
Daniel masih berada di rumah Nerissa, ia sengaja mengajak Nerissa untuk berpura-pura menjadi pasangan kekasihnya, untuk mengetahui dengan pasti bagaimana perasaan Alvin yang sesungguhnya.
Sebagai sahabat Daniel tidak ingin Alvin kembali terjerumus ke dalam kebimbangannya sendiri yang pada akhirnya hanya akan memberikan penyesalan dalam dirinya.
Sedangkan Nerissa yang mendengar ucapan Daniel hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.
Nerissa tidak menyangka Daniel akan mengatakan hal itu padanya. Dalam hatinya iapun ingin tau pasti bagaimana perasaan Alvin yang sebenarnya padanya.
"Aku tidak akan memaksamu Nerissa, hanya ini yang ada di pikiranku saat ini, selain untuk memastikan perasaan Alvin padamu, aku juga tidak ingin kau berlama lama memendam perasaan yang hanya akan menyakitimu," ucap Daniel.
"Daniel benar, tapi bagaimana dengan Marin? aku sangat tau dia menyukai Daniel, aku tidak mungkin memiliki hubungan dengan Daniel walaupun hanya berpura pura," batin Nerissa dalam hati.
"Aku akan memikirkannya dulu Daniel, aku harus membicarakan hal ini pada Marin," ucap Nerissa.
"Tidak perlu," sahut Marin yang tiba tiba berjalan ke arah Nerissa dan Daniel.
Nerissa dan Daniel kompak membawa pandangan mereka pada Marin yang kini sudah duduk di samping Nerissa.
"Apa maksudmu Marin?" tanya Nerissa pada Marin.
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian berdua dan aku setuju dengan ide Daniel," jawab Marin.
"Apa kau menguping?" sahut Daniel bertanya.
"Sudah ku bilang aku tidak sengaja mendengar, apa kau tidak bisa membedakannya?" balas Marin kesal.
"Mungkin kau salah dengar Marin, tidak mungkin aku....."
"Tidak Putri, aku mendengarnya dengan jelas, aku setuju dengan ide Daniel agar kita tau pasti bagaimana perasaan Alvin yang sebenarnya," ucap Marin memotong ucapan Nerissa.
"Lalu bagaimana denganmu? apa kau baik baik saja jika aku berpura pura menjadi kekasih Daniel?" tanya Nerissa memastikan.
"Hahaha.... kenapa kau bertanya seperti itu Putri, tentu saja aku baik baik saja," balas Marin dengan tertawa canggung.
"Apa lagi yang membuatmu ragu Nerissa? Marin sudah setuju sekarang!" sahut Daniel.
"Putri, Alvin adalah laki laki yang baik sebelum Amanda kembali di kehidupannya, apa kau rela Amanda yang egois itu memiliki Alvin? bagaimana jika nanti Amanda kembali meninggalkan Alvin? dia pasti akan benar benar gila kali ini!"
"Bagaimana jika Alvin tetap memilih Amanda?" tanya Nerissa dengan menundukkan kepalanya.
"Itu artinya Alvin memang bukan untukmu Nerissa," balas Daniel.
"Itu artinya kau harus membuang Alvin jauh jauh dari hidupmu," sahut Marin.
Mendengar hal itu, Nerissa membawa pandangannya pada Daniel dan Marin bergantian. Ia masih ragu apakah ia harus melakukan hal itu atau tidak.
"Kau melakukan hal ini bukan hanya untuk dirimu sendiri Putri, tapi juga untuk Alvin, kau membantu Alvin untuk yakin pada pilihannya, jika memang dia benar benar memilih Amanda, maka lepaskan dia dan biarkan dia melanjutkan hidupnya dengan Amanda," ucap Marin.
"Dan jika dia memilihmu, aku pastikan dia tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," lanjut Daniel.
"Apa masih ada harapan untukku?" tanya Nerissa.
"Aku sangat mengenal Alvin, semua yang dia lakukan padamu selama ini karena dia juga memiliki perasaan yang sama sepertimu, sebelum Amanda datang dan membuat Alvin bimbang," jawab Daniel.
"Tapi kau juga jangan terlalu berharap Putri, apapun pilihan Alvin nantinya, itu merupakan jawaban untukmu," ucap Marin.
Nerissa diam beberapa saat memikirkan apa yang harus ia putuskan saat itu. Dalam hatinya ia masih mengharapkan Alvin bersamanya, namun ia tau ia tidak akan bisa bersama Alvin untuk selamanya.
Tapi jika dia membiarkan Alvin salah mengambil keputusan dalam kebimbangannya, itu artinya ia membiarkan Alvin terjerumus ke dalam kesalahan yang sama seperti di masa lalu dan ia tidak ingin hal itu terjadi.
"Baiklah, aku setuju," ucap Nerissa yakin.
"Benarkah? apa itu artinya kita berpacaran sekarang?" tanya Daniel bertanya dengan penuh semangat.
"Hanya berpura pura, kau harus menggaris bawahi itu!" sahut Marin menjawab.
"Hahaha.... iya aku tau, kenapa kau sensitif sekali, apa kau juga ingin berpacaran denganku?"
Marin menggelengkan kepalanya cepat mendengar ucapan Daniel, membuat Nerissa terkekeh melihat sikap Daniel dan Marin.
"Meskipun kita hanya berpura pura, kita harus membuat Alvin percaya pada hubungan kita Nerissa, kau mengerti maksudku bukan?" ucap Daniel pada Nerissa.
"Iya aku mengerti," balas Nerissa dengan menganggukkan kepalanya.
"Tapi kau juga harus menjaga sikapmu Daniel, jangan melakukan sesuatu yang melewati batas pada Putri!" ucap Marin pada Daniel.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan Marin, jangan khawatir!" balas Daniel.
"Tapi aku tidak pernah berpacaran dengan siapapun sebelumnya, jadi mungkin aku akan menyulitkanmu," ucap Nerissa pada Daniel.
"Aku akan membantumu tanpa membuatmu tidak nyaman, aku janji," balas Daniel.
"Aku juga akan membantumu agar kau tau batas yang tidak boleh dilanggar oleh Daniel," sahut Marin berkata pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, ia merasa beruntung karena memiliki Marin dan Daniel yang selalu ada untuknya.
"aku memang tidak bisa bersama Alvin selamanya jika Alvin memilihku, tapi setidaknya aku tidak akan membiarkan Alvin menghabiskan waktunya bersama seseorang yang tidak baik seperti Amanda," ucap Nerissa dalam hati.
Setelah mengobrol beberapa lama, Marin kemudian beranjak dari duduknya karena ia harus pergi ke mini market.
"Apa kau akan pergi sendirian?" tanya Daniel pada Marin.
"Tentu saja, aku kan gadis pemberani," balas Marin percaya diri.
"Apa kau bisa mengantar Marin, Daniel? sejak musim hujan jalanan disekitar sini sangat sepi!" ucap Nerissa pada Daniel.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku ingin beristirahat di kamar," jawab Nerissa.
"Baiklah, aku akan mengantar Marin, kau beristirahatlah dan jangan terlalu memikirkan Alvin," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
Nerissa kemudian masuk ke dalam kamar saat Marin baru saja keluar dari kamar.
"Kemana Putri?" tanya Marin pada Daniel.
"Beristirahat di kamar, dia memintaku untuk mengantarmu ke mini market," jawab Daniel.
"Tidak perlu, kau pulang saja," balas Marin lalu berjalan keluar dari rumah diikuti Daniel.
"Dimana mobilmu?" tanya Marin yang tidak melihat mobil Daniel di depan rumahnya.
"Di bengkel hehehe...." jawab Daniel terkekeh.
"Aku akan memesan taksi untukmu," ucap Marin lalu mengambil ponsel di saku jaketnya, namun Daniel segera merebutnya.
"Apa yang kau lakukan Daniel, kembalikan!"
"Aku akan mengembalikannya setelah kita pulang dari mini market," balas Daniel lalu berjalan ke arah mini market diikuti oleh Marin.
"Aku bisa ke mini market sendiri Daniel!"
"Aku bisa mengantarmu Marin!"
Marin menghela nafasnya panjang, kesal pada Daniel
"Terserah kau saja," ucap Marin pasrah.
Setelah sampai di mini market dan membeli keperluan Marin, mereka berduapun kembali berjalan pulang.
"Idemu tadi tidak mempunyai maksud lain bukan?" tanya Marin pada Daniel.
"Apa maksudmu?" balas Daniel bertanya.
"Aku tau kau sangat menyukai Putri, kau mengalah pada Alvin karena kau tau Putri menyukai Alvin, dengan keadaan yang seperti ini bukankah ini waktu yang tepat untukmu merebut hati Putri?"
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu Marin, aku memang mengatakan hal itu pada Alvin tapi aku tidak sejahat itu, aku tidak akan memaksakan apa yang tidak seharusnya untukku," jawab Daniel.
Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika ia melihat Daniel dan Nerissa bermesraan di hadapannya.
"Ada apa Marin?" tanya Daniel yang tiba tiba berdiri di hadapan Marin dengan memegang kedua bahu Marin.
"Tidak," jawab Marin singkat sambil melepaskan kedua tangan Daniel dari bahunya.
"Udara malam tidak baik untuk paru parumu Marin, jangan terlalu sering keluar malam!" ucap Daniel.
Marin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun hingga mereka tiba di depan rumah Marin.
"Pulanglah, terima kasih sudah mengantarku!" ucap Marin lalu hendak masuk ke dalam rumah, namun Daniel menarik tangan Marin, membuat Marin membalikkan badannya.
"Ponselmu," ucap Daniel sambil menaruh ponsel di tangan Marin.
Marin hanya terdiam dengan dadanya yang kembali bergetar. Sedangkan Daniel hanya tersenyum lalu berjalan pergi dari rumah Marin.
"sadarlah Marin, sadar!" ucap Marin dalam hati sambil memukul mukul dadanya lalu masuk ke dalam rumah.
**
Hari telah berganti, seperti biasa Alvin mengendarai mobilnya ke arah kantor tempat ia bekerja.
Baru saja ia meninggalkan rumah, ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Amanda.
"Halo Amanda, ada apa?"
"Apa kau sudah berangkat ke kantor?" balas Amanda bertanya.
"Sudah, ada apa?"
"Datanglah ke rumahku sebentar, aku sudah memasak untukmu!"
"Tapi aku sudah terlambat Amanda, lain kali saja!"
"Kalau begitu aku akan ke kantormu saat jam makan siang, bagaimana?"
"Aku ada meeting di luar kantor, kemungkinan akan kembali setelah jam makan siang!"
"Kenapa kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu Alvin? apa kau sudah tidak peduli lagi padaku?"
"Bukan begitu Amanda, aku...."
"Ya sudahlah, sepertinya aku memang sudah tidak penting lagi untukmu," balas Amanda lalu mengakhiri panggilannya
Alvin menghembuskan nafasnya kesal lalu menepikan mobilnya dan menghubungi Amanda.
"Datanglah ke kantor nanti siang, aku usahakan kembali ke kantor sebelum jam makan siang," ucap Alvin setelah Amanda menerima panggilannya.
"Baiklah, aku akan bersiap siap dari sekarang!" balas Amanda bersemangat.
Alvin menghela nafasnya kemudian melanjutkan perjalannya menuju ke kantor.
Saat ia baru saja sampai dan berjalan melewati resepsionis, Alvin menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis yang membawa buket bunga di resepsionis.
"Nerissa!"
Namun saat gadis itu menoleh ke arahnya, Alvin hanya menundukkan kepalanya lalu berjalan cepat meninggalkan resepsionis karena gadis yang dilihatnya ternyata bukan Nerissa.
"bodoh sekali, apa yang aku pikirkan?" ucap Alvin merutuki kebohongannya sendiri.
Alvin kemudian berjalan masuk ke ruangannya lalu mengerjakan pekerjaannya. Tak lupa Alvin menghubungi Daniel, meminta Daniel untuk segera menyelesaikan laporannya karena ia akan memulai meeting lebih awal dari jadwal yang seharusnya.
Setelah Daniel menyelesaikan laporannya, iapun memberikannya pada Alvin dan segera diperiksa kembali oleh Alvin.
Daniel hanya diam tanpa mengucapkan apapun selama ia duduk di hadapan Alvin.
"Apa persahabatan kita akan berakhir seperti ini hanya karena Amanda?" tanya Alvin dengan pandangan yang masih fokus pada laporan Daniel di tangannya.
"Apa kau merasa persahabatan kita sudah berakhir?" balas Daniel bertanya yang membuat Alvin membawa pandangannya pada Daniel.
"Kau marah padaku bukan?"
"Tentu saja aku sangat marah padamu, aku marah karena aku peduli padamu, bukan hanya karena Nerissa, tapi karena aku tidak ingin kau jatuh ke jurang yang sama dua kali!" jawab Daniel.
"Amanda sudah berubah Daniel, dia sudah menyesali keputusannya di masa lalu!"
"Dan sebentar lagi kau juga akan menyesali keputusanmu!" balas Daniel.
Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun.
"Aku hanya marah padamu, bukan berarti persahabatan kita berakhir hanya karena aku marah padamu!" ucap Daniel lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya.
Setidaknya Alvin bisa bernafas lega karena Daniel masih menganggapnya sebagai sahabat meski sikap Daniel sedikit berubah padanya.
Alvin yakin, lambat laun Daniel akan mengerti keputusannya saat itu dan bisa menerima Amanda seperti dulu.
Tepat jam 10 siang, Alvin dan Daniel meninggalkan kantor untuk berangkat meeting.
"Kenapa kau tiba tiba merubah jadwal meeting? apa Ricky yang menyuruhmu?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tidak, Amanda mengajakku makan siang, jadi aku harus mengawali meeting kali ini agar bisa kembali ke kantor sebelum jam makan siang," jawab Alvin menjelaskan.
"Amanda lagi," gerutu Daniel pelan.
**
Di Atlanta Grup.
Amanda sudah duduk di depan resepsionis untuk menunggu kedatangan Alvin. Tak lama kemudian Nerissa juga datang untuk mengantar pesananan bunga dan menaruhnya di resepsionis.
"Semakin hari kau semakin terlihat cantik Nerissa," ucap resepsionis memuji Nerissa.
Karena sering bertemu, Nerissa dan resepsionis itu cukup akrab.
"Terima kasih, kau juga sangat cantik," balas Nerissa.
Tak lama kemudian Alvin dan Daniel berjalan memasuki kantor, Amanda yang melihat hal itu segera beranjak dari duduknya.
"Alvin!" panggil Amanda sambil berlari lalu memeluk Alvin.
Nerissa yang mendengar seseorang memanggil Alvin, segera membawa pandangannya ke arah sumber suara dan melihat Amanda dan Alvin yang saling berpelukan.
Tidak seperti saat Delia yang memeluk Alvin, kali ini Alvin membiarkan Amanda memeluknya, bahkan Alvin membalas pelukan Amanda, membuat Nerissa seketika mengalihkan pandangannya dari Alvin dan Amanda.
Sedangkan Daniel yang melihat hal itu segera membawa langkahnya ke arah Nerissa dan memeluk Nerissa dari belakang, membuat Nerissa begitu terkejut.
"Daniel, lepaskan!" ucap Nerissa berusaha melepaskan tangan Daniel yang melingkar di pinggangnya.
"Kau tidak lupa rencana kita bukan?" tanya Daniel berbisik yang membuat Nerissa berhenti melepaskan tangan Daniel.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Nerissa berbisik.
"Berbaliklah dan tatap mataku!"
Nerissapun berbalik dan membawa pandangannya menatap kedua mata Daniel.
"Apa kau sudah lama menungguku?" tanya Daniel sambil membelai rambut Nerissa dengan lembut.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum menjawab pertanyaan Daniel.
Alvin yang melihat hal itu begitu terkejut namun dia berusaha untuk menyimpan keterkejutannya saat itu.
"Apa kita akan makan siang berdua?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Tentu saja," jawab Daniel sambil menggandeng tangan Nerissa berjalan keluar dari kantor.
Di sisi lain, Amanda diam diam memperhatikan pandangan Alvin yang tidak lepas dari gerak gerik Daniel dan Nerissa di hadapan mereka.
Ia merasa kesal melihat bagaimana Alvin memperhatikan kedekatan Nerissa dan Daniel saat itu.