
Daniel masih berada di rumah sakit bersama sang mama. Suasana hening di dalam ruangan itu membuat kesedihan semakin terasa memenuhi ruangan dimana papa Daniel terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
"Daniel, sebelum papamu mendapatkan pengganti mama, kau tidak akan melarang mama untuk merawat papa bukan?" tanya mama Daniel pada Daniel.
"Mama akan jadi satu-satunya perempuan yang merawat papa, karena papa hanya membutuhkan mama saat ini," balas Daniel dengan menggenggam tangan sang mama.
"Papamu sudah menyerahkan surat perceraiannya pada mama sayang," ucap mama Daniel dengan menundukkan kepalanya.
"Mama tidak menandatanganinya bukan?" tanya Daniel memastikan namun, mama Daniel hanya terdiam dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
Meskipun mama Daniel tidak menjawabnya, tetapi Daniel cukup dewasa untuk bisa memahami jawaban dari pertanyaannya melalui respon sang mama.
"Selama belum ada keputusan dari pengadilan, mama tetap menjadi istri papa dan mama berhak sepenuhnya atas papa," ucap Daniel yang masih menggenggam erat tangan sang mama.
"Mama sangat mencintai papamu Daniel, mama tidak ingin meninggalkannya jika bukan karena papamu sendiri yang ingin meninggalkan mama, mama sudah tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan keluarga kita," ucap mama Daniel.
"Daniel mengerti ma, apapun keputusan mama dan papa, Daniel akan mendukungnya selama itu demi kebaikan kita semua," balas Daniel.
"Tolong jangan membenci mama dan papa Daniel, mama dan papa sangat menyayangimu meskipun mama dan papa bukan orang tua yang baik untukmu," ucap mama Daniel.
"Jangan berbicara seperti itu ma, bagi Daniel mama dan papa adalah orang tua terbaik yang Tuhan kirimkan untuk Daniel, mama dan papa mengajarkan banyak hal pada Daniel yang membuat Daniel bisa berpikir lebih dewasa seperti saat ini," balas Daniel lalu memeluk sang mama.
"Tolong jangan menjadikan Daniel sebagai beban bagi mama dan papa, meskipun perpisahan mama dan papa bukan keinginan Daniel tapi Daniel akan tetap mendukung apapun keputusan mama dan papa jika memang hanya perpisahan itulah jalan terbaik bagi keluarga kita," lanjut Daniel.
"Kau tidak akan trauma dengan pernikahan mama dan papa bukan? mama harap apa yang terjadi pada mama dan papa tidak membuatmu takut untuk berkeluarga."
"Daniel belum memikirkan hal itu ma, masih banyak hal yang harus Daniel selesaikan di kantor, masih banyak impian Daniel yang harus Daniel kejar sebelum Daniel memikirkan hal itu," balas Daniel.
"Jangan terlalu lelah bekerja Daniel, kau juga harus membahagiakan dirimu sendiri dan mencari perempuan yang bisa menemani kesibukanmu," ucap Mama Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Daniel.
Dalam hatinya Daniel sama sekali tidak pernah memikirkan tentang satupun perempuan yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari hidupnya.
Meskipun ia mengenal banyak perempuan tapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menarik perhatiannya, apalagi membuatnya ingin berhubungan lebih dekat dengan salah satu dari mereka.
Bagi Daniel pekerjaan dan keluarganya lebih penting daripada keinginannya untuk memiliki pasangan hidup.
Ia bahkan tidak peduli pada segelintir orang yang memandang dirinya dengan sebelah mata karena hal itu.
Bahkan tak jarang ia masih saja mendengar bisikan-bisikan yang tidak benar tentang dirinya dan Alvin karena kedekatan mereka berdua, baik di kantor maupun di luar kantor.
Bagi Daniel semua bisikan itu hanyalah angin lewat yang tidak akan ia pedulikan selama itu tidak mengganggu pekerjaan dan karirnya.
**
Di Seabert.
Marin berenang keluar dari kamarnya dan segera dihadang oleh Chubasca yang sudah menunggunya cukup lama.
"Kenapa kau lama sekali? aku sudah menunggumu dari tadi," tanya Chubasca.
"Kenapa kau menungguku? lagi pula tidak ada yang menyuruhmu untuk menungguku," balas Marin ketus.
"Kita sudah lama tidak bertemu dan kau masih saja bersikap seperti itu pada kakakmu," ucap Chubasca.
"Lalu kau ingin aku bersikap seperti apa? bermanja-manja padamu?"
"Hahaha..... tidak, kau hanya akan membuatku jijik jika kau bersikap seperti itu," ucap Chubasca yang membuat Marin memutar kedua bola matanya karena kesal mendengar ucapan sang kakak.
"Jika tidak ada yang ingin kau katakan aku akan pergi," ucap Marin lalu berenang hendak keluar dari rumah.
"Bagaimana dengan laki-laki itu? apa dia sudah tahu siapa kau sebenarnya?" tanya Chubasca yang membuat Marin mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah.
"Apa maksudmu? siapa laki-laki yang kau maksud itu?" tanya Marin.
"Laki-laki bodoh yang membelamu ketika di daratan," jawab Chubasca.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya? kau jangan memanggilnya bodoh, dia memang tidak sekuat dirimu tapi dia tidak sebodoh dirimu!"
"Waahh apa sekarang kau mulai membelanya? memangnya ada hubungan apa antara kau dan dia? apa jangan-jangan kalian......"
"Jangan menanyakannya dia lagi, lagi pula dia sudah melupakanku," ucap Marin memotong ucapan Chubasca.
"Melupakanmu? apa maksudmu? apa dia laki-laki brengsek yang suka bermain perempuan?" tanya Chubasca yang tampak emosi.
"Kenapa kau tiba-tiba marah? aku sendiri yang meminta Putri untuk menghapus ingatannya tentangku, lagi pula itu memang sudah menjadi rencanaku dan Putri untuk menghapus ingatan semua manusia yang mengenal kita," balas Marin menjelaskan.
"Apa kau tidak menyesalinya jika dia benar-benar melupakanmu?"
Marin terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Chubasca, dalam hatinya ia merasa tidak rela jika Daniel melupakannya setelah Daniel menyatakan perasaan padanya, tapi memang itulah yang harus terjadi karena tidak seharusnya mereka saling mencintai.
"Untuk apa menyesalinya, dunia kita memang sangat berbeda jadi tidak ada alasan baginya untuk mengingatku," ucap Marin dengan pandangan kosong.
"Kau mencintainya bukan?" tanya Chubasca yang membuat Marin segera membawa pandangannya pada Chubasca.
"Aaahhh aku tau..... kau tidak perlu menjawabnya, aku bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaanku hanya dengan melihat raut wajahmu, ternyata laki-laki bodoh dan lemah itu sudah membuatmu jatuh cinta padanya," ucap Chubasca lalu berenang pergi meninggalkan Marin.
Marinpun segera berenang mengejar Chubasca dan memukul Chubasca dari belakang.
"Berhenti memanggilnya bodoh dan lemah karena dia tidak seperti itu!" ucap Marin lalu berenang dengan cepat meninggalkan Chubasca.
"Jatuh cinta memang selalu membuat siapapun menjadi bodoh, termasuk kau!" ucap Chubasca dalam hati sambil tersenyum tipis dan berenang dengan cepat mengejar Marin.
Karena terlalu cepat berenang, Chubasca tidak bisa mengontrol kecepatannya saat dia melihat Beetna yang sedang berenang di hadapannya dengan membawa tumpukan buku-buku di tangannya.
Chubascapun menabrak Beetna, membuat tumpukan buku di tangan Beetna jatuh tercecer.
"Aaaaarrrghhh Chubasca!!!!" teriak Beetna kesal saat dia mengetahui bahwa Chubasca yang menabraknya.
"Maafkan aku," ucap Chubasca lalu berenang meninggalkan Beetna begitu saja sambil terkekeh, membuat Beetna semakin kesal padanya.
Di istana, Nerissa sedang berada di perpustakaan istana untuk membaca beberapa buku
"aku harus tahu apa ada cara lain untuk menyelamatkan Alvin selain menyerahkan mutiara biru satu-satunya yang aku miliki," ucap Nerissa dalam hati.
Tak lama kemudian Marinpun datang dan duduk di samping Nerissa.
"Diamlah Marin, aku sedang fokus saat ini jadi jangan menggangguku," balas Nerissa tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ada di hadapannya.
"Baiklah kalau begitu, aku juga akan membaca buku lainnya," ucap Marin lalu beranjak dan mencari buku yang lain.
Tak lama kemudian Beetnapun masuk dengan menggerutu.
"Ada apa Beetna? kenapa kau terlihat kesal seperti itu?" tanya Marin.
"Kakakmu itu memang sangat menyebalkan, dia menabrakku tapi dia tidak membantuku untuk mengambil buku-buku yang jatuh," jawab Beetna kesal.
"Dia memang semenyebalkan itu, bahkan sangat menyebalkan, membuatku tidak ingin bertatap muka dengannya," balas Marin yang juga ikut kesal pada Chubasca.
"Astaga Putri, kau masih ada disini? apa kau benar-benar tidak kembali ke kamarmu sejak semalam?" tanya Beetna yang terkejut saat melihat Nerissa yang masih ada di tempatnya sejak semalam.
"Apa? Putri ada disini sejak semalam?" tanya Marin yang lebih terkejut mendengar pertanyaan Beetna.
"Kalian berdua diamlah jangan mengganggu konsentrasiku!" ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Beetna.
Beetna kemudian menarik tangan Marin untuk mengajaknya berbicara di salah satu sudut perpustakaan itu.
"Aku merasa sangat heran dengan Putri sekarang, sejak semalam dia membaca buku di tempat itu, entah sudah berapa buku yang ia baca, aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya dia cari karena dia selalu mengusirku setiap aku mendekatinya," ucap Beetna pada Marin.
"Apa kau tahu buku apa saja yang putri baca?" tanya Marin.
"Aku tidak tahu pasti tapi aku pernah melihatnya membaca buku tentang penyembuhan, tentang mutiara biru dan tentang kekuatan warisan untuk anggota istana," jawab Beetna.
"kenapa Putri membaca buku-buku itu? apa yang sebenarnya sedang Putri cari?" tanya Marin dalam hati.
"Aku akan menanyakan sendiri padanya," ucap Marin yang hendak berenang pergi namun segera dicegah oleh Beetna.
"Jangan mengganggunya, sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk bertanya," ucap Beetna mengingatkan.
"Tenanglah, aku sudah terbiasa menghadapi putri," ucap Marin dengan tersenyum lalu berenang mendekati Nerissa.
Marin hanya diam untuk beberapa lama sambil membaca buku yang baru saja diambilnya. Sesekali ia melirik ke arah buku yang sedang Nerissa baca saat itu.
"Marin, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Nerissa yang membuat Marin segera menutup bukunya untuk fokus mendengarkan apa yang Nerissa katakan.
"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu Putri? tidak biasanya kau menghabiskan waktumu di perpustakaan," tanya Marin.
"Aku tidak menemukan apapun yang bisa membantuku menyembuhkan Alvin selain mutiara biru," ucap Nerissa lalu membaringkan kepalanya di meja.
"Apa kau berada di perpustakaan semalaman hanya untuk mencari tau tentang hal itu?" tanya Marin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nerissa.
"Bukankah kau akan memberikan mutiara birumu pada Alvin untuk menyembuhkannya?" tanya Marin.
"Kau benar, tapi aku ingin mencari cara lain untuk bisa menyembuhkan Alvin karena mutiara biru yang aku miliki ini adalah satu-satunya kenangan yang ayah berikan padaku setelah ayah meninggal," jawab Nerissa.
"Apa kau ragu untuk menyembuhkan Alvin dengan mutiara itu Putri?"
"Bukannya aku ragu untuk menyembuhkan Alvin, aku hanya ragu apakah aku harus melepaskan satu-satunya peninggalan ayah untukku?"
"Maafkan aku Putri, aku juga tidak bisa membantumu bahkan kekuatan yang kau milikipun tidak bisa membantu Alvin untuk kembali hidup normal seperti sebelumnya."
Tiba-tiba Nerissa mengangkat kepalanya dan membulatkan matanya, membuat Marin begitu terkejut dengan sikap Nerissa.
"Ada apa Putri? kau membuatku sangat terkejut!" tanya Marin.
"Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku pergi dulu dan kau jangan mengikutiku atau aku akan membuat ekor
mu tidak bisa bergerak sama sekali," ucap Nerissa yang membuat Marin hanya terdiam di tempatnya.
"Dia mulai mengancamku dengan kekuatannya sekarang, menyebalkan sekali," gerutu Marin kesal.
Sedangkan Nerissa segera keluar dari istana lalu berenang dengan cepat ke arah timur tepat saat matahari baru saja terbit.
Nerissa kemudian mengambil mutiara merah muda yang ada di mahkotanya, menggenggamnya lalu melepaskannya.
Mutiara itupun tampak berenang mengitarinya seolah mengenali siapa pemiliknya. Setelah beberapa kali mengitari Nerissa, mutiara itupun berenang ke arah lain yang membuat Nerissa segera mengikuti arah mutiara itu pergi.
"aku tidak tahu pengorbanan apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkanmu Alvin, tapi jika memang aku bisa melakukannya aku pasti akan melakukannya demi kesembuhanmu," ucap Nerissa dalam hati.
Nerissa sudah membulatkan tekadnya tanpa berpikir panjang untuk menemui mermaid tua penjaga persimpangan dunia manusia dan dunia laut.
Ia ingin mermaid tua itu memberitahunya tentang apa yang bisa ia lakukan agar ia bisa menyelamatkan Alvin selain dengan mutiara biru miliknya.
Setelah berenang cukup lama mutiara merah muda itupun berhenti tepat di depan sebuah batu karang yang besar. Mutiara itu kemudian mengitari batu karang besar itu dan tak lama kemudian batu karang itu bergeser lalu muncullah mermaid dengan ekor berwarna merah yang berenang mendekati Nerissa.
"Putri Nerissa dari istana Seabert, ternyata kau pemilik mutiara merah muda ini," ucap mermaid tua itu.
"Aku mendapatkan mutiara merah muda itu dari ratu Baruna," ucap Nerissa.
"Ratu Baruna pasti sudah menjelaskan semuanya padamu bukan?" tanya mermaid tua itu.
"Mmmmm.... aku tidak yakin Ratu Baruna sudah menjelaskan semuanya karena ratu Baruna tidak memberitahuku tentang pengorbanan besar apa yang harus aku lakukan jika aku ingin menggunakan mutiara merah muda ini," jawab Nerissa.
"Aahh begitu rupanya, tapi aku tidak yakin apa kau akan melakukan pengorbanan besar itu hanya untuk menyelamatkan nyawa seorang manusia," ucap mermaid tua yang membuat Nerissa begitu terkejut.
"Kenapa kau bisa tahu tentang hal itu?" tanya Nerissa.
"Aku bisa mengetahui semua hal yang tidak mermaid ketahui Putri, jadi sangat mudah bagiku untuk mengetahui apa niatmu menemuiku saat ini," jawab mermaid tua itu.
"Lalu apa kau bisa memberitahuku jawaban dari pertanyaanku itu?" tanya Nerissa tak sabar.
"Sebelum membahas tentang hal itu aku ingin memberitahumu tentang pengorbanan besar yang harus kau lakukan terlebih dahulu," ucap mermaid tua yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa.
"Aku akan memberitahumu apa yang bisa menyembuhkan manusia itu selain mutiara biru milikmu asalkan kau bersedia menukar kehidupan abadimu demi jawaban yang kau inginkan," ucap mermaid tua yang membuat Nerissa mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Menukar kehidupan abadiku? apa maksudmu?"
"Kehidupan abadimu adalah menjadi seorang mermaid dan tinggal di istana bawah laut, sedangkan pengorbanan yang harus kau lakukan adalah menukar kehidupan abadimu itu dengan menjadi manusia seutuhnya yang tinggal di daratan tanpa ekor, tanpa kekuatan dan tanpa apapun yang berhubungan dengan dunia laut," jawab mermaid tua yang membuat Nerissa begitu terkejut.