
Nerissa terdiam tidak menyangka Alvin akan mengatakan hal itu padanya, meski ia juga mencintai Alvin tetapi ia ragu untuk membalas perasaan Alvin karena ia tahu keberadaannya di daratan hanyalah untuk sementara
"Aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya Nerissa, aku harap apa yang aku sampaikan ini tidak menjadi beban untukmu," ucap Alvin.
Nerissa kemudian menarik tangannya dari Alvin lalu kembali duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Masih banyak yang tidak kau tahu tentangku Alvin, bisa jadi kau akan kecewa setelah kau tahu bagaimana aku sebenarnya," ucap Nerissa.
"Aku tidak peduli bagaimanapun masa lalumu Nerissa, apapun keadaanmu bagaimanapun dirimu perasaanku padamu tetap sama, aku mencintaimu dan aku menerima semua yang ada pada dirimu," balas Alvin meyakinkan.
"Bagaimana jika suatu saat nanti takdir memaksaku untuk meninggalkanmu?" tanya Nerissa dengan membawa pandangannya pada Alvin yang duduk di sebelahnya.
"Aku akan berusaha untuk melawan takdir itu Nerissa, aku akan merubah jalan takdir dan memaksa Tuhan untuk terus menyatukan kita," jawab Alvin penuh keyakinan.
Nerissa terdiam tanpa mengatakan apapun, ada rasa bahagia dalam hatinya saat mendengarkan ucapan Alvin yang penuh dengan keyakinan.
Apa yang Alvin katakan padanya seolah mengetuk hatinya yang sempat ragu untuk menjalani kebahagiaannya bersama Alvin meski ia tahu kebahagiaan itu hanya untuk sesaat.
"apa aku boleh menjalani hubungan ini? apa aku boleh bahagia dengan cara yang seperti ini?" tanya Nerissa dalam hati.
Alvin kemudian meraih kedua tangan Nerissa dan menggenggamnya.
"Lepaskan tangan kirimu jika kau menerima perasaanku dan lepaskan tangan kananmu jika kau menolakku atau lepaskan kedua tanganmu jika kau masih ragu untuk menjawabnya," ucap Alvin dengan menatap kedua mata Nerissa dengan dalam.
"aku akan mempersiapkan hatiku untuk segala kemungkinan terburuk tentang hubungan kita, rasanya tidak adil bagi Alvin jika aku tidak menerima perasaannya padahal aku tahu kita saling mencintai, untuk sekarang kita akan bahagia dengan hubungan kita yang baru dan untuk selanjutnya aku akan membuatmu melupakanku dengan begitu kau tidak akan terluka Alvin," ucap Nerissa dalam hati lalu menarik tangan kirinya dari genggaman Alvin.
Alvin terdiam untuk beberapa saat ketika Nerissa menarik tangan kirinya, membiarkan tangan kanannya berada dalam genggaman Alvin yang artinya Nerissa menerima perasaannya.
"Nerissa...... kau....."
"Aku juga mencintaimu Alvin," ucap Nerissa dengan senyum cantiknya, membuat Alvin segera membawa Nerissa ke dalam dekapannya.
"Terima kasih Nerissa, aku berjanji akan membahagiakanmu, tidak akan ada lagi air mata kesedihan selama aku ada disampingmu," ucap Alvin dengan erat memeluk Nerissa.
Nerissa menganggukkan kepalanya pelan dalam dekapan Alvin, ada perasaan lega dalam hatinya setelah ia memutuskan untuk menerima perasaan Alvin.
Dalam hamparan gelap malam itu bulanpun ikut tersenyum menyaksikan Nerissa dan Alvin yang saling berpelukan dengan seluruh cinta dalam hati mereka.
Alvin kemudian melepaskan Nerissa dari pelukannya lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Nerissa untuk pertama kali setelah ia menyatakan perasaannya pada Nerissa.
Nerissa hanya terdiam menerima apa yang Alvin lakukan padanya, degup jantungnya seolah memompa semakin cepat saat kecupan lembut itu mendarat di keningnya.
Ada rasa bahagia yang menyelimuti dirinya saat itu, rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun tiba-tiba Alvin terdiam saat matanya menatap hiasan rambut yang dikenakan oleh Nerissa saat itu.
"Hiasan rambutmu cantik sekali, membuatmu semakin terlihat cantik," ucap Alvin yang melihat hiasan rambut Nerissa tampak bersinar.
Nerissa yang tidak mengetahui hal itu hanya tersenyum tersipu malu dengan menundukkan kepalanya.
"Apa menurutmu aku harus memberitahu Marin tentang hal ini?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Bagaimana jika kita berlibur berempat? kita memberitahu Marin dan Daniel sekaligus!"
"Ide yang bagus, aku setuju denganmu," balas Nerissa dengan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan memberitahu Daniel agar menyempatkan waktunya weekend nanti, kau juga harus memberitahu Marin!" ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
"Sekarang masuklah dan beristirahatlah, ini sudah cukup larut malam," ucap Alvin.
"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Nerissa yang seolah enggan untuk berpisah dari Alvin.
"Apa aku harus tinggal bersamamu disini?" balas Alvin bertanya yang membuat Nerissa tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Nerissa kemudian beranjak dari duduknya diikuti oleh Alvin yang juga beranjak dari duduknya.
"Kau harus segera beristirahat dan cepatlah tidur, aku yakin kau akan mimpi indah malam ini," ucap Alvin sambil membelai rambut Nerissa.
"Apa kau juga akan mimpi indah nanti?" tanya Nerissa.
"Tentu saja," jawab Alvin sambil menganggukkan kepalanya lalu kembali membawa Nerissa ke dalam dekapannya.
"Sepertinya aku ingin lebih lama seperti ini," ucap Nerissa dalam dekapan Alvin.
"Aku juga, tapi kau harus segera masuk dan beristirahat, aku tidak ingin kekasihku sakit karena angin malam ini cukup dingin," ucap Alvin yang kembali membuat Nerissa tersipu.
Nerissa kemudian melepaskan dirinya dari dekapan Alvin lalu membawa kakinya mundur untuk beberapa langkah.
Namun bukannya masuk ke dalam mobil, Alvin malah kembali mendekat ke arah Nerissa dan memeluk Nerissa sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Nerissa.
"Apa aku harus segera menikahimu agar aku tidak meninggalkanmu seperti ini?" tanya Alvin yang membuat Nerissa hanya bisa tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Pulanglah Alvin, kau juga harus beristirahat," ucap Nerissa lalu melepaskan dirinya dari pelukan Alvin.
Alvin menganggukkan kepalanya lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Nerissa sebelum ia berjalan masuk ke dalam mobil.
Nerissapun melambaikan tangannya pada Alvin yang sudah menyalakan mesin mobilnya sampai Alvin mengendarai mobilnya menjauh dari Nerissa.
Setelah mobil Alvin menghilang dari pandangannya, Nerissapun membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
Dengan senyum di wajahnya yang tidak bisa ia sembunyikan, Nerissa hanya berdiri terdiam di balik pintu. Memorinya mengulas kembali saat Alvin memeluknya dan mengecup keningnya dengan lembut.
Debaran dalam dadanya saat Alvin melakukan hal itu masih terasa bahkan setelah Alvin pergi.
"Putri, apa kau baik-baik saja?" tanya Marin yang melihat Nerissa memejamkan matanya dengan tersenyum di balik pintu.
Nerissa hanya memamerkan senyumnya pada Marin tanpa mengatakan apapun lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya sambil bersenandung pelan.
"Sepertinya dia sedang bahagia," ucap Marin lalu segera berlari kecil mengikuti Nerissa.
"Apa yang membuatmu sangat bahagia Putri? kau harus membagi kebahagiaanmu denganku!" tanya Marin yang sudah duduk di samping ranjang Nerissa.
Namun bukannya menjawab pertanyaan Marin, Nerissa hanya menatap dirinya pada pantulan cermin yang ada di hadapannya dengan raut wajah yang penuh senyum.
"Putri, apa kau tidak mendengarkanku?" tanya Marin yang membuat Nerissa segera tersadar dari lamunannya.
"Aaahh Marin.... kau mengejutkanku saja, sejak kapan kau ada disini?" tanya Nerissa yang membuat Marin hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Nerissa kembali tersenyum lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya, memeluk gulingnya lalu berputar ke kanan dan ke kiri dengan senyum yang tak pernah hilang dari raut wajahnya yang penuh dengan kebahagiaan saat itu.
"Putri berhentilah tersenyum dan katakan padaku apa yang membuatmu sangat bahagia seperti ini!" ucap Marin sambil menarik guling dalam pelukan Nerissa.
Nerissa kemudian beranjak dan duduk di samping Marin.
"Weekend nanti Alvin mengajak kita berlibur," ucap Nerissa pada Marin.
"Berlibur? apa hanya karena ini kau terlihat begitu bahagia?"
Nerissa hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun lalu kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.
**
Di sisi lain, Alvin yang baru saja meninggalkan rumah Nerissa mengendarai mobilnya ke arah pantai.
Sesampainya di pantai Alvin segera membawa langkahnya ke arah tepi pantai dan duduk di atas batu karang besar seperti yang biasa ia lakukan.
Alvin tersenyum menatap hamparan gelap di hadapannya bersama suara deburan ombak yang menghiasi keheningan di malam itu.
"Alvin sangat bahagia malam ini ma, pa, rasanya ini malam paling membahagiakan yang pernah Alvin rasakan setelah mama dan papa pergi," ucap Alvin.
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu disana, Alvinpun membawa langkahnya untuk turun dari batu karang besar itu. Namun tiba-tiba matanya menangkap sosok laki-laki yang berada tak jauh darinya.
"siapa dia? apa dia warga di sekitar sini?" tanya Alvin dalam hati karena sebelumnya ia tidak pernah melihat seorangpun berada disana saat malam hari selain Nerissa yang beberapa kali ia temui saat malam hari.
Alvin lalu membawa langkahnya meninggalkan tepi pantai dengan sesekali membawa pandangannya ke arah laki-laki yang juga tengah berjalan meninggalkan tepi pantai.
Namun Alvin memilih untuk mengabaikan laki-laki itu lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pantai.
**
Waktupun berlalu, malam yang terasa panjang telah berganti menjadi pagi yang baru bagi Alvin.
Setelah selesai bersiap Alvinpun membawa langkahnya keluar dari rumah untuk segera berangkat ke kantor.
Namun saat ia baru saja masuk ke dalam mobil, sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya membuat Alvin segera keluar dari mobilnya.
Dilihatnya Cordelia keluar dari mobil bersama seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak ia temui.
"Bibi," ucap Alvin lalu segera membawa langkahnya ke arah bibi yang juga berjalan ke arahnya.
Alvin lalu memeluk bibi dengan erat kemudian membantu membawa barang-barang bibi masuk ke dalam rumah.
"Kau tidak memaksa bibi untuk kembali bukan?" tanya Alvin pada Cordelia.
"Tentu saja tidak, aku tahu bibi sudah sangat ingin kembali kesini tetapi kau selalu meminta bibi untuk beristirahat lebih lama," jawab Cordelia.
"Benar Tuan, ini keinginan bibi sendiri untuk kembali kesini karena bibi sudah terlalu lama beristirahat di rumah," ucap bibi.
"Terima kasih Bi, terima kasih sudah kembali untuk Alvin, Alvin juga minta maaf atas apa yang terjadi karena ulah Amanda, Alvin pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi."
"Maafkan bibi karena terpaksa berbohong saat itu Tuan," ucap bibi yang masih merasa bersalah.
"Itu bukan salah bibi, Alvin bisa memahaminya," balas Alvin.
Setelah melepas rindu untuk beberapa saat dengan bibi, Alvinpun meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke kantor.
Sebelum ia masuk ke dalam mobilnya, Alvin membawa pandangannya ke arah Cordelia yang berdiri di samping mobilnya.
Alvinpun tersenyum lalu membawa langkahnya ke arah Cordelia dan hendak memeluk Cordelia namun Cordelia menolaknya.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Cordelia sambil mendorong Alvin, membuat Alvin mundur beberapa langkah.
"Hanya ingin memberimu hadiah, kau sudah melakukan hal baik hari ini," jawab Alvin.
"Baiklah sebentar saja, aku tidak akan membiarkanmu memelukku terlalu lama," ucap Cordelia lalu merentangkan kedua tangannya.
Alvinpun kembali mendekat dan memeluk Cordelia.
"Terima kasih Delia," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Cordelia.
"Cepatlah berangkat, kau akan terlambat jika tidak segera berangkat sekarang," ucap Cordelia sambil melepaskan dirinya dari pelukan Alvin.
Alvinpun masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor tak lupa Alvin memberitahu Daniel tentang rencana berliburnya bersama Nerissa dan Marin.
Tanpa banyak bertanya Danielpun mengiyakan ajakan Alvin.
**
Hari telah berganti, weekend yang ditunggupun telah tiba. Setelah menyiapkan semua yang akan ia bawa, Alvinpun berjalan keluar dari rumahnya.
Saat ia baru saja membuka pintu, ia begitu terkejut karena sudah ada Cordelia yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kakak," sapa Cordelia dengan tersenyum pada Alvin.
"Kakak?" ucap Alvin mengulangi ucapan Cordelia.
"Iya, bukankah kau menganggapku seperti adik kandungmu sendiri? bukankah itu artinya aku harus memanggilmu kakak?"
"Baiklah, terserah kau saja," balas Alvin.
"Sepertinya aku datang di waktu yang salah, kemana kakak tampanku ini akan pergi?" tanya Cordelia.
"Aku akan berlibur bersama Daniel, Nerissa dan Marin, apa kau mau ikut?" jawab Alvin sekaligus bertanya pada Cordelia.
"Apa aku boleh ikut? sepertinya Nerissa dan Marin tidak akan suka jika aku ikut berlibur bersama kalian."
Alvin terdiam beberapa saat untuk memikirkan apakah seharusnya Cordelia ikut atau tidak, namun pada akhirnya ia tetap memutuskan untuk mengajak Cordelia.
"Aku sangat mengenal Nerissa, dia tidak akan marah hanya karena kau ikut berlibur," ucap Alvin.
"Bagaimana dengan Marin dan Daniel?"
"Kita lihat saja nanti, ayo bantu aku membawa barang-barang ini!" ucap Alvin lalu memberikan sebuah tas yang berisi tikar pada Cordelia.
Alvinpun berangkat bersama Cordelia ke rumah Nerissa sebelum menjemput Daniel.
Sesampainya di rumah Nerissa, Cordelia ragu untuk turun dari mobil Alvin.
"Aku takut mereka akan marah, aku takut mengacaukan rencana liburan kakak," ucap Cordelia.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan Delia, sudah seharusnya kau ikut liburan kali ini karena aku ingin memberitahukan sesuatu pada kalian semua," balas Alvin.
Dengan ragu Cordelia membuka pintu mobil Alvin lalu keluar dari mobil.
Tak lama kemudian Nerissa dan Marinpun keluar dari rumah. Dengan penuh semangat Nerissa dan Marin berjalan ke arah Alvin yang sudah menunggu mereka di dekat mobilnya sebelum mereka tahu bahwa ada Cordelia yang juga berada disana.
"Hai," sapa Cordelia dengan melambaikan tangannya pada Nerissa dan Marin.
Nerissa dan Marin yang begitu terkejut dengan adanya Cordelia disana hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Apa aku boleh ikut berlibur bersama kalian?" tanya Cordelia dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Marin bergantian.
Nerissa dan Marin saling pandang untuk beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Cordelia.