
Nerissa dan Marin masih berada di kamar Ratu Nagisa. Ketegangan cukup terasa memenuhi kamar Ratu Nagisa saat Marin menjelaskan dengan detail apa yang ia ketahui tentang sang ayah dan Pangeran Merville.
Meski terlihat tenang, pada kenyataannya Ratu Nagisa benar benar terkejut dengan apa yang Marin jelaskan padanya.
Ia tidak menyangka penasihat istana kepercayaannya telah berkhianat dan mempunyai rencana jahat padanya.
"Saya mohon maaf atas nama ayah saya Ratu, saya juga memohon agar Ratu mau membawa saya bersama ayah saya ke dalam penjara kegelapan jika memang ayah saya harus menghabiskan sisa hidupnya disana," ucap Marin di akhir penjelasannya.
"Marin, kau....."
"Ini keputusanku Putri, aku tidak akan membiarkan ayahku berada dalam penjara kegelapan seorang diri, aku yang akan menemaninya disana," ucap Marin memotong ucapan Nerissa.
"Tidak bunda, Marin tidak boleh berada di dalam penjara kegelapan!" ucap Nerissa pada sang bunda.
"Tolong jangan mempengaruhi Ratu, Putri, aku tau betul hukuman apa yang pantas di dapatkan penghianat seperti ayahku," ucap Marin pada Nerissa.
"Tolong izinkan saya menemani ayah di penjara kegelapan Ratu, saya mohon," ucap Marin dengan menundukkan kepalanya di hadapan Ratu Nagisa.
"Aku akan memikirkannya dulu Marin, kau pulanglah dan rahasiakan pertemuan kita hari ini dari siapapun, termasuk ayahmu!" ucap Ratu Nagisa pada Marin.
"Baik Ratu, saya permisi," balas Marin kemudian keluar dari kamar Ratu Nagisa.
Sedangkan Nerissa masih berada di kamar sang bunda, berusaha mencegah bundanya agar tidak menuruti permintaan Marin.
"Bunda tidak akan memasukkan Marin ke dalam penjara kegelapan bukan?" tanya Nerissa pada sang bunda.
"Marin memang teman yang baik untukmu sayang, tapi apa yang Cadassi lakukan adalah tindakan yang di luar batas dan tidak pantas untuk mendapatkan pengampunan," ucap bunda ratu tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
"Karena Marin adalah teman yang baik, Nerissa tidak ingin Marin menghabiskan hidupnya di dalam penjara kegelapan bunda," balas Nerissa.
"Bunda mengerti, kau keluarlah, biarkan bunda memikirkan masalah ini dengan baik," ucap bunda Ratu pada Nerissa.
Nerissa menganggukan kepalanya dengan lemah kemudian keluar dari kamar sang bunda.
**
Di daratan.
Alvin dan Daniel baru saja keluar dari ruangan meeting tepat pada saat jam makan siang. Merekapun berjalan ke arah kantin untuk makan siang bersama.
"Ricky benar benar keterlaluan, kenapa dia bisa mengatakan hal itu sekarang saat persiapan peragaan busana tinggal sebentar lagi?" gerutu Daniel kesal.
"Tenanglah Daniel, kita bisa memakai ruangan lain untuk peragaan busana itu!" balas Alvin menenangkan Daniel.
"Tapi ruangan itu yang paling cocok itu peragaan busana nanti Alvin, kenapa tiba tiba Ricky akan menggunakan ruangan itu, padahal aku sudah berkoordinasi langsung dengan penanggung jawab ruangan itu!" ucap Daniel.
"Dan penanggung jawab yang kau maksud itu bekerja di bawah Ricky, sudahlah kita tidak akan menang melawannya, lagipula aku juga sudah menyiapkan ruangan yang lain untuk peragaan busana itu, jadi jangan khawatir!" ucap Alvin.
"Kau sudah menyiapkan ruangan lain? apa kau sudah menduga hal ini akan terjadi?" tanya Daniel.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya lalu menyeruput minuman di hadapannya.
"Kau benar benar jenius Alvin," ucap Daniel dengan menepuk pundak Alvin, membuat Alvin tersedak.
"Hahaha..... sorry, aku terlalu bersemangat," ucap Daniel yang begitu bangga dengan kecerdasan temannya itu.
"Aku rasa kita harus pergi party untuk membuat otak kita semakin cemerlang dalam menghadapi Ricky!" ucap Daniel.
"Mungkin hanya otakmu saja," balas Alvin mengejek.
"Kau juga harus menjernihkan otakmu Alvin, sebelum kau benar benar jatuh di dalam kubangan kesibukanmu hahaha...."
"Kau terlalu berlebihan Daniel," ucap Alvin malas.
"Ayolah Alvin, kau tau pantai Pasha kan? disana akan ada night party weekend nanti!"
"Iya, bukankah kau sering kesana? apa kau tidak tau akan ada acara night party disana?" tanya Daniel yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Alvin.
Pantai Pasha adalah pantai dimana Alvin sering menemui Nerissa disana. Mendengar nama pantai itu, seketika keinginan Alvin untuk datang ke acara itu muncul tiba tiba.
"Kapan acara itu diadakan?" tanya Alvin bersemangat.
"Weekend nanti, apa kau akan datang?" jawab Daniel sekaligus bertanya.
"Tentu saja," jawab Alvin dengan tersenyum senang.
Daniel hanya mengernyitkan keningnya melihat Alvin yang tiba tiba bersemangat.
"kau pasti akan datang bukan?" tanya Alvin dalam hati.
Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah Nerissa, ia berharap akan bertemu Nerissa saat acara night party itu.
Setelah selesai makan siang, Alvin dan Danielpun meninggalkan kantin. Tanpa sadar Alvin tidak bisa menahan senyumnya saat membayangkan dirinya yang akan bertemu dengan Nerissa di acara party itu.
"Apa kau baik baik saja Alvin?" tanya Daniel yang merasa heran dengan sikap Alvin.
"Tentu saja, kenapa?"
"Sepertinya ada yang salah dengan otakmu!" jawab Daniel dengan menatap tajam teman baiknya itu.
"Hahaha..... kau ada ada saja, cepat selesaikan pekerjaanmu agar kita bisa pulang lebih awal!" ucap Alvin lalu masuk ke ruangannya.
Sedangkan Daniel hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan sikap Alvin.
**
Waktu berlalu, Nerissa keluar dari kamarnya saat Cadassi baru saja keluar dari kamar Ratu Nagisa.
Nerissapun segera berenang masuk ke kamar sang bunda untuk memastikan bundanya tidak meminum ramuan dari Cadassi.
"Apa bunda baru saja meminum ramuan dari Cadassi?" tanya Nerissa khawatir.
"Tentu saja tidak," jawab bunda Ratu yang membuat Nerissa bernapas lega.
"Kemarilah sayang, ada yang ingin bunda sampaikan padamu," ucap bunda Ratu pada Nerissa.
"Ada apa bunda?" tanya Nerissa.
"Kita tunggu Marin dulu, sebentar lagi dia akan datang," jawab sang bunda.
Tak lama kemudian Marin datang. Dengan menundukkan kepalanya Marin berenang mendekat ke arah Ratu Nagisa.
Ia begitu malu atas apa yang sudah ayahnya lakukan. Ia merasa tidak pantas untuk menatap Ratu apa lagi berteman dengan Nerissa.
"Nerissa, Marin, apa kalian siap untuk mendengar keputusanku?" tanya Ratu Nagisa pada Nerissa dan Marin.
Nerissa dan Marin kompak menganggukan kepala mereka. Siap atau tidak siap, mereka harus mendengar dan menerima keputusan Ratu.
"Marin, maaf harus mengatakan hal ini padamu, apa yang dilakukan Cadassi memang sudah sangat keterlaluan, hukuman yang pantas dia dapatkan adalah mendekam dalam penjara kegelapan seumur hidupnya," ucap Ratu Nagisa.
"Saya mohon maaf Ratu, tolong izinkan saya untuk menemani ayah saya di penjara kegelapan," ucap Marin dengan suara bergetar.
Dalam hatinya ia tidak siap jika harus menjalani seluruh sisa hidupnya di dalam penjara kegelapan.
Namun ia tidak akan membiarkan ayahnya mendekam seorang diri dalam penjara kegelapan yang penuh dengan siksaan.
Bagaimanapun juga ayahnya adalah satu satunya orang tua yang dimiliknya saat itu. Meski ia sangat kecewa pada ayahnya, tapi rasa sayangnya jauh lebih besar daripada rasa kecewanya.