
Nerissa, Daniel, Alvin dan Amanda sudah berada di tempat duduk mereka. Mereka sedang menikmati makan malam mereka meski masing-masing dari mereka tidak benar-benar menikmatinya, terutama Alvin dan Amanda.
"Nerissa, apa kau sudah bertemu mama dan papa Daniel?" tanya Amanda pada Nerissa.
Nerissa membawa pandangannya pada Daniel sebelum menjawab pertanyaan Amanda.
"Belum," jawab Nerissa singkat.
"Kenapa? bukankah Daniel bilang hubungan kalian cukup serius, seharusnya......"
"Aku dan Nerissa baru meresmikan hubungan kita berdua, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan kapan aku akan membawa Nerissa bertemu dengan kedua orang tuaku," ucap Daniel memotong ucapan Amanda.
"Saat kau sudah memiliki hubungan yang serius, seharusnya kau menjaga pandanganmu pada laki-laki lain Nerissa, dengan matamu yang cantik itu kau bisa dengan mudah menggoda siapapun yang kau lihat," ucap Amanda pada Nerissa.
"Terima kasih atas pujianmu Amanda, mungkin memang mata cantik ini yang membuat Daniel mencintaiku," balas Nerissa dengan tersenyum sambil membawa pandangannya pada Daniel.
"Kau benar, tidak hanya karena mata cantikmu tapi juga karena sikap dan hatimu yang baik, aku yakin siapapun laki-laki yang dekat denganmu pasti akan menyukaimu," balas Daniel dengan tersenyum dan menatap kedua mata Nerissa.
"Waaahhh...... apa itu artinya kau sangat pandai menggoda?" sahut Amanda bertanya.
"Dengan mataku ini tentu saja aku akan melihat semua yang aku inginkan, jika laki-laki itu tergoda dengan mata cantikku itu bukan salahku, bisa jadi dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat mata cantikku," balas Nerissa penuh senyum.
"Hahaha..... kau pandai sekali berbicara Nerissa, aku pikir kau gadis yang pendiam," ucap Amanda.
"Kita baru bertemu beberapa kali Amanda dan aku rasa kita tidak cukup dekat untuk bisa menilai satu sama lain," balas Nerissa.
"Kau benar, kita memang baru beberapa kali bertemu tetapi aku sudah banyak bercerita padamu tentang masa laluku, apa kau ingat tentang laki-laki yang pernah aku ceritakan padamu?"
"Tentu saja aku ingat, laki-laki kaya raya yang kau pilih dan laki-laki biasa yang kau tinggalkan bukan?" balas Nerissa yang membuat Amanda tersenyum kecut mendengarnya.
"Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan Nerissa dan aku sudah pernah melakukan kesalahanku karena itu aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi aku akan selalu ada di samping Alvin dan menjaganya dengan baik, aku tidak akan membiarkan seseorangpun merebutnya dariku," ucap Amanda dengan meraih tangan Alvin dan menggenggamnya.
"Sudah Amanda, jangan membahas hal yang sudah lama berlalu," ucap Alvin lalu melepaskan tangannya dari genggaman Amanda untuk meraih gelas yang ada di hadapannya dan menyeruput minumannya.
"Aku setuju denganmu Amanda, semua orang memang pernah melakukan kesalahan, kesalahan yang pada akhirnya memberinya penyesalan terbesar dalam hidupnya, kita hanya perlu menunggu saja kapan seseorang itu akan sadar pada pilihan salah yang sudah ia putuskan tanpa logika," ucap Daniel sambil menatap tajam ke arah Alvin.
Alvin hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia bisa memahami maksud ucapan Daniel yang ditujukan padanya.
Dalam hatinyapun ia ragu akan apa yang sudah ia putuskan, terlebih saat melihat sikap Amanda yang terkesan egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Aku sudah memesan sepeda baru untukmu Nerissa, kau bisa memakainya untuk mengantar buket bunga setiap hari!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Terima kasih Daniel, tapi kenapa kau membeli sepeda baru untukku? bukankah aku masih punya sepeda yang lama?"
"Anggap saja sepeda lamamu itu sebagai masa lalu yang harus kau buang jauh-jauh," jawab Daniel sambil membawa pandangannya pada Alvin.
Nerissa hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
Makan malampun selesai, Nerissa, Daniel Alvin dan Amanda meninggalkan restoran itu.
Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah rumah Amanda untuk mengantar Amanda pulang.
"Aku tidak ingin pulang," ucap Amanda pada Alvin
"Ini sudah malam Amanda, aku harus mengantarmu pulang," balas Alvin.
"Aku ingin bermalam di rumahmu!" ucap Amanda.
"Tidak, kau tidak bisa bermalam di rumahku!" balas Alvin dengan cepat menolak Amanda.
"Kenapa? bukankah aku dulu juga sering bermalam di rumahmu?"
"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan Amanda, bisa jadi aku tidak akan tidur sampai lewat tengah malam," ucap Alvin memberi alasan.
"Bukankah kau bilang kau akan menyelesaikannya lain kali?"
"Maksudku lain kali adalah setelah aku pulang dari makan malam," jawab Alvin.
"Kalau kau sangat sibuk kenapa kau mengikuti ajakan Daniel untuk makan malam Alvin?" tanya Amanda kesal.
"Sudahlah Amanda, jangan mempertanyakan hal yang tidak perlu kau tanyakan, aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu," ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Amanda.
"Aku hanya bertanya Alvin, bukan mengajakmu bertengkar, aku tidak akan seperti ini jika kau tidak berbohong padaku!"
"Apa maksudmu berbohong? aku tidak berbohong apapun padamu!"
"Aku tahu kau tidak sedang sibuk, aku tahu kau hanya mencari alasan untuk menghindariku, kau bahkan tanpa berpikir panjang menerima ajakan Daniel untuk makan malam dan sekarang saat aku ingin bermalam di rumahmu kau beralasan sibuk dengan pekerjaanmu!"
"Apalagi yang harus aku katakan padamu Amanda, kenapa kau tidak bisa mengerti keadaanku saat ini, aku adalah pegawai biasa di Atlanta Group, sudah pasti banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan agar aku bisa tetap bertahan disana, bukankah kau mengerti itu?" balas Alvin yang mulai kesal dengan sikap Amanda.
"Baiklah jika aku mengganggu waktumu, turunkan aku disini dan pergilah, selesaikan pekerjaanmu dan jangan menemuiku lagi!" ucap Amanda
"Kau sangat kekanak-kanakan Amanda," ucap Alvin yang masih melajukan mobilnya tanpa memperdulikan permintaan Amanda.
"Aku seperti ini karena aku tidak ingin kehilanganmu Alvin, aku seperti ini karena aku menyesal atas apa yang sudah aku lakukan padamu, aku seperti ini karena ingin menebus kesalahanku padamu, apa kau masih tidak mengerti?"
"Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu untuk tidak membahas masa lalu itu Amanda, aku sudah melupakannya dan aku tidak ingin mengingatnya lagi!"
"Jika kau memang sudah melupakannya seharusnya kau juga melupakanku," ucap Amanda yang semakin kesal.
Mendengar ucapan Amanda, Alvinpun menepikan mobilnya dan berhenti di tepi jalan.
Alvin membawa pandangannya pada Amanda, menatap Amanda dengan penuh tanda tanya.
"apa memang seharusnya aku melupakanmu? apa memang seharusnya aku tidak membawamu lagi dalam kehidupanku?" tanya Alvin dalam hati.
"Kenapa kau menghentikan mobilmu? apa kau benar-benar mau menurunkanku disini?" tanya Amanda panik.
"Kau tahu aku selalu berpikir panjang untuk melakukan semua hal dan aku tidak berpikir panjang untuk memaafkanmu dan menerimamu lagi dalam hidupku, jadi aku sangat mohon padamu jangan pernah membahas masa lalu itu lagi karena aku benar-benar sangat ingin melupakannya," ucap Alvin yang masih menatap tajam kedua mata Amanda.
Mendapat tatapan tajam dari Alvin, Amanda hanya diam dan mengalihkan pandangannya.
Alvin kemudian melanjutkan perjalanannya mengantar Amanda kembali pulang ke rumahnya
"Aku tidak akan turun jika kau masih marah padaku," ucap Amanda saat Alvin sudah menghentikan mobilnya di depan rumah Amanda.
"Aku hanya ingin kau mengerti kesibukanku Amanda, aku hanya ingin kau berhenti membahas masa lalu kita, apa itu sangat sulit untukmu?"
Alvinpun tersenyum sambil membelai rambut Amanda.
"Masuklah ke rumah dan beristirahatlah, jangan terlalu banyak berpikir sesuatu yang negatif karena itu pasti akan mempengaruhimu," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Amanda.
Amandapun keluar dari mobil Alvin, melambaikan tangannya pada Alvin yang sudah semakin jauh pergi dari rumahnya.
"Aku akan melakukan apapun yang kau mau Alvin, selama itu bisa membuatmu tetap berada disampingku," ucap Amanda lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
**
Di sisi lain Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.
"Tentang apa yang Amanda tanyakan tadi, apa kau serius ingin membawaku bertemu kedua orang tuamu?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Aku tidak akan memaksamu Nerissa, karena aku tahu hubungan kita sebatas berpura-pura, jadi aku tidak akan melibatkan kedua orang tuaku dalam kebohongan ini," jawab Daniel yang membuat Nerissa bernafas lega.
"Apa kau takut jika aku membawamu bertemu kedua orang tuaku?" lanjut Daniel bertanya.
"Seperti yang kau bilang, aku tidak ingin kedua orang tuamu terlibat dalam kebohongan kita, biarkan kita saja yang tahu dan menjalani kebohongan ini sampai aku tahu pilihan Alvin yang sebenarnya," jawab Nerissa.
"Lalu bagaimana hubungan kita setelah itu?" tanya Daniel yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Daniel.
Nerissa diam beberapa saat memperhatikan laki-laki yang sedang fokus mengemudi di sampingnya.
Laki-laki pertama yang ia kenal saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di daratan, laki-laki yang sangat baik padanya bahkan sebelum mereka saling mengenal. Laki-laki yang selalu percaya padanya dan tidak pernah meninggalkannya.
"jika boleh memilih tentu aku ingin jatuh cinta padamu Daniel, tidak ada alasan bagiku untuk tidak jatuh cinta padamu, tetapi hati ini sudah menjadi milik orang lain, aku tidak bisa memberikan tempat untukmu di hatiku saat masih ada Alvin yang menguasai hatiku saat ini," ucap Nerissa dalam hati.
"Tentu saja kita masih berteman baik, kau tidak akan meninggalkanku bukan?" ucap Nerissa sekaligus bertanya yang hanya dibalas gelengan kepala dan senyum oleh Daniel.
"Kau tahu aku menyukaimu Nerissa, tidak ada alasan untukku meninggalkanmu," ucap Daniel yang membuat mereka terdiam seketika.
"Kau..... masih menyukaiku?" tanya Nerissa terkejut karena ia pikir Daniel sudah melupakannya sejak Daniel tahu bahwa ia menyukai Alvin.
Daniel tersenyum tipis sambil mengusap rambut Nerissa dengan lembut.
"Jangan terlalu memikirkannya, aku tidak ingin apa yang aku rasakan ini menjadi beban untukmu," ucap Daniel tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
Sesampainya di depan rumah, Nerissapun keluar dari mobil diikuti oleh Daniel
"Daniel, aku minta maaf aku......"
"Nerissa, aku tahu kau menyukai Alvin, aku tahu kau sudah jatuh cinta padanya dan kaupun tahu aku pernah menyatakan perasaanku padamu, saat aku tahu kalau kau menyukai Alvin aku memang merelakanmu jika memang kau lebih bahagia bersama Alvin, tapi apa yang ada di hatiku ini tidak bisa berubah semudah itu Nerissa," ucap Daniel memotong ucapan Nerissa.
"Apa seharusnya kita tidak melakukan hal ini? aku hanya akan semakin melukaimu Daniel," ucap Nerissa sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak Nerissa, aku senang karena bisa membantumu, aku senang karena kita masih berteman dekat seperti ini, seiring dengan berjalannya waktu apa yang ada di hatiku ini akan memudar, aku akan bahagia ketika kau mendapatkan kebahagiaanmu Nerissa dan saat itu tiba bisa jadi akan ada perempuan lain di hatiku," ucap Daniel.
"Maafkan aku Daniel."
Daniel memegang dagu Nerissa, mengarahkan pandangan Nerissa padanya.
"Jangan meminta maaf Nerissa, kaupun tau apa yang aku rasakan saat ini bukan? kita tidak bisa memegang kendali atas hati kita sendiri, sama sepertimu yang tidak bisa berhenti mencintai Alvin, akupun begitu," ucap Daniel dengan menatap ke dalam mata Nerissa.
Nerissa kemudian membawa dirinya memeluk Daniel, laki laki di hadapannya itu benar benar membuatnya terdiam tak bisa berkata kata lagi.
Di sisi lain, Marin yang hendak menutup jendela rumahnya hanya bisa terdiam tanpa mengedipkan matanya saat melihat Nerissa memeluk Daniel.
Ia bahkan melihat dengan jelas saat Nerissa yang lebih dulu memeluk Daniel. Seketika Marin memegang dadanya yang terasa tersayat perih lalu menutup jendela dan masuk ke dalam kamarnya.
"tidak..... aku baik baik saja, aku tidak akan menangis hanya karena hal ini, Daniel bukan siapa siapa dan aku percaya pada mereka berdua," ucap Marin dalam hati sambil mendongakkan kepalanya menatap langit langit kamar, berusaha menahan air mata yang sudah terkumpul di sudut matanya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Marin berdering, sebuah panggilan dari Daniel.
"kenapa dia menghubungiku?" tanya Marin dalam hati, namun membiarkan ponselnya terus berdering.
Sampai panggilan Daniel yang kedua kali, Marin baru menerimanya.
"Halo, ada apa?"
"Apa kau sudah tidur?" balas Daniel bertanya.
"Iya, kau menggangguku," jawab Marin berbohong.
"Aku baru saja mengantar Nerissa pulang, aku masih di depan rumahmu sekarang, apa kau bisa keluar sebentar?"
"Untuk apa?"
"Keluarlah Marin, hanya sebentar saja," ucap Daniel tanpa menjawab pertanyaan Marin.
"Tidak, aku sangat mengantuk, kau pulanglah, ini sudah sangat malam!"
"Tapi....."
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Marin mengakhiri panggilan Daniel begitu saja lalu merebahkan badannya di ranjang dengan menatap nanar lampu kamar tidurnya yang ada di langit langit.
Tiba tiba ia mendengar sesuatu dari jendela kamarnya yang tertutup. Marinpun beranjak dari ranjangnya dan berjalan pelan ke arah jendela kamar sambil membawa kemoceng, bersiap jika ada seseorang yang mengintipnya di jendela.
Tanpa ragu Marin menyibakkan tirai jendelanya dan begitu terkejut saat melihat Daniel yang berdiri di depan jendela kamarnya.
"Buka!" ucap Daniel tanpa mengeluarkan suara namun cukup bisa dipahami dengan jelas oleh Marin.
Marinpun membuka jendela kamarnya dan dengan cepat Daniel melompat masuk ke dalam kamar Marin, membuat Marin begitu terkejut dan seketika memukul Daniel dengan kemoceng yang dibawanya.
"Apa yang kau lakukan? cepat keluar!" ucap Marin sambil memukul Daniel menggunakan kemoceng.
"Aku....."
Tooookkk tooookkk tooookkk
"Marin, kau sedang bersama siapa?" tanya Nerissa dari depan pintu kamar Marin, membuat Daniel dan Marin seketika terdiam dan saling menatap.