhku!" ucap Nerissa menjelaskan.


Marin kemudian membawa pandangannya pada Alvin dengan penuh tanda tanya.


"Alvin, kenapa bisa? siapa dia sebenarnya? kenapa dia bisa membuat Putri menjadi hangat?" tanya Marin dalam hati.


"Aku sudah baik-baik saja Marin, jadi jangan menghawatirkan ku lagi!" ucap Nerissa membuyarkan lamunan Marin.


"Jangan seperti ini lagi Putri, aku tidak ingin melihatmu seperti ini lagi!"


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Marin.


"Aku akan kembali ke toko bunga dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!" ucap marin dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Alvin bergantian.


Nerissa dan Alvin pun menganggukkan kepala mereka kompak.


Marin kemudian membawa langkahnya keluar dari kamar Nerissa dan kembali ke toko bunga.


Dalam hatinya Marin bersyukur karena Nerissa baik-baik saja, tapi ia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ia tidak mengerti kenapa Alvin bisa membuat Nerissa merasa hangat.


"siapa Alvin sebenarnya? kenapa dia bisa memiliki kekuatan seperti itu? apakah Alvin mempunyai hubungan khusus dengan Mermaid atau......"


Marin menggelengkan kepalanya dan memukul kepalanya pelan karena pemikiran anehnya tentang Alvin.


"tidak tidak, dia hanya manusia biasa, mungkin saja aku belum banyak membaca tentang dongeng itu karena aku pikir itu hanya dongeng biasa yang tidak penting," batin Marin dalam hati.


**


Waktu berlalu, jam berputar tanpa henti, mentari pun semakin naik dengan tingginya.


Daniel keluar dari rumahnya bersiap untuk pergi ke rumah Nerissa. Daniel sengaja menemui Nerissa saat siang karena dari pagi sang papa memintanya untuk membantu mengerjakan pekerjaan kantor.


Daniel berpikir untuk membeli bunga dari Marin sebagai bentuk permintaan maafnya pada Nerissa.


Daniel kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa. Sesampainya disana ia mendengus kesal saat ia melihat mobil yang ia kenal terparkir di depan toko bunga Marin.


Ia sangat tahu siapa pemilik mobil itu. Ya, itu adalah mobil milik Alvin.


Daniel kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Marin di toko bunga.


"Apa Alvin ada disini?" tanya Daniel tanpa basa-basi pada Marin.


Marin hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Daniel. Ia kesal pada Daniel karena Daniel tidak bisa menjaga Nerissa dengan baik saat Daniel mengajak Nerissa ke pesta ulang tahun Cordelia.


Bagaimana mungkin Daniel bisa membiarkan Nerissa tenggelam di dalam kolam renang, terlebih yang menolong Nerissa saat itu adalah Alvin, bukan Daniel. Padahal yang mengajak Nerissa ke acara ulang tahun Cordelia adalah Daniel, seharusnya Daniel bisa lebih bertanggung jawab pada Nerissa.


"Apa kau bisa membuatkan ku buket bunga untuk....."


"Tidak, aku sangat sibuk," ucap Marin memotong ucapan Daniel dan menolaknya.


Daniel diam beberapa saat memperhatikan sikap marin padanya. Ia merasa Marin juga bersikap dingin padanya seperti Nerissa.


"Apa kau marah padaku? apa Nerissa menceritakan sesuatu padamu tentangku?" tanya Daniel pada Marin.


"Pergilah, sudah ada Alvin yang menemani Putri sekarang," ucap Marin tanpa menjawab pertanyaan Daniel.


"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Marin? apa aku melakukan kesalahan padamu? tolong katakan padaku kenapa kau bersikap dingin padaku seperti ini!"


"Apa kau tidak sadar apa kesalahanmu?" balas Marin bertanya dengan kesal pada Daniel.


"Apa karena Nerissa?" terka Daniel.


"Kau yang mengajak Putri untuk ikut ke acara ulang tahun Delia, tetapi kau tidak bisa menjaganya dengan baik, bagaimana bisa kau membiarkan Putri tenggelam di kolam renang bahkan yang menyelamatkannya juga bukan dirimu melainkan Alvin!" ucap Marin yang mulai emosi.


"Aku juga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi Marin dan aku kesini untuk meminta maaf pada Nerissa karena hal itu, jadi aku harap kau tidak mempersulit ku untuk meminta maaf padanya," balas Daniel.


"Aku tidak mempersulitmu untuk meminta maaf padanya, tapi sepertinya dia sudah tidak membutuhkanmu karena sudah ada Alvin yang menemaninya!" ucap Marin.


"Aku tidak peduli, aku hanya harus meminta maaf pada Nerissa secara langsung," balas Daniel.


"Terserah kau saja," ucap Marin lalu kembali fokus membuat buket bunga pesanan.


Daniel kemudian keluar dari toko bunga Marin dan berjalan ke arah rumah Marin untuk menemui Nerissa.


Karena tahu jika ada Alvin di dalam rumah itu, Daniel pun masuk begitu saja dan berjalan ke arah kamar Nerissa.


Daniel berdiri di depan kamar Nerissa saat ia melihat Alvin yang duduk di samping ranjang nerissa dengan menggenggam tangan Nerissa.


Ada sebuah rasa kesal dalam hatinya saat melihat hal itu, namun Daniel mencoba untuk memendamnya.


Daniel kemudian mengetuk pintu yang sudah terbuka itu, membuat Nerissa dan Alvin segera membawa pandangan mereka ke arah Daniel.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Masuklah!" jawab Nerissa singkat.


Daniel kemudian membawa langkahnya mendekat kearah Nerissa.


"Aku ingin bicara berdua denganmu Nerissa," ucap Daniel pada Nerissa.


Alvin kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Nerissa, bermaksud untuk membiarkan Daniel dan Nerissa berbicara berdua.


namun Nerissa semakin erat menggenggam tangan Alvin, seolah tidak mengizinkan Alvin untuk keluar meninggalkannya.


"Bicara saja sekarang, aku membutuhkan Alvin disini, jadi aku tidak akan membiarkannya keluar dari sini," ucap Nerissa pada Daniel.


Daniel kemudian membawa pandangannya pada Alvin dan semakin kesal karena Alvin tidak melepaskan genggaman tangannya pada Nerissa.


"Aku akan menunggu kalian di depan, setelah Daniel selesai berbicara aku akan kembali lagi ke sini," ucap Alvin pada Nerissa.


"Tapi......"


"Beri Daniel waktu untuk berdua denganmu Nerissa, aku yakin ada hal penting yang ingin dia sampaikan padamu!" ucap Alvin memotong ucapan Nerissa.


"Baiklah kalau begitu," talas Nerissa tak bersemangat.


Dengan ragu Nerissa melepaskan genggaman tangan Alvin darinya. Entah kenapa jantungnya terasa berdetak lebih cepat saat Alvin sudah benar-benar melepaskan genggaman tangannya.


Nerissa tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya, hanya saja ia merasa tubuhnya begitu kedinginan jantungnya berdebar dan tubuhnya terasa semakin lemah.


Namun saat Alvin datang dan menggenggam tangannya, ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Alvin yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan menenangkan detak jantungnya yang berdetak cepat.


Itu kenapa ia tidak ingin Alvin pergi meninggalkannya sebelum ia merasa dirinya benar-benar baik-baik saja.


Alvin kemudian keluar dari kamar Nerissa dan menunggu di ruang tamu.


Sedangkan Daniel segera duduk disamping ranjang Nerissa dan meminta maaf pada Nerissa.


"Aku ke sini hanya untuk meminta maaf padamu Nerissa, maaf karena sempat mengabaikanmu saat di acara pesta ulang tahun Cordelia semalam, aku benar-benar menyesal dan aku minta maaf," ucap Daniel pada Nerissa.


"Bukan itu yang membuatku kecewa padamu Daniel, ada hal lain yang membuat aku sangat kecewa padamu!" balas Nerissa.


"Apa karena bukan aku yang menyelamatkanmu sesaat kau tenggelam atau......"


"Bukan, bukan karena itu," ucap Nerissa memotong ucapan Daniel.


"Lalu apa yang membuatmu begitu kecewa padaku? tolong jelaskan padaku Nerissa, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!"


"Apa kau ingat tentang mutiara yang aku berikan pada Delia? apa kau juga berpikir kalau mutiara yang aku berikan pada Delia itu adalah mutiara palsu?"


"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu Nerissa, asli atau tidak mutiara yang kau bawa itu sama sekali bukan masalah buat ku aku hanya......"


"Sikapmu yang seperti itu yang membuatku berfikir kalau kau lebih mempercayai Delia dibanding aku, padahal aku sengaja membawa mutiara itu sebagai hadiah untuk Delia karena aku tahu dia sangat menyukai barang-barang mewah!"


"Jadi itu mutiara asli? bagaimana kau....."


Daniel menghentikan ucapannya saat melihat Nerissa tampak meringis kesakitan.


Nerissa tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya menjadi sangat dingin dan dadanya terasa sesak.


"Ada apa denganmu Nerissa? apa yang terjadi padamu?" tanya Daniel khawatir.


Saat Daniel menyentuh tangan Nerissa, ia begitu terkejut karena tangan Nerissa terasa sangat dingin. Wajah Nerissa juga perlahan terlihat semakin memucat bersamaan dengan tangan, kaki dan seluruh tubuh Nerissa yang perlahan ikut memucat.