
Alvin dan Nerissa turun dari mobil ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan. Nerissa diam beberapa saat menatap bangunan di hadapannya yang terlihat tidak asing baginya
"Apa kau masih ingat? atau sudah lupa?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Tentu saja aku ingat, apa kita akan makan di atas?"
"Tentu saja, ayo masuk!" jawab Alvin.
Nerissa dan Alvinpun masuk lalu berjalan naik ke lantai atas dan memilih tempat duduk di dekat jendela.
Dari tempat mereka duduk, mereka bisa melihat dengan jelas taman bermain dan danau yang ada di dekat kafe itu.
"Aku ingin mengajakmu bermain ke danau lagi jika kau ada waktu," ucap Alvin pada Nerissa.
"Ke danau?"
"Iya, kau sudah tidak takut bukan?"
"Mmmm.... entahlah, tetapi sepertinya aku belum benar benar berani," jawab Nerissa.
"Ada aku bersamamu Nerissa, kau percaya padaku bukan?"
Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Tak lama kemudian makanan dan minuman yang mereka pesanpun datang. Mereka menikmati makan siang mereka berdua.
Setelah makanan mereka habis, waiters datang dengan membawa ice cream kesukaan Nerissa.
"Waaaahhh ice cream," ucap Nerissa bersorak senang.
Alvin hanya tersenyum melihat Nerissa yang tampak menyukai ice cream yang ia pesan.
"Aku baru saja membeli aquarium baru, tetapi aku masih bingung tentang tema aquascape yang aku gunakan nanti," ucap Alvin pada Nerissa.
"Apa kau sudah menaruh ikanmu disana?"
"Belum, aku akan menaruhnya disana setelah aku selesai membuat aquascape," jawab Alvin.
"Apa ada yang bisa aku bantu? aku ingin sekali membuat aquascape seperti milikmu yang lain."
"Kapan kau senggang? aku akan menjemputmu!"
"Bagaimana jika besok sore setelah kau pulang dari kantor?"
"Baiklah, aku akan menjemputmu sepulang dari kantor," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala dan senyum Nerissa.
Setelah menghabiskan ice cream miliknya, Nerissa dan Alvinpun keluar dari kafe itu. Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.
"Aku pergi dulu, aku akan menjemputmu besok," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
Nerissa kemudian masuk ke toko bunga setelah mobil Alvin semakin menjauh.
"Apa kau pulang bersama Alvin, Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang. Meski tidak mengucapkan apapun, Marin bisa melihat dengan jelas jika Nerissa tengah bahagia saat itu.
"Apa yang membuatmu sangat bahagia seperti itu Putri? apa kau baru saja makan siang bersama Alvin?" tanya Marin yang sudah duduk di samping Nerissa.
Nerissa kembali menganggukan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengucapkan apapun.
"Apa kau mengajaknya makan siang? bukankah kau bilang tidak akan melakukan hal itu? dan bunga ini, kenapa bunga ini ada padamu? apa kau belum mengantarnya?"
"Sabar Marin, aku akan menjawab pertanyaanmu satu per satu," ucap Nerissa sambil menutup mulut Marin dengan buket bunga di tangannya.
"Jelaskan padaku dulu kenapa bunga ini bisa ada padamu?"
"Apa kau tidak tau siapa yang memesan buket bunga ini?" balas Nerissa bertanya.
"Aku tidak tau pasti, dia hanya mengatasnamakan dirinya dari Atlanta Grup, memangnya siapa yang memesannya? Alvin?"
"Iya, Alvin yang memesannya untukku, dia sengaja memesannya agar aku mengantarnya ke kantor dan bisa bertemu langsung dengannya," jawab Nerissa.
"Benar benar aneh, kenapa dia tidak kesini saja dan melakukan hal yang sama seperti Daniel tadi pagi?"
"Kau tidak bisa membandingkan mereka berdua Marin, mereka memiliki cara mereka masing masing!" balas Nerissa.
"Baiklah, bagaimana dengan makan siang? apa kau menjilat ludahmu sendiri Putri?"
"Iiiihhhhh.... kenapa ucapanmu jorok sekali Marin!" balas Nerissa sambil menggeser posisi duduknya menjauh dari Marin.
"Bukan begitu maksudku Putri, bukankah tadi kau bilang tidak akan mengajak Alvin makan siang?"
"Aku memang tidak mengajaknya makan siang, aku menaruh buket bunga ini di resepsionis lalu segera pergi, tapi ternyata Alvin mengejarku dan mengajakku makan siang," balas Nerissa.
"Benarkah? itu artinya dia lebih memilihmu daripada Delia, Putri!"
"Apa kau tau hal yang paling tidak terduga?" tanya Nerissa yang dibalas gelengan kepala Marin.
"Aku mendengar sendiri papa Delia yang mengajak Alvin makan siang, tetapi Alvin menolaknya!"
"Waaaahhh.... Alvin berani sekali? bukankah papa Delia pemilik perusahaan tempat Alvin bekerja?"
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Waaaahhh..... sepertinya Alvin benar benar jatuh cinta padamu Putri," ucap Marin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Marin.
Nerissa hanya tersenyum tipis kemudian beranjak dari duduknya, membawa buket bunganya ke dalam rumah.
"jatuh cinta atau tidak itu tidak ada bedanya untukku, asalkan dia tidak membenci dan menjauhiku itu sudah cukup untukku, lagipula kita tidak akan bisa bersama," ucap Nerissa dalam hati.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Nerissa menemani Marin di kamarnya.
"Marin, apa aku boleh memasuki memorimu lagi?" tanya Nerissa pada Marin.
"Apa yang akan kau lakukan pada memoriku Putri?" balas Marin waspada.
"Aku hanya ingin masuk dan berbicara pada suara asing yang sering aku dengar ketika aku memasuki memori seseorang, aku ingin bertanya tentang mutiara biru bunda," jawab Nerissa.
"Kau tidak akan merubah apa yang ada dalam memoriku bukan?" tanya Marin memastikan.
"Apa kau tidak mempercayaiku?" balas Nerissa bertanya.
"Tentu saja aku percaya, aku hanya... aku...."
"Aku akan mencari orang lain saja di luar," ucap Nerissa memotong ucapan Marin, lalu beranjak dari ranjang Marin.
"Kau mau kemana Putri?" tanya Marin mengikuti Nerissa yang keluar dari kamarnya.
Nerissa tidak menjawab pertanyaan Marin, ia hanya berjalan ke arah pintu dan membukanya. Saat pintu baru saja terbuka, Nerissa begitu terkejut karena ada Daniel disana.
"Daniel, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku baru saja akan mengetuk pintu, tapi kau sudah membukanya," jawab Daniel.
"Aaahhh begitu... masuklah!"
Nerissapun kembali masuk diikuti Daniel yang berjalan di belakangnya.
"Apa kau mencariku? atau mencari Marin?" tanya Nerissa.
"Tentu saja mencarimu, aku dengar dari Marin kau kemarin makan malam bersama Delia, apa dia mengatakan sesuatu padamu?"
"Tidak, dia lebih banyak mengobrol bersama orangtuanya," jawab Nerissa.
"Orangtuanya? apa orangtuanya juga ikut makan malam bersama kalian?"
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Daniel, sejujurnya ia tidak ingin membahas tentang makan malam kemarin karena hal itu membuatnya teringat kejadian yang ingin ia lupakan.
"Apa Delia....."
"Daniel, apa aku bisa minta tolong padamu?" tanya Nerissa memotong ucapan Daniel.
"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu?"
Daniel yang sedikit terkejut dengan apa yang Nerissa lakukan hanya diam sampai akhirnya ia terpejam, kehilangan kesadarannya.
"Kali ini aku memakai mahkota, jadi aku bisa berlama lama disini," ucap Nerissa pada dirinya sendiri saat ia sudah memasuki memori Daniel.
"Kau, suara misterius, apa kau tidak bisa menampakkan dirimu di hadapanku? apa aku hanya bisa mendengar suaramu tanpa bisa melihat wajahmu?" tanya Nerissa sambil membawa pandangannya ke sekelilingnya.
"Untuk saat ini hanya suaraku yang bisa kau dengar Nerissa, mungkin suatu saat nanti kau akan bisa melihatku dan aku harap kau tidak akan terkejut saat melihatku," jawab suara misterius.
"Kenapa aku harus terkejut?" tanya Nerissa, namun tidak ada jawaban sampai beberapa saat.
"Baiklah aku tidak akan menanyakannya, sebenarnya aku memasuki memori Daniel karena ada yang ingin aku tanyakan padamu tentang mutiara biru milik bunda," ucap Nerissa.
"Aku tidak bisa memberi tahumu dimana mutiara biru itu," balas suara misterius.
"Kau pasti tau aku sangat membutuhkan mutiara biru itu bukan? aku membutuhkannya untuk menyelamatkan bunda dan Seabert!"
"Percaya saja dengan mahkotamu, dia akan membawamu mendekat pada seseorang yang memiliki mutiara biru itu."
"Bagaimana aku bisa menyadari jika seseorang itu memiliki mutiara biru milik bunda? aku bahkan tidak pernah melihatnya!"
"Seseorang yang memiliki mutiara biru itu akan memiliki suatu keistimewaan yang tidak dimiliki manusia lain, cepat atau lambat kau pasti akan mengetahuinya."
"Keistimewaan apa maksudmu?"
"Kau akan mengetahuinya jika kau peka pada orang orang di sekitarmu Nerissa!"
"Tapi......"
"Keluarlah, aku benar benar tidak bisa memberi tahumu tentang mutiara biru itu!"
"Baiklah," balas Nerissa tak bersemangat lalu keluar dari memori Daniel.
Seketika Nerissa tersentak di hadapan Daniel dan saat itu juga Daniel membuka matanya dan terkejut karena ada Nerissa yang duduk sangat dekat di hadapannya.
"Apa kau bisa melihat sesuatu di mataku Daniel? sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mataku!" tanya Nerissa sambil membuka matanya lebar lebar di hadapan Daniel.
Danielpun mendekat dan melihat ke dalam mata Nerissa, namun tidak menemukan apapun disana.
"Sepertinya tidak ada apapun disana, apa kau memiliki obat tetes mata? aku akan membantumu memakainya!"
Nerissa kemudian mengerjapkan matanya dan kembali ke kursi yang sebelumya di dudukinya.
"Tidak perlu, sepertinya hanya debu biasa," ucap Nerissa.
"Jika masih terasa perih kau harus mengobatinya Nerissa!"
"Iya," balas Nerissa sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah beberapa lama mengobrol, Danielpun berpamitan pulang. Nerissa segera masuk ke kamarnya setelah Daniel keluar dari rumahnya.
Baru saja Nerissa menjatuhkan dirinya di ranjang, Marin mengetuk pintu kamar Nerissa sebelum akhirnya masuk dan menghampiri Nerissa.
"Apa kau tadi memasuki memori Daniel, Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Apa kau melihatnya?" balas Nerissa bertanya.
"Iya, kau memegang kening Daniel dan Daniel tiba tiba terpejam, begitu juga denganmu, kalian saling terpejam untuk beberapa lama kemudian kau melepas tanganmu dari kening Daniel lalu Daniel membuka matanya seolah tidak terjadi apapun padanya," jawab Marin menjelaskan apa yang dia lihat.
"Seperti yang aku katakan padamu tadi, aku hanya ingin menanyakan tentang mutiara biru pada suara misterius, aku sama sekali tidak membuka pintu memori Daniel," ucap Nerissa.
"Lalu apa yang kau dapatkan dari suara misterius itu Putri?"
"Dia tidak bisa memberi tahuku tentang siapa manusia yang memiliki mutiara biru milik bunda, tetapi siapapun manusia yang memiliki mutiara itu dia pasti memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki manusia lainnya," jawab Nerissa.
"Keistimewaan seperti apa maksudnya?"
"Entahlah, suara misterius itu tidak menjelaskannya dengan detail," jawab Nerissa sambil menarik selimutnya.
Marin kemudian beranjak dari ranjang Nerissa, saat ia akan keluar, ia membawa pandangannya pada Nerissa.
"Putri, apa kau tidak marah padaku?" tanya Marin.
"Kenapa aku harus marah padamu?"
"Karena aku tidak membiarkanmu memasuki memoriku," jawab Marin.
"Itu hakmu untuk menolak Marin, aku tidak akan memaksamu jika memang kau melarangku melakukannya," ucap Nerissa.
"Kau memang sangat mengerti aku Putri, jika lain kali kau ingin menemui suara misterius itu lagi kau bisa memasuki memoriku, tetapi kau harus berjanji padaku kalau kau tidak akan merubah apapun yang ada di memoriku!"
"Aku pasti akan memberi tahumu dulu sebelum aku melakukannya, aku janji!"
Marin tersenyum dengan mengacungkan ibu jarinya pada Nerissa lalu keluar dari kamar Nerissa dan menutup pintunya.
**
Waktu berlalu, hari telah berganti. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Nerissa dan Marin menutup toko bunga.
"Kau bisa menyelesaikannya sendiri bukan? aku ingin segera mandi!" tanya Nerissa pada Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya sambil merapikan bunga bunganya. Sedangkan Nerissa segera masuk ke dalam rumah untuk mandi.
Setelah selesai mandi, dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya, Nerissa mengeluarkan hampir semua pakaiannya dari dalam lemari.
"Putri, kau meninggalkan ponselmu di......"
Marin mengentikan ucapannya saat melihat Nerissa yang hanya mengenakan handuk dengan banyak pakaian yang berserakan di ranjang dan di lantai.
"Apa yang kau lakukan Putri? kau sudah mandi dari tadi tetapi belum mengenakan pakaian juga? dan kenapa kamarmu seperti kapal pecah seperti ini?"
"Aku bingung Marin, pakaian mana yang harus aku pakai," jawab Nerissa sambil menjatuhkan dirinya di ranjang.
"Kau hanya akan pergi ke rumah Alvin, kenapa kau bingung seperti ini? apa dia akan mengajakmu ke pesta kerajaan?"
"Tentu saja tidak," balas Nerissa dengan mencibirkan bibirnya.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Nerissa dan Marin kompak membawa pandangan mereka keluar dari kamar saat mendengar suara ketukan pintu.
"Aaaahhh tidak, itu pasti Alvin!" ucap Nerissa panik.
"Cepat bersiap siap, kau tidak ingin membuatnya menunggu lama bukan?"
Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian menyambar satu pakaian yang akan ia kenakan, sedangkan Marin segera keluar untuk membuka pintu.
Setelah Nerissa selesai bersiap, tidak lupa ia mengenakan hiasan rambutnya yang merupakan mahkota pemberian orangtuanya.
Nerissa berjalan keluar dari kamarnya dan menghampiri Alvin yang menunggunya di ruang tamu.
Alvin yang melihat Nerissa datang seketika melukiskan senyum indahnya pada wajah tampan miliknya.
"sangat cantik," batin Alvin dalam hati.
"Apa kalian hanya akan diam seperti ini?" tanya Marin membuyarkan lamunan Alvin dan Nerissa yang sama sama terdiam.
"Ayo kita berangkat!" ucap Nerissa kemudian berjalan keluar begitu saja karena malu pada Marin.
"Aku dan Nerissa pergi Marin, aku akan mengantarnya pulang nanti!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.
Alvin dan Nerissapun masuk ke dalam mobil.
"Aku harus membeli beberapa bahan untuk aquascape terlebih dahulu, kau tidak keberatan bukan?"
"Tentu saja tidak, apa aku boleh ikut memilihnya nanti?"
"Tentu saja," balas Alvin yang membuat Nerissa semakin bersemangat.
Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah tempat yang biasa ia tuju ketika ia membeli perlengkapan akuariumnya.