
Di bawah taburan bintang dan cahaya bulan di langit malam Nerissa dan Alvin masih duduk berdua berteman dengan suara deburan ombak yang memecah karang.
Nerissa masih ragu apakah harus memberitahukan tentang mahkota miliknya pada Alvin atau tidak.
"Mmmm.... mahkota itu.... aku juga lupa di mana aku kehilangan mahkota itu, kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.
"Mungkin aku bisa membantumu mencarinya jika kau tahu di mana kau menghilangkan mahkota itu," jawab Alvin.
"Lupakan saja, aku akan mencarinya sendiri bersama Marin," bales Nerissa.
"Apa itu mahkota yang sangat berarti untukmu?" tanya Alvin.
"Iya, mahkota itu pemberian ayah dan bunda ku aku sangat menyesal karena tidak bisa menjaga mahkota itu dengan baik," jawab Nerissa.
"Apa mereka tahu kalau menghilangkan mahkota itu?"
"Tidak, aku masih merahasiakannya dari Bunda karena aku tidak ingin bunda kecewa padaku, aku akan terus mencarinya sampai aku bisa menemukannya," jawab Nerissa.
"Apa kau mempunyai foto mahkota itu? mungkin aku bisa membantumu mencarinya jika aku mengetahui bentuk mahkota itu!"
"Tidak, aku tidak memiliki foto mahkota itu," jawab Nerissa.
"Kalau begitu coba jelaskan padaku tentang ciri-ciri mahkota itu!" pinta Alvin.
"Kenapa kau sangat penasaran sekali dengan mahkota itu? apa kau menemukan mahkota yang hilang di tempat ini?" tanya Nerissa menerka.
"Tidak, qku hanya ingin membantumu saja Nerissa," jawab Alvin beralasan.
Nerissa hanya tersenyum tipis kemudian beranjak dari duduknya.
"Ayo pulang, sepertinya ini sudah sangat larut," ucap Nerissa pada Alvin.
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian ikut beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan pantai.
Alvin mengendarai mobilnya kembali ke rumah Nerissa.
"Kalau kau membutuhkan bantuan ku jangan ragu untuk menghubungi ku, aku akan berusaha untuk membantumu semampuku," ucap Alvin pada Nerissa saat mereka baru saja sampai di depan rumah Nerissa.
"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan dan senyuman oleh Alvin.
Nerissa kemudian turun dari mobil Alvin lalu masuk ke rumahnya.
Nerissa merebahkan badannya di ranjang tanpa berganti pakaian. Tak lama kemudian Marin masuk menghampirinya.
"Waah wah wah kalian romantis sekali, kau bahkan masih memakai kemeja milik Alvin!" ucap Marin yang ikut berbaring di samping Nerissa.
Mendengar ucapan Marin, Nerissa segera beranjak dan baru menyadari jika kemeja milik Alvin masih ia pakai.
"Aaahh.... bodohnya aku, kenapa aku belum mengembalikan kemejanya!" ucap nerissa sambil melepas kemeja milik Alvin.
"Tidak apa, kau bisa mengembalikan kemeja itu padanya sebagai alasan untuk bertemu dengannya," balas Marin.
Nerissa tersenyum tipis mendengar ucapan Marin, ia kemudian berganti pakaian dan kembali berbaring di samping Marin.
"Marin apa kau tidak merindukan Seabert? apa kau tidak ingin kembali ke Seabert?" tanya Nerissa pada Marin.
"Kenapa kau menanyakan hal itu Putri? apa kau sedang merindukan Seabert? atau kau merindukan Ratu Nagisa?" balas Marin bertanya.
"Dua-duanya, aku merindukan kehidupanku di Seabert, aku merindukan Bunda dan aku sangat merindukan ekorku," ucap Nerissa sambil mengangkat kedua kakinya.
"Kalau kau merindukan ekormu aku aku tahu apa yang harus kau lakukan sekarang!"
"Apa?" tanya Nerissa sambil membawa pandangannya pada Marin.
"Bangunlah dan ikutlah denganku!" jawab Marin dengan menarik tangan Nerissa.
Nerissa pun kembali beranjak dan mengikuti Marin masuk ke kamar mandi.
Marin kemudian mengisi bathub dengan air hingga penuh kemudian masuk ke dalamnya.
Marin memutar gelang mutiara di tangannya sebanyak 7 kali dan dengan sekejap kakinya pun berubah menjadi ekor.
Marin mengepakkan ekornya di hadapan Nerissa, memamerkan pada Nerissa yang saat itu sedang merindukan ekornya.
"Marin, aku juga ingin melakukan hal itu, keluar lah aku ingin masuk ke situ!" ucap Nerissa tidak sabar.
Setelah air di bathub habis, Marin kembali memutar gelang miliknya membuat ekornya berganti menjadi sepasang kaki dan membiarkan Nerissa masuk ke dalamnya.
Nerissa melakukan hal yang sama dengan Marin, ia memutar gelang mutiara miliknya sebanyak 7 kali dan kakinya pun berubah menjadi ekor merah muda yang berkilau di dalam bathub yang sudah penuh dengan air.
"Ekorku....... akhirnya aku bisa melihatnya lagi, akhirnya aku bisa merasakan ekorku lagi," ucap Nerissa sambil mengusap ekornya.
Marin kemudian duduk di samping bathub dan mengusap ekor merah muda Nerissa yang berkilau.
"Ekormu memang sangat cantik Putri, sama seperti dirimu yang begitu cantik," ucap Marin memuji Nerissa.
"Tapi disini terlalu sempit Marin, aku ingin berenang menggunakan ekorku," ucap Nerissa yang merasa terhimpit.
"Kalau kau ingin berenang dengan bebas kita harus pergi ke laut sekarang juga, di sana kita bisa bebas berenang saat malam," balas Marin.
"Aku baru saja dari sana bersama Alvin, apa aku harus kembali ke sana bersamamu?" tanya Nerissa.
"Kau ke pantai bersama Alvin? bukankah kau mengajaknya makan malam?"
"Aku bingung harus mengajaknya makan malam di mana jadi aku membiarkan dia yang memutuskan dan ternyata dia memutuskan untuk makan malam di tepi pantai," jawab Nerissa menjelaskan.
"Kau memang payah Putri," balas Marin sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan menyadari kebodohannya.
"Besok malam kita kembali ke pantai, kau bisa berenang sepuasmu di sana!" ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa menganggukkan kepalanya penuh semangat, ia sudah tidak sabar untuk berenang bebas di lautan.
Setelah merasa sudah cukup puas untuk melepas rindunya pada ekor merah muda miliknya, Nerissapun kembali memutar gelang mutiara nya sebanyak 7 kali dan dalam seketika ekornya pun berubah menjadi sepasang kaki saat air di bathub sudah habis.
Setelah berganti pakaian Nerissa dan Marin pun kembali berbaring di ranjang.
"Marin, kau masih ingat dongeng yang kau ceritakan padaku?" tanya Nerissa pada Marin.
"Tentu saja, kenapa?"
"Apa yang akan terjadi jika laki-laki yang ditemuinya itu adalah cinta sejatinya? bagaimana jika laki-laki itu tulus mencintainya meski laki-laki itu tahu jika perempuan itu adalah Mermaid? apa dia akan tetap meninggal? apa jantungnya tetap akan membeku?" tanya Nerissa pada Marin.
"Aku tidak tahu Putri, hal itu tidak dijelaskan di dalam buku tapi apakah ada manusia yang bisa tulus mencintai seseorang yang berbeda jauh dengan nya? dan apakah laut akan merestui hubungan mereka berdua? aku rasa hubungan yang seperti itu tidak akan berjalan dengan baik," balas Marin.
"Bagaimana jika mereka berdua saling mencintai? apakah mereka tetap tidak bisa bersatu?"
"Aku pernah mendengar sebuah perkataan, jika cinta tidak harus memiliki, mungkin itu sebuah perkataan yang tepat untuk menggambarkan seorang manusia dan mermaid yang saling mencintai namun tidak bisa saling memiliki karena perbedaan dunia keduanya," jawab Marin.
"apa kau sedang merasakan jatuh cinta sekarang? apa kau benar-benar mencintai Alvin?" tanya Marin dengan menatap kedua mata Nerissa.
Nerissa menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum.
"Aku tidak akan melibatkan hatiku terlalu jauh Marin, aku tahu siapa aku dan siapa Alvin, dunia kita sangat berbeda bahkan kita bukan dari jenis yang sama," jawab Nerissa kemudian berbaring membelakangi Marin.
Nerissa memejamkan matanya dengan memeluk gulingnya, entah kenapa ada sebuah rasa sesak yang ia rasakan di dadanya.
Marin pun melakukan hal yang sama, membalikkan badannya dan memeluk guling, mendengar ucapan Nerissa membuatnya menyadari ada sebuah rasa yang tidak nyaman yang ia rasakan saat itu.
**
Waktu berlalu mentari sudah menyambut pagi di hari yang baru.
Alvin keluar dari kamarnya bersiap untuk berangkat ke kantor. Saat ia baru saja masuk kedalam mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya.
Alvin hanya diam di dalam mobilnya dan tak lama kemudian pemilik mobil yang baru saja datang segera menghampirinya.
"Ada apa Delia? aku harus segera berangkat ke kantor sekarang!" ucap Alvin pada Delia.
"Apa kau belum melihat berita pagi ini?" tanya Delia pada Alvin.
Alvin kemudian mengambil ponselnya dan melihat berita terbaru pagi itu, matanya tak percaya melihat beberapa artikel dengan judul yang hampir sama.
Beberapa artikel itu menduduki posisi paling atas dan menampilkan foto dirinya bersama Delia. Alvinpun membuka artikel itu dan membacanya.
Alvin kemudian membuka pintu mobilnya dan menatap Delia dengan wajah yang penuh dengan emosi.
"Apa yang sudah kau lakukan Delia? bukankah aku sudah memperingatkanmu tentang hal ini? kenapa ini bisa terjadi?" tanya Alvin pada Delia.
"Aku juga tidak tahu Alvin, aku sama sekali tidak mengundang wartawan kemarin, hanya teman-teman dekatku saja yang datang," jawab Delia.
"Cepat selesaikan masalah ini sekarang juga aku tidak akan memaafkanmu jika masalah ini terus berlanjut!" ucap Alvin kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Cordelia begitu saja.
Alvin dan Cordelia memang sangat dekat, selain karena mereka pernah tinggal bersama Alvin juga sudah menganggap Cordelia sebagai adiknya sendiri.
Saat Cordelia memasuki dunia entertainment, Alvin sudah memperingatkan Cordelia untuk menjaga jarak dengannya tetapi Cordelia tidak ingin Alvin menjauhinya karena hal itu.
Cordelia pun berjanji pada Alvin bahwa ia akan tetap menjaga privasi Alvin dan tidak akan membiarkan siapapun mengulik kehidupan Alvin.
Dengan begitu Cordelia dan Alvin masih bisa menjalin hubungan yang dekat tanpa diketahui oleh media.
Ketika media mengetahui kedekatan Cordelia dan Alvin, sudah bisa dipastikan akan ada rumor yang memberitakan kedekatan mereka berdua dan melebih-lebihkan apa yang sebenarnya terjadi.
Alvin tidak ingin hal itu terjadi, bukan hanya karena membuatnya tidak nyaman tetapi ia juga tidak ingin hal itu mempengaruhi pekerjaannya di perusahaan Atlanta grup.
Sesampainya di kantor, Alvin segera berjalan ke arah ruangannya. Tidak bisa dipungkiri banyak mata melihat ke arahnya dan membicarakan dirinya di belakangnya.
Alvin hanya diam dan mengabaikan hal itu untuk beberapa saat. Ia akan mengambil tindakan tegas jika hal itu masih terus berlanjut.
Alvin masuk ke ruangannya, menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya dengan kesal.
Tak lama kemudian seseorang membuka pintu ruangannya dan masuk begitu saja tanpa permisi.
"Apa kau sekarang memanfaatkan Delia untuk kepentingan mu sendiri?" tanya Ricky pada Alvin.
"Apa yang terjadi di perusahaan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Delia," balas Alvin sambil menghidupkan komputer di hadapannya.
"Kau tahu aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Delia dan karirnya!" ucap Ricky dengan menunjuk ke arah Alvin.
"Sama sekali tidak ada untungnya buat ku untuk membuat berita seperti itu, bukan hanya Delia, tapi karirku juga yang dipertaruhkan disini, apa kau pikir aku segila itu?"
"Lihat saja Alvin, jika karir Delia hancur maka kau juga akan tamat disini, semua yang kau usahakan akan SELESAI!" ucap Ricky dengan menekankan kata selesai.
Alvin hanya menghela nafasnya kasar dan mengabaikan Ricky, membiarkan Ricky keluar dari ruangannya begitu saja setelah Ricky selesai mengutarakan semua kekesalannya.
Daniel yang saat itu akan masuk ke ruangan Alvin hanya bisa diam menunggu di depan pintu saat ia mengetahui Ricky sudah ada di dalam.
Setelah Ricky keluar dari ruangan Alvin, Daniel pun segera masuk.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel pada Alvin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya pelan, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kemudian melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya saat itu.
"Aku takut ini akan menjadi masalah baru buatmu, apa kau bisa menyelesaikan masalah ini sendiri?"
"Aku sudah meminta Delia untuk menyelesaikannya, tapi seperti yang kau tahu berita seperti itu cepat sekali menyebar!" balas Alvin.
"Aku akan meminta seseorang untuk menyelesaikan masalah ini, akan aku pastikan semua artikel berita dalam media apapun tidak akan menayangkan berita tentang hal itu lagi!" ucap Daniel pada Alvin.
"Kau bisa melakukannya?" tanya Alvin.
"Tentu saja, kau tahu siapa aku bukan?"
Alvin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
"Terima kasih Daniel, kau memang selalu bisa diandalkan!" ucap Alvin pada Daniel.
"Tetapi ada satu hal yang aku inginkan darimu!"
"Apa itu?" tanya Alvin.
"Bantu aku untuk dekat dengan Nerissa, aku rasa sejak kejadian kemarin sikapnya padaku menjadi dingin dan sepertinya dia semakin dekat denganmu," jawab Daniel yang membuat Alvin terdiam seketika.
"Kau tidak berniat untuk mendekatinya bukan?" tanya Daniel membuyarkan lamunan Alvin.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu? katakanlah!"
"Kita bicarakan hal itu nanti, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan meminta orang kepercayaanku untuk menyelesaikan masalahmu!" balas Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Alvin.
Alvin memijat kepalanya yang terasa pening. Ia merasa masalah yang dihadapinya terus datang sebelum ia menyelesaikan masalah yang sebelumnya terjadi.
**
Di sisi lain Nerissa sedang berada di minimarket untuk membeli minuman dan rumput laut kering kesukaannya saat matahari tengah berada tepat di atasnya.
Saat Nerissa akan menghubungi Marin, ia mendapat notifikasi sebuah artikel berita yang sedang ramai dibicarakan.
Nerissa pun membuka artikel itu dan terpampang sebuah foto yang membuatnya menyesal karena sudah membuka artikel itu.
Artikel itu berisi berita tentang kedekatan Cordelia dan Alvin, dalam artikel itu juga disertakan foto Delia saat Delia mencium Alvin di pesta ulang tahunnya.
Tidak hanya itu, banyak foto foto lain yang memperlihatkan kedekatan Cordelia dengan Alvin yang memperkuat dugaan hubungan yang spesial antara Cordelia dan Alvin.
Larissa menghela nafasnya kesal kemudian segera memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya dan mengendarai sepedanya meninggalkan minimarket itu.