
Nerissa masih berada di atas batu karang besar di tepi pantai tempat ia pertama kali bertemu Alvin, Nerissa terdiam tanpa mengucapkan apapun setelah ia mendengar apa yang Alvin ceritakan padanya tentang kedua orang tuanya.
"Mungkin kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan, tapi saat aku terdampar di tepi pantai aku seperti melihat seseorang yang menyelamatkanku," ucap Alvin melanjutkan ceritanya.
"Aku tidak yakin dengan apa yang aku lihat saat itu, entah dia seorang manusia atau bukan tapi yang pasti dia sangat cantik tapi dia pergi ke arah lautan luas dengan ekor besar yang berwarna biru berkilau," lanjut Alvin.
Menyadari Nerissa yang hanya terdiam, Alvinpun untuk membawa pandangannya pada Nerissa.
"Kau pasti tidak mempercayai ceritaku bukan? aku juga tidak mempercayainya tapi itulah yang aku ingat, bahkan ingatan itu masih tersimpan di memoriku sampai saat ini, tapi terkadang aku berpikir bahwa apa yang aku lihat itu hanyalah halusinasiku yang sudah ada di ambang batas kesadaranku saat itu," ucap Alvin.
Nerissa masih terdiam mendengarkan cerita Alvin, tenggorokannya terasa kering tercekik membuatnya bahkan terasa sulit untuk menelan ludahnya sendiri.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum datar oleh Nerissa.
"Ayo kita pulang, udara malam di pantai tidak baik untukmu," ucap Alvin lalu menggandeng tangan Nerissa menuruni batu karang besar.
Nerissa berjalan mengikuti langkah Alvin meninggalkan pantai Pasha. Sesampainya di rumah, Nerissa segera berjalan naik ke lantai 2 untuk masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Nerissa beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya.
"Apa kau baik-baik saja Nerissa? sejak kita di pantai tadi kau hanya diam, apa kau sedang marah padaku!" tanya Alvin yang merasa Nerissa mengabaikannya.
"Tidak, aku tidak sedang marah padamu, hanya sedikit lelah saja," jawab Nerissa.
Alvin kemudian membawa langkahnya masuk ke kamar Nerissa, menutup pintu kamar Nerissa lalu memeluk Nerissa dengan erat.
"Tolong jangan mengabaikanku Nerissa, beritahu aku apa kesalahanku dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Alvin.
Nerissa hanya terdiam saat Alvin memeluknya, Nerissa kini menyadari sesuatu yang aneh yang ia rasakan dari Alvin itu karena ada mutiara biru milik sang Bunda yang ada pada tubuh Alvin.
"Apa yang aku ceritakan di pantai tadi yang membuatmu terdiam seperti ini?" tanya Alvin.
"Tidak Alvin, mendengar ceritamu membuatku merindukan Bunda," jawab Nerissa beralasan.
Alvin kemudian melepaskan Nerissa dari pelukannya, ia menatap gadis cantik di hadapannya yang tampak sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kau tidak sedang berbohong padaku bukan?" tanya Alvin yang dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.
"Aku bisa mengantarmu untuk menemui bundamu, jadi katakan saja padaku kapan kau ingin pergi menemui bundamu," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nerissa.
"Sekarang beristirahatlah dan jangan terlalu memikirkan hal yang membebani pikiranmu," ucap Alvin sambil membelai rambut Nerissa dengan lembut.
Alvin kemudian memeluk Nerissa dan mengecup keningnya untuk beberapa saat sebelum ia keluar dari kamar Nerissa.
"Mungkin aku akan ada di ruang kerja sampai tengah malam, jika kau mencariku kau bisa masuk ke ruang kerjaku," ucap Alvin pada Nerissa
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata-kata yang terasa sulit keluar dari mulutnya.
Apa yang Alvin ceritakan padanya benar-benar membuatnya begitu terkejut, membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih tentang apa yang harus dia lakukan setelah ia mengetahui dimana mutiara biru milik sang Bunda berada.
Setelah menutup pintu kamarnya Nerissapun menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.
"dari semua manusia yang ada di daratan kenapa harus Alvin? kenapa bunda harus memberikannya pada Alvin, kenapa........" tanya Nerissa dalam hati dengan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.
Pada akhirnya air mata yang ia tahanpun tumpah membasahi pipinya, membuat Nerissa berkali-kali menyeka air mata di pipinya agar tidak jatuh dan berubah menjadi mutiara.
"aku pernah melihat bunga tulip merah itu disana, aku juga merasakan keanehan pada Alvin, bahkan mahkotakupun bereaksi terhadap Alvin dan laki-laki yang ada dalam mimpiku sangat mirip dengan Alvin, semuanya sudah jelas tapi kenapa aku menolak untuk menyadarinya,"
"jika Bunda bilang mahkota itu akan membawaku pada mutiara biru, maka dari awal mahkota ini memang sudah berada sangat dekat dengan mutiara biru milik Bunda, tapi dengan bodohnya aku tidak menyadari hal itu,"
"dari awal kedatanganku ke daratan hanya Alvinlah satu-satu manusia yang menarik perhatianku dan sekarang aku sudah terlalu jauh jatuh ke dalam lubang yang aku gali sendiri, aku membiarkan hatiku jatuh cinta padanya, aku membiarkan diriku jatuh ke dalam pelukannya dan sekarang aku harus mengambil sesuatu yang ada pada dirinya untuk menyelamatkan Bunda dan kehidupan di Seabert,"
Nerissa kemudian keluar dari kamar, berniat untuk memasuki memori bibi agar ia bisa bertanya banyak hal pada suara misterius yang ia dengar ketika ia memasuki memori seseorang.
Setelah bertemu bibi dan mengajak bibi masuk ke dalam kamar, tanpa banyak berbasa-basi Nerissapun segera menyentuh kening bibi dan masuk ke dalam memori bibi.
"Aku sudah menemukan dimana mutiara biru itu berada," ucap Nerissa setelah ia berhasil memasuki memori bibi.
"Tunggu apa lagi? cepat ambillah dan kembali ke Seabert untuk menyelamatkan Bunda!"
"Bunda? kenapa kau memanggil bundaku dengan sebutan Bunda?" tanya Nerissa.
"Aku adalah bagian dari dirimu Nerissa, kau tidak perlu memasuki memori orang lain untuk bisa berbicara denganku, aku adalah bagian dari dirimu yang diciptakan untuk berada di sisi lain kehidupanmu," jawab suara itu yang membuat Nerissa begitu terkejut.
"Aaahhh fakta apa lagi ini? semua ini benar-benar membuatku bingung," ucap Nerissa yang merasa frustasi.
"Jangan terlalu memikirkan siapa aku, lebih baik cepat ambil mutiara biru itu!"
"Apa yang akan terjadi pada Alvin jika aku mengambil mutiara biru itu darinya? bukankah Bunda memberikan mutiara biru itu untuk menyelamatkan nyawa Alvin?"
"Sebenarnya tanpa bunda memberikan mutiara biru itu Alvin masih bisa selamat jika Alvin bisa segera dibawa ke rumah sakit saat itu, tapi karena kemungkinan untuk ke rumah sakit dengan cepat sangat kecil, Bunda memutuskan memberikan mutiara itu pada Alvin agar Alvin tidak kehilangan nyawanya, dengan kata lain tidak akan ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Alvin saat kau mengambil mutiara biru itu darinya karena pada dasarnya Alvin masih memiliki kesempatan untuk hidup meski tanpa mutiara biru milik Bunda," ucap suara itu menjelaskan.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Alvin? apa aku bisa mengembalikan mutiara biru itu padanya?"
"Percayalah Nerissa, selama keadaannya baik-baik saja tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya setelah kau mengambil mutiara itu," jawab suara misterius itu meyakinkan.
Nerissa hanya terdiam, dalam hatinya ia ragu untuk mengambil mutiara biru itu dari tubuh Alvin, namun bagaimanapun juga ia harus mengambilnya untuk menyelamatkan sang Bunda dan kehidupan di Seabert.
Nerissa kemudian melepaskan kening bibi untuk keluar dari memori bibi.
"Non Nerissa ada perlu apa? biar bibi siapkan," tanya bibi pada Nerissa setelah Nerissa keluar dari memori bibi.
"Tadi Nerissa melihat serangga disini Bi, tapi sepertinya sudah pergi," jawab Nerissa beralasan.
"Apa non Nerissa mau bibi mencari serangga itu?"
"Tidak bi, Nerissa akan memanggil bibi lagi jika serangga itu kembali terlihat, sekarang bibi kembali saja ke kamar, maaf karena Nerissa sudah mengganggu waktu istirahat bibi."
"Baik Bi, terima kasih."
Setelah bibi keluar dari kamarnya, Nerissa menutup pintu kamarnya dan kembali membaringkan dirinya di ranjang.
percayalah Nerissa, selama keadaannya baik-baik saja tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya setelah kau mengambil mutiara itu
Nerissa teringat ucapan suara misterius padanya, ia pun segera beranjak dari ranjangnya lalu keluar dari kamar untuk menghampiri Alvin.
"aku harus memastikan keadaan Alvin baik-baik saja sebelum aku mengambil mutiara biru itu dari tubuhnya," ucap Nerissa dalam hati lalu mengetuk pintu ruang kerja Alvin.
Dengan pelan Nerissa membuka pintu itu dan mendapati Alvin yang tengah fokus dengan komputer dan beberapa map di hadapannya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Nerissa yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Nerissa.
"Tidak, masuk lah," jawab Alvin.
Nerissa kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam ruang kerja Alvin lalu duduk di kursi yang ada disana.
Untuk beberapa saat Nerissa hanya terdiam karena Alvin yang tampak sangat fokus dengan pekerjaannya.
"dia sangat fokus dengan pekerjaannya, itu artinya dia baik-baik saja," ucap Nerissa dalam hati lalu beranjak dari duduknya dan melangkah dengan pelan agar tidak mengganggu Alvin.
"Apa kau akan pergi?" tanya Alvin yang membuat Nerissa menghentikan langkahnya.
"Aku hanya tidak ingin mengganggumu, aku akan menunggumu di kamar," jawab Nerissa.
Alvin kemudian beranjak dari duduknya, membawa langkahnya ke arah Nerissa lalu memeluk Nerissa.
Tapi tak seperti biasanya, Alvin menjatuhkan kepalanya di bahu Nerissa seolah lelah dengan beban pikiran yang memenuhi kepalanya saat itu.
"Apa kau baik-baik saja Alvin? sepertinya kau sangat lelah," tanya Nerissa dengan melingkarkan tangannya di pinggang Alvin.
"Kau benar, aku sangat lelah malam ini, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dan ada beberapa masalah yang harus cepat diatasi sebelum masalah itu menjadi semakin besar," jawab Alvin.
"Apa kau mau beristirahat sekarang atau kau mau aku menemanimu disini?"
"Bisakah kau menemaniku disini Nerissa? aku akan lebih bersemangat jika kau ada disini," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala orang Nerissa.
Alvin kemudian memberikan kecupan singkatnya di bibir Nerissa lalu membawa Nerissa duduk di sofa yang ada disana, sedangkan Alvin kembali melanjutkan pekerjaannya.
"mungkin tidak sekarang, aku harus menundanya dulu, lagi pula aku juga belum memberitahu marin tentang hal ini, dia juga membutuhkan waktu untuk berpamitan dengan Daniel sebelum kembali ke Seabert," ucap Nerissa dalam hati.
**
Waktu berlalu pagipun datang, Nerissa mengerjapkan matanya dan mendapati dirinya yang yang berada dalam dekapan Alvin saat itu.
Tak lama setelah ia terbangun, Alvinpun menggeliat lalu membuka matanya dan memberikan kecupan singkatnya di bibir Nerissa
"Selamat pagi kekasihku," ucap Alvin dengan suara serak khas bangun tidur.
Nerissa hanya tersenyum lalu hendak beranjak dari tidurnya, namun Alvin menahannya dan memeluknya dengan erat.
"5 menit lagi," ucap Alvin yang seolah enggan untuk melepaskan Nerissa.
"Kau harus bersiap untuk berangkat ke kantor Alvin, aku akan membantu bibi menyiapkan sarapan untukmu," ucap Nerissa.
Alvin hanya diam dengan memeluk Nerissa erat, setelah 5 menit berlalu Alvinpun melepaskan Nerissa dari pelukannya.
Alvin kemudian masuk ke kamar mandi, sedangkan Nerissa keluar dari kamar Alvin lalu menuju ke dapur untuk membantu bibi.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat Alvin dan Nerissa baru saja menyelesaikan sarapan mereka.
"Aku usahakan pulang cepat hari ini," ucap Alvin lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Nerissa sebelum ia keluar dari rumah.
Nerissa hanya tersenyum dengan melambaikan tangannya pada Alvin yang sudah masuk ke dalam mobil.
"hari ini akan menjadi hari terakhir kita bersama, aku akan menghapus memori tentangku dalam ingatanmu, setelah itu aku akan mengambil mutiara biru milik Bunda dan kembali ke Seabert bersama Marin," ucap Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Nerissa kemudian masuk ke kamarnya dan menghubungi Marin lalu menceritakan semuanya pada Marin.
Sama seperti Nerissa, Marinpun tidak kalah terkejutnya saat mengetahui bahwa mutiara yang selama ini mereka cari ada pada Alvin.
"jadi nikmati waktumu bersama Daniel sebelum kita kembali ke Seabert," ucap Nerissa pada Marin.
Marin hanya terdiam dengan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya, ia tidak menyangka saat perpisahan dengan laki-laki yang dicintainya kini sudah ada di depan matanya.
Sama halnya dengan Marin, Nerissapun hanya bisa menikmati saat-saat kesedihan dalam hidupnya, saat tidak ada waktu yang cukup lama baginya untuk menikmati kebahagiaannya bersama laki-laki yang dicintainya.
Tiba-tiba Nerissa merasa dadanya begitu nyeri, seolah ada benda tajam yang menusuk dadanya dengan sangat kuat.
"ada apa denganku? kenapa rasanya sakit sekali?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri, namun tiba-tiba bayangan Alvin yang mengendarai mobilnya keluar dari rumah terlintas dalam kepalanya.
"Alvin......"
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Nerissa berdering, sebuah panggilan dari Alvin. Namun bukannya suara Alvin yang ia dengar melainkan suara orang lain yang memberitahunya bahwa Alvin baru saja mengalami kecelakaan dan sedang dilarikan ke rumah sakit.
Tanpa banyak bertanya Nerissa segera keluar dari rumah untuk menuju ke rumah sakit. Kedua matanya yang berkaca-kaca kini sudah tidak mampu membendung air matanya lagi, membuatnya berkali-kali menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Sesampainya di rumah sakit dokter menjelaskan pada Nerissa bahwa kecelakaan yang dialami Alvin sangat parah, membuat Alvin hampir saja kehilangan nyawanya jika ia tidak segera dilarikan ke rumah sakit saat itu juga.
"Kita hanya bisa berdoa agar dia bisa segera melewati masa kritisnya," ucap dokter di akhir kalimatnya.
Seketika Nerissa jatuh terduduk di lantai, dunianya seolah runtuh begitu saja setelah ia mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Alvin saat itu.