
Daniel dan Marin masih makan siang di sebuah kedai yang tidak jauh dari rumah Marin, Daniel terdiam beberapa saat mendengar ucapan Marin tentang sikap sang mama pada Marin.
Meski Marin mengucapkannya dengan tersenyum, namun Daniel bisa melihat raut kesedihan pada wajah Marin.
Setelah selesai makan siang Daniel dan Marinpun kembali ke mobil. Namun Daniel tidak segera menyalakan mesin mobilnya, ia membawa pandangannya pada Marin yang duduk di sebelahnya. Daniel hanya diam menatap gadis itu dari samping.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? ayo pulang, Putri pasti sudah menungguku!" ucap Marin pada Daniel yang hanya diam menatapnya.
"Apa tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku Marin? aku sudah banyak bercerita padamu, jadi sekarang giliranku untuk mendengarkan ceritamu!" balas Daniel.
Marin hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun.
"Baiklah, jika kau butuh seseorang untuk mendengar ceritamu hubungi aku, aku akan datang padamu," ucap Daniel kemudian menyalakan mesin mobilnya lalu mengendarainya ke arah rumah Marin.
"Jika sikap mama padamu membuatmu nyaman, kau bisa sering ke rumah untuk menemui mama, mama pasti akan sangat senang," ucap Daniel saat ia sudah menghentikan mobilnya di depan rumah Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum kemudian keluar dari mobil Daniel.
"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Marin pada Daniel.
Setelah Daniel menjauh pergi, Marin pun masuk ke dalam rumah.
"Apa kau pulang bersama Daniel?" tanya Nerissa yang baru saja mengintip dari jendela.
"Aaahhh iya, kebetulan Daniel sedang pulang saat jam makan siang," jawab Marin.
"Waaah.... sepertinya kalian semakin dekat, mamanya juga terlihat menyukaimu," ucap Nerissa pada Marin.
"Kau selalu saja mengatakan hal itu Putri, padahal kau tahu sendiri Daniel menyukaimu!"
"Bisa jadi dia sudah tidak menyukaiku sekarang, bagaimana menurutmu?"
"Entahlah Putri, aku ingin beristirahat dulu di kamar," balas Marin tak bersemangat kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Nerissa yang melihat Marin tampak sendu segera berjalan mengikuti Marin.
"Apa kau baik-baik saja Marin?" tanya Nerissa pada Marin yang sudah membaringkan badannya di ranjang.
"Aku baik-baik saja Putri, hanya sedikit lelah, tolong tinggalkan aku sendiri," jawab Marin yang terbaring di ranjang sambil membelakangi Nerissa.
"Baiklah, aku akan keluar," ucap Nerissa sambil membawa langkahnya keluar dari kamar Marin dan menutup pintu kamar Marin.
Setelah memastikan Nerissa keluar dari kamarnya, Marin menutup wajahnya dengan bantal. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat berusaha menahan air mata yang ingin keluar dari kedua sudut matanya.
Entah kenapa ia tiba-tiba mengingat sang ibu yang seolah telah terhapus dari memorinya. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana wajah ibunya, bagaimana rasanya mendapat pelukan dari seorang ibu dan bagaimana rasanya tumbuh dewasa bersama kasih sayang dan perhatian seorang ibu.
Selama ini yang Marin tahu hanyalah ibunya meninggal saat ia masih sangat kecil, karena sang ayah sangat sedih ketika menceritakan tentang hal itu, Marinpun tidak pernah menanyakan tentang sang ibu lagi pada ayahnya karena ia tidak ingin membuat orang tua satu-satunya itu bersedih.
Bagi Marin yang paling berharga dalam hidupnya adalah sang ayah yang sudah memberinya banyak pengetahuan baru dalam hidupnya.
Meski kini ia tahu bahwa sang ayah bukanlah mermaid yang baik, tetapi rasa kecewa dalam dirinya tidak bisa menghilangkan rasa sayang dan cintanya pada sang ayah yang sudah merawatnya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.
Di sisi lain Nerissa segera menghubungi Daniel untuk menanyakan pada Daniel tentang sikap Marin yang tiba-tiba menjadi murung.
"Halo Daniel, apa kau baru saja mengantar Marin pulang?" tanya Nerissa saat Daniel sudah menerima panggilannya.
"Iya, kenapa?" balas Daniel.
"Apa terjadi sesuatu padanya? kenapa dia terlihat murung? bukankah dia baru saja pulang dari rumahmu?"
Daniel diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Nerissa. Ia memikirkan apa yang membuat Marin tiba-tiba menjadi murung. Daniel pun teringat ucapan Marin saat mereka masih berada di kedai.
aku tidak menganggap mamamu bersikap berlebihan padaku, lagi pula aku merasa nyaman dekat dengan mamamu, membuatku bisa merasakan kedekatan seorang anak dengan ibunya
"Halo Daniel, kau tidak membuatnya bersedih bukan?" tanya Nerissa yang tidak mendengar suara Daniel sama sekali.
"Sepertinya aku tahu apa yang membuatnya bersedih," jawab Daniel.
"Apa?" tanya Nerissa.
"Sebelum dia menjadi murung, dia mengatakan padaku bahwa dia bisa merasakan kedekatan antara anak dan ibu saat dia sedang bersama mama, sepertinya setelah dia mengatakan hal itu dia menjadi tiba-tiba murung," ucap Daniel menjelaskan.
"Aaahh....... aku mengerti sekarang, baiklah Daniel terima kasih sudah memberitahuku hal ini," ucap Nerissa kemudian mengakhiri panggilannya.
Nerissa kemudian mengetuk pintu kamar Marin beberapa kali namun tidak ada jawaban.
"Marin jika kau tidak membukanya aku akan memaksa masuk!" ucap Nerissa dari depan pintu kamar Marin.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Aku ingin beristirahat Putri, jangan menggangguku!" ucap Marin kemudian kembali membaringkan badannya di ranjang.
Namun Nerissa tidak peduli dengan ucapan Marin, ia tetap masuk ke dalam kamar Marin dan duduk di tepi ranjang.
"Apa kau merindukan ibumu?" tanya Nerissa pada Marin.
Marin kemudian beranjak dan duduk di samping Nerissa.
"Bagaimana aku bisa merindukannya Putri, aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya, aku tidak pernah merasakan sentuhannya apalagi perhatian dan kasih sayangnya, ibu terlalu cepat pergi sebelum aku bisa merasakan kehadiran seorang ibu," jawab Marin dengan raut wajah yang sedih.
Nerissa kemudian memeluk Marin, ia merasa sedih melihat sahabatnya yang biasa ceria kini tampak seperti bunga yang sedang layu.
Nerissa kemudian memegang kening Marin berniat untuk masuk ke dalam memori Marin.
Tak butuh waktu lama bagi Nerissa untuk bisa memasuki memori Marin. Seperti yang sebelumnya terjadi, ia dihadapkan pada banyak pintu dengan warna yang berbeda-beda.
"Aku yakin pasti ada memori tentang ibunya, walaupun sekecil apapun itu aku yakin memori itu pasti ada," ucap Nerissa sambil berjalan mengelilingi banyak pintu di sekitarnya.
"Memori masa kecil itu terletak pada pintu yang sangat jauh Nerissa, teruslah berjalan sampai ke ujung pintu memori, tetapi jika kau tidak mendapatkannya disana bisa jadi memori itu telah terhapus, entah ada yang sengaja menghapusnya atau tanpa sadar dia sendiri yang membuat memori itu terhapus," ucap suara misterius.
Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian berjalan sampai beberapa lama untuk mencari memori masa kecil Marin.
Hingga akhirnya Nerissa menemukan pintu memori pertama Marin. Tanpa ragu Nerissapun membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya, namun yang ia lihat hanya kebersamaan Marin bersama Cadassi dan juga Chubasca.
Sama sekali tidak ada memori tentang ibunya disana, Nerissapun keluar dari pintu memori itu dan masuk ke beberapa pintu memori lainnya namun ia masih belum menemukan memori tentang ibu Marin.
"Kau bisa berjalan ke sisi lain dari memori Marin, disana kau akan menemukan pintu besar yang berisi banyak memori yang sudah terhapus, tetapi kau harus sangat berhati-hati disana, karena jika sampai satu saja memori lolos dari pintu itu, maka akan mempengaruhi semua memori yang Marin simpan!"
Nerissa menganggukan kepalanya mengerti, kemudian berjalan untuk mencari pintu yang berisi memori yang sudah terhapus.
Nerissa kemudian menemukan pintu besar yang ia yakini berisi memori Marin yang terhapus, dengan sangat pelan dan hati-hati Nerissa membukanya kemudian masuk dan segera menutup pintu itu.
Tidak seperti pintu-pintu yang lain, di dalam pintu itu terdapat seperti gelembung-gelembung besar yang berisi banyak memori Marin yang sudah dihapus.
Nerissa berjalan di antara banyak gelembung memori itu untuk mencari memori masa kecil Marin.
Setelah beberapa lama mencari akhirnya Nerissa menemukan sebuah gelembung besar yang di dalamnya terdapat memori Marin saat Marin sedang digendong dan ditimang oleh ibunya, Nerissapun mengambil gelembung memori itu dan berniat untuk membawanya keluar.
Nerissapun berhasil mengeluarkan gelembung memori masa kecil Marin bersama ibunya, Nerissa kemudian memasukkan gelembung memori itu ke dalam pintu memori Marin bersama ayah dan kakaknya, namun saat Nerissa baru saja meletakkan gelembung memori itu ke dalam pintu yang baru, tiba-tiba Nerissa jatuh tersungkur seolah kehilangan seluruh tenaganya secara tiba-tiba.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk memakai mahkotamu Nerissa, tetapi kau sekarang memasuki memori Marin dan melakukan banyak hal tanpa menggunakan mahkotamu, kau pasti tahu akibat yang akan terjadi bukan?" ucap suara misterius itu pada Nerissa.
Nerissa menganggukkan kepalanya pelan dengan kesadaran yang sudah mulai menipis.
Tak butuh waktu lama tubuh Nerissapun seakan tersentak, memaksa jiwanya untuk keluar dari memori Marin dan seketika itu juga Nerissa yang duduk di hadapan Marin menjatuhkan dirinya dalam pelukan Marin.
"Putri apa yang terjadi padamu?" tanya Marin yang terkejut karena Nerissa tidak sadarkan diri dengan posisi memeluknya.
Nerissa hanya terpejam dengan darah yang keluar dari hidungnya karena ia sudah lalai memasuki memori Marin tanpa menggunakan mahkota.
"Putri bangunlah, jangan membuatku khawatir," ucap Marin sambil menggoyangkan tubuh Nerissa.
Marin kemudian membaringkan Nerissa di ranjangnya lalu segera menghubungi Alvin.
"Maaf Alvin, aku tidak punya pilihan lain selain menghubungimu aku sangat mengkhawatirkan Putri, tolong cepatlah kemari!" ucap Marin panik.
"Ada apa Marin? katakan pelan-pelan agar aku mengerti!"
"Putri tiba-tiba pingsan dan hidungnya berdarah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, tolong bantu aku Alvin!"
"Tunggu aku, aku akan segera kesana sekarang juga!" balas Alvin lalu mengakhiri panggilan Marin dan segera beranjak dari duduknya.
Tanpa Alvin tau, Daniel yang saat itu akan menghampiri Alvin berteriak memanggil Alvin yang baru saja masuk ke dalam lift.
"Ada apa dengannya? kenapa dia seperti terburu-buru?" tanya Daniel pada dirinya sendiri kemudian kembali masuk ke dalam ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan Alvin segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Marin.
Sesampainya di rumah Marin, Alvin segara masuk dan mendapati Nerissa yang terbaring di ranjang dengan mata terpejam dan wajahnya yang sangat pucat.
Tanpa banyak bertanya, Alvin segera menggendong Nerissa, membawanya masuk ke dalam mobil diikuti oleh Marin.
"Putri pasti baik-baik saja bukan? tolong katakan padaku bahwa Putri pasti baik-baik saja Alvin!" ucap Marin dengan suara bergetar mengkhawatirkan Nerissa.
"Tenanglah Marin, Nerissa pasti baik-baik saja," balas Alvin berusaha membuat Marin tenang meski dirinya sendiri tengah panik saat itu.
Sesampainya di rumah sakit, Nerissa segera dilarikan ke ruangan UGD untuk mendapatkan penanganan dari dokter.
Setelah beberapa lama menunggu, Dokterpun menjelaskan pada Marin dan Alvin bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi pada Nerissa. Dokter menjelaskan bahwa Nerissa pingsan karena kelelahan dan tekanan darahnya yang menurun secara tiba-tiba.
Setelah Nerissa dipindahkan ke ruangan lain, Alvin dan Marinpun masuk untuk menemani Nerissa yang masih terbaring di ranjang dengan mata terpejam.
"Terima kasih sudah membantuku Alvin, kau kembalilah ke kantor, maaf karena sudah merepotkanmu," ucap Marin pada Alvin.
"Hubungi aku jika dia sudah sadar, aku akan kembali kesini setelah pulang dari kantor," ucap Marin yang dibalas anggukan kepala Marin.
Dengan berat hati Alvin membawa langkahnya keluar dari ruangan Nerissa karena ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Sesampainya di kantor, Alvin segera kembali masuk ke ruangannya disusul Daniel yang ikut masuk untuk menemuinya.
"Aku melihatmu berlari ke lift tadi, ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Daniel pada Alvin.
"Apa Marin tidak menghubungimu?" balas Alvin bertanya yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Daniel.
"Marin memberitahuku bahwa Nerissa pingsan, jadi aku segera mengantarnya ke rumah sakit," ucap Alvin yang membuat Daniel terkejut.
"Pingsan? kenapa bisa? apa yang terjadi dengannya? bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Daniel khawatir.
"Aku tidak tahu pasti apa yang membuatnya pingsan, tetapi dokter menjelaskan jika tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan karena kemungkinan dia pingsan adalah tekanan darahnya yang tiba-tiba menurun dan dia akan segera sadar setelah mendapat penanganan dari dokter," jawab Alvin menjelaskan.
"Apa kau akan menemuinya sepulang dari kantor?" tanya Daniel pada Alvin.
"Jika kau tidak keberatan," jawab Alvin setelah menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku tidak berhak melarangmu untuk menemuinya, lagi pula kita semua berteman," balas Daniel kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, agar bisa pulang lebih cepat!" ucap Daniel kemudian keluar dari ruangan Alvin.
**
Di rumah sakit, Marin masih duduk di samping ranjang. Ia hanya terdiam menunggu Nerissa membuka matanya.
Tak lama kemudian Marin melihat Nerissa yang mulai mengerjap dengan pelan. Nerissa kemudian membuka matanya dan melihat Marin yang duduk di samping ranjangnya.
"Akhirnya kau bangun Putri, kau membuatku sangat khawatir," ucap Marin sambil menggenggam tangan Nerissa.
"Aku dimana Marin?" tanya Nerissa sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Kau di rumah sakit Putri, kau tiba-tiba pingsan, karena aku sangat panik aku menghubungi Alvin dan dia membawamu ke rumah sakit," jawab Marin.
Nerissa diam beberapa saat mengingat kejadian sebelum ia pingsan.
"aaaahhh iya, aku lupa mengenakan mahkotaku saat memasuki memori Marin, aku melakukan banyak hal disana yang membuatku kehilangan tenagaku," ucap Nerissa dalam hati.
"Apa aku boleh pulang sekarang Marin?" tanya Nerissa pada Marin.
"Alvin akan mengantar kita pulang setelah dia pulang dari kantor, jadi kita harus menunggunya," jawab Marin.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun, dalam hatinya ia berharap apa yang ia lakukan dalam memori Marin membuat Marin bisa mengingat kebersamaannya bersama sang ibu.