
Hari berganti. Pagi pagi sekali Nerissa sudah menyiapkan dirinya untuk berangkat ke rumah Alvin.
Tak lupa ia membawa beberapa bungkus rumput laut kering dan memasukkannya ke dalam tas.
"Segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu padamu!" ucap Nerissa pada Marin.
"Kau juga Putri, ponselku akan selalu aktif 24 jam untukmu," balas Marin.
Nerissa dan Marin kemudian berpelukan sebelum Nerissa keluar dari rumah menuju ke halte untuk menunggu bus yang akan membawanya ke rumah Alvin.
Setelah beberapa lama berada di halte, bus yang Nerissa tunggupun tiba. Bersama dengan beberapa orang di dekatnya, ia menaiki bus itu.
Ia sengaja memilih untuk menggunakan bus karena ia berpikir akan terlalu mahal jika ia sering menggunakan taksi.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nerissa sampai di halte yang berada dekat dengan rumah Alvin.
Ia pun berjalan dari halte ke arah rumah Alvin. Setibanya di rumah Alvin, ia mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka.
"Aku pikir kau tidak jadi datang!" ucap Alvin.
"Apa aku terlambat?" tanya Nerissa.
"Tidak, masuklah!" jawab Alvin.
Nerissa kemudian masuk dan segera berlari kecil ke arah salah satu akuarium. Ia terlihat sangat senang dan bersemangat untuk memulai pekerjaan barunya.
Alvin yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis kemudian masuk ke kamarnya untuk bersiap berangkat ke kantor.
"Aku akan berangkat ke kantor, tolong jaga ikan ikan ini dengan baik!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Tentu saja, kau bisa percayakan ikan ikan ini padaku," balas Nerissa penuh keyakinan.
Alvin menganggukan kepalanya dengan tersenyum kemudian keluar dari rumahnya.
**
Di tempat lain, Marin sedang menghubungi seseorang yang akan ia minta untuk mengirim pesanan bunga pagi itu.
"Halo, ada apa?"
Terdengar suara laki laki dari ponsel Marin.
"Cepat kemari, kau tidak punya banyak waktu, cepatlah!" ucap Marin tanpa menjawab pertanyaan laki laki itu.
"Apa terjadi sesuatu pada Nerissa?" tanya laki laki itu yang terdengar khawatir.
Tuuuuutttt tuuuuuttt tuuuuttt
Sambungan berakhir. Marin sengaja mengakhiri panggilannya agar laki laki itu segera datang tanpa banyak bertanya.
Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin. Seorang laki laki turun dan berjalan cepat memasuki toko bunga Marin.
Marin yang melihatnya hanya tersenyum senang kemudian mengambil beberapa buket bunga dan memberikannya pada laki laki itu.
"Apa ini?"
"Buket bunga pesanan, ini alamatnya!" jawab Marin sambil memberikan secarik kertas.
"Apa maksudmu? dimana Nerissa? apa dia baik baik saja?" tanya Daniel sambil menaruh buket bunga dan kertas yang Marin berikan padanya.
Ya, laki laki yang Marin hubungi dan baru saja tiba adalah Daniel. Ia sengaja menghubungi Daniel agar Daniel mengantarkan buket bunga pesanan yang alamatnya tidak jauh dari kantor tempat Daniel bekerja.
"Putri sudah berangkat ke rumah Alvin dari pagi, bukankah kau sendiri yang memintanya bekerja di rumah Alvin?"
"Lalu kenapa kau menghubungiku? kau mengerjaiku?"
"Tidak, antar bunga ini ke alamat ini," jawab Marin sambil kembali memberikan buket bunga dan secarik kertas pada Daniel.
"Kau gila? kenapa aku harus mengantar bunga ini?"
"Karena kau meminta Putri untuk bekerja di rumah Alvin, jadi tidak ada yang bisa mengantar bunga pesanan pelanggan sekarang dan....."
"Dan aku tidak akan melakukan ini!" ucap Daniel hendak menaruh kembali buket bunga di tangannya, namun Marin menahannya.
"Bukankah kau sudah berjanji padaku?"
"Berjanji? berjanji apa?"
"Aaahh kau jangan berpura pura lupa, kau memang bukan laki laki yang baik tapi aku yakin kau tidak akan mengingkari janjimu bukan?"
"Janji apa maksudmu? jelaskan padaku!"
"Tentang peragaan busana kemarin, bukankah berjanji akan melakukan apapun asalkan aku bisa membantu acaramu itu?"
Daniel menutup matanya dan mengalihkan pandangannya dari Marin. Ia baru sadar jika ia sudah mengatakan hal bodoh itu pada Marin.
"Kalau kau tidak mau menepati janjimu tidak masalah, aku akan memberi tahu Putri seperti apa dirimu sebenarnya," lanjut Marin.
Daniel tersenyum tipis mendengar ancaman Marin. Kini ia merasa sudah masuk dalam perangkap yang ia buat sendiri.
"Janji adalah hutang bagiku, jadi pasti aku akan menepatinya, apa yang harus aku kerjakan sekarang?"
"Antar buket bunga ini sekarang juga," jawab Marin dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, aku akan memastikan buket bunga ini sampai dengan selamat, kalau begitu aku permisi!" ucap Daniel sambil membungkukkan badannya lalu membawa buket bunga itu masuk ke dalam mobilnya.
"Tunggu, kau melupakan ini!" ucap Marin sambil menunjukkan kertas yang bertuliskan alamat pengiriman.
Marin kemudian berlari kecil menghampiri Daniel, tanpa sengaja kakinya tersandung membuatnya terjungkal ke depan dan mendarat dalam dekapan Daniel.
Seketika Marin mendongakkan kepalanya bersamaan dengan Daniel yang menundukkan kepalanya.
Mata mereka saling bertemu beberapa detik sebelum Marin menarik dirinya dari dekapan Daniel.
"Kau memang sangat ceroboh!" ucap Daniel sambil merebut kertas dari tangan Marin kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Marin hanya berdiri di tempatnya dengan memegang dadanya yang terasa berdebar.
"aaahhh.... dadaku berdebar lagi," ucap Marin dalam hati.
Marin kemudian masuk ke dalam toko bunganya dan kembali membuat buket bunga sesuai dengan pesanan pelanggannya.
Di sisi lain, Daniel yang baru saja sampai di kantor segera menghempaskan dirinya di kursi kerjanya dengan kesal.
Biiiipppp biiiiippp biiiipp
Belum selesai kekesalannya, Marin kembali menghubunginya.
"Ada apa lagi?" tanya Daniel dengan nada suara yang tidak bersahabat.
"Apa kau sedang memarahiku?"
"Tidak, aku baru saja sampai di kantor, aku harus mengerjakan pekerjaanku tapi kau menggangguku!"
"Aku hanya ingin mengingatkanmu, saat jam makan siang nanti kau harus segera ke toko bunga untuk mengantarkan pesanan bunga lagi!"
"Kau gila? aku......"
"Kau yang berjanji padaku, kalau tau kau akan seperti ini, aku dan Putri tidak akan membantu acara peragaan busana malam itu!" ucap Marin memotong ucapan Daniel.
"Baiklah baiklah, aku akan kesana nanti siang!" balas Daniel menyerah.
Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt
Sambungan berakhir.
"Dasar, perempuan gila!" umpat Daniel kesal.
Daniel pikir, dengan meminta Nerissa untuk bekerja di rumah Alvin, ia tidak perlu bertemu Marin jika ia ingin menemui Nerissa.
Tetapi, hal konyol yang sudah dijanjikannya pada Marin malah membuatnya semakin sering bertemu dengan Marin dan itu membuatnya begitu kesal.
"Kau terlambat?" tanya Alvin yang baru saja masuk ke ruangan Daniel.
"Perempuan gila itu yang membuatku terlambat!" jawab Daniel kesal.
"Perempuan gila? siapa?"
"Hahaha.... kau bertengkar lagi dengannya?"
"Lebih dari itu, dia benar benar sudah merusak pagiku hari ini!" jawab Daniel yang semakin kesal.
"Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian? kenapa kalian selalu bertengkar seperti ini?"
"Karena kau memaksa, aku akan menjelaskannya padamu walaupun aku sangat malas mengingat kejadian ini," ucap Daniel.
Flashback pertemuan pertama Daniel dan Marin (dari sudut pandang Daniel)
Malam itu Daniel baru saja pulang dari pesta di rumah temannya. Ia kemudian melihat seorang laki laki mencurigakan yang berdiri di depan sebuah toko bunga di pinggir jalan. Laki laki itu seperti sedang mengintai keadaan disekitarnya.
Karena sudah sangat lelah dan mengantuk, Daniel pun mengabaikan saja laki laki itu. Ia tetap menjalankan mobilnya ke arah rumahnya.
Namun entah mengapa ia masih terpikirkan laki laki mencurigakan itu, ia pun memutar balik mobilnya setelah menjauh beberapa ratus meter.
Dari kejauhan Daniel melihat seorang perempuan yang menyebrang ke arah toko bunga itu. Perempuan itu hanya berdiri di depan toko bunga yang dinding kacanya sudah pecah.
Pada awalnya Daniel berpikir jika perempuan itu adalah teman dari laki laki yang ia lihat tadi. Namun tiba tiba laki laki itu keluar dan memberikan sebuah martil yang besar pada perempuan itu.
Tanpa ragu, perempuan polos itu menerimanya begitu saja dan masuk ke dalam toko bunga. Saat Daniel menghentikan mobilnya, ia melihat perempuan itu hanya diam dengan tersenyum cantik ke arah bunga bunga di sekitarnya.
Senyum yang mampu membuat Daniel tersadar jika perempuan yang ada di hadapannya hanyalah perempuan polos yang baru saja dibodohi oleh perampok.
Daniel kemudian melangkah masuk dan menarik tangan perempuan itu untuk diajak keluar dari tempat itu, namun bukannya mengikutinya, perempuan itu malah memukulnya menggunakan martil yang dipegangnya.
Daniel pun tidak bisa menahan emosinya karena rasa sakit dan juga pengaruh alkohol yang baru saja ia konsumsi saat di pesta tadi.
Tanpa pikir panjang ia segera menggendong Marin dan membawanya masuk ke dalam mobil. Bagaimanapun juga ia tidak ingin perempuan di hadapannya menjadi tersangka pengerusakan karena kepolosannya.
Namun, bukannya berterima kasih, Marin malah berteriak dan memaki Daniel, membuat Daniel sangat kesal dan menurunkannya begitu saja.
Daniel kemudian pergi begitu saja dengan segala sumpah serapahnya untuk perempuan itu.
"perempuan cantik yang bodoh dan menyebalkan," batin Daniel saat itu.
Flashback off
"Dia memukulmu dengan martil?" tanya Alvin setelah mendengar keseluruhan cerita Daniel.
"Iya, dia benar benar gila dan bodoh!" jawab Daniel yang masih menunjukkan wajah kesalnya.
"Apa kau tidak salah mengingat kejadian malam itu? bukankah kau bilang kau baru saja minum alkohol di pesta temanmu?"
"Aku hanya meminumnya sedikit Alvin, kau tau aku selalu ingat semua kejadian bahkan setelah aku minum alkohol bukan?"
"Iya, aku tau itu, tapi....."
"Sudahlah, dia memang sangat menyebalkan!" ucap Daniel.
"Hahaha.... baiklah, lanjutkan pekerjaanmu, selesaikan hari ini juga!" ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk fokus pada pekerjaannya.
Saat jam makan siang, Daniel segera keluar dari ruangannya lalu meninggalkan kantor dan mengendarai mobilnya ke arah toko bunga Marin.
"Cepat sekali kau datang!" ucap Marin saat melihat Daniel menghampirinya.
"Tentu saja, aku memang laki laki yang menepati janji dan juga tepat waktu, bukankah aku cukup baik untuk menjadi pasangan Nerissa?"
"Hahaha.... jangan bermimpi, sana antar bunga bunga ini!" ucap Marin sambil memberikan beberapa buket bunga pada Daniel.
"Semua ini? kenapa banyak sekali?"
"Ini semua satu arah dengan kantormu, jadi tidak akan memakan waktu lama, tenang saja!" jawab Marin.
Daniel hanya mendengus kesal kemudian berbalik dan berjalan keluar sambil membawa beberapa buket bunga.
"Kemana kau akan mengantar bunga bunga itu?" tanya Marin sambil menulis alamat dari para penerima buket bunga.
Daniel hanya terkekeh kemudian kembali menghampiri Marin.
"Kemana aku harus mengantar bunga bunga ini?" tanya Daniel pada Marin.
"Dasar bodoh!" ucap Marin sambil memberikan secarik kertas pada Daniel.
"Kau......!!!"
"Apa? mau memarahiku? silakan, Putri akan...."
"Tidak, aku bukan laki laki yang pemarah," ucap Daniel dengan memaksakan senyumnya pada Marin kemudian berjalan keluar dari toko bunga Marin dengan membawa serta kertas yang berisi alamat penerima buket bunganya.
Daniel mengendarai mobilnya ke arah kantornya dengan berhenti di beberapa tempat untuk mengantar buket bunga dari Marin.
"Dia sangat merepotkan, kalau tau seperti ini aku tidak akan meminta bantuannya!" gerutu Daniel kesal.
Daniel pun sampai di kantornya 15 menit sebelum jam makan siangnya berakhir. Ia segera berlari ke arah kantin.
"Kau dari mana? aku tidak melihatmu di ruanganmu!" tanya Alvin yang baru melihat Daniel.
"Ada urusan sebentar, tunggu aku disini, aku tidak ingin makan sendiri!" jawab Daniel.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dan tetap duduk di tempatnya untuk menemani Daniel.
Setelah Daniel menyelesaikan makan siangnya, merekapun kembali ke ruangan masing masing.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Daniel menghampiri Alvin.
"Ayo cepatlah, aku ingin segera pulang ke rumahmu!" ucap Daniel pada Alvin.
"Apa kau diusir lagi?" terka Alvin.
"Tentu saja tidak, aku anak yang penurut sekarang, jadi aku tidak akan pernah diusir lagi dari rumah," jawab Daniel percaya diri.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Alvinpun meninggalkan ruangannya diikuti oleh Daniel.
"Alvin, aku akan menginap malam ini!" ucap Daniel pada Alvin.
"Apa kau menginap karena berpikir kalau Nerissa tinggal di rumahku?" tanya Alvin yang membuat Daniel menganggukan kepalanya dengan tersenyum malu.
"Dia tidak akan tinggal, setiap hari dia akan datang dan pulang sore, mungkin sekarang dia sudah pulang," ucap Alvin yang membuat Daniel kecewa.
"Kau serius?"
Alvin menganggukan kepalanya.
"Dia tidak ingin berada jauh dari Marin terlalu lama, sepertinya hanya Marin teman baiknya disini," ucap Alvin.
"Kalau begitu kita harus cepat sebelum Nerissa pulang dari rumahmu!" balas Daniel lalu segera berlari setelah pintu lift terbuka.
Alvin dan Danielpun mengendarai mobil mereka masing masing. Sesampainya di rumah Alvin, Daniel segera berlari masuk dan mendapati Nerissa yang sedang berjongkok dan berbicara pada ikan di akuarium.
Daniel tersenyum senang lalu segera menghampiri Nerissa diam diam dan mengagetkannya.
"Daniel! kau membuatku terkejut!" ucap Nerissa sambil memukul pelan Daniel.
"Hahaha.... maafkan aku," balas Daniel sambil memegang tangan Nerissa yang memukulnya.
Alvin yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
"Pulanglah jika pekerjaanmu sudah selesai!" ucap Alvin sambil membuka pintu kamarnya tanpa menoleh ke arah Nerissa.
"Iya, aku akan segera pulang," balas Nerissa.
"Ayo, aku akan mengantarmu!" ucap Daniel.
"Terima kasih Daniel!" ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
Nerissa dan Daniel pun keluar dari rumah Alvin.
Di sisi lain, diam diam Alvin memperhatikan Nerissa dan Daniel dari jendela kamarnya. Ia merasa iri melihat kedekatan Daniel dan Nerissa.
"Dia tidak pernah tertawa selepas itu saat bersamaku!" ucap Alvin pelan.