Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Menemui Nerissa



Flashback setelah Alvin pulang dari rumah Nerissa.


Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumahnya. Sepanjang perjalanan ia hanya memikirkan Nerissa, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Nerissa, terlebih saat ia melihat Nerissa dengan matanya yang berkaca-kaca, membuat Alvin semakin merasa bersalah pada Nerissa.


Sesampainya di rumah, Alvin segera masuk ke kamarnya lalu merebahkan badannya di ranjang.


Dia memikirkan ucapan Nerissa padanya.


kau baru saja mengatakan bahwa kau sudah berbohong padaku Alvin dan setelah kau jujur padaku kau akan menjauhiku? apa kau memang selalu seperti ini Alvin? datang dan pergi sesukamu


Alvin menghela nafasnya lalu mengacak-acak rambutnya dengan kasar, ia merasa menjadi laki-laki yang bodoh dan jahat.


"apa yang sebenarnya sudah aku lakukan pada Nerissa? benar, semua ini tidak adil untuknya, Daniel memang menyukainya, walaupun Daniel sahabatku bukan berarti aku juga tidak bisa berteman dengan Nerissa karena nerissa sendiri tidak memiliki perasaan apapun pada Daniel, jika memang suatu saat nanti Daniel bisa membuat Nerissa jatuh cinta padanya, maka saat itulah aku harus menjauh dari Nerissa!" ucap Alvin dalam hati


Alvin kemudian beranjak dari ranjangnya, menatap foto yang ada di atas mejanya. Foto dirinya dengan Daniel saat mereka berdua di Paris untuk menjadi perwakilan dari perusahaan tempat mereka bekerja.


"Maafkan aku Daniel, aku tidak berniat untuk merebut Nerissa darimu, aku hanya tidak ingin menjauhinya seperti dia yang tidak ingin menjauhiku, aku akan tetap menjaga persahabatan kita, aku hanya akan berteman dengan Nerissa sama seperti aku berteman denganmu, aku akan berusaha untuk tidak melibatkan perasaanku terlalu jauh karena aku tahu kau menyukainya, jika suatu saat nanti Nerissa menjatuhkan hatinya padamu, maka aku akan bersiap untuk menjauhinya," ucap Alvin sambil menatap foto dihadapannya.


Alvin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis kemudian masuk ke kamar mandi, mengguyur badannya di bawah shower.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Alvin keluar dari kamarnya untuk masuk ke ruang kerjanya.


Banyak hal yang harus Alvin lakukan untuk melancarkan rencananya menentang Ricky secara diam-diam.


Ia sudah lebih bisa fokus pada pekerjaannya setelah ia memantapkan hatinya tentang apa yang akan ia lakukan pada Nerissa.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Alvin kembali ke kamarnya, mengambil ponselnya yang ada di meja lalu menghubungi Nerissa.


Sudah beberapa kali Alvin menghubungi Nerissa tapi tidak pernah ada jawaban.


"dia pasti sangat marah padaku, aku yang sudah mengajaknya bertemu tetapi aku juga yang terlambat, aku sudah bersikap dingin padanya, berbohong padanya lalu aku berkata bahwa aku ingin menjauhinya, kenapa aku mengucapkan semua kata yang menyakitkan untuknya? kenapa aku membuatnya bersedih saat dia baru saja bangkit dari kesedihannya? kau memang benar-benar bodoh Alvin!" batin Alvin merutuki dirinya sendiri.


Alvin kemudian membaringkan badannya, memikirkan bagaimana caranya untuk meminta maaf pada Nerissa meski ia tahu kesalahannya mungkin sulit untuk Nerissa maafkan.


Setelah Alvin terpejam dan mengembara ke alam mimpinya, mimpi yang sama pun terulang kembali. Namun ia hanya melihat gadis dengan ekor merah muda itu hanya diam menatapnya dari jauh.


Tidak seperti sebelumnya, gadis dengan ekor merah muda yang biasa selalu menghampirinya kini hanya diam di tempatnya lalu perlahan pergi menjauh dari Alvin.


Alvin pun berniat untuk mengejarnya namun ia tidak bisa berenang, kakinya terasa sangat berat dan tiba-tiba.........


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Suara dering alarm membuat Alvin segera membuka matanya. Dengan degup jantungnya yang masih berdetak kencang, Alvin melihat ke arah jam dinding dan segera beranjak dari ranjangnya bersiap untuk segera berangkat ke kantor.


Alvin sengaja berangkat lebih pagi karena ia harus pergi ke toko bunga Marin untuk memesan bunga yang akan ia berikan pada Nerissa.


Flashback off.


Di kamar Nerissa.


Nerissa terdiam setelah membaca surat dari Alvin. Ada sebuah rasa bahagia yang tiba-tiba menyelinap dalam hatinya setelah ia membaca surat di tangannya.


"Alvin tidak akan menjauhiku? kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran? apa dia memikirkanku dari semalam?" batin Nerissa bertanya yang tanpa sadar membuatnya tersenyum kegirangan.


"Tidak....... aku tidak boleh memaafkannya dengan mudah, dia sudah membuatku sangat bersedih semalam, dia membuatku banyak mengeluarkan mutiara sampai mataku lelah!" ucap Nerissa sambil menggelengkan kepalanya.


Nerissa kemudian mengambil buket bunga anggrek putih dan tulip putih pemberian Alvin. Dia memeluknya dan membawanya berbaring di ranjangnya.


"Kenapa aku bisa sebahagia ini hanya karena membaca surat ini!" ucap Nerissa dengan senyum mengembang di wajahnya.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Marin membuka pintu kamar Nerissa setelah mengetuknya beberapa kali. Namun Marin hanya diam berdiri di depan pintu kamar Nerissa.


Iaa tersenyum senang melihat Nerissa yang tampak kembali ceria sambil memeluk buket bunga pemberian Alvin.


"Eheem!!"


Marin berdehem cukup keras, membuat Nerissa terkejut dan segera bangkit dari ranjangnya.


"Apa kau sebegitu bahagianya sampai tidak menyadari bahwa aku sudah lama berdiri disini?" tanya Marin dengan senyum mengejek.


"Aku....... aku sedang mengantuk, jadi aku tidak melihatmu disana," jawab Nerissa memberi alasan.


"Benarkah? apa kau ingin tidur sambil memeluk buket bunga pemberian Alvin?" tanya Marin yang membuat Nerissa sadar lalu segera menjauhkan buket bunga itu darinya.


"Tidak..... aku.... aku akan membuangnya!" ucap Nerissa sambil membawa pandangannya pada buket bunga di sampingnya. Dalam hatinya ia tidak ingin membuang buket bunga itu.


"Biar aku saja yang membuangnya!" ucap Marin lalu mengambil buket bunga di samping Nerissa.


Dengan cepat Nerissa merebut buket bunga itu dari tangan Marin dan menyembunyikannya di belakangnya.


"Kau tidak bisa membuang barang milikku seenaknya Marin, walaupun aku tidak menyukai buket bunga ini tetapi bunga ini sangat indah jadi aku akan menyimpannya!" ucap Nerissa kemudian menaruh buket bunga itu di mejanya.


"Hahaha...... ada apa denganmu Putri? apa kau tahu sikapmu ini sangat berlebihan?"


"Apa maksudmu? aku hanya menyukai bunga ini bukan berarti aku sudah memaafkan Alvin, dia sangat menyebalkan, dia sudah membuatku menangis jadi tidak akan mudah bagiku untuk memaafkannya!" ucap Nerissa.


"Apa yang sudah Alvin katakan sehingga membuatmu sangat bersedih Putri? aku tidak pernah melihatmu sesedih ini kecuali saat kau merindukan Ratu atau Raja!"


Nerissa terdiam mendengar pertanyaan Marin. Ia sendiri tidak mengerti kenapa rasanya sangat menyakitkan saat Alvin berkata jika Alvin akan menjauhinya.


Sesuatu dalam dadanya seperti terkoyak, meninggalkan rasa perih yang membuatnya tidak bisa menahan air matanya.


Ia sadar ia tidak bisa menyatukan logika dan hatinya saat itu. Saat logika memintanya untuk tidak terlalu jauh membawa perasaannya, tetapi hatinya seakan mendorongnya untuk semakin merasakan perasaan aneh yang ada dalam hatinya.


"Ayo keluar Putri, aku baru saja membeli banyak rumput laut kering untukmu!" ucap Marin membuyarkan lamunan Nerissa kemudian berjalan keluar dari kamar Nerissa.


Nerissa kembali membawa pandangannya ke arah buket bunga pemberian Alvin yang ada di meja, ia tersenyum tipis lalu keluar dari kamarnya mengikuti Marin.


Saat sedang bercanda dan tertawa bersama Marin di ruang tamu, tiba-tiba terdengar bel pintu rumah mereka berbunyi.


Marin dan Nerissapun saling pandang seolah saling bertanya tentang siapa yang bertamu malam hari seperti itu.


Nerissa berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Ia hanya berdiri diam di tempatnya saat melihat Alvin di depan pintu rumahnya.


"Apa aku bisa bicara denganmu?" tanya Alvin saat ia melihat Nerissa membuka pintu.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun.


Alvin dan Nerissa kemudian keluar dari rumah dan duduk di depan rumah


"Aku kesini karena ingin meminta maaf secara langsung padamu Nerissa, aku harap kau masih bisa memberiku kesempatan untuk meminta maaf padamu!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran Alvin?" balas Nerissa bertanya.


"Aku memikirkan semua ucapanmu semalam, aku tidak bisa melakukan apapun karena aku sangat merasa bersalah sudah menyakiti perasaanmu," jawab Alvin.


"Aku tidak tahu apa aku harus senang atau tidak, kau sangat mudah untuk merubah ucapanmu Alvin, kau mengucapkan dan melakukan apapun sesukamu!" ucap Nerissa.


"Tidak Nerissa, aku tidak seperti itu, aku hanya belum benar-benar mengerti situasi saat itu, aku hanya memikirkan persahabatanku dengan Daniel tanpa memikirkan hal lainnya, aku tahu aku salah dan sekarang aku minta maaf, aku menyesalinya."


Nerissa hanya diam menundukkan kepalanya, meski ia sudah memaafkan Alvin ia tidak akan mengatakan hal itu dengan mudah, ia masih kesal karena Alvin sudah membuatnya sangat bersedih.


Tiba-tiba Alvin meraih tangan Nerissa dan menggenggamnya, membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Alvin.


"Maafkan aku, tolong beri aku kesempatan untuk membuatmu kembali percaya padaku, aku akan menjadi teman yang baik untukmu, aku tidak akan membiarkanmu bersedih karena alasan apapun," ucap Alvin dengan menatap kedua mata Nerissa.


"Apa kau tidak akan berubah pikiran lagi suatu hari nanti?" tanya Nerissa.


"Tidak Nerissa, aku sudah memikirkan baik-baik apa yang harus aku lakukan, selama kau dan Daniel belum memiliki hubungan apapun kita masih bisa berteman seperti ini!" jawab Alvin meyakinkan.


Nerissa hanya terdiam mendengar ucapan Alvin, tiba-tiba terdengar pintu rumah yang terbuka membuat Alvin segera melepaskan tangan Nerissa dari genggamannya, begitu juga Nerissa yang segera menarik tangannya dari genggaman Alvin.


Mereka berdua tampak salah tingkah karena Marin yang tiba-tiba membuka pintu.


"Maaf aku tidak tahu kalau kau di sini Alvin, apa kalian tidak ingin masuk?" ucap Marin sekaligus bertanya pada Alvin dan Nerissa.


"Terima kasih Marin, aku hanya ingin bertemu dengan Nerissa sebentar!" jawab Alvin.


"Baiklah," balas Marin kemudian kembali menutup pintu.


Alvin dan Nerissa masih terdiam satu sama lain karena merasa canggung untuk beberapa saat.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku Nerissa?" tanya Alvin pada Nerissa.


Nerissa menaikkan kedua bahunya tanpa mengucapkan apapun. Alvin menghela nafasnya, ia memikirkan bagaimana caranya agar Nerissa tidak bersikap dingin padanya.


"Ada sesuatu yang ingin aku lakukan denganmu Nerissa, jika kau ada waktu aku ingin mengajakmu berenang!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Aku tidak bisa berenang," balas Nerissa.


"Justru karena itu, aku yang akan mengajarimu berenang," ucap Alvin.


"Tidak perlu, terima kasih!" balas Nerissa dingin.


"Apa kau tahu di dekat perbatasan kota ada pelabuhan yang bisa membawa kita ke pulau tidak berpenghuni? jika kita pergi ke pulau itu kita bisa berenang atau melakukan snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut yang ada disana, ada banyak ikan, terumbu karang dan hewan laut lainnya disana, apa kau tidak ingin melihatnya?"


Nerissa segera membawa pandangannya pada Alvin. Apa yang Alvin ucapkan berhasil menarik perhatian Nerissa.


"Keindahan bawah laut?"


"Iya, pantai di sana sangat jernih dan tidak terlalu dalam, ombaknya juga tidak sebesar di pantai Pasha, banyak wisatawan yang ke sana memang untuk menikmati keindahan dalam laut," jawab Alvin menjelaskan.


"Apa aku akan bisa berenang jika aku belajar berenang?"


"Tentu saja bisa, jika kau sering berlatih kau pasti akan bisa berenang, aku akan selalu menyempatkan waktu untuk mengajarimu berenang!"


"bukan itu maksudku Alvin tapi..... bagaimana dengan dongeng itu? apa aku bisa berenang dengan kedua kakiku? apa aku akan baik-baik saja? aku tidak ingin kejadian buruk itu terulang lagi, rasanya sangat menakutkan dan menyakitkan!" batin Nerissa sambil menutup kedua matanya, mengingat rasa sakit dan takut yang ia rasakan saat tubuhnya membeku.


"Jangan takut Nerissa, selama ada aku disampingmu tidak akan ada hal buruk yang terjadi padamu, aku berjanji!" ucap Alvin sambil menggenggam tangan Nerissa.


Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Alvin. Ia menarik tangannya dari genggaman Alvin, berusaha untuk tetap bisa mengendalikan debaran dalam hatinya saat itu.


"bagaimana bisa aku tidak menyukaimu Alvin, sikapmu yang seperti ini membuatku semakin menyukaimu!" batin Nerissa dalam hati.


"Pikirkan dulu dan tanyakan pendapat Marin, aku tidak akan memaksamu Nerissa!" ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.


"Hmmm..... apa yang harus aku lakukan sekarang? gadis cantik ini belum juga memaafkanku!" ucap Alvin dengan suara pelan namun bisa didengar Nerissa dengan cukup jelas.


Nerissa berusaha untuk menahan senyumnya meski sebenarnya ucapan Alvin membuatnya tersipu saat itu.


"Apa kau mau aku membawakan bintang-bintang itu untukmu?" tanya Alvin sambil menunjuk hamparan bintang di atas langit.


"Apa kau bisa membawanya padaku?" balas Nerissa bertanya.


"Kalau aku bisa membawanya padamu, apa kau akan memaafkanku?" tanya Alvin.


"Mmmm..... aku akan memikirkannya," jawab Nerissa.


"Itu artinya kau belum tentu memaafkanku jika aku sudah membawakan bintang-bintang itu untukmu?"


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Alvin, membuat Alvin semakin merasa frustasi.


Sedangkan Nerissa hanya bisa menahan senyumnya melihat Alvin yang merasa frustasi karena sikap dinginnya.


"Baiklah, aku akan membawakan bintang-bintang itu untukmu, kau tunggu saja dan siapkan dirimu untuk melihat keindahan bintang-bintang itu setiap malam!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Terserah kau saja, aku tidak akan terlalu berharap!" balas Nerissa.


"Aku yang akan sangat berharap agar kau bisa memaafkanku setelah aku bisa membawakan bintang-bintang itu untukmu!" ucap Alvin dengan memberikan senyumnya pada Nerissa.


Nerissa segera mengalihkan pandangannya dari Alvin, ia tidak ingin senyum laki-laki tampan di hadapannya itu meluluhkan hatinya dengan mudah, meski sebenarnya hatinyapun sudah luluh sejak ia membaca surat pemberian Alvin.