Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Hamparan Bintang dari Alvin



Nerissa masih berada di depan toko bunga Marin bersama Daniel. Pada awalnya ia tampak bersemangat saat Daniel berkata jika Daniel akan mengajaknya berlibur ke pantai.


Namun tiba-tiba raut wajah Nerissa berubah saat Daniel berkata jika Daniel akan segera memesan dua tiket untuk mereka berdua.


"Memesan 2 tiket?" tanya Nerissa memastikan.


"Iya, aku akan mengajakmu ke pantai yang berada di luar pulau Nerissa, disana terkenal dengan pantainya yang sangat indah, kita bisa berlibur disana selama dua atau tiga hari!" jawab Daniel menjelaskan.


"Apa hanya kita berdua yang pergi kesana?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Tentu saja hanya kita berdua Nerissa," jawab Daniel.


Nerissa diam beberapa saat, ia memikirkan bagaimana cara untuk menolak ajakan Daniel saat itu karena ia tidak mungkin pergi jauh dari Marin apalagi sampai beberapa hari.


"Kenapa nerissa? kau sangat menyukai pantai bukan?" tanya Daniel yang melihat Nerissa hanya diam.


"Iya Daniel aku memang sangat menyukai pantai tetapi untuk pergi berdua denganmu beberapa hari tanpa Marin rasanya tidak mungkin," ucap Nerissa.


"Kenapa? apa karena Marin tidak mengizinkanmu? jika iya biarkan aku sendiri yang meminta izin pada Marin!"


"Tidak Daniel bukan begitu, aku sendiri yang tidak ingin berada jauh dari Marin, maafkan aku sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu!" ucap Nerissa.


"Kita tidak akan lama Nerissa, hanya 2 atau 3 hari aku yakin kau akan menyukai pantai disana!" ucap Daniel berusaha membujuk Nerissa.


"Maafkan aku Daniel, kau bisa mengajak temanmu yang lain jika kau memang sangat ingin pergi kesana karena aku tidak bisa pergi tanpa Marin!" ucap Nerissa.


Daniel menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya, ada sedikit rasa kesal dalam dirinya mendengar ucapan Nerissa.


"Sebenarnya kenapa kau menolakku Nerissa? apa benar karena kau tidak memikirkan hal ini atau karena sudah ada seseorang dalam hatimu? jika iya katakan agar aku tidak terlalu berharap padamu!" ucap Daniel pada Nerissa.


"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu Daniel, aku juga sudah tidak memintamu untuk berharap lagi padaku karena aku tidak bisa berjanji apapun padamu!" balas Nerissa.


"Tapi kenapa kau semakin menjauh dariku Nerissa? aku hanya ingin mengajakmu berlibur tetapi kau menolakku lagi, apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku? apa yang harus aku lakukan agar bisa masuk ke dalam hatimu?"


"Aku tidak bisa memaksamu untuk menjauhi ku Daniel, begitu juga kau yang tidak bisa memaksaku untuk jatuh cinta padamu, maafkan aku tetapi itu adalah keputusanku, aku harap kau bisa mengerti dan menerima keputusanku!" ucap Nerissa kemudian berbalik hendak meninggalkan Daniel namun Daniel menarik tangan Nerissa, menahan Nerissa risa agar tetap bersamanya.


"Maafkan aku Nerissa, aku tidak bermaksud memaksamu, hanya saja aku merasa kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk berada dekat denganmu!" ucap Daniel pada Nerissa.


"Itu hanya perasaanmu saja Daniel," balas Nerissa.


"Kau tidak sedang menjauhiku bukan?" tanya Daniel memastikan.


"Tentu saja tidak, tidak ada alasan bagiku untuk menjauhimu Daniel, kau teman yang baik untukku, kau sudah banyak membantu aku dan Marin," jawab Nerissa.


Daniel menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan tangan Nerissa dari genggamannya.


"Kau harus pergi Daniel, kau harus kembali ke kantor!" ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


Nerissa kemudian masuk ke dalam toko bunga sedangkan Daniel segera meninggalkan toko bunga Marin dan kembali ke kantor.


Sesampainya di kantor Daniel segera berjalan masuk ke ruangan Alvin.


"Kenapa kau sudah kembali? bukankah kau masih memiliki waktu istirahat?" tanya Alvin pada Daniel.


"Aku baru saja menemui Nerissa setelah pulang dari meeting!" jawab Daniel.


"Apa kau sudah mengajaknya berlibur ke pantai?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


"Apa dia mengiyakannya?"


Daniel menggelengkan kepalanya pelan tak bersemangat.


"Aku sudah memberitahumu sebelumnya, dia memang tidak bisa jauh dari Marin jadi jika kau ingin mengajaknya berlibur sebaiknya kau juga mengajak Marin!" ucap Alvin pada Daniel.


"Jika aku mengajak Marin itu artinya aku tidak bisa berdua dengan Nerissa, kau tahu aku sengaja mengajak Nerissa berlibur berdua agar aku dan Nerissa bisa semakin dekat!"


"Tapi seperti yang sudah aku katakan padamu Daniel, Nerissa tidak akan pernah pergi jauh dari Marin apalagi sampai beberapa hari!" ucap Alvin.


"Kau benar, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang Alvin? sepertinya memang tidak ada tempat sama sekali untukku di hatinya!"


"Kau sudah menyukainya sejak pertama kau melihatnya, dia juga sudah mengenalmu sebagai laki-laki yang baik itu artinya masih ada kesempatan untuk mendekatinya Daniel!" ucap Alvin.


"Tetapi dia selalu mengatakan bahwa aku teman yang baik karena sudah membantunya, dia sama sekali tidak menganggapku lebih dari sekedar teman," balas Daniel.


"Semuanya butuh proses Daniel, kau tidak bisa membuatnya tiba-tiba mencintaimu!" ucap Alvin.


"Aaaarrrghhhhh..... aku jadi tidak bersemangat bekerja, apa aku boleh pulang sekarang?"


"Tentu saja tidak, kau harus segera membuat laporan tentang meeting yang baru saja kau datangi, kau harus segera menyelesaikannya hari ini juga karena aku harus segera memberikannya pada Ricky!" jawab Alvin yang membuat Daniel semakin kehilangan semangatnya.


"Aaahhhh...... kau memang atasan yang jahat!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Alvin.


Sedangkan Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Daniel.


"aku tidak akan menjauhi Nerissa hanya karena kau menyukainya Daniel, apapun keputusan Nerissa tentangmu itu adalah murni keputusannya sendiri tanpa campur tanganku tetapi aku akan menjauhi Nerissa jika Nerissa sudah memutuskan hatinya untuk menerimamu!" ucap Alvin dalam hati.


Alvin kemudian melanjutkan pekerjaannya, berkali-kali ia melihat jam di tangannya, ia sudah tidak sabar menunggu malam datang.


Ia ingin melihat reaksi Nerissa saat Nerissa menyadari bintang-bintang yang ada di kamarnya.


Ia berharap mereka akan menyukainya dan memaafkannya karena ia sudah menaruh banyak bintang di langit langit kamar Nerissa.


Meski itu hanya stiker yang berbentuk bintang tetapi stiker itu akan menyala dalam kegelapan, karena tidak mungkin baginya untuk membawa bintang sungguhan ke hadapan Nerissa.


Waktu berlalu, jam berputar tanpa henti dan Danielpun sudah menyelesaikan laporan yang harus ia buat, setelah Alvin mengeceknya ia segera memberikannya pada Ricky.


Setelah semua pekerjaannya selesai, Alvin pun membereskan barang-barangnya menyimpan semua file pekerjaannya lalu bersiap untuk meninggalkan ruangannya.


Begitu juga Daniel yang sudah bersiap untuk meninggalkan ruangannya. Daniel keluar dari kantor bukan untuk pulang melainkan menjemput sang mama yang berada di rumah neneknya saat itu.


Setelah kehilangan semangatnya karena tidak bisa mengajak Nerissa berlibur, Daniel kini menjadi bersemangat karena ia akan menyambut sang mama yang sudah lama pergi dari rumah.


**


Di tempat lain.


"Putri aku akan pergi membeli perlengkapan untuk membuat buket bunga, apa kau mau ikut denganku?" ucap Marin sekaligus bertanya pada Nerissa.


"Tidak, aku ingin di rumah saja," jawab Nerissa.


"Baiklah, aku pergi dulu dan ingat jangan membuka pintu sebelum kau melihat siapa yang yang datang bertamu!" ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


Marin kemudian keluar dari rumah dengan berjalan kaki. Marin sengaja berjalan dengan memainkan ponselnya untuk mengusir kejenuhan.


Tanpa ia sadar seseorang tengah mengintainya, berniat untuk mengambil ponsel yang Marin bawa saat itu.


Perlahan seseorang itupun mendekati Marin tanpa Marin sadari, hingga tiba-tiba seseorang itu merebut ponsel Marin dari tangan Marin.


Namun Marin tidak melepaskan ponselnya begitu saja, ia masih berusaha untuk mempertahankan ponselnya meski laki-laki itu terus saja menarik ponsel itu dari tangannya.


Marin pun segera berlari menjauh dari seseorang itu, namun ternyata seseorang itu masih mengejar Marin.


Di sisi lain Daniel yang saat itu sedang terjebak macet sengaja melewati jalan tikus agar ia bisa segera sampai di tempat sang ibu.


Jalan tikus yang ia lewati itu tampak sepi, namun ia melihat seorang perempuan yang dikenalnya tengah berlari dengan seorang laki-laki yang tampak tengah mengejarnya.


Daniel pun segera menepikan mobilnya ke arah Marin dan meminta Marin untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa banyak bertanya Marin segera membuka pintu mobil Daniel dan masuk ke dalam mobil Daniel.


Danielpun segera mengendarai mobilnya dengan laju untuk menjauh dari tempat itu.


"Apa yang terjadi padamu Marin? siapa laki-laki yang mengejarmu?" tanya Daniel pada Marin.


Marin hanya menggelengkan kepalanya sambil memegang dadanya yang masih berdegup kencang karena ketakutan.


Daniel kemudian menepikan mobilnya di minimarket untuk memberikan minuman dan memberikannya pada Marin.


"Minumlah dan tenangkan dirimu!" ucap Daniel pada Marin.


Marinpun meneguk minuman yang Daniel berikan sampai habis tak bersisa.


Setelah lebih tenang Marinpun menjelaskan pada Daniel apa yang baru saja terjadi padanya.


"Kau hebat sekali Marin, kau berani melawannya!" ucap Daniel sambil mengacungkan ibu jarinya pada Marin.


"Apa kita sudah aman sekarang?" tanya Marin pada Daniel sambil membawa pandangannya ke sekelilingnya, khawatir jika tiba-tiba seseorang yang merebut ponselnya kembali datang.


"Tenang saja, dia tidak akan mungkin berani melancarkan niat buruknya ditempat seperti ini!" jawab Daniel.


"Benarkah?"


"Tentu saja, jika dia berbuat buruk padamu di tempat ramai seperti ini itu artinya dia bersiap untuk mengantarkan dirinya ke penjara!" ucap Daniel meyakinkan.


Marin menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Daniel, setidaknya ia sudah lebih tenang saat itu.


"Lain kali jangan berjalan di tempat sepi sendirian Marin, kau tidak akan pernah tahu banyak manusia jahat yang yang melakukan kejahatan karena adanya kesempatan!" ucap Daniel pada Marin.


"Aku hanya ingin lebih cepat sampai di tempat tujuanku Daniel!" balas Daniel.


"Kemana kau akan pergi? aku akan mengantarmu!"


"Aku ingin pergi ke toko xx untuk membeli beberapa perlengkapan membuat buket bunga!" balas Marin.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana!" ucap Daniel kemudian mengendarai mobilnya ke toko yang dimaksud Marin.


Sesampainya di depan toko, Marin segera keluar dari mobil Daniel dan berterima kasih karena Daniel sudah membantunya.


"Jangan pulang dengan berjalan kaki Marin, pesanlah taksi agar lebih aman!" ucap Daniel pada Marin.


Marin menganggukkan kepalanya sambil menekan ponselnya namun ternyata ponselnya kehabisan daya baterai.


"Ponselku lowbatt, apa kau bisa membantuku memesan taksi?"


"Baiklah aku akan memesan taksi untukmu, kau masuk saja dan segera beli apa yang kau perlukan!" balas Daniel


Menit demi menitpun berlalu namun Daniel tidak juga mendapatkan taksi untuk Marin.


Sampai akhirnya Marinpun kembali dengan membawa 2 kantong belanja yang cukup besar.


"Kenapa kau masih di sini? apa kau belum mendapatkan taksi?" tanya Marin pada Daniel.


"Belum, aku juga tidak tahu kenapa susah sekali untuk mendapatkan taksi malam ini," jawab Daniel.


"Aku bisa pulang dengan berjalan kaki Daniel, terima kasih sudah membantuku!" ucap Marin kemudian berjalan pergi meninggalkan mobil Daniel.


Namun Daniel segera keluar dari mobilnya, ia berlari kecil mengejar Marin dan menahan tangannya.


"Aku akan mengantarmu pulang, tapi sebelum itu aku harus menjemput mama, apa kau tidak keberatan jika kau harus ikut menjemput mama?"


"Aku bisa pulang sendiri Daniel, kau harus segera menjemput mamamu, jangan biarkan mamamu menunggumu terlalu lama!" balas Marin.


"Apa kau tidak takut kejadian tadi terulang lagi?"


"Tidak, kau tahu aku bukan gadis yang lemah bukan?"


"Iya aku tahu, tapi aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan berjalan kaki, ayo ikut aku!" ucap Daniel sambil menarik tangan Marin dan mengajaknya kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Rumah nenekku tidak terlalu jauh dari sini, setelah menjemput mama aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu!" ucap Daniel sambil menyalakan mesin mobilnya.


Marinpun menganggukkan kepalanya pasrah.


**


Di tempat lain Nerissa sedang merebahkan badannya di ranjang. Saat melihat ke arah langit-langit kamarnya ia baru menyadari ada sesuatu yang berbeda disana.


"Bintang?"


Nerissa tersenyum tipis saat melihat banyak stiker bintang di langit-langit kamarnya. Ia pun teringat ucapan Alvin padanya.


baiklah aku akan membawakan bintang-bintang itu untukmu, kau tunggu saja dan siapkan dirimu untuk melihat keindahan bintang-bintang itu setiap malam!


"Ini hanya stiker bintang Alvin, bukan bintang sungguhan, lagi pula bintang-bintang itu tidak tampak bercahaya sangat berbeda dengan bintang yang ada di langit!" ucap Nerissa.


Nerissa kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Alvin.


"Kapan kau menyiapkan semua ini?" tanya Nerissa tanpa basa-basi setelah Alvin menerima panggilannya.


"Menyiapkan apa?" balas Alvin bertanya, berpura-pura tidak mengerti maksud dari pertanyaan Nerissa.


"Bintang-bintang di kamarku, kau yang menyiapkan semua ini bukan?"


"Apa kau menyukainya? apa kau sudah memaafkanku sekarang?"


"Tidak, aku belum memaafkanmu, lagi pula itu hanya stiker, bintang-bintang itu tidak bisa bersinar berbeda dengan bintang yang ada di langit!" jawab Nerissa.


"Bintang akan terlihat indah saat malam hari Nerissa, cahayanya hanya akan terlihat di antara hamparan gelap, bukankah begitu?"


"Iya aku tau, tapi......."


Nerissa menghentikan ucapannya, ia beranjak dari ranjangnya kemudian mematikan lampu di kamarnya.


Dalam sekejap Nerissa terdiam melihat pemandangan yang ada di kamarnya. Langit-langit kamarnya kini dipenuhi dengan bintang-bintang yang bercahaya.


Nerissa kemudian merebahkan badannya di ranjang dan membawa pandangannya ke atas langit-langit kamarnya. Ia tersenyum senang seolah ia tengah berbaring di bawah jutaan bintang-bintang di langit.