
Nerissa, Marin, Chubasca dan Beetna masih duduk bersama membicarakan tentang bunga mawar merah yang ada di hadapan mereka.
"Ratu Nagisa bilang kau pasti tahu apa yang harus kita lakukan agar efek berbahaya dari bunga mawar merah itu tidak bisa mempengaruhi Ratu Nagisa!" ucap Beetna Marin.
"Cara yang bisa kita lakukan berbeda tergantung apa yang ayahku lakukan dengan bunga mawar merah itu, jika ayah hanya membuat ramuan dengan bunga itu maka Ratu hanya perlu menghindari ramuan apapun dari luar selain ramuan yang sudah aku jelaskan pada Ratu, bahkan jika ramuan itu bukan dari ayahku, Ratu Nagisa tetap harus menghindarinya karena kita tidak tahu pasti siapa saja yang terlibat dengan ayah," ucap Marin menjelaskan.
"Bagaimana jika ayah mengambil aroma dari bunga ini? apa yang harus kita lakukan Marin?" tanya Chubasca.
"Efek dari aroma bunga mawar merah ini sangat berbahaya, jadi cara terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan meminta Ratu Nagisa untuk tetap berada di dalam kamarnya dan membatasi siapapun yang masuk ke dalam istana," jawab Marin memberi saran.
"Aku akan meminta Ratu Nagisa untuk memperketat keamanan dan membatasi siapapun yang keluar masuk istana!" ucap Chubasca.
"Tapi bagaimana jika Cadassi diam-diam berhasil membawa masuk aroma dari bunga mawar merah itu ke istana? kau tau Cadassi adalah penasehat kepercayaan istana bukan? pasti bukan hal yang sulit untuk Cadassi masuk kedalam istana, mengingat semua orang mengenal Cadassi sebagai penasehat istana!" tanya Nerissa khawatir.
"Aku bisa membuat ramuan untuk Ratu Nagisa yang bisa menangkal semua aroma berbahaya yang terhirup oleh Ratu Nagisa, tetapi bahan ramuan itu hanya tumbuh di daratan, jadi Ratu Nagisa tidak bisa membuatnya sendiri kecuali kita sendiri yang mengantar ramuan itu pada Ratu setelah aku selesai membuatnya!" ucap Marin pada Nerissa.
"Bunda sudah melarang kita untuk kembali ke istana sebelum kita menyelesaikan tugas kita Marin, kau ingat itu bukan?" balas Nerissa mengingatkan Marin.
"Aahh... iya kau benar putri, berarti harus ada yang mengambil ramuan yang aku buat untuk Ratu Nagisa," ucap Marin sambil membawa pandangannya pada Chubasca dan Beetna.
Chubasca dan Beetna pun saling pandang sekolah saling mencari kesepakatan.
"Baiklah biar aku dan Chubasca yang akan mengambil ramuan untuk Ratu Nagisa, kau setuju kan?" ucap Beetna sekaligus bertanya pada Chubasca.
"Aku setuju asal kau tidak merepotkanku lagi seperti tadi," jawab Chubasca yang membuat Beetna memutar kedua bola matanya kesal pada jawaban Chubasca.
"Ini adalah tugas yang penting, kalian berdua harus kompak, Ratu Nagisa tidak boleh kehabisan ramuan yang aku buat jadi jangan pernah terlambat mengambilnya!" ucap Marin memperingatkan Chubasca dan Beetna.
"Kapan aku harus mengambil ramuan itu disini?" tanya Chubasca.
"Saat sinar bulan terlihat penuh kalian harus segera mengambilnya," jawab Marin yang diikuti anggukan kepala Chubasca dan Beetna.
Marin kemudian beranjak dan masuk ke toko bunganya untuk membuat ramuan yang akan diberikannya pada Ratu Nagisa.
Marin mengambil beberapa putik bunga Lilac, Daphne dan Gardenia, ketiga bunga itu Marin racik sehingga terciptalah sebuah ramuan yang bisa menghindarkan Ratu Nagisa dari aroma bunga mawar merah yang berbahaya.
Setelah selesai membuatnya, Marinpun memberikannya pada Chubasca dan Beetna.
"Berikan ramuan ini pada Ratu Nagisa dan sampaikan pesanku tadi pada Ratu Nagisa untuk tidak menerima ramuan apapun dari siapapun selain dariku," ucap Marin pada Chubasca dan Beetna.
"Aku akan menyampaikannya pada Ratu Nagisa, kalau begitu aku pergi dulu karena kita tidak bisa berlama-lama berada di daratan!" ucap Chubasca pada Marin dan Putri Nerissa.
"Terima kasih karena kalian sudah bersedia berada di sisi bundaku Chubasca, Beetna, aku sangat berhutang budi pada kalian berdua!" ucap Nerissa pada Chubasca dan Beetna.
"Sudah tugas kami untuk menjaga Ratu Nagisa Putri, kau jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan Ratu Nagisa dan istana, fokus saja pada tugasmu agar bisa segera kembali ke istana," balas Beetna.
Mereka semua pun berpelukan sebelum akhirnya Chubasca dan Beetna meninggalkan rumah Marin untuk kembali ke Seabert.
Sepeninggalan Chubasca dan Beetna, Nerissa masih terduduk di ruang tamu dengan raut wajah yang masih sedih.
Meski Marin sudah memberikan penawar untuk Ratu Nagisa, Nerissa tetap saja mengkhawatirkan keselamatan sang Bunda.
Marin kemudian menghampiri Nerissa dan memeluknya, berusaha untuk menguatkan Nerissa
"Aku yakin Ratu Nagisa akan baik-baik saja Putri, ada Chubasca dan Beetna yang sudah memberikan kesetiaannya pada Ratu Nagisa, kau percaya pada mereka berdua bukan?"
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Aku merindukan Bunda, Marin..... aku ingin ada di samping Bunda sekarang," ucap Nerissa sambil menitikkan air mata dari kedua matanya.
Air mata itu dibiarkan terjatuh sampai akhirnya membeku dan menjadi mutiara yang tercecer di lantai.
"Aku mengerti perasaanmu Putri, bertahanlah kita akan segera kembali ke istana setelah tugas kita selesai di sini!" ucap Marin pada Nerissa.
Marisa hanya terdiam dengan membiarkan air matanya terus menetes menjadi mutiara yang semakin banyak tercecer di lantai.
Waktu berlalu, setelah Nerissa lebih tenang Nerissa pun masuk ke kamarnya, sedangkan Marin menutup toko bunganya karena hari sudah mulai sore.
Saat langit senja mulai terlukis, Nerissa duduk di jendela kamarnya, menatap nanar lukisan jingga yang ada dihadapannya.
"Daratan emang sangat indah bunda, tetapi keindahan ini terasa hampa karena Nerissa merindukan Bunda," ucap Nerissa dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.
Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp
Ponsel Nerissa berdering, namun Nerissa mengabaikannya, ia masih duduk di jendela kamarnya tidak beranjak sedikitpun sampai matahari benar-benar kembali ke peraduannya berganti dengan gelap malam yang datang bersama taburan bintang dan cahaya bulan.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Marin membuka pintu kamar Nerissa setelah mengetuknya beberapa kali.
"Masuklah Putri dan tutup jendela kamarmu!" ucap Marin pada Nerissa.
Nerissapun beranjak dan membaringkan dirinya di ranjang sedangkan Marin segera menutup jendela kamar Nerissa.
"Dimana ponselmu Putri? apa kau tidak tahu Daniel menghubungimu berkali-kali?" tanya Marin pada Nerissa.
Nerissa hanya diam dengan membawa pandangannya kearah ponselnya yang berada di meja.
"Daniel menghubungi mu berkali-kali Putri, apa kau sengaja tidak menjawabnya?"
"Biarkan saja Marin, aku hanya ingin sendirian saat ini," jawab Nerissa.
"Dia mengkhawatirkanmu Putri, apa kau tidak ingin menghubunginya?"
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya, ia hanya memikirkan sang Bunda saat itu, ia sudah tidak memperdulikan hal lainnya lagi selain sang Bunda yang kini berada jauh darinya.
Nerissa hanya bisa berharap jika sang Bunda baik-baik saja di istana, meski ada bahaya yang sedang mengancam keselamatan sang bunda dan juga kedamaian di Seabert.
"Jangan menahan air matamu Putri, tuntaskan semua kesedihanmu malam ini dan biarkan senyum ceriamu kembali lagi besok pagi!" ucap Marin pada Nerissa.
Marin kemudian meninggalkan Nerissa, membiarkan Nerissa menuntaskan kesedihannya untuk beberapa saat.
Ia mencarinya ke setiap sudut lantai di ruang tamu agar tidak ada satupun mutiara yang tertinggal disana.
**
Di tempat lain Alvin sedang duduk terdiam menatap mahkota yang ada di dalam kotak kayu dihadapannya.
Sudah beberapa lama Alvin hanya diam menatap mahkota itu.
"aku menemukan mahkota ini di tepi pantai, mahkota ini terlihat berkilau saat terjatuh ke dalam air dan sekarang aku melihat gambar mermaid di mahkota ini setelah aku memimpikan hal aneh semalam, apa mahkota ini berhubungan dengan dunia di bawah laut yang tidak ada seorang pun mengetahuinya? apa benar ada kehidupan lain di bawah sana?" batin Alvin bertanya-tanya.
Alvin kemudian mengingat mimpi yang berulang datang setiap malam. Gadis cantik berambut coklat terang dengan ekor berwarna merah muda yang berkilau berenang mendekat kearahnya.
"aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas tapi aku yakin gadis itu sangat cantik, gadis........ apa aku bisa menyebutnya gadis saat dia memiliki ekor bukan kaki, apa dia mermaid sungguhan atau hanya imajinasiku saja?"
Alvin menggelengkan kepalanya pelan terutama saat ia mengingat rambut yang dimiliki gadis dalam mimpinya itu sama persis dengan rambut milik Nerissa.
"aku tenggelam di laut dan saat aku tersadar, Nerissa sudah ada di sampingku lalu aku mimpikan hal aneh saat malam dan mimpi itu kembali terulang dan berlanjut membawa mahkota ini ke dalam mimpiku lalu aku baru menyadari jika ada gambar mermaid yang tergambar di Mahkota ini, laut..... Nerissa...... gadis dengan ekor merah muda........ mahkota...... apa semua itu berhubungan?"
Alvin menghela nafasnya panjang semakin lama ia memikirkan apa yang sudah terjadi padanya ia semakin tidak mempunyai jawaban atas semua pemikiran aneh yang ada dalam kepalanya.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Alvin begitu terkejut, membuatnya segera menyembunyikan kotak kayu yang berisi mahkota ke dalam laci mejanya.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan Daniel masuk lalu merebahkan badannya di ranjang Alvin.
"Apa kau tidak akan pulang?" tanya Alvin pada Daniel yang sudah berada di rumahnya sejak mereka pulang dari kantor.
"Aku akan semakin memikirkan Nerissa saat aku sendirian di rumah, aku bahkan tidak bisa menghubunginya sama sekali dari tadi, tidak ada satupun panggilanku yang terjawab!"
"Mungkin dia sedang sibuk," ucap Alvin.
"Tidak, aku sudah menghubungi Marin dan Marin mengatakan jika Nerissa tidak sedang sibuk, tetapi dia tidak memberitahu tahu ku kenapa Nerissa tidak menerima panggilan ku!"
"Nerissa memiliki dunianya sendiri Daniel, kau tidak bisa membuatnya untuk selalu berada di dekatmu," ucap Alvin.
"Kau benar, mungkin aku yang terlalu berambisi padanya," ucap Daniel dengan menghela nafasnya.
"Jangan terlalu mengekangnya Daniel, kau hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman dengan keberadaanmu!" ucap Alvin pada Daniel
"Aku hanya tidak ingin dia menjatuhkan hatinya pada laki-laki yang salah Alvin, kau tahu dia sangat polos bukan? dia terlalu baik untuk dunia yang kejam ini!"
"Kau benar, tetapi aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba mengungkapkan perasaanmu padanya, bukankah kau masih sering memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kepalamu tentang Nerissa?"
"Aku sudah memikirkannya baik-baik baik, aku benar-benar menyukainya Alvin, jadi apapun jawaban atas semua pertanyaan itu aku akan berusaha untuk menerimanya!" jawab Daniel.
"Apa kau benar-benar sudah membuka hatimu sepenuhnya untuk Nerissa?" tanya Alvin.
"Sepertinya sudah," jawab Daniel yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.
"Sepertinya? kenapa sepertinya? apa jangan-jangan kau masih ragu pada perasaanmu?"
Daniel hanya diam tidak menjawab pertanyaan Alvin.
"Kenapa kau mengungkapkan perasaanmu saat kau masih ragu Daniel? kau sendiri tahu dia adalah gadis yang polos dan baik, jadi aku harap kau tidak menyakiti perasaannya ataupun mempermainkan hatinya!"
"Aku sama sekali tidak berniat untuk mempermainkannya ataupun menyakiti perasaannya hanya saja..... aku mengungkapkan perasaanku karena aku tidak ingin orang lain memilikinya!"
Alvin menggelengkan kepalanya tidak mengerti jalan pikiran Daniel saat itu.
"Aku menyukainya Alvin, aku tidak mungkin berniat untuk menyakitinya, aku selalu ingin membuatnya bahagia itulah yang aku rasakan saat ini!"
Alvin hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Daniel meski sebenarnya ia tidak setuju pada alasan Daniel untuk mengungkapkan perasaannya pada Nerissa.
Alvin khawatir jika Nerissa sudah benar-benar menyukai Daniel tetapi Daniel masih ragu pada perasaannya itu akan membuat Nerissa patah hati.
Rasanya ia tidak rela jika ia harus melihat Nerissa patah hati karena keraguan Daniel pada perasaannya sendiri.
"Antar aku mengambil mobilku ke kantor polisi, setelah itu aku akan pulang!" ucap Daniel pada Alvin.
Alvin kemudian menyambar hoodie miliknya kemudian keluar dari rumahnya bersama Daniel.
Alvin mengantarkan Daniel ke kantor polisi, tempat ia meninggalkan mobil Daniel saat Daniel mabuk malam kemarin.
Sesampainya di kantor polisi, Daniel pun segera masuk ke dalam mobilnya.
"Apa kau juga akan pulang?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tidak, aku ingin pergi ke pantai, apa kau mau ikut?" jawab Alvin sekaligus bertanya.
"Tidak, lebih baik aku merebahkan badanku di kamarku yang nyaman daripada duduk termenung di pantai dengan kedinginan" jawab Daniel.
"Kau tidak akan tahu seperti apa ketenangan yang ada di pantai saat malam hari sebelum kau mencobanya sendiri!" ucap Alvin.
"Berhentilah melakukan kebiasaanmu itu Alvin, bisa-bisa ada putri duyung yang akan menggodamu nanti hahaha....." ucap Daniel mengejek Alvin
"Tidak apa, jika memang putri duyung itu cantik aku akan mengajaknya pulang," balas Alvin dengan tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Waahh waaahh..... kau mulai nakal ternyata, baiklah nikmati saja malam-malam sunyimu hahaha......"
"Nikmati juga kesendirianmu karena diabaikan oleh gadis yang kau sukai hahaha....." balas Alvin mengejek Daniel.
"Kau akan menjadi gila jika terus terus-terusan berdiam diri di pantai saat malam hari hahaha....." ucap Daniel lalu menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan Alvin
Alvin hanya tersenyum tipis kemudian mengendarai mobilnya ke arah pantai.
Seperti biasa, Alvin melepas alas kaki nya kemudian berjalan ke bibir pantai. Sebelum kakinya menyentuh bibir pantai samar-samar ia mendengar suara tangisan yang begitu memilukan.
Alvin ingat ia pernah mengalami hal yang sama saat ia baru beberapa kali bertemu Nerissa. Ia ingat, ia pernah melihat Nerissa yang sedang menangis dibawah batu karang saat malam hari.