Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Memberi Tahu Ratu



Malam telah terlewati dengan kebahagiaan. Entah sudah berapa lama Alvin tidak pernah tertawa lepas seperti saat bersama Nerissa tadi.


Alvin keluar dari garasi mobil dengan memutar mutar kunci mobil di tangannya sambil bersenandung ringan.


"Eheemmm!"


Daniel berdehem cukup keras, membuat Alvin segera membawa pandangannya ke arah Daniel yang duduk di teras rumahnya.


"Kau.... sejak kapan kau disini?" tanya Alvin pada Daniel.


"Waaahhh waaahhh.... kau benar benar keterlaluan, aku sudah menunggumu lebih dari 2 jam dan kau tidak melihatku disini?"


"Hahaha..... masuklah!" ucap Alvin sambil membuka pintu rumahnya.


Daniel pun beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Alvin.


"Apa bibi tidak menyuruhmu masuk?" tanya Alvin pada Daniel.


"Aku memang sengaja menunggumu di luar," jawab Daniel.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya lalu masuk ke kamarnya.


"Apa kau akan meninggalkanku sekarang?" tanya Daniel kesal karena merasa diabaikan oleh Alvin.


"Apa kau tidak melihatku basah kuyup?" balas Alvin bertanya kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.


Daniel hanya terkekeh kemudian duduk di ruang tengah sambil menyalakan tv. Tak lama kemudian Alvin datang dan duduk di samping Daniel.


"Kau dari mana?" tanya Daniel pada Alvin.


"Menurutmu?"


"Pantai?" terka Daniel yang mendapat anggukan kepala dari Alvin.


"Apa kau baru saja menceburkan dirimu ke dalam laut?" tanya Daniel.


"Aku tidak segila itu Daniel," jawab Alvin.


"Lalu apa yang kau lakukan disana? kenapa kau basah kuyup seperti tadi?" tanya Daniel penasaran.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, kau kenapa menungguku? kau mau menginap?"


"Tentu saja, apa lagi hahaha....."


Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar jawaban Daniel. Merekapun mengobrolkan banyak hal sampai lewat tengah malam hingga akhirnya mereka berdua tertidur di ruang tengah.


**


Pagi telah datang, Alvin sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, begitu juga Daniel yang baru saja keluar dari kamar.


Saat Alvin baru saja membuka pintu rumahnya Cordelia datang dan memeluk Alvin begitu saja.


"Pagi honey!" ucap Cordelia yang memeluk Alvin dengan manja.


"Pagi honey........" ucap Daniel menirukan ucapan Cordelia.


"Kenapa dia ada disini?" tanya Cordelia pada Alvin.


"Dia menginap disini, kau sendiri kenapa kesini pagi pagi seperti ini?" jawab Alvin sekaligus bertanya.


"Aku sengaja menjemputmu, tapi rasanya aku akan membatalkan niatku itu karena ada dia disini," jawab Cordelia sambil membawa pandangannya pada Daniel.


"Lagipula Alvin belum tentu mau berangkat ke kantor bersamamu hahaha......" balas Daniel lalu berjalan mendahului Alvin dan Cordelia.


"Temanmu sangat menyebalkan Alvin, kenapa kau masih saja berteman dengannya!" ucap Cordelia kesal.


Alvin hanya tersenyum tipis melihat kekesalan Cordelia.


"Pulanglah, aku harus segera berangkat!" ucap Alvin pada Cordelia.


"Aku memang ingin segera pulang setelah melihat wajah menyebalkan temanmu itu!" balas Cordelia kemudian berjalan cepat meninggalkan Alvin.


Alvin dan Danielpun pergi ke kantor bersama karena mobil Daniel yang masih berada di bengkel.


Sesampainya di kantor, mereka segera mengerjakan pekerjaan mereka.


**


Nerissa keluar dari kamarnya untuk memastikan sang bunda tidak meminum ramuan yang Cadassi berikan.


"Ada apa sayang? kenapa wajahmu terlihat tidak bersemangat?" tanya bunda Ratu pada Nerissa.


"Bagiamana Nerissa bisa bersemangat kalau bunda masih terbaring lemah disini," jawab Nerissa.


"Jangan terlalu memikirkan bunda sayang, Seabert lebih membutuhkan dirimu dibanding dengan bunda," balas bunda Ratu.


Nerissa menganggukan kepalanya dengan tersenyum kemudian keluar dari kamar sang bunda.


Melihat sang bunda yang masih lemah membuat Nerissa tidak yakin untuk menceritakan semua masalah yang terjadi pada bundanya.


Ia takut masalah itu akan membuat sang bunda semakin tertekan dan akan mempengaruhi kesehatan sang bunda.


Nerissa kemudian berenang ke arah ruang baca. Ia harus segera mengambil tindakan sebelum Cadassi dan Pangeran Merville bertindak lebih jauh.


Sebagai seorang Putri istana, ia harus bisa bertanggung jawab pada istananya tanpa membuat sang bunda terbebani.


"mari kita lihat apa yang akan kau dapatkan dari penghianatanmu itu Cadassi," ucap Nerissa dalam hati sambil membuka salah satu buku.


Di dalam buku itu dijelaskan jika seorang mermaid terbukti berkhianat, maka ia akan dimasukkan ke dalam penjara kegelapan selama beberapa tahun sesuai dengan tindakan penghianatan yang sudah dilakukannya.


Namun jika seorang mermaid itu adalah bagian dari istana, maka ia akan mendekam di penjara kegelapan sampai ajal menjemputnya.


Bagi hukum yang dipercaya di istana, penghianatan yang dilakukan anggota istana ataupun mermaid yang terhubung langsung dengan istana tidak akan mendapat pengampunan, sekecil apapun penghianatan yang dilakukan.


"kau memang pantas mendapatkan hukuman itu Cadassi," batin Nerissa dalam hati.


Namun tiba tiba, ia mengingat Marin. Raut wajah Marin yang penuh kesedihan kembali terngiang dalam ingatan Nerissa.


Apa kau akan melaporkan hal ini pada Ratu? bisakah kau merahasiakan hal ini Putri? aku sangat menyayangi ayahku, aku tidak ingin ayahku dihukum di penjara kegelapan seumur hidupnya, aku mohon padamu Putri Nerissa


"apa aku bisa membiarkan Marin bersedih? aku tau bagaimana rasanya kehilangan ayah, aku tidak mungkin membiarkan Marin kehilangan ayahnya, terlebih ia sudah lama kehilangan ibunya, tapi..... apa yang dilakukan Cadassi


...."


Nerissa mengela nafasnya kasar, ia benar benar bingung apa yang harus ia lakukan saat itu.


Nerissa kemudian mengembalikan buku yang ia baca. Ia berenang keluar dari ruang baca dengan malas.


Saat ia baru saja keluar, ia melihat Marin yang masuk ke kamar bunda Ratu. Nerissapun segera berenang mengikuti Marin dan masuk ke kamar sang bunda.


Kini Marin dan Nerissa berada di dalam kamar Ratu Nagisa.


"Ada apa Marin? apa yang membuatmu menemuiku?" tanya Ratu Nagisa pada Marin.


"Ratu, ada sesuatu yang harus saya jelaskan," jawab Marin tanpa ragu.


"Apa itu?" tanya Ratu Nagisa.


"Sebelumnya saya minta maaf jika apa yang akan saya jelaskan ini menganggu ketenangan Ratu," ucap Marin sebelum menjelaskan maksud tujuannya menemui Ratu.


"Tak apa, jelaskan saja Marin, aku akan mendengarnya dengan baik," balas Ratu Nagisa.


"Ratu, saya....."


"Tunggu Marin, apa yang akan kau bicarakan pada bunda?" tanya Nerissa memotong ucapan Marin.


"Semua yang sudah aku ceritakan padamu Putri, aku akan menjelaskan semuanya pada Ratu," jawab Marin.


"Tapi.... kau...."


"Tidak apa Putri, aku sudah memikirkan hal ini baik baik, aku akan sangat merasa bersalah jika harus menyembunyikan hal ini dari Ratu," ucap Marin dengan penuh keyakinan.


"Ada apa ini sebenarnya? apa yang kalian sembunyikan?" tanya Ratu Nagisa penasaran.


Marin kemudian menjelaskan semuanya pada Ratu Nagisa, tentang apa yang sudah Cadassi dan Pangeran Merville lakukan, tentang rencana jahat mereka dan tentang keinginan tersembunyi Cadassi dan Pangeran Merville.


Ratu mendengarkan penjelasan Marin dengan baik, meski dalam hatinya ia begitu terkejut dengan apa yang Marin jelaskan padanya.