Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Terluka



Seperti sayatan pisau tajam yang perlahan membelah hati yang tengah berbunga, Nerissa menahan luka dalam hatinya saat melihat Alvin berpelukan dengan Amanda.


Meski ia tau dua dunia mereka berbeda, namun Nerissa bisa merasakan indahnya cinta saat ia bersama Alvin.


Hanya dengan menatapnya saja Nerissa sudah jatuh hati dan semakin lama saling mengenal, hati Nerissa telah jatuh semakin dalam hingga tenggelam tak terkendali.


Namun untuk beberapa detik saja rasa cinta itu telah memberinya luka yang menyisakan perih dalam hatinya.


"Apa kalian saling mengenal?"


Satu pertanyaan dari Amanda yang dengan tegas Nerissa jawab "TIDAK".


Nerissa sengaja mengatakan hal itu karena ia tidak ingin mendengar Alvin yang mengatakannya. Hatinya pasti akan lebih sakit dan perih saat mendengar Alvin tidak mengakuinya, meski sebatas saling mengenal.


Karena terlalu terbawa emosi Nerissa bahkan melupakan sepedanya yang masih ada di rumah Amanda.


Nerissa berjalan meninggalkan rumah Amanda dan segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat saat itu.


Meski sudah berusaha untuk tidak menangis, nyatanya berkali kali Nerissa menghapus air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.


Bagian lain dari dirinya menyadarkannya untuk tetap menjaga air matanya agar tidak menetes melewati pipinya, meski ia sangat ingin menuntaskan semua air matanya saat itu juga.


Ia merasa semakin sesak saat ia harus berusaha menahan gejolak panas dalam dadanya yang membuat kedua sudut matanya terus basah oleh air mata yang tidak boleh dibiarkan menetes.


Sepanjang perjalanan Nerissa hanya sibuk menghapus air matanya dengan terisak pilu. Ia merasa sangat bodoh karena telah menaruh harapan yang besar pada Alvin.


Tanpa Nerissa tau, saat Nerissa berlari pergi dari hadapan Alvin dan Amanda, Alvin berlari mengejar Nerissa, namun Nerissa sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi.


"Kenapa kau mengejarnya Alvin? apa kau mengenalnya?" tanya Amanda yang berlari mengikuti Alvin.


"Iya, aku mengenalnya, maaf Amanda aku harus pergi sekarang!" ucap Alvin sambil berjalan cepat ke arah mobilnya.


"Kemana? menemuinya?" tanya Amanda mengikuti Alvin.


"Iya," jawab Alvin singkat sambil membuka pintu mobilnya.


Namun tiba tiba Amanda menjatuhkan dirinya di samping mobil Alvin, membuat Alvin mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Ada apa Amanda? kau kenapa?" tanya Alvin sambil membantu Amanda kembali berdiri.


"Tiba tiba kepalaku pusing sekali Alvin," jawab Amanda sambil memegangi kepalanya.


"Aku akan membantumu masuk ke kamar, tapi setelah ini aku harus pergi," ucap Alvin sambil membantu Amanda berjalan, namun Amanda melepaskan tangan Alvin yang memegangnya.


"Pergilah Alvin, aku tidak akan menghalangimu menemuinya," ucap Amanda.


"Aku akan pergi setelah mengantarmu ke kamar," balas Alvin.


"Tidak perlu, aku baik baik saja, cepatlah pergi sebelum dia semakin jauh," ucap Amanda lalu berjalan meninggalkan Alvin begitu saja.


Baru saja beberapa langkah Amanda berjalan, ia kembali terjatuh dan tak sadarkan diri. Alvinpun segera menghampiri Amanda dan menggendong Amanda, membawa Amanda masuk ke dalam kamar.


Alvin membaringkan Amanda di ranjangnya lalu duduk di tepi ranjang sambil berusaha menyadarkan Amanda.


Setelah beberapa lama, Amanda pun mengerjapkan matanya dan melihat Alvin yang masih duduk di tepi ranjangnya.


"Kau masih disini?" tanya Amanda sambil berusaha beranjak duduk dengan dibantu oleh Alvin.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya sambil memberikan segelas minuman pada Amanda.


"Bagaimana keadaanmu? apa masih terasa pusing?" tanya Alvin.


"Sedikit, tapi ini lebih baik dari sebelumnya, apa kau tidak mengejar Nerissa?" jawab Amanda sekaligus bertanya.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun. Setelah berkecamuk dengan kebimbangan dalam kepalanya, pada akhirnya Alvin memilih untuk menemani Amanda meski ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


"Sepertinya aku datang di waktu yang tepat," ucap Amanda sambil menundukkan kepalanya.


"Apa maksudmu?" tanya Alvin.


"Tolong jawab dengan jujur Alvin, kau tidak mengharapakan kedatanganku dan kau sudah mempunyai hubungan dengan Nerissa bukan?"


"Apa yang kau bicarakan Amanda, aku senang karena kau ada disini, di hadapanku dan bersamaku, aku senang bisa melihatmu tersenyum, bisa memelukmu dan menghabiskan waktuku bersamamu," ucap Alvin sambil menggenggam tangan Amanda.


"Lalu bagaimana dengan Nerissa? sepertinya kalian cukup dekat, kau bahkan mengejarnya saat dia tiba tiba pergi!"


Alvin diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Amanda, ia sendiri tidak tau harus menjelaskan seperti apa hubungannya dengan Nerissa.


"Jika memang kedatanganku disini hanya mengganggumu dan Nerissa, lebih baik aku pergi Alvin!" ucap Amanda.


"Kau....."


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang bodoh lagi, aku hanya akan pergi, memulai hidupku yang baru tanpa siapapun yang mengenalku," ucap Amanda sambil beranjak dari ranjangnya dan mengambil kopernya.


Alvin yang melihat hal itu segera merebut koper milik Amanda.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku," ucap Alvin.


"Kenapa? bukankah kau sudah melupakanku? bukankah kau sudah memiliki Nerissa sekarang?"


"Aku pikir juga begitu Amanda, aku pikir aku sudah bisa melupakanmu, aku pikir aku sudah bisa menerima perempuan lain dalam hatiku, tapi ternyata tidak, kedatanganmu membuatku sadar bahwa aku masih memiliki perasaan yang sama padamu," ucap Alvin dengan memegang kedua bahu Amanda.


"Tapi bagaimana dengan Nerissa? aku tidak ingin dia membenciku karena hal ini!"


"Tidak akan ada yang membencimu Amanda, aku akan membicarakannya baik baik pada Nerissa," balas Alvin lalu membawa Amanda ke dalam pelukannya.


Dalam pelukan Alvin, Amanda hanya tersenyum tipis penuh kemenangan.


"Sebenernya seperti apa hubunganmu dengan Nerissa, Alvin?" tanya Amanda setelah mereka berdua sudah duduk di tepi ranjang.


"Dia perempuan yang baik, bahkan sangat baik, sejak kepergianmu aku tidak pernah dekat dengan perempuan lain selain Delia yang aku anggap adik, tapi ketika aku mengenal Nerissa aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya, mungkin itu yang membuatku salah paham pada perasaanku sendiri," jawab Alvin menjelaskan.


"Aku rasa dia menyukaimu Alvin," ucap Amanda.


"Dan aku lebih menyukaimu," balas Alvin dengan membawa pandangannya pada Amanda.


Amanda hanya tersenyum tersipu malu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Alvin.


"Aku tidak akan pergi lagi Alvin, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti dulu, aku akan selalu disini bersamamu, tidak peduli bagaimana masa depanku nanti, aku hanya ingin bersamamu," ucap Amanda sambil menggenggam tangan Alvin.


Alvin hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun, ia senang mendengar apa yang Amanda ucapkan padanya.


Namun entah kenapa, bayang bayang Nerissa yang bersedih melintas dalam kepalanya tiba tiba.


Dalam hatinya ia merasa bersalah karena sudah membersikan harapan yang palsu pada Nerissa.


Ia ingin mendapatkan Amanda kembali, namun di sisi lain ia merasa bersedih saat ia harus menjauh dari Nerissa.


**


Di tempat lain, Nerissa yang baru saja turun dari taksi segera berlari masuk ke dalam rumah dengan menangis.


Marin dan Daniel yang melihat hal itu segera berlari mengikuti Nerissa, namun Marin menahan Daniel agar tidak ikut menghampiri Nerissa.


"Kenapa aku tidak boleh masuk? aku ingin tau apa yang terjadi padanya Marin!"


"Aku akan memberi tahumu setelah Putri menceritakannya padaku, kau pergilah, sebentar lagi jam makan siangmu sudah habis!" balas Marin.


"Tapi....."


"Pergilah Daniel, Putri tidak akan mengucapkan apapun jika ada kau disini," ucap Marin sambil mendorong tubuh Daniel menjauh.


"Baiklah," balas Daniel pasrah lalu membiarkan Marin berjalan masuk dan meninggalkannya.


Saat Daniel berjalan ke arah mobilnya, ia melihat sebuah mutiara di dekat tanaman yang ada di halaman rumah Marin.


Danielpun mengambilnya, namun belum sempat Daniel memperhatikannya, Marin sudah datang dan merebut mutiara itu dari tangan Daniel


"Ini hanya aksesoris," ucap Marin lalu berjalan masuk sambil memungut beberapa mutiara yang jatuh di halaman rumahnya.


Dalam hatinya, Marin berharap tidak ada lagi mutiara yang Daniel temukan saat itu.


Marin kemudian masuk ke dalam rumah, setelah memastikan Daniel pergi dari rumahnya, Marin segera menghampirinya Nerissa di kamar.


Marin mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban.


"Putri, aku akan masuk!" ucap Marin lalu membuka pintu kamar Nerissa dan mendapati Nerissa yang tengah menangis di sudut kamar dengan puluhan butir mutiara yang sudah tercecer di sekitarnya.


Marinpun segera berlari menghampiri Nerissa.


"Ada apa Putri? apa yang terjadi padamu?" tanya Marin khawatir.


Nerissa hanya menangis terisak tanpa mengatakan apapun. Hatinya terlalu sakit untuk bisa menjelaskan semuanya pada Marin.


Melihat hal itu, Marin semakin mendekatkan dirinya pada Nerissa lalu membawa Nerissa ke dalam dekapannya.


"Tuntaskan semua kesedihanmu Putri, ceritakan semuanya padaku jika kau sudah siap untuk menceritakannya," ucap Marin sambil mengusap punggung Nerissa, berusaha menguatkan Nerissa meski ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nerissa.


Nerissapun menumpahkan tangisnya yang tertahan selama dalam perjalanan pulang, ia terisak dalam dekapan Marin, membiarkan butiran mutiara jatuh menggelinding di lantai.


Setelah sudah lebih tenang, Marin membawa Nerissa duduk di tepi ranjang.


"Ada apa Putri? apa yang terjadi padamu?" tanya Marin sambil membelai rambut Nerissa dengan lembut.


Meskipun Nerissa belum menjelaskan apapun padanya, Marin bisa melihat kesedihan yang terpancar dari raut wajah Nerissa.


"Aku ingin segera kembali ke Seabert Marin," ucap Nerissa dengan suara bergetar.


"Kita akan segera kembali ke Seabert setelah kita mendapatkan mutiara biru Ratu Nagisa, tapi kenapa kau tiba tiba berbicara seperti ini Putri? apa terjadi sesuatu?"


"Aku menyerah Marin, andai aku bisa, aku ingin menghapus semua memoriku tentang Alvin, aku sama sekali tidak ingin mengingatnya," jawab Nerissa dengan pandangan kosong dan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Apa yang dia lakukan padamu Putri?"


Nerissa menghela nafasnya panjang, lalu membawa pandangannya pada Marin.


"Ini bukan salah Alvin, aku yang bersalah atas semua ini, aku sendiri yang membiarkan hatiku lebih jauh menyukainya, walaupun aku tau dunia kita berbeda, aku tetap membiarkan hatiku mengharapkannya, bahkan aku berpikir jika dia juga merasakan hal yang sama sepertiku, tapi pada kenyataannya akulah yang terlalu berharap padanya," ucap Nerissa dengan tersenyum pilu.


"Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri Putri, jika kau sudah membawa Alvin dalam hatimu maka itu bukan kuasamu untuk menolak ataupun menerima, hatimu lah yang menentukannya," balas Marin.


"Rasanya sangat menyakitkan Marin, padahal aku tau rasa menyakitkan ini akan datang suatu hari nanti, tetapi aku tidak menyangka akan sesakit ini," ucap Nerissa.


"Seingatku kau pergi untuk mengantar buket bunga Amanda, apa ini ada hubungannya dengan Amanda?"


Nerissa kembali menundukkan kepalanya sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Apa Alvin mempunyai hubungan dengan Amanda?" tanya Marin yang kembali dibalas anggukan kepala Nerissa.


Marin menghela nafasnya lalu memeluk Nerissa.


"Tenangkan dirimu Putri, ayo kita lebih fokus lagi mencari mutiara biru Ratu Nagisa, setelah itu kita akan pergi dari daratan dan melupakan semua yang ada disini!" ucap Marin pada Nerissa.


Nerissa kemudian menceritakan pada Marin apa yang ia lihat saat ia mengantar buket bunga Amanda, ia bahkan meninggalkan sepedanya disana karena ingin segera pergi dari sana.


"Kenapa kau tidak mengaku saja jika kau mengenal Alvin, Putri?"


"Aku tidak ingin Alvin yang mengatakannya, kau ingat saat pertama kali kita bertemu Alvin di rumahnya bukan? aku tidak ingin hal itu terjadi lagi," jawab Nerissa.


"Lalu apa yang Alvin katakan? apa dia tidak menjelaskannya pada Amanda?"


"Aku tidak tau, aku segera pergi setelah mengatakan itu, Alvin juga tidak menahanku saat itu," jawab Nerissa.


"Sepertinya tidak mungkin Alvin sengaja menyakitimu Putri, dia....."


"Aku tidak akan merasakan sakit jika aku tidak berharap padanya Marin, aku tidak akan merasa sakit jika aku tidak menyukainya apa lagi mencintainya, semua ini memang salahku, aku tidak akan menyalahkan Alvin ataupun Amanda," ucap Nerissa memotong ucapan Marin.


"Bukan begitu maksudku Putri, lebih baik sekarang beristirahatlah, aku akan memasukkan Amanda ke black list customerku agar kau tidak perlu mengantar bunga kesana!"


"Jangan Marin, dia pelangganmu, aku akan baik baik saja setelah menenangkan diriku, jadi tolong jangan membuat masalah ini semakin melebar," ucap Nerissa.


Marin menghela nafasnya kemudian menggenggam tangan Nerissa.


"Kau memang sangat baik Putri, kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari Alvin, yang tentunya mencintaimu dengan tulus."


Nerissa menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Marin, ia sama sekali tidak terpikirkan laki laki lain selain Alvin, bahkan pangeran mermaid yang ia kenal pun tidak bisa merebut tempat Alvin di hatinya.


"Kembalilah ke toko bunga Marin, aku akan beristirahat dulu di kamar," ucap Nerissa pada Marin.


"Jika kau ingin aku aku disini, aku akan menutup toko bungaku sekarang Putri!"


"Tidak Marin, aku ingin sendirian sekarang," balas Nerissa.


"Baiklah, tenangkan dirimu dan jangan terlalu memikirkan Alvin, mungkin dalam beberapa hari dia akan kesini untuk menjelaskan semuanya padamu, aku harap apa yang kau lihat hanya kesalahpahaman saja," ucap Marin lalu beranjak dari ranjang Nerissa.


Marin membawa langkahnya keluar dari kamar Nerissa lalu berjalan ke arah toko bunganya.


"Alvin tidak mungkin sengaja menyakiti Putri bukan? dia yang selalu membela Putri selama ini, tapi apapun yang terjadi sebenarnya, memang tidak seharusnya Putri membawa perasaannya terlalu jauh di dunia manusia, begitu juga aku, aku harus bisa menjaga hatiku agar tidak tenggelam terlalu jauh dalam harapan yang aku ciptakan sendiri," ucap Marin dalam hati.